Pengertian dan perkembangan Kebudayaan Prasejarah dan Sejarah Agama Hindu

Kebudayaan Prasejarah dan Sejarah Agama Hindu

Zaman pra-sejarah adalah zaman dimana belum dikenalnya tulisan. Zaman prasejarah berlangsung sejak adanya manusia, sekitar ± (dua) juta tahun yang lalu, hingga manusia mengenal tulisan. Untuk mengetahui kehidupan prasejarah, para ahli mempelajari fosil, tentang bagian tubuh binatang, tumbuhan, dan atau manusia yang membatu. Kondisi lingkungan alam pada jaman pra-sejarah sangatlah berbeda dengan lingkungan yang ada sekarang. Hal ini disebabkan karena ketika itu banyak terjadi peristiwa alam, seperti pengangkatan daratan, naik-turunnya air laut, dan kegiatan gunung berapi. Binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berukuran besar sangat banyak ragamnya. Binatang dan tumbuhan itu kini sudah banyak yang punah. Manusia purba yang hidup pada zaman pra-sejarah dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
  1. Meganthropus palaeojavanicus: manusia yang paling purba;
  2. Homo erectus atau Pithecanthropus: manusia yang sudah berjalan tegak;
  3. Homo sapiens: manusia purba yang sudah mirip manusia sekarang.

Ketiga kelompok manusia purba ini memiliki masa perkembangan dan migrasi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Berdasarkan temuan-temuan fosil manusia purba di berbagai penjuru dunia, kini para ahli palaeoantropologi dapat menyusun sejarah makhluk manusia. Sejarah yang disusun itu menyangkut proses perkembangan jasmani manusia maupun proses migrasi manusia untuk menghuni seluruh permukaan bumi yang ada ini. Proses penyusunan dan perkembangan tentang jasmani manusia yang dilakukan oleh para ahli palaeoantropologi mengikuti teori evolusi, seperti yang dikemukakan oleh Charles Darwin pada tahun 1859. Menurut temuan fosil pra manusia yang telah ditemukan saat ini, makhluk yang dapat dikatakan sebagai cikal bakal manusia adalah makhluk Australopithecus (kera dari selatan). Jika diamati dari bentuk fosil yang ada, tampak ada 4 (empat) perubahan jasmani dalam makhluk pra-manusia yang sangat menentukan proses evolusi menuju manusia sejati. Melalui proses evolusi inilah manusia kemudian mampu mengembangkan kehidupannya dengan lebih baik dari sebelumnya.

Makhluk ini berkembang dengan pola migrasi. Dinyatakan ada 4 (empat) jenis makhluk Australopithecus yang ditemukan di Afrika, seperti; Australopithecus afarensis, Australopithecus africanus, Australopithecus robustus, dan Australopithecus boisei (Soekmono, 1958: 10). 

Gambar Pithecanthropus Erectus
Gambar Pithecanthropus Erectus
Menurut pandangan Hindu, manu adalah manusia yang pertama diciptakan oleh Brahman /Ida Sang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa pada masa srsti atau penciptaan. Ciptaan Brahman setelah alam semesta adalah tumbuhtumbuhan, kemudian binatang, dan setelah itu manusia. Manu yang disebut manusia adalah makhluk yang tersempurna dengan bayu, sabda, dan idep yang dimilikinya. Bayu adalah tenaga yang mengantarkan manusia memiliki kekuatan atau tenaga. Sabda adalah unsur suara yang menyebabkan manusia dapat berbicara atau bertutur kata yang baik dan sopan. Sedangkan idep adalah pikiran, hati, dan rasa yang menyebabkan manusia dapat berlogika. Ketiga unsur utama inilah yang menyebabkan manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk, benar dan salah, boleh dan tidak boleh. Kitab Bhagawadgita menyebutkan sebagai berikut:

Prakrtim purusa chai ‘wa widdhy anadi ubhav api, vikarams cha gunams
chai ‘wa, viddhi prakrti sambhavan“ (Bhagawan Gita, XIII.19).
Terjemahannya:
Ketahuilah bahwa Prakrti dan Purusha kedua-duanya adalah tanpa permulaan, dan ketahuilah juga bahwa segala bentuk dan ketiga guna lahir dari Prakrti.

Tapo wācam ratim caiwa kāmam ca wiwerkatham dharman wyawecayat,
srstim sasarja caiwemām srastumicchannimah prajāh (Menawa Dharmasastra I.25)
Terjemahannya:
Ketawakalan, ucapan, kesenangan, nafsu dan kemarahan serta segala isi alam, Tuhan ciptakan karena Ia ingin menciptakan segala makhluk ini.

Mangkana pwa Bhatara Siwa, irikang tattwa kabeh, ri wekasan lina ring sira
mwah, nihan drstopamanya kadyangganing wereh makweh mijilnya tunggal
ya sakeng way” (Bhuwana Kosa. lp. 22b).
Terjemahannya:
Demikian halnya Bhatara Siwa (Tuhan), keberadaan-Nya pada segala makhluk, pada akhirnya akan kembali pula kepada-Nya, demikian umpamanya, bagaikan buih banyak timbulnya, tunggallah itu asalnya dari air.

Berdasarkan uraian dan penjelasan pustaka suci tersebut di atas, sangat jelas menyatakan bahwa menurut pandangan Hindu, manusia diciptakan oleh Brahman/Sang Hyang Widhi wasa/Tuhan Yang Maha Esa pada masa srsti. Selanjutnya hidup dan berkembang sesuai dengan budaya dan lingkungan alam sekitarnya.

Pada zaman migrasi disebutkan ada dua tingkatan masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana dan tingkat lanjut. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana sering disebut zaman Paleolitik. Masa ini berlangsung sejak (2 juta tahun yang lalu hingga 10.000 tahun sebelum Masehi), yaitu ketika manusia masih hidup berpindah-pindah (nomaden). Pada zaman ini alat yang digunakan adalah kapak batu dan alat serpih.

Oleh manusia purba, masa migrasi dilanjutkan dengan masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Zaman ini juga disebut sebagai zaman maesolitik yang berlangsung sejak (10.000 - 4000 tahun sebelum masehi). Di zaman maesolitik manusia sudah hidup di gua-gua atau di tepi pantai agak menetap. Pada zaman ini manusia purba sudah menggunakan peralatan kapak pendek, kapak Sumatralit, mata panah, dan alat-alat tulang.

Setelah masa maesolitik kehidupan manusia purba menuju ke masa bercocok tanam. Zaman ini disebut juga zaman Neolitik dan berlangsung sejak (4000-2000 tahun sebelum masehi). Di zaman Neolitik, manusia sudah dapat menanam berbagai jenis tumbuhan dan menernakan hewan. Mereka sudah hidup menetap dan menggunakan alat-alat batu yang sudah diasah halus, seperti kapak persegi dan kapak lonjong. Pada masa inilah manusia tidak lagi menjadi pengumpul makanan (food-gatherer), tetapi juga penghasil makanan (food-producer). Perubahan ini disebut Revolusi neolitik. Mereka percaya pada roh nenek moyang dan mulai mendirikan bangunan megalitik. Di Indonesia, cara bercocok tanam di bawa oleh orang-orang Nusantara yang berbahasa Austronesia dari Taiwan dan Filipina Utara.

Zaman Perundagian disebut juga zaman Logam Awal atau kehidupan masa perundagian yang berlangsung sejak (2000 tahun sebelum masehi sampai dengan abad IV masehi). Sejak zaman Logam Awal manusia mulai mengenal pembuatan alat-alat dari logam seperti nekara, kapak perunggu, bejana gepeng, dan perhiasan. Budaya ini disebut budaya Dongson. Mereka hidup di perkampungan tetap. Ada kelompok pengrajin benda tertentu dan perdagangan mulai maju. Di masa ini mulai terbentuk golongan masyarakat sebagai; pemimpin, pendeta, orang awam, dan budak. Hasil kebudayaan yang ditemukan pada masa ini adalah;
  1. Kapak Genggam: berfungsi untuk menggali umbi, memotong dan menguliti binatang.
  2. Kapak Perimbas: berfungsi untuk merimbas kayu, memecahkan tulang, dan sebagai senjata yang banyak ditemukan di Pacitan. Maka Ralph Von Koeningswald menyebutkan kebudayaan Pacitan. Dan pendukung kebudayaan Pacitan adalah jenis Phitecantropus.
  3. Alat-alat dari tulang dan tanduk binatang: berfungsi sebagai alat penusuk, pengorek dan tombak. Benda-benda ini banyak ditemukan di Ngandong, dan sebagai pendukung kebudayaan ini adalah Homo Wajakensis, dan Homo Soloensis. Alat-alat yang dimanfaatkan untuk hidup adalah; 1) Serpih (flakes) – terbuat dari batu bentuknya kecil, ada juga yang terbuat dari batu induk (kalsedon) : berfungsi untuk mengiris daging atau memotong umbi-umbian dan buah-buahan. Pendukung kebudayaan ini adalah Homo soloensis dan Homo wajakensis; 2) Kapak Sumatera (Pebble): Sejenis kapak genggam yang sudah digosok, tetapi belum sampai halus. Terbuat dari batu kali yang dipecah atau dibelah; 3) Kjokenmoddinger: Dari bahasa Denmark yang artinya sampah dapur; 4) Abris Sous Roche: Adalah tempat tinggal yang berwujud goa-goa dan ceruk-ceruk di dalam batu karang untuk berlindung; 5) Batu Pipisan: Terdiri dari batu penggiling dan landasannya. Berfungsi untuk menggiling makanan, menghaluskan bahan makanan; 6) Kapak Persegi: Adalah kapak yang penampang lintangnya berbentuk persegi panjang atau trapesium. Ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Sebutan kapak persegi diberikan oleh Von Heine Geldern; 7) Kapak Lonjong: Adalah kapak yang penampangnya berbentuk lonjong memanjang. Ditemukan di Irian, seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa, dan Serawak; 8) Kapak Bahu: Adalah kapak persegi namun pada tangkai diberi leher sehingga menyerupai botol persegi. Kapak bahu hanya ditemukan di Minahasa, Sulawesi Utara; 9) Menhir: tugu batu yang didirikan sebagai pemujaan roh nenek moyang memperingati arwah nenek moyang dan lain-lain.
Pembagian zaman pada masa pra-sejarah diberi sebutan menurut benda-benda atau peralatan yang menjadi ciri utama dari masing-masing periode waktu itu. Adapun pembagian kebudayaan zaman pra-sejarah sebagai berikut:
1. Zaman Batu Tua (Paleolitikum);
Berdasarkan tempat penemuannya, maka kebudayaan tertua ini lebih dikenal dengan sebutan kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong. Pada tahun 1935 di daerah Pacitan ditemukan sejumlah alat-alat dari batu, yang kemudian dinamakan kapak genggam, karena bentuknya seperti kapak yang tidak bertangkai. Dalam ilmu pra-sejarah alat-alat atau kapak Pacitan ini disebut chopper (alat penetak).
Soekmono; mengemukakan bahwa asal kebudayaan Pacitan adalah dari lapisan Trinil, yaitu berasal dari lapisan pleistosen tengah, yang merupakan lapisan ditemukannya fosil Pithecantropus Erectus. Sehingga kebudayaan Palaelitikum itu pendukungnya adalah Pithecanthropus Erectus, yaitu manusia pertama dan manusia tertua yang menjadi penghuni Indonesia (Kebudayaan Pacitan). Di sekitar daerah Ngandong dan Sidorejo dekat Ngawi, Madiun, ditemukan alat-alat dari tulang bersama kapak genggam. Alat-alat yang ditemukan dekat Sangiran juga termasuk jenis kebudayaan Ngandong. Alat-alat tersebut berupa alat-alat kecil yang disebut flakes.
Selain di Sangiran flakes juga ditemukan di Sulawesi Selatan. Berdasarkan penelitian, alat-alat tersebut berasal dari lapisan pleistosen atas, yang menunjukkan bahwa alat-alat tersebut merupakan hasil kebudayaan Homo Soloensis dan Homo Wajakensis (Soekmono, 1958: 30).
Dengan demikian kehidupan manusia Palaelitikum masih dalam tingkatan food gathering, yang diperkirakan telah mengenal sistem penguburan untuk anggota kelompoknya yang meninggal.

2. Zaman Batu Madya (Mesolitikum);
Peninggalan atau bekas kebudayaan Indonesia zaman Mesolitikum, banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Flores. Kehidupannya masih dari berburu dan menangkap ikan. Tetapi sebagian besar mereka sudah menetap, sehingga diperkirakan sudah mengenal bercocok tanam, walaupun masih sangat sederhana. Bekas-bekas tempat tinggal manusia zaman Mesolitikum ditemukan di gua-gua dan di pinggir pantai yang biasa disebut Kyokkenmoddinger (di tepi pantai) dan Abris Sous Roche (di gua-gua). Secara garis besar kebudayaan zaman Mesolitikum terdiri dari: alatalat peble yang ditemukan di Kyokkenmoddinger, alat-alat tulang, dan alatalat flakes, yang ditemukan di Abris Sous Roche. Kebudayaan zaman Mesolitikum di Indonesia diperkirakan berasal dari daerah Tonkin di Hindia Belakang, yaitu di pegunungan Bacson dan Hoabinh yang merupakan pusat kebudayaan prasejarah Asia Tenggara. Adapun pendukung dari kebudayaan Mesolitikum adalah Papua Melanesia.

3. Zaman Batu Baru (Neolitikum);
Zaman Neolitikum merupakan zaman yang menunjukkan bahwa manusia pada umumnya sudah mulai maju dan telah mengalami revolusi kebudayaan. Dengan kehidupan yang telah menetap, memungkinkan masyarakatnya mengembangkan aspek-aspek kehidupan lainnya. Sehingga dalam zaman Neolitikum ini terdapat dasar-dasar kehidupan. Berdasarkan alat-alat yang ditemukan dari peninggalan zaman Neolitikum yang bercorak khusus, dapat dibagi kedalam dua golongan, yaitu;
Kapak persegi, didasarkan kepada penampang dari alat-alat yang ditemukannya berbentuk persegi panjang atau trapesium (von Heine Geldern). Semua bentuk alatnya sama, yaitu agak melengkung dan diberi tangkai pada tempat yang melengkung tersebut. Jenis alat yang termasuk kapak persegi adalah kapak bahu yang pada bagian tangkainya diberi leher, sehingga menyerupai bentuk botol yang persegi.
Kapak lonjong, karena bentuk penampangnya berbentuk lonjong, dan bentuk kapaknya sendiri bulat telur. Ujungnya yang agak lancip digunakan untuk tangkai dan ujung lainnya yang bulat diasah, sehingga tajam. Kebudayaan kapak lonjong disebut Neolitikum Papua, karena banyak ditemukan di Irian.
Kapak pacul, beliung, tembikar atau periuk belanga, alat pemukul kulit kayu, dan berbagai benda perhiasan dan yang lainnya adalah termasuk benda-benda pada zaman Neolitikum. Adapun yang menjadi pendukungnya adalah bangsa Austronesia untuk kapak persegi, bangsa Austo-Asia untuk kapak bahu, dan bangsa Papua Melanesia untuk kapak lonjong.

4. Zaman Logam;
Zaman logam dalam prasejarah terdiri dari zaman tembaga, perunggu, dan besi. Di Asia Tenggara termasuk Indonesia tidak dikenal adanya zaman tembaga, sehingga setelah zaman Neolitikum, langsung ke zaman perunggu. Adapun kebudayaan Indonesia pada zaman Logam terdiri dari; kapak Corong yang disebut juga kapak sepatu, karena bagian atasnya berbentuk corong dengan sembirnya belah, dan ke dalam corong itulah dimasukkan tangkai kayunya. Nekara, yaitu barang semacam berumbung yang bagian tengah badannya berpinggang dan di bagian sisi atasnya tertutup, yang terbuat dari perunggu. Selain itu, benda lainnya adalah benda perhiasan seperti kalung, anting, gelang, cincin, dan binggel, juga manik-manik yang terbuat dari kaca serta seni menuang patung. Dongson adalah sebuah tempat di daerah Tonkin Tiongkok yang dianggap sebagai pusat kebudayaan perunggu Asia Tenggara, oleh sebab itu disebut juga kebudayaan Dongson. Sebagaimana zaman tembaga, di Indonesia juga tidak terdapat zaman besi, sehingga zaman logam di Indonesia adalah zaman perunggu.

5. Zaman Batu Besar (Megalitikum);
Zaman Megalitikum berkembang pada zaman logam, namun akarnya terdapat pada zaman Neolitikum. Disebut zaman Megalitikum karena kebudayaannya menghasilkan bangunan-bangunan batu atau barang-barang batu yang besar. Bentuk peninggalannya adalah:
  1. Menhir, yaitu tiang atau tugu yang didirikan sebagai tanda peringatan terhadap arwah nenek moyang.
  2. Dolmen, berbentuk meja batu yang dipergunakan sebagai tempat meletakkan sesajen yang dipersembahkan untuk nenek moyang.
  3. Sarcopagus, berupa kubur batu yang bentuknya seperti keranda atau lesung dan mempunyai tutup.
  4. Kubur batu, merupakan peti mayat yang terbuat dari batu.
  5. Punden berundak-undak, berupa bangunan pemujaan dari batu yang tersusun bertingkat-tingkat, sehingga menyerupai tangga.
  6. Arca-arca, yaitu patung-patung dari batu yang merupakan arca nenek moyang.

Demikian era pra-sejarah di Indonesia dengan kebudayaan Megalitikumnya, mempunyai latar belakang kepercayaan dan alam pikiran yang berlandaskan pemujaan terhadap arwah nenek moyang.

Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña - Materi Hindu kelas XI

Selamat datang kembali disitus ini. Pada kesempatan yang baik ini saya mengajak kalian untuk mempelajari materi tentang Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña, sehingga kita akan lebih paham dan pada akhirnya mampu menerapkan yajna dalam kehidupan sesuai denganj aturan yang ada. Segala hal akan menjadi baik dan mencapai tujuan apa bila dapat dikerjakan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah tersurat dan tersirat. Seperti halnya ketika belajar di bangku sekolah. Seseorang akan dapat mencapai tujuannya yaitu lulus dari sekolah apabila telah mengikuti semua tahapan yang ada seperti belajar dengan baik dan mendapat nilai baik dalam ulangan. Setiap tahapan tersebut tentunya harus dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku disekolah tersebut. Sama juga halnya dengan melaksanakan yajna. Yajna akan berhasil dan mencapai tujuan apabila dilaksanakan sesuai dengan syarat-syarat dan aturan dalam pelaksanaan yajna.

Perenungan 
Soma rārandhi no hṛdhi gāvo na yavaseṣv ā, marya iva sva okye”.
Terjemahannya.
”Tuhan Yang Mahapengasih, semoga Engkau berkenan bersthana pada hati nurani kami (tubuh kami sebagai pura), seperti halnya anak-anak sapi  yang merumput di padang subur, seperti pula seorang gadis di rumahnya sendiri”. 
(Åg Veda I. 91.13).
Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña - Materi Hindu kelas XI
Upacara manusa yajna, nyambutin
Memahami Teks
Melaksanakan yajña bagi  umat Hindu hukumnya wajib. Segala sesuatu yang dilaksanakan tanpa dilandasi oleh yajña adalah sia-sia. Bagaimana agar semua yang kita laksanakan dapat bermanfaat dan berkualitas, kitab Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut:

“Aphalākāòkṣibhir yajòo vidhi-dṛṣtho ya ijyate,
 yaṣthavyam eveti manaá samādhāya sa sāttvikaá”.
Terjemahannya adalah.
“Yajña menurut petunjuk kitab-kitab suci, yang dilakukan oleh orang tanpa mengharap pahala dan percaya sepenuhnya bahwa upacara ini sebagai tugas kewajiban, adalah sattvika”. (Bhagavad Gita. XVII.11).

“Abhisandhāya tu phalaṁ danbhārtham api çaiva yat,
 ijyate bharata-ṡrestha taṁ viddhi rājasam”.
Terjemahannya adalah.
“Tetapi persembahan yang dilakukan dengan mengharap balasan, dan semata-mata untuk kemegahan belaka, ketahuilah, wahai Arjuna, yajña itu adalah bersifat rajas”. (Bhagavad Gita. XVII.12).

“Vidhi-hinam asṛṣtānnaṁ mantra-hìnam adakṣiṇam,
 ṡraddhā-virahitaṁ yajñaṁ tāmasaṁ paricakṣate”.
Terjemahannya adalah.
“Dikatakan bahwa yajña yang dilakukan tanpa aturan (bertentangan), di mana makanan tidak dihidangkan, tanpa mantra dan sedekah serta tanpa keyakinan dinamakan tamas”. (Bhagavad Gita. XVII.13).

Agar pelaksanaan yajña lebih efisien, maka syarat pelaksanaannya perlu mendapat perhatian, yaitu sebagai berikut.
  1. Sastra, yaitu yajña harus berdasarkan Veda.
  2. Sraddha, yaitu yajña harus dengan keyakinan.
  3. Lascarya, keikhlasan menjadi dasar utama yajña.
  4. Daksina, memberikan dana kepada pandita.
  5. Mantra, puja, dan gita, wajib ada pandita atau pinandita.
  6. Nasmuta atau tidak untuk pamer, jangan sampai melaksanakan yajña hanya untuk menunjukkan kesuksesan dan kekayaan.
  7. Anna Sevanam, yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan cara mengundang makan bersama.
  8. Dalam Bhagavad Gita XVII. 11, 12, dan 13 disebutkan ada tiga kualitas yajña, yakni sebagaimana tertera di bawah ini:

a)  Satwika Yajña
    Satwika Yajña adalah kebalikan dari Tamasika Yajña dan Rajasana Yajña bila didasarkan penjelasan Bhagawara Gita tersebut di atas. Satwika Yajña adalah yajña yang dilaksanakan sudah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Syarat-syarat yang dimaksud, antara lain sebagai berikut.
  • Yajña harus berdasarkan sastra. Tidak boleh melaksanakan yajña sembarangan, apalagi didasarkan pada keinginan diri sendiri karena mempunyai uang banyak. Yajña harus melalui perhitungan hari baik dan buruk, yajña harus berdasarkan sastra dan tradisi yang hidup dan berkembang di masyarakat.
  • Mengingat arti yajña itu adalah pengorbanan suci yang tulus ikhlas, Sang Yazamana atau penyelenggara yajña tidak boleh kikir dan mengambil keuntungan dari kegiatan yajña. Apabila dilakukan, maka kualitasnya  bukan lagi disebut sattwika.
  • Yajña harus menghadirkan sulinggih yang disesuaikan dengan besar kecilnya yajña. Kalau yajñanya besar, sebaiknya hadirkan  seorang sulinggih dwijati atau pandita. Tetapi kalau yajñanya kecil, cukup dipuput oleh seorang pemangku atau pinandita saja.
  • Dalam setiap upacara yajña, Sang Yajamana harus mengeluarkan daksina. Daksina adalah dana uang kepada sulinggih atau pinandita yang muput yajña. Jangan sampai tidak  melakukan itu, karena daksina adalah bentuk dari Rsi Yajña dalam Panca Yajña.
  • Yajña juga sebaiknya menghadirkan suara genta, gong atau mungkin Dharmagita. Hal ini juga disesuaikan dengan besar kecilnya yajña. Apabila biaya untuk melaksanakan yajña tidak besar, maka suara gong atau dharmagita boleh ditiadakan.


b)  Rajasika Yajña
                   Rajasika Yajña adalah yajña yang dilakukan dengan penuh harapan akan hasilnya dan dilakukan hanya untuk pamer saja. Kualitas yajña ini relatif sangat rendah. Walaupun semua persyaratan dalam sattwika yajña sudah terpenuhi, namun apabila Sang Yajamana atau yang menyelenggarakan yajña ada niat untuk memperlihatkan kekayaan dan kesuksesannya, maka nilai yajña itu menjadi rendah. 
                 Dalam Siwa Purana disampaikan bahwa seorang raja mengundang Dewa Siwa untuk menghadiri dan memberkati yajña yang akan dilaksanakannya. Dewa Siwa mengetahui bahwa tujuan utama mengundang-Nya hanyalah untuk memamerkan jumlah kekayaan, kesetiaan rakyat, dan kekuasaannya.
                Mengetahui niat tersebut, raja pun mengundang Dewa Siwa. Pada hari yang telah ditentukan, Dewa Siwa tidak mau datang, tetapi mengirim putranya yang bernama Dewa Gana untuk mewakili-Nya menghadiri undangan Raja itu. Dengan diiringi banyak prajurit, berangkatlah Dewa Gana ke tempat upacara. Upacaranya sangat mewah, semua raja tetangga diundang, dan seluruh rakyat 
ikut memberikan dukungan.
                 Dewa Gana diajak berkeliling istana oleh raja sambil menunjukkan kekayaannya berupa emas, perak, dan berlian yang jumlahnya bergudang-gudang. Dengan bangga, raja menyampaikan berapa jumlah emas dan berliannya. Sementara rakyat dari kerajaan ini masih hidup miskin karena kurang diperhatikan oleh raja dan pajaknya selalu dipungut oleh Raja.
                   Mengetahui hal tersebut, Dewa Gana ingin memberikan pelajaran kepada Sang Raja. Ketika sampai pada acara menikmati makanan dan minuman, Dewa Gana pun menghabiskan seluruh makanan yang ada. Bukan itu saja, seluruh perabotan berupa piring emas dan lain sebagainya semua dihabiskan 
oleh Dewa Gana. Raja menjadi sangat bingung sementara Dewa Gana terus meminta makan. Apabila tidak diberikan, Dewa Gana mengancam akan memakan semua kekayaan dari Sang Raja.
                   Khawatir kekayaannya habis dimakan Dewa Gana, Raja ini kembali menghadap Dewa Siwa dan mohon ampun. Lalu diberikan petunjuk dan nasihat agar tidak sombong karena kekayaan dan membagikan seluruh kekayaan itu kepada seluruh rakyat secara adil. Kalau menyanggupi, barulah Dewa Gana menghentikan aksinya minta makan terus kepada Raja. Dengan terpaksa Raja yang sombong ini menuruti nasihat Dewa Siwa yang menyebabkan kembali baiknya Dewa Gana. Pesan moral yang disampaikan cerita ini adalah, janganlah melaksanakan yajña berdasarkan niat untuk memamerkan kekayaan. Selain membuat para undangan kurang nyaman, juga nilai kualiatas yajña tersebut menjadi lebih rendah.

c)  Tamasika Yajña
            Ini adalah yajña yang dilakukan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastranya, tanpa mantra, tanpa ada kidung suci, tanpa ada daksina, tanpa didasari oleh kepercayaan. Tamasika Yajña adalah yajña yang dilaksanakan dengan motivasi agar mendapatkan untung. Kegiatan semacam ini sering dilakukan sehingga dibuat Panitia Yajña dan diajukan proposal untuk melaksanakan upacara yajña dengan biaya yang sangat tinggi. Akhirnya yajña jadi berantakan karena Panitia banyak mencari untung. Bahkan setelah yajña dilaksanakan, masyarakat ternyata berhutang di sana sini. Yajña semacam ini sebaiknya jangan dilakukan karena sangat tidak mendidik.


Uji Kompetensi
Setelah kamu membaca dan memahami materi tentang Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña ini, selanjutnya kerjakanlah soal-soal dibawah ini pada kertas lempiran dan dikumpulkan.
SOAL:
1.  Coba sebut dan jelaskan syarat-syarat yang wajib dipedomani dalam melaksanakan yajña!
2. Sebutkan tiga kualitas yajña dan berikan masing-masing penerapannya dalam kehidupan sehari-hari!

Mempraktikkan Yajña menurut Kitab Mahabharata dalam Kehidupan sehari-hari

Perenungan
”Ya indra sasty-avrato anusvāpam-adevayuá,
svaiá sa evair mumurat posyam rayim sanutar dhei tam tataá”.
Terjemahannya adalah.
”Tuhan Yang Maha Esa, orang yang tidak beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah lamban dan mengantuk, mati oleh perbuatannya sendiri. Berikanlah semua kekayaan yang dikumpulkan oleh orang semacam itu, kepada orang lain”.
(Åg Veda VIII. 97.3)
Memahami Teks
Beryajña bagi umat Hindu hukumnya wajib walau bagaimana dan di mana pun mereka berada. Sesuatu yang dilaksanakan dengan dilandasi oleh yajña adalah utama. Bagaimana agar semua yang kita laksanakan ini dapat bermanfaat dan bekualitas-utama, mendekatlah kepada-Nya dengan tali kasih karena sesungguhnya Tuhan Maha pengasih. Kitab Bhagavad Gita menjelaskan sebagaimana berikut ini.
”Ye tu dharmyāmrtam idam yathoktam paryupāsate,
sraddadhānā mat-paramā bhaktās te ’tiva me priyāá.”
Terjemahannya adalah.
”Sesungguhnya ia yang melaksanakan ajaran dharma yang telah diturunkan dengan penuh keyakinan, dan menjadikan Aku sebagai tujuan, penganut inilah yang paling Ku-kasihi, karena mereka sangat kasih pada-Ku.”
(Bhagavad Gita XII. 20)
Kasih sayang adalah sikap yang utama bagi pelakunya. Maksudnya, membiasakan diri hidup selalu bersahabat sesama makhluk, jauh dari keakuan dan keangkuhan, serta selalu besama dalam suka dan duka serta pemberi maaf. Orang-orang terkasih selalu dapat mengendalikan diri, berkeyakinan teguh, terbebas dari kesenangan, kemarahan, dan kebingungan. Dia tidak mengharapkan apa pun, tidak terusik dan tidak memiliki pamrih apa pun. Orang-orang terkasih adalah mereka yang terbebas dari pujian dan makian, pendiam dan puas dengan apa pun yang dialaminya. Persembahan apa pun yang dilaksanakan oleh seseorang kepada-Nya dapat diterima, karena Beliau bersifat Mahakasih.

Upacara pitra yadnya "Nyiramang Layon"
Upacara pitra yadnya "Nyiramang Layon"

Daksina dan Pemimpin Yajña
Mendengar kata daksina, dalam benak orang Hindu “Bali” yang awam akan terbayang dengan salah satu jejahitan yang berbentuk cerobong (silinder) terbuat dari daun kelapa yang sudah tua, dan isinya berupa beras, uang, kelapa, telur itik dan perlengkapan lainnya. Daksina adalah sesajen yang dibuat untuk tujuan kesaksian spiritual. Daksina adalah lambang Hyang.Guru (Dewa Siwa) dan karena itu digunakan sebagai saksi Dewata. Makna kata daksina secara umum adalah suatu penghormatan dalam bentuk upacara dan harta benda atau uang kepada pendeta/pemimpin upacara.

Penghormatan ini haruslah dihaturkan secara tulus ikhlas. Persembahan ini sangat penting dan bahkan merupakan salah satu syarat mutlak agar yajña yang diselenggarakan berkualitas (satwika yajña). Selanjutnya bagaimana pentingnya daksina dalam yajña, dikisahkan dalam cerita berikut. 
Setelah perang Bharatayuda usai,  Sri Krishna menganjurkan kepada Pandawa untuk menyelenggarakan upacara yajña yang disebut Aswamedha yadnya. Upacara korban kuda itu berfungsi untuk menyucikan secara ritual dan spiritual negara Hastinapura dan Indraprastha karena dipandang leteh (kotor) akibat perang besar berkecamuk. Di samping itu juga bertujuan agar rakyat Pandawa tidak diliputi rasa angkuh dan sombong akibat menang perang.

Atas anjuran Sri Krishna, di bawah pimpinan Raja Dharmawangsa, Pandawa melaksanakan Aswamedha yajña itu. Sri Krishna berpesan agar yajña yang besar itu tidak perlu dipimpin oleh pendeta agung kerajaan tetapi cukup oleh seorang pendeta pertapa dari keturunan warna sudra yang tinggal di hutan. Pandawa begitu taat kepada segala nasihat Sri Krishna, Dharmawangsa mengutus patihnya ke tengah hutan untuk mencari pendeta pertapa keturunan warna sudra. Setelah menemui pertapa yang dicari, patih itu menghaturkan sembahnya, “Sudilah kiranya Kamu memimpin upacara agama yang bernama Aswamedha Yajña, wahai pendeta yang suci”. Mendengar permohonan patih itu, sang pendeta yang sangat sederhana lalu menjawab, “Atas pilihan Prabhu Yudhistira kepada saya seorang pertapa untuk memimpin yajña itu saya ucapkan terima kasih. Namun kali ini saya tidak bersedia untuk memimpin upacara tersebut. Nanti andaikata kita panjang umur, saya bersedia memimpin upacara Aswamedha yajña yang diselenggarakan oleh Prabhu Yudistira yang keseratus kali. Mendengar jawaban itu, sang utusan terperanjat, kaget luar biasa. Ia langsung mohon pamit dan segera melaporkan segala sesuatunya kepada Raja. Kejadian ini kemudian diteruskan kepada Sri Krishna. Setelah mendengar laporan itu, Sri Krishna bertanya, siapa yang disuruh untuk menghadap pendeta, Dharmawangsa pun menjawab “Yang saya tugaskan menghadap pendeta adalah patih kerajaan”. Sri Krishna menjelaskan, upacara yang akan dilangsungkan bukanlah atas nama sang patih, tetapi atas nama sang Raja. Karena itu tidaklah pantas kalau orang lain yang memohon kepada pendeta. Setidak-tidaknya permaisuri Raja yang harus datang kepada pendeta. Kalau permaisuri yang datang, sangatlah tepat karena dalam pelaksanaan upacara agama, peranan wanita lebih menonjol dibandingkan laki-laki. Upacara agama bertujuan untuk membangkitkan prema atau kasih sayang, dalam hal ini yang paling tepat adalah wanita.

Nasihat Awatara Wisnu itu selalu dituruti oleh Pandawa. Dharmawangsa lalu memohon sang permaisuri untuk mengemban tugas menghadap pendeta di tengah hutan. Tanpa mengenakan busana mewah, Dewi Drupadi dengan beberapa iringan menghadap sang pendeta. Dengan penuh hormat memakai bahasa yang lemah lembut Drupadi menyampaikan maksudnya kepada pendeta. Di luar dugaan, pendeta kemudian bersedia memimpin upacara yang agung tersebut. Pendeta pun dijemput sebagaimana tata krama yang berlaku. Drupadi menyuguhkan makanan dan minuman dengan tata krama di kota kepada pendeta. Karena tidak pernah hidup dan bergaul di kota, sang Pendeta menikmati hidangan tersebut menurut kebiasaan di hutan yang jauh dengan etika di kota. Pendeta kemudian segera memimpin upacara. Ciri-ciri upacara itu sukses menurut Sri Krishna adalah apabila turun hujan bunga dan terdengar suara genta dari langit. Nah, ternyata setelah upacara dilangsungkan tidak ada suara genta maupun hujan bunga dari langit. Terhadap pertanyaan Darmawangsa, Sri Krishna menjelaskan bahwa tampaknya tidak ada “daksina” untuk dipersembahkan kepada pendeta. Kalau upacara agama tidak disertai dengan daksina untuk pendeta, berarti upacara itu menjadi milik pendeta. Dengan demikian yang menyelenggarakan upacara berarti gagal melangsungkan yajña. Gagal atau suksesnya yajña ditentukan pula oleh sikap yang beryajña. Kalau sikapnya tidak baik atau tidak tulus menerima pendeta sebagai pemimpin upacara maka gagallah upacara itu. Sikap dan perlakuan kepada pendeta yang penuh hormat dan bhakti merupakan salah satu syarat yang menyebabkan upacara sukses. Setelah mendengar wejangan itu, Drupadi segera menyiapkan Daksina untuk pendeta. Setelah pendeta mendapat persembahan daksina, tidak ada juga suara genta dan hujan bunga dari langit. Melihat kejadian itu, Sri Krishna memastikan bahwa di antara penyelenggara yadnya ada yang bersikap tidak baik kepada pendeta. Atas wejangan Sri Krishna itu, Drupadi secara jujur mengakui bahwa ia telah menertawakan Sang Pendeta memimpin yajñanya walaupun hanya dalam hati mengatakan, yaitu pada saat pendeta menikmati hidangan tadi. Memang dalam agama Hindu, Pendeta mendapat kedudukan yang terhormat bahkan dipandang sebagai perwujudan Dewa. Karena itu akan sangat fatal akibatnya kalau ada yang bersikap tidak sopan kepada pendeta.

Beberapa saat kemudian setelah Drupadi datang menyembah dan mohon maaf kepada pendeta, jatuhlah hujan bunga dari langit disertai suara genta yang nyaring membahana. lni pertanda yajña Aswamedha itu sukses. Demikianlah, betapa pentingnya kehadiran “daksina” yang dipersembahkan oleh yang beryajña kepada pendeta pemimpin yajña dalam upacara yajña.

TUGAS MANDIRI
Setelah membaca dan mempelajarai materi tersebut, silahkan dicatat pada buku catatan kemudian jawablah pertanyaan berikut:
  1. Tunjukkan praktik pelaksanaan yajna menurut kitab Mahabharata bila dikaitkan dengan kehidupan beragama Hindu di tanah air kita? Jelaskanlah!
  2. Apakah yang Anda ketahui tentang “daksina” terkait dengan kehidupan beragama Hindu di lingkungan sekitarmu? Jelaskanlah!
Jawaban untuk nomor 1 dan 2 dikumpulkan dalam kertas lempiran atau lewat email sandywarman100@gmail.com

C. Hidup Bermasyarakat Berdasarkan Ajaran Prawrtti Marga - Niwrtti dan Prawrtti Marga

Sahabat The Bali Buzz, kali ini saya akan membagikan modul pendidikan agama hindu dan budi pekerti untuk SMK Kelas XI dengan judul materinya adalah Hidup Bermasyarakat Berdasarkan Ajaran Prawrtti Marga. Materi ini adalah bagian dari ajaran Niwrtti dan Prawrtti Marga yang diajarkan pada kurikulum 2013.

Perenungan
“Tanupa’ agne’si tanvaṁ me
pāhathayurdā’agne’ syāyurme dehi,
varcodā’agne’si varco me dehi
agne yanme tanvā’ūnaṁ tanma’āpṛṇa”.
Terjemahannya:
“Engkau (Hyang Agni) adalah pelindung badan kami, lindungilah badan kami.
Engkau memberikan umur panjang, berikanlah kami umur panjang, Engkau
memberikan kecemerlangan budi. Ya Tuhan yang Maha Esa, apapun yang kurang
pada diri kami, semoga engkau memberikannya” (Yajur Veda III.17).
Memahami Teks
Bentuk pengabdian umat kepada Tuhan melalui persembahyangan
Bentuk pengabdian umat kepada Tuhan melalui persembahyangan
Prawrtti Marga adalah cara atau jalan yang utama untuk mewujudkan rasa bhakti ke hadapan Sang Hyang Widhi, dengan tekun melaksanakan tapa, yajna, dan kirti. Masing-masing bagian pelaksanaan ajaran Prawrtti tersebut di atas dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Tapa
Kata “tapa” berarti pengendalian diri untuk memuja Sang Hyang Widhi. Setiap umat Hindu memiliki kewajiban untuk melakukan pengendalian diri, dengan tujuan menghubungkan diri ke hadapan Sang Hyang Widhi. Pengendalian diri (tapa) itu sangat perlu dilaksanakan secara tekun dan teratur. Pelaksanaan tapa dapat dilakukan dengan mengikuti ajaran yama dan nyama. Kitab Yoga Sutra Patanjali menyebutkan ajaran yama dan niyama, masing-masing terdiri atas 5 bagian yang disebut dengan nama “Panca Yama” dan “Panca Nyama”. Sebagai makhluk Tuhan manusia hendaknya dapat kembali kepada-Nya dengan cara tekun dan kesungguhan hati melaksanakan tapa melalui pelaksanaan ajaran Panca Yama dan Nyama. Tapa merupakan salah satu cara untuk menyucikan jiwa/roh yang ada dalam diri kita.
Kitab Manusmrti menyebutkan sebagai berikut: 
“adbhir gatrani cuddhyanti manah sayena cuddhyanti,
widyo tapobhyam bhratātma buddhir jnanena cuddhyanti”.
(Manawa Dharma Sastra V.109)
Terjemahannya:
“Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh
dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan”.
Keterangan di atas dengan jelas menyatakan bahwa pengendalian diri, (tapa) merupakan sarana untuk membersihkan roh/jiwatma yang berada pada diri manusia dari belenggu ketertarikan yang bersifat duniawi. Maha Resi Patanjali mengatakan bahwa citta atau alam pikiran manusia dibangun oleh manah (bagian alam pikiran yang bersifat penerima kesan) budhi (bagian alam pikiran yang bersifat menganalisa), dan ahamkara ( rasa aku/rasa ego).

Pikiran manusia hendaknya dibersihkan dengan selalu berbuat jujur. Di dalam pribadi yang jujur terdapat pemikiran yang jernih, dan dalam pemikiran yang jernih terdapatlah ketenangan batin. Perilaku manusia di samping dapat dibentuk oleh faktor lingkungan, juga dibentuk oleh faktor dalam manusia itu sendiri. Faktor dalam dari manusia yang bersangkutan dalam bertingkah-laku harus diperhatikan, karena ia memiliki sifat yang beraneka ragam. Faktor dalam manusia disebut dengan Tri Guna, yang unsur-unsurnya terdiri dari sattwam, rajas dan tama.
Dalam sloka 15 dari kitab Wraspati Tattwa, menyebutkan keterangan tentang Tri Guna, sebagai berikut.
“Laghu prakacakam sattwam cancalam tu rajah sthitam,
tamo guru varanakam ityetaccinta laksanam
ikang citta mahangan mawa, yeka sattwa ngaranya,
ikang madres molah, yeka rajah ngaranya,
abwat peteng, yeka tamah ngaranya”.
Terjemahannya :
“Pikiran yang ringan dan terang, itu sattwam namanya, yang bergerak cepat itu rajas namanya, yang berat dan gelap itu tamas namaya”.
Keterangan dari kitab Wrhaspati Tattwa jelas-jelas menyatakan bahwa pikiran adalah raja/pemimpin yang ada pada diri manusia. Pikiranlah yang memerintah manusia untuk bertingkah-laku dalam kehidupan ini. Pikiran manusia yang dilapisi oleh Tri Guna (tiga kekuatan) akan bergerak-gerak menurut besar-kecilnya pengaruh dari masing-masing guna (kekuatan) yang ada pada manusia itu sendiri. Guna Sattwa bersifat baik bijaksana, Guna Rajas bersifat ego/angkuh, dan Guna Tamas bersifat malas atau masa bodo. Manusia hendaknya dapat mengendalikan Guna Rajas dan Guna Tamas yang ada pada dirinya. Sebaliknya Guna Sattwam manusia harus memiliki kemampuan untuk mengangkat Guna Sattwam yang ada pada dirinya. Karena Guna Sattwam dapat mengantar manusia menjadi orang bijaksana dan terhormat.

Ajaran tapa dengan yama dan nyama dapat mengantar pikiran manusia menuju sattwam. Dan sattwam beserta dengan tapa dapat mengendalikan Guna Rajas dan Tamas. Bila ini dapat dan mau dilaksanakan maka manusia yang bersangkutan dapat dinyatakan bijaksana serta berhasil dalam “tapa”.

Sastra-sastra agama yang memuat ajaran pengendalian diri bila mau dipelajari, di dalam dan diamalkan dapat menghantarkan orang yang bersangkutan melaksanakan tapa. Dalam kesempurnaan “tapa” kita dapat merasakan Tuhan beserta manifestasinya itu ada, mensyukuri anugrah-Nya, merasakan hidup ini indah dan hidup ini damai. Demikianlah manfaat ajaran pengendalian diri (tapa) itu, guna terciptanya sifat-sifat yang mulia dan bijaksana (kedewasaan) dan terkendali sifat-sifat egois atau angkuh (keraksasaan).

2. Yajna
Yang dimaksud dengan yajna adalah suatu pemujaan dan persembahan yang dilaksanakan oleh umat Hindu ke hadapan Sang Hyang Widhi/Tuhan beserta manifestasinya yang dilandasi dengan rasa bhakti dan ketulusan hati. Melaksanakan yajna merupakan kewajiban bagi setiap umat yang beragama Hindu. Membiasakan diri hidup dengan yajna adalah suatu kebiasaan yang utama. Keutamaan yajna terletak pada ketulusan hati dari mereka yang mempersembahkan yajna itu.

Umat Hindu memiliki suatu keyakinan bahwa, terciptanya manusia oleh Tuhan/ Sang Hyang Widhi berdasarkan yajna. Kitab Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut.
“Sahayajnah prajah srishtva puro’vacha praja patih,
anena prasavishya dhvam esa vo’stvishta kamadhuk”.
(Bhagavad Gita. III. 10)
Terjemahannya:
“Dahulu kala prajapati menciptakan manusia bersama bhakti-persembahannya
dan bersabda; dengan ini engkau akan berkembang biak dan biarlah ini jadi sapiperahanmu”.
Kata bhakti dalam sloka di atas adalah yajna. Dari keterangan tersebut dapat dikatakan bahwa, dahulu pada masa pencipta (Šṛṣti), Sang Hyang Widhi /Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta beserta isinya (manusia) berdasarkan yajna. Karena manusia tercipta oleh yajña-Nya, maka sudah menjadi kewajiban, dalam kehidupannya manusia mengisinya dengan yajna. Yajna merupakan salah satu cara bagi manusia, untuk mendekatkan diri ke hadapan Tuhan beserta manifestasinya.

Secara umum umat Hindu melaksanakan lima jenis yajna. Berikut ini adalah bagian-bagian yajña.
a. Dewa Yajña yaitu persembahan ke hadapan Sang Hyang Widhi
b. Resi Yajña adalah persembahan kepada para rsi
c. Manusa Yajña adalah persembahan terhadap sesama manusia.
d. Pitra Yajña adalah persembahan kepada leluhur.
e. Bhuta Yajña adalah persembahan kepada para bhuta.

Pelaksanaan Yajña ini biasanya disesuaikan dengan tempat (desa), waktu (laka) dan keadaan (patra). Di bawah ini pelaksanaan “yajña” menurut waktunya.
a. Setiap hari, yang juga disebut “Nitya Kama”, yaitu pelaksanaan Yajña yang
dilaksanakan setiap hari antara lain seperti berikut ini.
  1. Melaksanakan Tri Sandhya yaitu menghubungkan diri ke hadapan Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, tiga kali sehari (pagi, siang dan sore) hari.
  2. Mempersembahkan banten saiban yaitu menyampaikan rasa bersyukur ke Sang Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa, setiap habis masak di dapur. Kebiasaan seperti ini perlu dilestarikan untuk menumbuhkembangkan rasa bersyukur umat manusia ke hadapan Sang Hyang Widhi. Orang yang baik adalah orang yang makan-makanan yang telah dipersembahkan ke hadapan-Nya. 
Kitab Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut.
“Yajña sishtasinah santo muchyante savra kilbishaih, bhunjate te tvagham papa ye pachanty atma karanat”.Terjemahannya:“Yang baik makan setelah upacara bhakti akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi mereka sendiri ini sesungguhnya makan dosa”.
Keterangan di atas memberikan amanat kepada kita agar selalu /dengan tidak henti-hentinya memupuk budhi yang luhur. Budhi luhur manusia dapat dilihat dari praktik hidupnya sehari-hari, seperti lebih mendahulukan persembahan (yajna) dengan Panca Yajnanya daripada kebutuhan dirinya.

b. Pada hari-hari tertentu atau waktu-waktu tertentu juga disebut “Naimitika Karma”.
Selain yajna itu dapat dipersembahkan setiap hari seperti tersebut di atas, juga dapat dilaksanakan pada hari-hari atau waktu-waktu tertentu. Pelaksanaan yajna yang berhubungan dengan waktu-waktu tertentu, seperti yajna yang berhubungan dengan hari raya nyepi : Saraswati, Pagerwesi, Ciwaratri, Nyepi dan yang lainnya.

Pada hari-hari tersebut di atas pemujaan ke hadapan Tuhan/Sang Hyang Widhi dilaksanakan secara khusus. Sedangkan menurut tingkatannya yajña itu dapat dilaksanakan melalui tingkatan nistan (nista), tingkatan madya dan tingkatan utama. Dari tiga tingkatan pelaksanaan yajña, dapat kita kelompokkan lagi masing-masing menjadi tiga tingkatan lagi seperti berikut ini.
a) Tingkatan nistaning-nista.
b) Tingkatan nistaning-madya.
c) Tingkatan nistaning-utama.
d) Tingkatan madhayaning-nista.
e) Tingkatan madhayaning-madya.
f) Tingakatan madhayaning-utama.
g) Tingkatan utamaning-nista.
h) Tingkatan utamaming-madya.
i) Tingkatan utamaning-utama.
Keutamaan dari yajña itu adalah sama, sedangkan tingkatan-tingkatannya itu bertujuan untuk memberikan gambaran dari kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang melaksanakan yajña (Sang Yajñamana). Yajña yang dipersembahkan umat Hindu ke hadapan Sang Hyang Widhi menggunakan beberapa sarana yang ditata dan disusun sedemikian rupa, dalam wujud sesajen atau banten. Sesajen dan banten merupakan sarana pelengkap dari pelaksanaan suatu yajña ke hadapan-Nya.

Adanya beberapa sarana pokok dari yajña, sebagaimana disebutkan dalam kitab Bhagavad Gita sebagai berikut.
“pattram pushpam phalam toyam
Yo me bhaktya prayachchati
Tad aham bhaktyu pahritam
Asnami prayatat manah”.
(Bhagavad Gita IX. 26)
Terjemahannya:
“Siapa saja yang sujud kehadapan-Nya dengan persembahan setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan atau seteguk air. Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci”.
Dari keterangan sloka di atas dapat kita simpulkan bahwa ,sarana pokok dalam beryana terdiri atas; daun, bunga, buah, dan air serta yang utama kesucian hati yang mempersembahkannya. Sedangkan tujuan dari pelaksanaan yajna itu adalah sebagaimana berikut.
  1.  Sebagai pernyataan rasa bersyukur dan terima kasih ke hadapan Sang Hyang Widhi.
  2. Sebagai pernyataan permohonan anugrah-Nya.
  3. Sebagai ungkapan permohonan ampun atas segala kelalaian yang dilakukan.
  4. Sebagai penghormatan kesucian diri, guna dapat mencapai kerahayuan, kesejahteraan dan kebahagiaan atas karunia-Nya.

Demikianlah manfaat “yajna” dalam pelaksanaan ajaran Prawrtti Marga, bila kita dapat melaksanakan dengan kesungguhan hati akan dapat menikmati hasil atau phala yang dijadikan tujuan.

3. Kirti
Kirti adalah suatu usaha, kerja ( karma) dan pengabdian yang dilaksanakan oleh umat Hindu untuk menghubungkan diri ke hadapan Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya. Kirti adalah wujud kerja umat Hindu dalam rangka melaksanakan swadharmanya, baik dharma negara maupun dharma agama. Agama Hindu melalui ajaran karma-marga mengajarkan setiap umat hendaknya kerja karena di dalam kerja terdapat kebahagiaan hidup ini. Seorang pekerja yang baik adalah mereka yang bekerja dengan tidak mengikatkan diri pada hasil kerja. Kerja yang dilandasi harapan para pekerjanya, bila tidak dapat mengisi harapannya dia akan menderita. Kitab suci Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut.
“Na karmanam anarambhan
Naishkarmyam purusho’snute
Na cha samnyasanad ewa
Siddhim samadhigachchhati”
( Bhagavad Gita. III. 4)
Terjemahannya:
“Orang tidak akan mencapai kebebasan karena diam tiada bekerja juga ia takkan mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja”.
Dalam sloka selanjutnya disebutkan sebagai berikut.
“Yajnarthat karmano ‘nyatra
Loko ‘yam karma bandhnah
Tadartham karma kaunteya
Mukta sangah samaçhara”.
(Bhagavad Gita. III. 9)
Terjemahannya:
“Kecuali tujuan berbhakti dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja karenanya, bekerjalah demi bhakti tanpa kepentingan pribadi, oh Kunti Putra”.
Berdasarkan keterangan sloka di atas, mengamanatkan kepada kita umat Hindu untuk selalu dapat mengabdikan diri melalui karma (kerja). Kerja yang dilaksanakannya hendaknya dilandasi dengan ketulusan hati, dan bukan karena mengharapkan hasil kerja itu. Kerja yang dilaksanakan dengan bhakti adalah “kirti”. Bila setiap umat Hindu dapat bekerja berdasarkan “kirti” maka tidak akan terjadi perselisihan di antara pekerjaan-pekerjaan itu. “Kirti” mengajarkan kita pada hidup damai dalam bekerja.

Wujud kirti umat Hindu dalam hubungannya dengan dharma agama, dapat dilaksanakan melalui hal-hal berikut.
  • Membangun dan memelihara tempat suci (pura)
  • Memberikan dana punia kepada orang suci atau orang lain yang sangat membutuhkan
  • Membuat dan menyiapkan sarana upacara (sesajen) dalam rangka pemujaan
  • Melaksanakan aktifitas/kerja bhakti (ngayah) pada tempat-tempat suci (pura)
  • Dan kegiatan lain yang berhubungan dengan aktifitas agama.

Semua kegiatan di atas merupakan beberapa wujud dari “Yasa Kirti” umat Hindu yang berhubungan dengan pelaksanaan dharma agama. Kemudian dalam hubungannya dengan pelaksanaan dharma negara, “Yasa Kirti” umat Hindu dapat diwujudkan dengan cara-cara sebagai berikut.
  • Turut berperan aktif dalam mensukseskan berbagai program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah.
  • Berupaya mewujudkan pembangunan fisik di berbagai sektor seperti bidang pendidikan, agama, sosial, kebudayaan, perekonomian, pertahanan, dan bidangbidang lainnya.

Dalam mewujudkan “Yasa Kirti” tersebut, hendaknya pelaksanaan selalu dilandasi dengan dharma dan kebajikan. Terciptanya suasana kebersamaan, kekeluargaan, semangat gotong royong, mantapnya pertahanan nasional, dan stabilitas nasional yang tangguh adalah wujud nyata dari dharma negara umat Hindu.

Demikianlah wujud “Yasa Kirti” umat Hindu dengan hubungannya dengan dharma negara dan dharma agama. Semuanya terjadi karena adanya kesadaran umat Hindu untuk membangun dan berkarya, guna mewujudkan kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani. Kesemuanya ini merupakan awal dari usaha untuk mewujudkan tujuan agama (Moksatham jagadhita ya ca iti dharma) dan tujuan pembangunan bangsa Indonesia ( masyarakat adil dan makmur).

Evaluasi
Setelah mempelajari materi diatas, silahkan kerjakan soal-soal dibawah ini untuk mengukur tingkat pemahaman mu.
  1. Dari bacaan di atas bagaimana pendapatmu tentang ajaran Prawrtti Marga dalam masyarakat Hindu?
  2. Buatlah rangkuman yang berhubungan dengan ajaran Prawrtti Marga dari berbagai sumber yang jelas!
  3. Apa yang harus dilakukan oleh umat Hindu sehingga yang bersangkutan dapat dinyatakan sudah melaksanakan ajaran Prawrtti Marga?
  4. Buatlah peta konsep tentang pelaksanaan ajaran Prawrtti Marga.
  5. Amatilah gambar berikut ini, kemudian tuliskanlah deskripsinya! Sebelumnya diskusikanlah dahulu dengan orangtua mu di rumah!


B. Hidup Bermasyarakat Berdasarkan Ajaran Niwrtti Marga

Hai sobat The Bali Buzz, berikut ini akan saya jelaskan tentang Hidup Bermasyarakat Berdasarkan Ajaran Niwrtti Marga. Untuk memahami tentang materi ini, berikut ini ada sloka yang bisa dijadikan renungan.

Perenungan
“Sarve asmin devā ekavrto bhavanti”
Terjemahannya:
“Di dalam-Nya semua Dewata manunggal” (Atharva Veda XIII. 4. 21).
Memahami Teks:
Niwrtti Marga dapat dilaksanakan dengan menekuni ajaran Yoga Marga. Pelaksanaan yoga merupakan sadhana dalam mewujudkan samadhi yaitu penyatuan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Yoga Marga adalah suatu usaha untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya. Kitab Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut.
“yadā hi ne’ndriyārtheshu na karmasy anushajjate, sarva saòkalpa saònyāsì yogārūðhas tado’chyate”. (Bhagavad Gita. VI. 4.)
Terjemahannya:
“Bila ia merasa bebas sungguh-sungguh dari ikatan objek panca indra dan kerja, dan membuang segala maksud-keinginan maka ia dikatakan mencapai yoga”.
Anak-anak sekolah dasar sedang Yoga
Anak-anak sekolah dasar sedang Yoga
Seseorang dapat disebut sebagai yogi, jika mereka sudah dengan teguh melaksanakan kesatuan (memuja/sembahyang) ke hadapan Ida  Sang Hyang Widhi. Beliau ada di dalam semua makhluk ciptaan-Nya. Mereka selalu berusaha menumbuhkan kesadaran rohani yang utama, dan selalu berupaya menghapuskan kekurangsempurnaan menuju kesempurnaan yang abadi. Pikiran adalah pengaturan diri manusia dan atma adalah yang   menghidupkannya.   Pikiran   dan atma tak ubahnya seperti sebuah danau, di mana atma adalah dasar danau dan air adalah pikiran itu sendiri. Hanya pada danau yang airnya jernih kita akan dapat melihat dasar danau itu. Upaya dalam mewujudkan pelaksana- an  Niwrtti  Marga,  penerapannya  dapat dilaksanakan melalui “Yoga Marga” dan “samadhi”. Yoga mengajarkan pengenda- lian diri untuk mengarahkan pikiran agar dapat bersatu dengan Sang Hyang Widhi.

Orang yang sudah dapat melaksanakan ajaran yoga dengan sungguh-sungguh disebut yogin. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi seorang yogi untuk mengendalikan pikiran-pikirannya agar selalu jernih. Kitab Patanjali Sutra, menyebutkan sebagai berikut.
“Yogaçcitta vrtti nirodhah”. (Yoga Sutra I.1)
Terjemahannya:
“Yoga adalah pengendalian gelombang-gelombang pikiran dalam alam pikiran”.
Berdasarkan uraian sloka di atas, dengan jelas dinyatakan bahwa gelombang- gelombang pikiran itu harus dikendalikan.Yoga mengajarkan pengendalian diri untuk menjernihkan pikiran serta membebaskan ikatan/belenggu suka-duka yang bersifat duniawi, yang ada pada setiap diri manusia. Noda-noda yang mengotori pikiran manusia dapat dihilangkan secara berangsur- angsur melalui pelaksanaan yoga. Ajaran “yoga” dapat menuntun manusia secara bertahap mengendalikan dirinya untuk dapat menguasai pikirannya dan akhirnya sampai mencapai ketenangan pada Sang Hyang Widhi.Pelaksanaan yoga terdiri dari delapan tahapan, yang disebut “Astāngga yoga” sebagaimana disebutkan sebagai berikut.
“yama nyamasana pranayama pratyahara, Dharana dhyana samadhyc stavanggani”. (Yoga sutra. II.29)
Terjemahannya:
“Yama, nyama, asana, pramayana, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi”.
Dengan demikian Astāngga Yoga dapat diartikan “delapan bagian yoga”. Adapun bagian-bagiannya adalah sebagai berikut.

1.  Yama ialah pengendalian diri dari tahap perbuatan jasmani.
2.  Nyama ialah pengendalian diri dalam diri yaitu tahapan rohani.
3.  Asana ialah sikap duduk.
4.  Pranayama adalah pengendalian prana / pernafasan.
5.  Pratyahara adalah penarikan pikiran dari objeknya.
6.  Dharana adalah pemusatan pikiran.
7.  Dhyana adalah meditasi.
8. Samadhi adalah luluhnya pikiran dengan atman.

Kedelapan tahapan ajaran yoga ini merupakan salah satu dasar untuk melaksanakan ajaran Niwrtti Marga. Pelaksanaan hendaknya dengan sungguh-sungguh dan penuh disiplin. Tahap demi tahap.

1.  Tahapan Permulaan adalah Yama.
Kata yama sebagaimana diuraikan di atas berarti pengendalian diri pada bagian awal. Pengendalian diri tahap pertama ini menampakkan pengendalian diri dalam penampilan lahir. Yama sebagai tahap pengendalian diri paling awal, terdiri atas lima bagian yang sering disebut “Panca Yama”. Bagian-bagian dari “Panca Yama” ini diuraikan sebagai berikut.
“Ahimsa satyasteya brahmacarya parigraha yamah” (Yoga Sutra. II. 30)
Terjemahannya:
“Ahimsa, satya, steya, brahmacari, aparigraha, semuanya ini adalah yama”.
Keterangan di atas menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Panca Yama” terdiri dari beberapa hal seperti di bawah ini.
a.  Ahimsa artinya tidak menyakiti sesama makhluk hidup, atau saling menyayangi antarsesama.
b.  Brahmacari adalah masa belajar mencari ilmu pengetahuan.
c.  Satya artinya setia, berperilaku jujur dalam kehidupan.
d.  Apari artinya tidak serakah, tidak mementingkan diri sendiri.
e. Asteya artinya tidak mencuri, tidak korupsi, tidak mengambil hak orang lain. Sehubungan  “yama”  sebagai  pengendalian  diri  tingkat  pertama  dalam  kitab Sarasamuscaya di sebutkan ada 10 (sepuluh) yama. Kesepuluh pengendalian diri tingkat pertama tersebut, adalah “Dasa Yama” yang diuraikan sebagaimana berikut.
“Anrsamsyam ksama satyamahinsa dama arjawan pritih prasado, madhuryam mardawam ca yama dasa. Nyang brata ikang inaranan yama, prayate kanya nihan, sapuluh kwehnya, anrsangsya, ksma, satya, ahimsa, dama, arjawa, prtti, prasada, madhurya, mardawa, nahan pratuakanya sapuluh, anrcangsya, siharimba, tan swartha kewala, ksama, si kelan ring panastik, satya, si tan mrsawada, ahingse, manukhe sarwa bhawa; dama, si upacama wruh mituturi manahny, arjawa, si duga-duga bener, pritti, si gong karuna, prasada, heningning, manah, madhurya, manishing wulat lawan wuwus, mardawa, posning manah”.
(Sarasamuscaya. 259)
Terjemahannya:
“Inilah brata yang disebut yama, perinciannya demikian; anrcangsya, ksama, satya, ahimsa, dama, arjawa, prtti, prasada, madhurya, mardawa, sepuluh banyaknya,  anrcangsya  yaitu  harimbawa,  tidak  mementingkan  diri  sendiri saja, ksama, tahan akan panas dan dingin; satya, yaitu tidak berkata bohong; ahingsa, berbuat bahagianya makhluk; dama sabar serta dapat menasihati diri sendiri; arjawa adalah tulus hati, berterus terang; prtti yaitu sangat welas asih; prasada, kejernihan hati,; madhurya, manis pandangan (muka manis) dan manis perkataan; mardhawa, kelembutan hati”.
Sloka   di   atas   dapat   dipergunakan   sebagai   sadhana   untuk   melaksanakan Niwrtti Marga untuk tahap pertama. Ada 10 (sepuluh) macam tahapan yang mesti dilaksanakan, disebut “Dasa Yama” terdiri atas beberapa hal berikut ini.
a.  Anrçangsya artinya tidak mementingkan diri sendiri.
b. Kṡama adalah tahan akan panas dingin. 
c.  Satya adalah tidak berdusta.
d. Ahiṁsa adalah membahagiakan semua makhluk.
e.  Dama yaitu sabar, dapat menasehati diri sendiri. 
f.  Arjawa yaitu tulus hati, berterus terang.
g.  Priti adalah sangat welas asih. 
h.  Prasada adalah jernih hati.
i.  Madhurya yaitu manisnya pandangan dan perkataan.
j.  Mardawa adalah lembut hati.
Demikian rincian “Dasa Yama” sebagai ajaran pengendalian diri tingkat awal yang disebutkan dalam kitab Sarasamuscaya.

Yogin asal india memberikan materi tentang yoga
Yogin asal india memberikan materi tentang yoga
Ajaran  Dasa  Yama  yang  terdapat  dalam  kitab  Sarasamuscaya  dan  “Panca Yama” yang diuraikan dalam kitab Patanjali Yoga Sutra patut dan baik digunakan untuk melaksanakan ajaran Niwrtti Marga. Kedua ajaran ini dapat menuntun dan menumbuhkan budi pekerti luhur masing-masing umat yang melakukannya. Mereka yang melaksanakan hendaknya menanamkan kesadaran berdisiplin tinggi pada pribadinya. Segala tindakan yang dimotivasi oleh disiplin yang tinggi tentu akan menumbuhkan hasil yang maksimal.

2.  Tahapan Kedua adalah Nyama
Nyama merupakan disiplin diri tahap kedua setelah “yama” yaitu pengendalian diri dari dalam diri (rohani) dalam  Astāngga yoga, yang dapat digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan ajaran Niwrtti Marga. Ajaran ini merupakan kewajiban yang secara terus-menerus dilakukan dalam mewujudkan kesucian lahir-batin untuk menghadap Sang Hyang Widhi. Semakin sempurna dapat kita laksanakan ajaran ini, semakin cepat kita menemukan diri kita sendiri, karena pengaruh-pengaruh duniawi semakin menipis melekat pada diri kita. Nyama terdiri dari lima bagian, seperti disebutkan dalam Yoga Sutra Patanjali
“Šauca santosa tapah svadhyayesvara pranidhanani niyamah”. (Yoga Sutra. II. 32)
Terjemahannya:
“Sauca, santosa, tapa, swadhyaya, dan iswara pranidhana, semuanya ini adalah nyama”.
Dari penjelasan kitab Yoga Sutra Patanjali tersebut, dapat dinyatakan bahwa bagian- bagian dari nyama ini ada 5(lima) yang disebut “Panca Nyama”, masing-masing bagiannya adalah seperti berikut ini.
a.  Çauca artinya suci lahir-batin 
b.  Santosa artinya kepuasan
c.  Tapa artinya pengekangan diri 
d.  Swadhayaya artinya belajar
e.  Iswarapranighana artinya bhakti kepada Sang Hyang Widhi.

Panca Niyama mengajarkan bahwa menjadi suatu kewajiban untuk selalu menjaga kesucian pikiran dan rohani kita, karena sesungguhnya dari pikiran yang suci dapat mewujudkan jasmani dan rohani yang suci pula. Demikian juga manusia hendaknya selalu dapat memuaskan dirinya dengan apa yang menjadi miliknya. Sehingga tidak akan ada gejolak iri hati kepada orang lain. Manusia hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diri, sehingga tercipta keseimbangan, ketenangan hidup, baik lahir maupun batinnya.

Di samping itu umat manusia hendaknya selalu mengupayakan diri untuk belajar, karena pengetahuan kerohanian itu diuraikan dalam kitab-kitab agama Hindu. Terakhir manusia hendaknya selalu mengadakan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi. Di hadapan Sang Hyang Widhi manusia akan dapat merasakan dirinya kecil, lemah, dan sangat sederhana.

Kitab Sarasamuscaya menyebutkan sebagai berikut.
“Danamijya tapo dhyanam Swadhayayopasthanigrahah, Wratopawasa maunam ca ananam Ca niyama daca. Nyang brata sapuluh kwehnya, ikang nyama ngaranya, pratyekadana, ijjya, tapa, dhayana, swadhyaya, upasthanigraha, brata upawasa, mauna, snana, nahan ta wakning nyama, dana weweh, annadanadi; ijya, dewapuja, pitrpujadi, tapa, kayasangcosana, kasatan ikang sarira,bhucarya, jalatyagadi; dhyana, ikang siwasmarana, swadhaya,wedabhyasa, upasthanigraha, kahrtaning upasta, brata annawarjadi, mauna, wacangyama kahrtaning ujar, haywakecek kuneng, snana, tri sandya sewana, madyusa ring kalaning sandhya”. (Sarasamuscaya, 260)
Terjemahannya:
“Inilah brata sepuluh banyaknya yang disebut nyama, yang perinciannya adalah dana, ijya, tapa, dhyana, swadhyaya, upasthaninggraha, brata, upawasa, mona, stana. Itulah yang merupakan nyama; dana,pemberian; pemberian makan, minuman dan lain-lain; ijya, pujaan kepada dewa, kepada leluhur, dan lain- lain; tapa, adalah pengekangan nafsu jasmaniah, badan yang seluruhnya kurus kering, layu, berbaring di atas tanah, di atas air, dan di atas alas-alas lain sejenis itu; dhayana, merenungkan Dewa Siwa; swadhyaya mempelajari weda; upasthanigraha, pengekangan, upastha, singkatnya pengendalian nafsu syahwat; brata, pengekangan nafsu terhadap makanan; mona, misalnya tidak bicara atau tidak bicara sama sekali, tidak bersuara; snana, Tri Sandhya sewana, melakukan Tri Sandhya, mandi membersihkan diri pada waktu melakukan Sandhya”.
Dalam kitab Sarasamuscaya, disebutkan ada sepuluh macam nyama, yang disebut “Dasa Nyama”. Adapun bagian-bagian “Dasa Nyama” tersebut terdiri atas hal-hal berikut.
a.  Dana artinya pemberian makanan dan minuman, dan lain-lainnya.
b.  Ijya artinya pujaan kepada Dewa, leluhur, dan lain-lain pujaan sejenis itu. 
c.  Tapa artinya pengekangan hawa nafsu jasmani.
d.  Dhyana artinya merenung memuja Dewa Siwa. 
e.  Swadhyaya artinya mempelajari Veda.
f.  Upasthanigraha artinya pengekangan nafsu syahwat.
g.  Brata artinya pengekangan nafsu terhadap makanan. 
h.  Upawasa pengekangan diri.
i.   Mona artinya tidak bersuara.
j.   Snana artinya melakukan pemujaan dengan Tri Sandhya.

Demikian perincian ajaran Dasa Nyama dalam kitab Sarasamuscaya. Ajaran Dasa Nyama dan “Panca Nyama” sesuai uraian di atas dapat dipergunakan sebagai dasar melaksanakan Niwrtti Marga. Ajaran Panca Nyama dan juga Dasa Nyama menurut yoga, merupakan ajaran tahap kedua untuk mencapai kesempurnaan rohani yang utama. Kedua ajaran ini patut dimengerti, dipahami dan diamalkan dalam mewujudkan kesempurnaan rohani.

3.  Asana adalah sikap badan yang sempurna.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa antara badan/jasmani dengan rohani adalah dua unsur yang memiliki hubungan sangat erat. Suatu kehidupan/aktifitas tidak akan terjadi apabila salah satu dari dua unsur itu (jasmani dan rohani) harus ada dan berhubungan. Dengan demikian apabila rohani mengalami gangguan maka jasmani pun ikut terganggu.
Asana  sebagai  suatu  ajaran  dalam Astāngga  yoga  bertujuan  untuk  meredam gerak-gerik tubuh, sehingga pikiran tidak akan diganggu oleh gerakan-gerakan tubuh itu. Dengan tenangnya badan seseorang dapat mengatur dan mengendalikan jalannya nafas dan gerakan pikirannya. Asana hendaknya dilakukan dengan menyenangkan, karena itu orang dapat melakukan secara berulang kali. Dalam pelaksanaan asana, seseorang boleh memilih salah satu di antara asana yang ada seperti   “padmasana, bajrasana, siddhasana, svatikasana atau sukhasana”.
Pengendalian jasmani melalui asana maka tenaga yang kita miliki tidak akan terbuang sia-sia. Semakin sempurna kita dapat mengendalikan diri, maka kesadaran kita akan semakin halus, dan ini dapat menghantarkan rohani seseorang menjadi tenang. Dengan sikap asana, maka keadaan jasmani seseorang menjadi lebih sempurna. Kesempurnaan jasmani itu dapat menghantarkan rohani seseorang menjadi tenang.

4.  Pranayama adalah pengendalian tenaga hidup.
Prana adalah tenaga hidup. Prana berada pada semua unsur, tetapi dia bukan unsur itu. Dia bisa berada di udara, makanan, minuman, cahaya matahari, dan berbagai benda. Prana merupakan bagian nafas alam semesta.
Melalui pengendalian jalannya nafas, seseorang dapat mengendalikan dan mendiamkan dengan tenang pikirannya. Dengan terkendalinya pikiran, maka terkendali pulalah prana itu dalam badan kita. Seluruh bagian tubuh kita dapat diisi prana, dan apabila hal ini bisa dilakukan maka seluruh bagian badan kita dapat dikendalikan. Dalam ajaran yoga, praktiknya pranayama dilakukan denga mengatur jalannya nafas.

Ada tiga bagian pranayama,yaitu sebagai berikut. 
a.  Puraka artinya memasukkan nafas
b.  Kumbaka artinya menahan nafas
c.  Recaka  artinya mengeluarkan nafas

Untuk mencapai tujuan pelaksanaan ajaran yoga pranayama dapat dilaksanakan secara berulang-ulang dan terus-menerus sebelum mencapai yoga.

5.  Pratyahara adalah pemusatan pikiran pada Tuhan/Sang Hyang Widhi.
Di antaranya yang paling sulit untuk mengendalikan adalah pikiran. Kegelisahan pikiran tidak ubahnya seperti kuda yang binal. Pikiran itu tidak pernah diam, dia selalu bergerak. Bagaimana cara menjinakkannya?
Yoga mengajarkan, untuk dapat mengendalikan pikiran seseorang harus duduk dengan tenang. Kemudian pikiran itu kita lepaskan dan pusatkan dengan satu objek tertentu. Hal ini hendaknya dilakukan dengan penuh kesabaran. Hendaknya pula dia diperlakukan seperti itu secara terus-menerus, tentu semakin lama semakin tenang, semakin halus dan akhirnya akan dapat dikuasai.
Menarik  pikiran  dari  objek-objek  yang  menggelisahkan  dan  memusatkanya pada diri sendiri (Sang Hyang Widhi), inilah disebut dengan pratyahara. Pratyahara merupakan suatu proses awal dalam usaha mencapai samadhi.

6. Tahapan keenam Dharana.
Dharana adalah usaha mengikatkan pikiran pada satu objek (Sang Hyang Widhi), agar ia dapat menetap dan tidak goyah.

7. Dhyana adalah tahapan ketujuh.
Dhyana adalah usaha melatih pikiran untuk tetap terpusat pada satu objek di dalam atau di luar diri sendiri dan sampai mengalirkan arus kekuatan yang tidak terpecah- pecah.

8. Samadhi adalah tahapan kedelapan (puncak yoga).
Samadhi adalah terpusatnya pikiran pada dirinya sendiri (Atman/Brahmana). Samadhi dapat dicapai oleh seseorang, apabila ia telah teguh dengan kekuatan dhyana, sehingga dapat menolak rangsangan luar dan hanya tetap pada pemusatan pikiran pada Sang Hyang Widhi. Dharana, dhyana, dan samadhi merupakan tingkatan usaha  pemusatan  pikiran  sebagai  wujud  dari  yoga  yang  sejati.  Dalam  keadaan seperti ini disebut samyana. Pertolongan-pertolongan di antara dharana, dhyana, dan samadhi merupakan tingkatan usaha pemusatan pikiran sebagai wujud dari yoga yang sejati. Pertolongan-pertolongan di antara dharana, dhyana dan samadhi disebut “antarangga”.
Demikianlah ajaran “Astāngga yoga” yang tertulis dalam kitab suci (Yoga Sutra Panjali). Ajaran yoga tetap dilandasi oleh ajaran etika. Karena seseorang yang berbudi pekerti baik dapat mencapai tingkat “samyana”.

Baca juga tentang: