C. Hidup Bermasyarakat Berdasarkan Ajaran Prawrtti Marga - Niwrtti dan Prawrtti Marga

Sahabat The Bali Buzz, kali ini saya akan membagikan modul pendidikan agama hindu dan budi pekerti untuk SMK Kelas XI dengan judul materinya adalah Hidup Bermasyarakat Berdasarkan Ajaran Prawrtti Marga. Materi ini adalah bagian dari ajaran Niwrtti dan Prawrtti Marga yang diajarkan pada kurikulum 2013.

Perenungan
“Tanupa’ agne’si tanvaṁ me
pāhathayurdā’agne’ syāyurme dehi,
varcodā’agne’si varco me dehi
agne yanme tanvā’ūnaṁ tanma’āpṛṇa”.
Terjemahannya:
“Engkau (Hyang Agni) adalah pelindung badan kami, lindungilah badan kami.
Engkau memberikan umur panjang, berikanlah kami umur panjang, Engkau
memberikan kecemerlangan budi. Ya Tuhan yang Maha Esa, apapun yang kurang
pada diri kami, semoga engkau memberikannya” (Yajur Veda III.17).
Memahami Teks
Bentuk pengabdian umat kepada Tuhan melalui persembahyangan
Bentuk pengabdian umat kepada Tuhan melalui persembahyangan
Prawrtti Marga adalah cara atau jalan yang utama untuk mewujudkan rasa bhakti ke hadapan Sang Hyang Widhi, dengan tekun melaksanakan tapa, yajna, dan kirti. Masing-masing bagian pelaksanaan ajaran Prawrtti tersebut di atas dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Tapa
Kata “tapa” berarti pengendalian diri untuk memuja Sang Hyang Widhi. Setiap umat Hindu memiliki kewajiban untuk melakukan pengendalian diri, dengan tujuan menghubungkan diri ke hadapan Sang Hyang Widhi. Pengendalian diri (tapa) itu sangat perlu dilaksanakan secara tekun dan teratur. Pelaksanaan tapa dapat dilakukan dengan mengikuti ajaran yama dan nyama. Kitab Yoga Sutra Patanjali menyebutkan ajaran yama dan niyama, masing-masing terdiri atas 5 bagian yang disebut dengan nama “Panca Yama” dan “Panca Nyama”. Sebagai makhluk Tuhan manusia hendaknya dapat kembali kepada-Nya dengan cara tekun dan kesungguhan hati melaksanakan tapa melalui pelaksanaan ajaran Panca Yama dan Nyama. Tapa merupakan salah satu cara untuk menyucikan jiwa/roh yang ada dalam diri kita.
Kitab Manusmrti menyebutkan sebagai berikut: 
“adbhir gatrani cuddhyanti manah sayena cuddhyanti,
widyo tapobhyam bhratātma buddhir jnanena cuddhyanti”.
(Manawa Dharma Sastra V.109)
Terjemahannya:
“Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh
dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan”.
Keterangan di atas dengan jelas menyatakan bahwa pengendalian diri, (tapa) merupakan sarana untuk membersihkan roh/jiwatma yang berada pada diri manusia dari belenggu ketertarikan yang bersifat duniawi. Maha Resi Patanjali mengatakan bahwa citta atau alam pikiran manusia dibangun oleh manah (bagian alam pikiran yang bersifat penerima kesan) budhi (bagian alam pikiran yang bersifat menganalisa), dan ahamkara ( rasa aku/rasa ego).

Pikiran manusia hendaknya dibersihkan dengan selalu berbuat jujur. Di dalam pribadi yang jujur terdapat pemikiran yang jernih, dan dalam pemikiran yang jernih terdapatlah ketenangan batin. Perilaku manusia di samping dapat dibentuk oleh faktor lingkungan, juga dibentuk oleh faktor dalam manusia itu sendiri. Faktor dalam dari manusia yang bersangkutan dalam bertingkah-laku harus diperhatikan, karena ia memiliki sifat yang beraneka ragam. Faktor dalam manusia disebut dengan Tri Guna, yang unsur-unsurnya terdiri dari sattwam, rajas dan tama.
Dalam sloka 15 dari kitab Wraspati Tattwa, menyebutkan keterangan tentang Tri Guna, sebagai berikut.
“Laghu prakacakam sattwam cancalam tu rajah sthitam,
tamo guru varanakam ityetaccinta laksanam
ikang citta mahangan mawa, yeka sattwa ngaranya,
ikang madres molah, yeka rajah ngaranya,
abwat peteng, yeka tamah ngaranya”.
Terjemahannya :
“Pikiran yang ringan dan terang, itu sattwam namanya, yang bergerak cepat itu rajas namanya, yang berat dan gelap itu tamas namaya”.
Keterangan dari kitab Wrhaspati Tattwa jelas-jelas menyatakan bahwa pikiran adalah raja/pemimpin yang ada pada diri manusia. Pikiranlah yang memerintah manusia untuk bertingkah-laku dalam kehidupan ini. Pikiran manusia yang dilapisi oleh Tri Guna (tiga kekuatan) akan bergerak-gerak menurut besar-kecilnya pengaruh dari masing-masing guna (kekuatan) yang ada pada manusia itu sendiri. Guna Sattwa bersifat baik bijaksana, Guna Rajas bersifat ego/angkuh, dan Guna Tamas bersifat malas atau masa bodo. Manusia hendaknya dapat mengendalikan Guna Rajas dan Guna Tamas yang ada pada dirinya. Sebaliknya Guna Sattwam manusia harus memiliki kemampuan untuk mengangkat Guna Sattwam yang ada pada dirinya. Karena Guna Sattwam dapat mengantar manusia menjadi orang bijaksana dan terhormat.

Ajaran tapa dengan yama dan nyama dapat mengantar pikiran manusia menuju sattwam. Dan sattwam beserta dengan tapa dapat mengendalikan Guna Rajas dan Tamas. Bila ini dapat dan mau dilaksanakan maka manusia yang bersangkutan dapat dinyatakan bijaksana serta berhasil dalam “tapa”.

Sastra-sastra agama yang memuat ajaran pengendalian diri bila mau dipelajari, di dalam dan diamalkan dapat menghantarkan orang yang bersangkutan melaksanakan tapa. Dalam kesempurnaan “tapa” kita dapat merasakan Tuhan beserta manifestasinya itu ada, mensyukuri anugrah-Nya, merasakan hidup ini indah dan hidup ini damai. Demikianlah manfaat ajaran pengendalian diri (tapa) itu, guna terciptanya sifat-sifat yang mulia dan bijaksana (kedewasaan) dan terkendali sifat-sifat egois atau angkuh (keraksasaan).

2. Yajna
Yang dimaksud dengan yajna adalah suatu pemujaan dan persembahan yang dilaksanakan oleh umat Hindu ke hadapan Sang Hyang Widhi/Tuhan beserta manifestasinya yang dilandasi dengan rasa bhakti dan ketulusan hati. Melaksanakan yajna merupakan kewajiban bagi setiap umat yang beragama Hindu. Membiasakan diri hidup dengan yajna adalah suatu kebiasaan yang utama. Keutamaan yajna terletak pada ketulusan hati dari mereka yang mempersembahkan yajna itu.

Umat Hindu memiliki suatu keyakinan bahwa, terciptanya manusia oleh Tuhan/ Sang Hyang Widhi berdasarkan yajna. Kitab Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut.
“Sahayajnah prajah srishtva puro’vacha praja patih,
anena prasavishya dhvam esa vo’stvishta kamadhuk”.
(Bhagavad Gita. III. 10)
Terjemahannya:
“Dahulu kala prajapati menciptakan manusia bersama bhakti-persembahannya
dan bersabda; dengan ini engkau akan berkembang biak dan biarlah ini jadi sapiperahanmu”.
Kata bhakti dalam sloka di atas adalah yajna. Dari keterangan tersebut dapat dikatakan bahwa, dahulu pada masa pencipta (Šṛṣti), Sang Hyang Widhi /Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta beserta isinya (manusia) berdasarkan yajna. Karena manusia tercipta oleh yajña-Nya, maka sudah menjadi kewajiban, dalam kehidupannya manusia mengisinya dengan yajna. Yajna merupakan salah satu cara bagi manusia, untuk mendekatkan diri ke hadapan Tuhan beserta manifestasinya.

Secara umum umat Hindu melaksanakan lima jenis yajna. Berikut ini adalah bagian-bagian yajña.
a. Dewa Yajña yaitu persembahan ke hadapan Sang Hyang Widhi
b. Resi Yajña adalah persembahan kepada para rsi
c. Manusa Yajña adalah persembahan terhadap sesama manusia.
d. Pitra Yajña adalah persembahan kepada leluhur.
e. Bhuta Yajña adalah persembahan kepada para bhuta.

Pelaksanaan Yajña ini biasanya disesuaikan dengan tempat (desa), waktu (laka) dan keadaan (patra). Di bawah ini pelaksanaan “yajña” menurut waktunya.
a. Setiap hari, yang juga disebut “Nitya Kama”, yaitu pelaksanaan Yajña yang
dilaksanakan setiap hari antara lain seperti berikut ini.
  1. Melaksanakan Tri Sandhya yaitu menghubungkan diri ke hadapan Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, tiga kali sehari (pagi, siang dan sore) hari.
  2. Mempersembahkan banten saiban yaitu menyampaikan rasa bersyukur ke Sang Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa, setiap habis masak di dapur. Kebiasaan seperti ini perlu dilestarikan untuk menumbuhkembangkan rasa bersyukur umat manusia ke hadapan Sang Hyang Widhi. Orang yang baik adalah orang yang makan-makanan yang telah dipersembahkan ke hadapan-Nya. 
Kitab Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut.
“Yajña sishtasinah santo muchyante savra kilbishaih, bhunjate te tvagham papa ye pachanty atma karanat”.Terjemahannya:“Yang baik makan setelah upacara bhakti akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi mereka sendiri ini sesungguhnya makan dosa”.
Keterangan di atas memberikan amanat kepada kita agar selalu /dengan tidak henti-hentinya memupuk budhi yang luhur. Budhi luhur manusia dapat dilihat dari praktik hidupnya sehari-hari, seperti lebih mendahulukan persembahan (yajna) dengan Panca Yajnanya daripada kebutuhan dirinya.

b. Pada hari-hari tertentu atau waktu-waktu tertentu juga disebut “Naimitika Karma”.
Selain yajna itu dapat dipersembahkan setiap hari seperti tersebut di atas, juga dapat dilaksanakan pada hari-hari atau waktu-waktu tertentu. Pelaksanaan yajna yang berhubungan dengan waktu-waktu tertentu, seperti yajna yang berhubungan dengan hari raya nyepi : Saraswati, Pagerwesi, Ciwaratri, Nyepi dan yang lainnya.

Pada hari-hari tersebut di atas pemujaan ke hadapan Tuhan/Sang Hyang Widhi dilaksanakan secara khusus. Sedangkan menurut tingkatannya yajña itu dapat dilaksanakan melalui tingkatan nistan (nista), tingkatan madya dan tingkatan utama. Dari tiga tingkatan pelaksanaan yajña, dapat kita kelompokkan lagi masing-masing menjadi tiga tingkatan lagi seperti berikut ini.
a) Tingkatan nistaning-nista.
b) Tingkatan nistaning-madya.
c) Tingkatan nistaning-utama.
d) Tingkatan madhayaning-nista.
e) Tingkatan madhayaning-madya.
f) Tingakatan madhayaning-utama.
g) Tingkatan utamaning-nista.
h) Tingkatan utamaming-madya.
i) Tingkatan utamaning-utama.
Keutamaan dari yajña itu adalah sama, sedangkan tingkatan-tingkatannya itu bertujuan untuk memberikan gambaran dari kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang melaksanakan yajña (Sang Yajñamana). Yajña yang dipersembahkan umat Hindu ke hadapan Sang Hyang Widhi menggunakan beberapa sarana yang ditata dan disusun sedemikian rupa, dalam wujud sesajen atau banten. Sesajen dan banten merupakan sarana pelengkap dari pelaksanaan suatu yajña ke hadapan-Nya.

Adanya beberapa sarana pokok dari yajña, sebagaimana disebutkan dalam kitab Bhagavad Gita sebagai berikut.
“pattram pushpam phalam toyam
Yo me bhaktya prayachchati
Tad aham bhaktyu pahritam
Asnami prayatat manah”.
(Bhagavad Gita IX. 26)
Terjemahannya:
“Siapa saja yang sujud kehadapan-Nya dengan persembahan setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan atau seteguk air. Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci”.
Dari keterangan sloka di atas dapat kita simpulkan bahwa ,sarana pokok dalam beryana terdiri atas; daun, bunga, buah, dan air serta yang utama kesucian hati yang mempersembahkannya. Sedangkan tujuan dari pelaksanaan yajna itu adalah sebagaimana berikut.
  1.  Sebagai pernyataan rasa bersyukur dan terima kasih ke hadapan Sang Hyang Widhi.
  2. Sebagai pernyataan permohonan anugrah-Nya.
  3. Sebagai ungkapan permohonan ampun atas segala kelalaian yang dilakukan.
  4. Sebagai penghormatan kesucian diri, guna dapat mencapai kerahayuan, kesejahteraan dan kebahagiaan atas karunia-Nya.

Demikianlah manfaat “yajna” dalam pelaksanaan ajaran Prawrtti Marga, bila kita dapat melaksanakan dengan kesungguhan hati akan dapat menikmati hasil atau phala yang dijadikan tujuan.

3. Kirti
Kirti adalah suatu usaha, kerja ( karma) dan pengabdian yang dilaksanakan oleh umat Hindu untuk menghubungkan diri ke hadapan Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya. Kirti adalah wujud kerja umat Hindu dalam rangka melaksanakan swadharmanya, baik dharma negara maupun dharma agama. Agama Hindu melalui ajaran karma-marga mengajarkan setiap umat hendaknya kerja karena di dalam kerja terdapat kebahagiaan hidup ini. Seorang pekerja yang baik adalah mereka yang bekerja dengan tidak mengikatkan diri pada hasil kerja. Kerja yang dilandasi harapan para pekerjanya, bila tidak dapat mengisi harapannya dia akan menderita. Kitab suci Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut.
“Na karmanam anarambhan
Naishkarmyam purusho’snute
Na cha samnyasanad ewa
Siddhim samadhigachchhati”
( Bhagavad Gita. III. 4)
Terjemahannya:
“Orang tidak akan mencapai kebebasan karena diam tiada bekerja juga ia takkan mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja”.
Dalam sloka selanjutnya disebutkan sebagai berikut.
“Yajnarthat karmano ‘nyatra
Loko ‘yam karma bandhnah
Tadartham karma kaunteya
Mukta sangah samaçhara”.
(Bhagavad Gita. III. 9)
Terjemahannya:
“Kecuali tujuan berbhakti dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja karenanya, bekerjalah demi bhakti tanpa kepentingan pribadi, oh Kunti Putra”.
Berdasarkan keterangan sloka di atas, mengamanatkan kepada kita umat Hindu untuk selalu dapat mengabdikan diri melalui karma (kerja). Kerja yang dilaksanakannya hendaknya dilandasi dengan ketulusan hati, dan bukan karena mengharapkan hasil kerja itu. Kerja yang dilaksanakan dengan bhakti adalah “kirti”. Bila setiap umat Hindu dapat bekerja berdasarkan “kirti” maka tidak akan terjadi perselisihan di antara pekerjaan-pekerjaan itu. “Kirti” mengajarkan kita pada hidup damai dalam bekerja.

Wujud kirti umat Hindu dalam hubungannya dengan dharma agama, dapat dilaksanakan melalui hal-hal berikut.
  • Membangun dan memelihara tempat suci (pura)
  • Memberikan dana punia kepada orang suci atau orang lain yang sangat membutuhkan
  • Membuat dan menyiapkan sarana upacara (sesajen) dalam rangka pemujaan
  • Melaksanakan aktifitas/kerja bhakti (ngayah) pada tempat-tempat suci (pura)
  • Dan kegiatan lain yang berhubungan dengan aktifitas agama.

Semua kegiatan di atas merupakan beberapa wujud dari “Yasa Kirti” umat Hindu yang berhubungan dengan pelaksanaan dharma agama. Kemudian dalam hubungannya dengan pelaksanaan dharma negara, “Yasa Kirti” umat Hindu dapat diwujudkan dengan cara-cara sebagai berikut.
  • Turut berperan aktif dalam mensukseskan berbagai program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah.
  • Berupaya mewujudkan pembangunan fisik di berbagai sektor seperti bidang pendidikan, agama, sosial, kebudayaan, perekonomian, pertahanan, dan bidangbidang lainnya.

Dalam mewujudkan “Yasa Kirti” tersebut, hendaknya pelaksanaan selalu dilandasi dengan dharma dan kebajikan. Terciptanya suasana kebersamaan, kekeluargaan, semangat gotong royong, mantapnya pertahanan nasional, dan stabilitas nasional yang tangguh adalah wujud nyata dari dharma negara umat Hindu.

Demikianlah wujud “Yasa Kirti” umat Hindu dengan hubungannya dengan dharma negara dan dharma agama. Semuanya terjadi karena adanya kesadaran umat Hindu untuk membangun dan berkarya, guna mewujudkan kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani. Kesemuanya ini merupakan awal dari usaha untuk mewujudkan tujuan agama (Moksatham jagadhita ya ca iti dharma) dan tujuan pembangunan bangsa Indonesia ( masyarakat adil dan makmur).

Evaluasi
Setelah mempelajari materi diatas, silahkan kerjakan soal-soal dibawah ini untuk mengukur tingkat pemahaman mu.
  1. Dari bacaan di atas bagaimana pendapatmu tentang ajaran Prawrtti Marga dalam masyarakat Hindu?
  2. Buatlah rangkuman yang berhubungan dengan ajaran Prawrtti Marga dari berbagai sumber yang jelas!
  3. Apa yang harus dilakukan oleh umat Hindu sehingga yang bersangkutan dapat dinyatakan sudah melaksanakan ajaran Prawrtti Marga?
  4. Buatlah peta konsep tentang pelaksanaan ajaran Prawrtti Marga.
  5. Amatilah gambar berikut ini, kemudian tuliskanlah deskripsinya! Sebelumnya diskusikanlah dahulu dengan orangtua mu di rumah!


B. Hidup Bermasyarakat Berdasarkan Ajaran Niwrtti Marga

Hai sobat The Bali Buzz, berikut ini akan saya jelaskan tentang Hidup Bermasyarakat Berdasarkan Ajaran Niwrtti Marga. Untuk memahami tentang materi ini, berikut ini ada sloka yang bisa dijadikan renungan.

Perenungan
“Sarve asmin devā ekavrto bhavanti”
Terjemahannya:
“Di dalam-Nya semua Dewata manunggal” (Atharva Veda XIII. 4. 21).
Memahami Teks:
Niwrtti Marga dapat dilaksanakan dengan menekuni ajaran Yoga Marga. Pelaksanaan yoga merupakan sadhana dalam mewujudkan samadhi yaitu penyatuan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Yoga Marga adalah suatu usaha untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya. Kitab Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut.
“yadā hi ne’ndriyārtheshu na karmasy anushajjate, sarva saòkalpa saònyāsì yogārūðhas tado’chyate”. (Bhagavad Gita. VI. 4.)
Terjemahannya:
“Bila ia merasa bebas sungguh-sungguh dari ikatan objek panca indra dan kerja, dan membuang segala maksud-keinginan maka ia dikatakan mencapai yoga”.
Anak-anak sekolah dasar sedang Yoga
Anak-anak sekolah dasar sedang Yoga
Seseorang dapat disebut sebagai yogi, jika mereka sudah dengan teguh melaksanakan kesatuan (memuja/sembahyang) ke hadapan Ida  Sang Hyang Widhi. Beliau ada di dalam semua makhluk ciptaan-Nya. Mereka selalu berusaha menumbuhkan kesadaran rohani yang utama, dan selalu berupaya menghapuskan kekurangsempurnaan menuju kesempurnaan yang abadi. Pikiran adalah pengaturan diri manusia dan atma adalah yang   menghidupkannya.   Pikiran   dan atma tak ubahnya seperti sebuah danau, di mana atma adalah dasar danau dan air adalah pikiran itu sendiri. Hanya pada danau yang airnya jernih kita akan dapat melihat dasar danau itu. Upaya dalam mewujudkan pelaksana- an  Niwrtti  Marga,  penerapannya  dapat dilaksanakan melalui “Yoga Marga” dan “samadhi”. Yoga mengajarkan pengenda- lian diri untuk mengarahkan pikiran agar dapat bersatu dengan Sang Hyang Widhi.

Orang yang sudah dapat melaksanakan ajaran yoga dengan sungguh-sungguh disebut yogin. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi seorang yogi untuk mengendalikan pikiran-pikirannya agar selalu jernih. Kitab Patanjali Sutra, menyebutkan sebagai berikut.
“Yogaçcitta vrtti nirodhah”. (Yoga Sutra I.1)
Terjemahannya:
“Yoga adalah pengendalian gelombang-gelombang pikiran dalam alam pikiran”.
Berdasarkan uraian sloka di atas, dengan jelas dinyatakan bahwa gelombang- gelombang pikiran itu harus dikendalikan.Yoga mengajarkan pengendalian diri untuk menjernihkan pikiran serta membebaskan ikatan/belenggu suka-duka yang bersifat duniawi, yang ada pada setiap diri manusia. Noda-noda yang mengotori pikiran manusia dapat dihilangkan secara berangsur- angsur melalui pelaksanaan yoga. Ajaran “yoga” dapat menuntun manusia secara bertahap mengendalikan dirinya untuk dapat menguasai pikirannya dan akhirnya sampai mencapai ketenangan pada Sang Hyang Widhi.Pelaksanaan yoga terdiri dari delapan tahapan, yang disebut “Astāngga yoga” sebagaimana disebutkan sebagai berikut.
“yama nyamasana pranayama pratyahara, Dharana dhyana samadhyc stavanggani”. (Yoga sutra. II.29)
Terjemahannya:
“Yama, nyama, asana, pramayana, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi”.
Dengan demikian Astāngga Yoga dapat diartikan “delapan bagian yoga”. Adapun bagian-bagiannya adalah sebagai berikut.

1.  Yama ialah pengendalian diri dari tahap perbuatan jasmani.
2.  Nyama ialah pengendalian diri dalam diri yaitu tahapan rohani.
3.  Asana ialah sikap duduk.
4.  Pranayama adalah pengendalian prana / pernafasan.
5.  Pratyahara adalah penarikan pikiran dari objeknya.
6.  Dharana adalah pemusatan pikiran.
7.  Dhyana adalah meditasi.
8. Samadhi adalah luluhnya pikiran dengan atman.

Kedelapan tahapan ajaran yoga ini merupakan salah satu dasar untuk melaksanakan ajaran Niwrtti Marga. Pelaksanaan hendaknya dengan sungguh-sungguh dan penuh disiplin. Tahap demi tahap.

1.  Tahapan Permulaan adalah Yama.
Kata yama sebagaimana diuraikan di atas berarti pengendalian diri pada bagian awal. Pengendalian diri tahap pertama ini menampakkan pengendalian diri dalam penampilan lahir. Yama sebagai tahap pengendalian diri paling awal, terdiri atas lima bagian yang sering disebut “Panca Yama”. Bagian-bagian dari “Panca Yama” ini diuraikan sebagai berikut.
“Ahimsa satyasteya brahmacarya parigraha yamah” (Yoga Sutra. II. 30)
Terjemahannya:
“Ahimsa, satya, steya, brahmacari, aparigraha, semuanya ini adalah yama”.
Keterangan di atas menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Panca Yama” terdiri dari beberapa hal seperti di bawah ini.
a.  Ahimsa artinya tidak menyakiti sesama makhluk hidup, atau saling menyayangi antarsesama.
b.  Brahmacari adalah masa belajar mencari ilmu pengetahuan.
c.  Satya artinya setia, berperilaku jujur dalam kehidupan.
d.  Apari artinya tidak serakah, tidak mementingkan diri sendiri.
e. Asteya artinya tidak mencuri, tidak korupsi, tidak mengambil hak orang lain. Sehubungan  “yama”  sebagai  pengendalian  diri  tingkat  pertama  dalam  kitab Sarasamuscaya di sebutkan ada 10 (sepuluh) yama. Kesepuluh pengendalian diri tingkat pertama tersebut, adalah “Dasa Yama” yang diuraikan sebagaimana berikut.
“Anrsamsyam ksama satyamahinsa dama arjawan pritih prasado, madhuryam mardawam ca yama dasa. Nyang brata ikang inaranan yama, prayate kanya nihan, sapuluh kwehnya, anrsangsya, ksma, satya, ahimsa, dama, arjawa, prtti, prasada, madhurya, mardawa, nahan pratuakanya sapuluh, anrcangsya, siharimba, tan swartha kewala, ksama, si kelan ring panastik, satya, si tan mrsawada, ahingse, manukhe sarwa bhawa; dama, si upacama wruh mituturi manahny, arjawa, si duga-duga bener, pritti, si gong karuna, prasada, heningning, manah, madhurya, manishing wulat lawan wuwus, mardawa, posning manah”.
(Sarasamuscaya. 259)
Terjemahannya:
“Inilah brata yang disebut yama, perinciannya demikian; anrcangsya, ksama, satya, ahimsa, dama, arjawa, prtti, prasada, madhurya, mardawa, sepuluh banyaknya,  anrcangsya  yaitu  harimbawa,  tidak  mementingkan  diri  sendiri saja, ksama, tahan akan panas dan dingin; satya, yaitu tidak berkata bohong; ahingsa, berbuat bahagianya makhluk; dama sabar serta dapat menasihati diri sendiri; arjawa adalah tulus hati, berterus terang; prtti yaitu sangat welas asih; prasada, kejernihan hati,; madhurya, manis pandangan (muka manis) dan manis perkataan; mardhawa, kelembutan hati”.
Sloka   di   atas   dapat   dipergunakan   sebagai   sadhana   untuk   melaksanakan Niwrtti Marga untuk tahap pertama. Ada 10 (sepuluh) macam tahapan yang mesti dilaksanakan, disebut “Dasa Yama” terdiri atas beberapa hal berikut ini.
a.  Anrçangsya artinya tidak mementingkan diri sendiri.
b. Kṡama adalah tahan akan panas dingin. 
c.  Satya adalah tidak berdusta.
d. Ahiṁsa adalah membahagiakan semua makhluk.
e.  Dama yaitu sabar, dapat menasehati diri sendiri. 
f.  Arjawa yaitu tulus hati, berterus terang.
g.  Priti adalah sangat welas asih. 
h.  Prasada adalah jernih hati.
i.  Madhurya yaitu manisnya pandangan dan perkataan.
j.  Mardawa adalah lembut hati.
Demikian rincian “Dasa Yama” sebagai ajaran pengendalian diri tingkat awal yang disebutkan dalam kitab Sarasamuscaya.

Yogin asal india memberikan materi tentang yoga
Yogin asal india memberikan materi tentang yoga
Ajaran  Dasa  Yama  yang  terdapat  dalam  kitab  Sarasamuscaya  dan  “Panca Yama” yang diuraikan dalam kitab Patanjali Yoga Sutra patut dan baik digunakan untuk melaksanakan ajaran Niwrtti Marga. Kedua ajaran ini dapat menuntun dan menumbuhkan budi pekerti luhur masing-masing umat yang melakukannya. Mereka yang melaksanakan hendaknya menanamkan kesadaran berdisiplin tinggi pada pribadinya. Segala tindakan yang dimotivasi oleh disiplin yang tinggi tentu akan menumbuhkan hasil yang maksimal.

2.  Tahapan Kedua adalah Nyama
Nyama merupakan disiplin diri tahap kedua setelah “yama” yaitu pengendalian diri dari dalam diri (rohani) dalam  Astāngga yoga, yang dapat digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan ajaran Niwrtti Marga. Ajaran ini merupakan kewajiban yang secara terus-menerus dilakukan dalam mewujudkan kesucian lahir-batin untuk menghadap Sang Hyang Widhi. Semakin sempurna dapat kita laksanakan ajaran ini, semakin cepat kita menemukan diri kita sendiri, karena pengaruh-pengaruh duniawi semakin menipis melekat pada diri kita. Nyama terdiri dari lima bagian, seperti disebutkan dalam Yoga Sutra Patanjali
“Šauca santosa tapah svadhyayesvara pranidhanani niyamah”. (Yoga Sutra. II. 32)
Terjemahannya:
“Sauca, santosa, tapa, swadhyaya, dan iswara pranidhana, semuanya ini adalah nyama”.
Dari penjelasan kitab Yoga Sutra Patanjali tersebut, dapat dinyatakan bahwa bagian- bagian dari nyama ini ada 5(lima) yang disebut “Panca Nyama”, masing-masing bagiannya adalah seperti berikut ini.
a.  Çauca artinya suci lahir-batin 
b.  Santosa artinya kepuasan
c.  Tapa artinya pengekangan diri 
d.  Swadhayaya artinya belajar
e.  Iswarapranighana artinya bhakti kepada Sang Hyang Widhi.

Panca Niyama mengajarkan bahwa menjadi suatu kewajiban untuk selalu menjaga kesucian pikiran dan rohani kita, karena sesungguhnya dari pikiran yang suci dapat mewujudkan jasmani dan rohani yang suci pula. Demikian juga manusia hendaknya selalu dapat memuaskan dirinya dengan apa yang menjadi miliknya. Sehingga tidak akan ada gejolak iri hati kepada orang lain. Manusia hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diri, sehingga tercipta keseimbangan, ketenangan hidup, baik lahir maupun batinnya.

Di samping itu umat manusia hendaknya selalu mengupayakan diri untuk belajar, karena pengetahuan kerohanian itu diuraikan dalam kitab-kitab agama Hindu. Terakhir manusia hendaknya selalu mengadakan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi. Di hadapan Sang Hyang Widhi manusia akan dapat merasakan dirinya kecil, lemah, dan sangat sederhana.

Kitab Sarasamuscaya menyebutkan sebagai berikut.
“Danamijya tapo dhyanam Swadhayayopasthanigrahah, Wratopawasa maunam ca ananam Ca niyama daca. Nyang brata sapuluh kwehnya, ikang nyama ngaranya, pratyekadana, ijjya, tapa, dhayana, swadhyaya, upasthanigraha, brata upawasa, mauna, snana, nahan ta wakning nyama, dana weweh, annadanadi; ijya, dewapuja, pitrpujadi, tapa, kayasangcosana, kasatan ikang sarira,bhucarya, jalatyagadi; dhyana, ikang siwasmarana, swadhaya,wedabhyasa, upasthanigraha, kahrtaning upasta, brata annawarjadi, mauna, wacangyama kahrtaning ujar, haywakecek kuneng, snana, tri sandya sewana, madyusa ring kalaning sandhya”. (Sarasamuscaya, 260)
Terjemahannya:
“Inilah brata sepuluh banyaknya yang disebut nyama, yang perinciannya adalah dana, ijya, tapa, dhyana, swadhyaya, upasthaninggraha, brata, upawasa, mona, stana. Itulah yang merupakan nyama; dana,pemberian; pemberian makan, minuman dan lain-lain; ijya, pujaan kepada dewa, kepada leluhur, dan lain- lain; tapa, adalah pengekangan nafsu jasmaniah, badan yang seluruhnya kurus kering, layu, berbaring di atas tanah, di atas air, dan di atas alas-alas lain sejenis itu; dhayana, merenungkan Dewa Siwa; swadhyaya mempelajari weda; upasthanigraha, pengekangan, upastha, singkatnya pengendalian nafsu syahwat; brata, pengekangan nafsu terhadap makanan; mona, misalnya tidak bicara atau tidak bicara sama sekali, tidak bersuara; snana, Tri Sandhya sewana, melakukan Tri Sandhya, mandi membersihkan diri pada waktu melakukan Sandhya”.
Dalam kitab Sarasamuscaya, disebutkan ada sepuluh macam nyama, yang disebut “Dasa Nyama”. Adapun bagian-bagian “Dasa Nyama” tersebut terdiri atas hal-hal berikut.
a.  Dana artinya pemberian makanan dan minuman, dan lain-lainnya.
b.  Ijya artinya pujaan kepada Dewa, leluhur, dan lain-lain pujaan sejenis itu. 
c.  Tapa artinya pengekangan hawa nafsu jasmani.
d.  Dhyana artinya merenung memuja Dewa Siwa. 
e.  Swadhyaya artinya mempelajari Veda.
f.  Upasthanigraha artinya pengekangan nafsu syahwat.
g.  Brata artinya pengekangan nafsu terhadap makanan. 
h.  Upawasa pengekangan diri.
i.   Mona artinya tidak bersuara.
j.   Snana artinya melakukan pemujaan dengan Tri Sandhya.

Demikian perincian ajaran Dasa Nyama dalam kitab Sarasamuscaya. Ajaran Dasa Nyama dan “Panca Nyama” sesuai uraian di atas dapat dipergunakan sebagai dasar melaksanakan Niwrtti Marga. Ajaran Panca Nyama dan juga Dasa Nyama menurut yoga, merupakan ajaran tahap kedua untuk mencapai kesempurnaan rohani yang utama. Kedua ajaran ini patut dimengerti, dipahami dan diamalkan dalam mewujudkan kesempurnaan rohani.

3.  Asana adalah sikap badan yang sempurna.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa antara badan/jasmani dengan rohani adalah dua unsur yang memiliki hubungan sangat erat. Suatu kehidupan/aktifitas tidak akan terjadi apabila salah satu dari dua unsur itu (jasmani dan rohani) harus ada dan berhubungan. Dengan demikian apabila rohani mengalami gangguan maka jasmani pun ikut terganggu.
Asana  sebagai  suatu  ajaran  dalam Astāngga  yoga  bertujuan  untuk  meredam gerak-gerik tubuh, sehingga pikiran tidak akan diganggu oleh gerakan-gerakan tubuh itu. Dengan tenangnya badan seseorang dapat mengatur dan mengendalikan jalannya nafas dan gerakan pikirannya. Asana hendaknya dilakukan dengan menyenangkan, karena itu orang dapat melakukan secara berulang kali. Dalam pelaksanaan asana, seseorang boleh memilih salah satu di antara asana yang ada seperti   “padmasana, bajrasana, siddhasana, svatikasana atau sukhasana”.
Pengendalian jasmani melalui asana maka tenaga yang kita miliki tidak akan terbuang sia-sia. Semakin sempurna kita dapat mengendalikan diri, maka kesadaran kita akan semakin halus, dan ini dapat menghantarkan rohani seseorang menjadi tenang. Dengan sikap asana, maka keadaan jasmani seseorang menjadi lebih sempurna. Kesempurnaan jasmani itu dapat menghantarkan rohani seseorang menjadi tenang.

4.  Pranayama adalah pengendalian tenaga hidup.
Prana adalah tenaga hidup. Prana berada pada semua unsur, tetapi dia bukan unsur itu. Dia bisa berada di udara, makanan, minuman, cahaya matahari, dan berbagai benda. Prana merupakan bagian nafas alam semesta.
Melalui pengendalian jalannya nafas, seseorang dapat mengendalikan dan mendiamkan dengan tenang pikirannya. Dengan terkendalinya pikiran, maka terkendali pulalah prana itu dalam badan kita. Seluruh bagian tubuh kita dapat diisi prana, dan apabila hal ini bisa dilakukan maka seluruh bagian badan kita dapat dikendalikan. Dalam ajaran yoga, praktiknya pranayama dilakukan denga mengatur jalannya nafas.

Ada tiga bagian pranayama,yaitu sebagai berikut. 
a.  Puraka artinya memasukkan nafas
b.  Kumbaka artinya menahan nafas
c.  Recaka  artinya mengeluarkan nafas

Untuk mencapai tujuan pelaksanaan ajaran yoga pranayama dapat dilaksanakan secara berulang-ulang dan terus-menerus sebelum mencapai yoga.

5.  Pratyahara adalah pemusatan pikiran pada Tuhan/Sang Hyang Widhi.
Di antaranya yang paling sulit untuk mengendalikan adalah pikiran. Kegelisahan pikiran tidak ubahnya seperti kuda yang binal. Pikiran itu tidak pernah diam, dia selalu bergerak. Bagaimana cara menjinakkannya?
Yoga mengajarkan, untuk dapat mengendalikan pikiran seseorang harus duduk dengan tenang. Kemudian pikiran itu kita lepaskan dan pusatkan dengan satu objek tertentu. Hal ini hendaknya dilakukan dengan penuh kesabaran. Hendaknya pula dia diperlakukan seperti itu secara terus-menerus, tentu semakin lama semakin tenang, semakin halus dan akhirnya akan dapat dikuasai.
Menarik  pikiran  dari  objek-objek  yang  menggelisahkan  dan  memusatkanya pada diri sendiri (Sang Hyang Widhi), inilah disebut dengan pratyahara. Pratyahara merupakan suatu proses awal dalam usaha mencapai samadhi.

6. Tahapan keenam Dharana.
Dharana adalah usaha mengikatkan pikiran pada satu objek (Sang Hyang Widhi), agar ia dapat menetap dan tidak goyah.

7. Dhyana adalah tahapan ketujuh.
Dhyana adalah usaha melatih pikiran untuk tetap terpusat pada satu objek di dalam atau di luar diri sendiri dan sampai mengalirkan arus kekuatan yang tidak terpecah- pecah.

8. Samadhi adalah tahapan kedelapan (puncak yoga).
Samadhi adalah terpusatnya pikiran pada dirinya sendiri (Atman/Brahmana). Samadhi dapat dicapai oleh seseorang, apabila ia telah teguh dengan kekuatan dhyana, sehingga dapat menolak rangsangan luar dan hanya tetap pada pemusatan pikiran pada Sang Hyang Widhi. Dharana, dhyana, dan samadhi merupakan tingkatan usaha  pemusatan  pikiran  sebagai  wujud  dari  yoga  yang  sejati.  Dalam  keadaan seperti ini disebut samyana. Pertolongan-pertolongan di antara dharana, dhyana, dan samadhi merupakan tingkatan usaha pemusatan pikiran sebagai wujud dari yoga yang sejati. Pertolongan-pertolongan di antara dharana, dhyana dan samadhi disebut “antarangga”.
Demikianlah ajaran “Astāngga yoga” yang tertulis dalam kitab suci (Yoga Sutra Panjali). Ajaran yoga tetap dilandasi oleh ajaran etika. Karena seseorang yang berbudi pekerti baik dapat mencapai tingkat “samyana”.

Baca juga tentang: 

A. Pengertian Niwrtti dan Prawrtti Marga (Materi Niwrtti dan Prawrtti Marga)

Niwrtti dan Prawrtti Marga

“ye yathā māṁ prapadyante tāṁs tathai’va bhajāmy aham, mama vartmānuvartante manuusyāá pārtha sarvaṡaá”.
Terjemahannya:
“Bagaimana pun (jalan) manusia mendekati – Ku, Aku terima, wahai Arjuna, manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan”. (Bhagavad Gita. IV. 11).

A.Pengertian Niwrtti dan Prawrtti Marga

Perenungan
“Nakiṣ þaṁ karmaṇā naṡat. Bhadrād adhi ṡreyah prehi”.
Terjemahannya:
“Tak seorang pun bisa mencapai Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Agung melalui tindakan/perbuatan. Dia dibayangkan/divisualisasikan dengan sarana pengetahuan.
Semoga engkau lebih menyukai jalan kerohanian daripada jalan keduniawian
(materialism)”. (Atharvaveda XX. 92. 18 - VII. 8. 1).
Memahami Teks
Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk meyakini Sang Hyang Widhi beserta manifestasi yang ada di mana-mana. Beliau dapat dipuja dengan berbagai macam cara, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai jenis kitab Veda. Disebut pula Sang Hyang Widhi bersemayan di alam semesta dan segala isinya. Sang Hyang Widhi menjiwai alam semesta beserta isinya. Oleh karena itu, Sang Hyang Widhi dapat dipuja di mana saja, dan dengan cara bagaimana pun juga sesuai petunjuk kitab sucinya.

Berdasarkan bunyi sloka di atas, kita tahu betapa Sang Hyang Widhi menemui tiap orang yang memohon karunia-Nya dan menerima mereka menempuh jalan-Nya. Tuhan tidak menghapus harapan tiap-tiap orang yang tumbuh menurut kodratnya, dan tidak berat sebelah/pilih kasih. Perbedaan terjadi di antara orang-orang, karena kepercayaan dengan cara dan jalan ibadat berbeda-beda. Masing-masing bertujuan memuja Tuhan, tetapi bukan merupakan pilihan-Nya.
A. Pengertian Niwrtti dan Prawrtti Marga (Materi Niwrtti dan Prawrtti Marga)
Upacara 3 bulanan / nyambutin

Memuja Keagungan Tuhan
Agama Hindu mengajarkan memuja keagungan Tuhan dengan jalan melaksanakan upacara yajna, sembahyang, mendalami filsafah atau tattwa Agama Hindu, dan melakukan meditasi untuk dapat berhubungan dengan-Nya. Semua cara ini bertujuan untuk menuju Sang Hyang Widhi. Perbedaan di antara kita terjadi, dalam melaksanakan hubungan dengan Beliau adalah sebagai akibat dari masing - masing di antara kita masih belum memahami di bidang spiritual, untuk memuja-Nya. Marilah kita mendekatkan diri dan memuja Beliau untuk memohon anugrah-Nya dengan jalan atau cara menurut ajaran-Nya yang terdapat dalam kitab suci agama Hindu. Dalam kitab Agastya Parwa, disebutkan cara berhubungan dengan Sang Hyang Widhi sebagai berikut.
“. . . lewih tekaò tapa sakiò yajña, Lewih tekaò yajña sakeò kirti, Ikaò tigaò siki prawåþti-kadharma òaran ika, Kunaò ikaò yoga yeka niwåþti kadharma òaranya”.
Terjemahannya :
“. . . . adapun keutamaan daripada tapa atau pengendalian diri munculnya atau tumbuhnya dari yajña atau persembahan atau pemujaan, sedangkan keutamaan daripada yajña atau persembahaan/ pemujaan munculnya dari kirti atau kerja/ pengabdian, demikianlah ketiganya itu disatukan yang disebut, prawrtti- kadharman, tetapi mengenai ajaran yoga itu disebut dengan niwrtti-kadharman”.
Berdasarkan penjelasan sloka di atas yang dimaksud dengan kata Niwrtti dan Prawrtti Marga adalah sebagaimana penjelasan berikut.
           Niwrtti Marga ialah suatu jalan atau cara yang utama untuk mewujudkan rasa bhakti ke hadapan Sang Hyang Widhi dengan wujud tekun melakukan yoga dan samadhi. sedangkan Prawrtti Marga adalah suatu jalan atau cara yang utama untuk mewujudkan rasa bhakti ke hadapan Sang Hyang Widhi dengan tekun melakukan tapa, yajna, dan kirti.
          Sesungguhnya terdapat dua jalan atau cara yang utama bagi umat Hindu untuk mewujudkan rasa bhaktinya ke hadapan Sang Hyang Widhi, yaitu melalui jalan Nirwtti dan Prawrtti Marga. Di antara kedua jalan atau cara tersebut, masih ada kebebasan dan keluwesan bagi tiap umat Hindu untuk memilih dan melaksanakan. Jalan atau cara yang mana akan dilaksanakannya, tergantung dari situasi, kondisi dan kemampuan masing-masing pribadi umat yang bersangkutan.
           Niwrtti Marga ialah suatu jalan atau cara yang utama untuk mewujudkan rasa bhakti ke hadapan Sang Hyang Widhi  dengan tekun melakukan yoga dan samadhi. sedangkan Prawrtti Marga adalah suatu jalan atau cara yang utama untuk mewujudkan rasa bhakti ke hadapan Sang Hyang Widhi dengan tekun melakukan tapa, yajna, dan kirti.

Manawa Dharmasãstra (Kitab Hukum Hindu) - Diktat Pembelajaran 3 Agama Hindu SMK Kelas XI Semester genap

PEMBELAJARAN 3
Manawa Dharmasãstra
(Kitab Hukum Hindu)

     “Satyaṁ brūyat priyaṁ,
      priyaṁ ca nānṛtaṁ brūyād eṣa dharmaá sanātanaá”.

Terjemahannya :
     “Hendaknya ia mengatakan apa yang benar, hendaknya ia mengucapkan apa yang menyenangkan   hati, hendaknya ia jangan mengucapkan kebenaran yang tidak menyenangkan dan jangan pula ia     mengucapkan kebohongan yang menyenangkan, inilah hukum hidup duniawi yang abadi”
(M.Dharmasastra IV.138).

A. Pengertian Manawa Dharmaṡāstra sebagai Kitab Hukum Hindu

Perenungan
Manawa Dharmaṡāstra sebagai Kitab Hukum Hindu
Ilustrasi Kitab Manawa Dharmasastra
“Šrutistu vedo vijñeyo dharmaṡāstram tu vai smṛtiá
te sarvātheṣva mimāmsye tābhyāṁ dharmohi nirBabhau”.

Terjemahannya:
“Yang dimaksud dengan Sruti, ialah Veda dan dengan Smrti adalah Dharmasastram, kedua macam pustaka suci ini tak boleh diragukan kebenaran ajarannya, karena keduanya itulah sumber dharma” (M.Dharmasastra II.10).
Memahami Teks
            Kata dharmaṡastra berasal dari bahasa Sansekerta (dharma – Šāstra). Dharma (masculine) m : perintah menetapkan; lembaga; adat kebiasaan; aturan; kewajiban; moral; pekerjaan yang baik; kebenaran; hukum; keadilan (Kamus Kecil Sansekerta Indonesia (KKSI) hal. 121). Šāstra (neuter) n : perintah; ajaran; nasihat; aturan; teori; tulisan ilmiah (KKSI hal. 246). Dharmaṡāstra berarti ilmu hukum.
          Bila kita membaca kitab-kitab mantra dan sastra-sastra Sansekerta yang tersedia kitab Smrti dinyatakan sebagai kitab Dharmaṡāstra. Smrti adalah kelompok kitab yang kedua sesudah kitab Sruti. Dharmaṡāstra (Smrti) dipandang sebagai kitab hukum Hindu karena di dalamnya banyak dimuat tentang syariat Hindu yang disebut dharma. Dharma disamakan artinya dengan syariat di dalam bahasa arab. Tentang Dharmaṡāstra sebagai kitab Hukum Hindu selanjutnya didapatkan keterangan yang sangat mendukung keberadaannya sebagai berikut.
“Šruti wedaá samākhyato dharmaṡāstram tu wai smṛtiá, te sarwātheswam imāmsye tābhyāṁ dharmo winirbhþtaá.

Nyang ujaraken sekarareng, Šruti ngaranya Sang Hyang Catur Veda, Sang Hyang Dharmaṡāstra Smṛti ngaranira, Sang Hyang Šruti lawan Sang Hyang Smṛti sira juga prāmanākena, tūtakena warah-warah nira, ring asing prayojana, yawat mangkana paripurna alep Sang Hyang Dharmaprawṛtti“
(Sarasamuscaya, 37)

Terjemahannya:
“Ketahuilah oleh mu Šruti itu adalah Veda dan Šmṛti itu sesungguhnya adalah Dharmaṡāstra; keduanya harus diyakini dan dituruti agar sempurna dalam melaksanakan dharma itu”.
“Itihasa puranabhyam wedam samupawrmhayet, bibhetyalpasrutadwedo mamayam pracarisyati “ (Sarasamuscaya, 39).
Terjemahannya:
“Hendaklah Veda itu dihayati dengan sempurna melalui mempelajari Itihasa dan Purana karena pengetahuan yang sedikit itu menakutkan (dinyatakan) janganlah mendekati saya”.
         Hukum Hindu adalah sebuah tata aturan yang membahas aspek kehidupan manusia secara menyeluruh yang menyangkut tata keagamaan, mengatur hak dan kewajiban manusia baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial, dan aturan manusia sebagai warga negara (tata Negara).
         Hukum Hindu juga berarti perundang-undangan yang merupakan bagian terpenting dari kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ada kode etik yang harus dihayati dan diamal- kan sehingga menjadi kebiasaan- kebiasaan yang hidup dalam masyarakat. Dengan demikian pemerintah dapat menggunakan hukum ini sebagai kewenangan mengatur tata pemerintahan dan pengadilan, dapat menggunakan sebagai hukuman bagi masyarakat yang melanggarnya.
             Mengingat umat Hindu juga sebagai warga negara yang terikat oleh hukum nasional. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa hukum Hindu penting untuk dipelajari.
  1. Hukum Hindu merupakan bagian dari hukum positif yang berlaku bagi masyarakat Hindu di Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, khususnya pasal 29 ayat 1 dan 2, serta pasal 2 aturan peralihan Undang-Undang Dasar 1945.
  2. Untuk memahami bahwa berlakunya hukum Hindu di Indonesia dibatasi oleh falsafah Negara Pancasila dan ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Dasar 1945.
  3. Untuk dapat mengetahui persamaan dan perbedaan antara hukum adat (Bali) dengan hukum agama Hindu atau hukum Hindu.
  4. Untuk dapat membedakan antara adat murni dengan adat yang bersumber pada ajaran-ajaran agama Hindu.
B. Hubungan Dharmaṡāstra dengan Manawa Dharmaṡāstra

Perenungan
“Šruti dvaidhaṁ tu yatra syāt tatra dharmāvubhau smrtau, ubhāvapi hi tau dharmau samyag uktau maniṣibhiá”.
Terjemahannya:
“Jika dalam dua kitab suci ada perbedaan, keduanya dianggap sebagai hukum, karena keduanya memiliki otoritas kebajikan yang sepadan” (Manawa Dharmasastra II.14)
Memahami Teks
            Manawa Dharmasastra adalah sebuah kitab Dharmasastra yang dihimpun dengan bentuk yang sistematis oleh Bhagawan Bhrigu, salah seorang penganut ajaran Manu, dan beliau pula salah seorang Sapta Rsi. Kitab ini dianggap paling penting bagi masyarakat Hindu dan dikenal sebagai salah satu dari kitab Sad Wedangga. Wedangga adalah kitab yang merupakan batang tubuh Veda yang tidak dapat dipisahkan dengan Veda Sruti dan Veda Smrti. Penafsiran terhadap pasal-pasal Manawa Dharmaṡāstra telah dimulai sejak tahun 120 M dipelopori oleh Kullukabhatta dan Medhiti di tahun 825 M. Kemudian beberapa Maha Rsi memasyarakatkan tafsir-tafsir Manawa Dharmasastra menurut versinya masing-masing sehingga menumbuhkan beberapa aliran Hukum Hindu, misalnya: Yajnawalkya, Mitaksara, dan Dayabhaga.
        Para Maha Rsi yang melakukan penafsiran-penafsiran pada Manawa Dharmaṡāstra menyesuaikan dengan tradisi dan kondisi setempat. Aliran yang berkembang di Indonesia adalah Mitaksara dan Dayabhaga. Di zaman Majapahit, Manawa Dharmaṡāstra lebih populer disebut sebagai Manupadesa. Proses penyesuaian kaidah-kaidah hukum Hindu nampaknya berjalan terus hingga abad ke-12 dipelopori oleh tokoh-tokoh suci: Wiswarupa, Balakrida, Wijnaneswara, dan Apararka. Dua tokoh pemikir Hindu, yaitu Sankhalikhita dan Wikhana berpandangan bahwa Manawa Dharmaṡāstra adalah ajaran dharma yang khas untuk zaman Krtayuga, sedangkan sekarang adalah zaman Kaliyuga. Keduanya mengelompokkan Dharmaṡāstra yang dipandang sesuai dengan zaman masing-masing, yaitu seperti di bawah ini.
  1. Manu; Manawa Dharmaṡāstra sesuai untuk zaman Krta Yuga
  2. Gautama; Manawa Dharmaṡāstra sesuai untuk zaman Treta Yuga
  3. Samkhalikhita; Manawa Dharmaṡāstra sesuai untuk zaman Dwapara Yuga
  4. Parasara; Manawa Dharmaṡāstra sesuai untuk zaman Kali Yuga
Dari temuan-temuan di atas dapatlah disimpulkan bahwa ajaran Manu atau Manawa Dharmaṡāstra tidaklah dapat diaplikasikan begitu saja tanpa mempertimbangkan kondisi, waktu, dan tempat (desa-kala-patra). Di Indonesia, reformasi tentang Hukum Hindu telah dilakukan di zaman Majapahit dengan menghasilkan produk-produk hukum lainnya seperti: Sarasamuscaya, Syara Jamba, Siwa Sasana, Purwadigama, Purwagama, Dewagama, Kutaramanawa, Adigama, Krta Sima, Paswara, dll.

Kutaramanawa yang disusun pada puncak kejayaan Majapahit menjadi acuan pokok terbentuknya Hukum Adat di Indonesia, karena penguasa Majapahit berkepentingan menjaga tertib hukum di kawasan Nusantara. Zaman terus beredar dan peradaban manusia meningkat dengan segala aspeknya. Pada tahun 1951 Raad Kerta atau Lembaga Peradilan Agama Hindu (di Bali) dihapuskan. Ditinjau dari segi kehidupan beragama, penghapusan Raad Kerta merupakan kemunduran yang serius karena pada kehidupan sehari-hari umat Hindu di Bali bersandar pada hukum-hukum agama Hindu, namun bila terjadi sengketa/ perkara Pemerintah RI menyediakan lembaga Hukum Peradilan Perdata/Pidana yang mengacu pada sumber hukum Eropa (Belanda) dan Yurisprudensi.

Sampai abad ke-21 (tahun 2013) umat Hindu di Bali (Indonesia) menginginkan adanya Lembaga Peradilan Agama Hindu yang dapat memutuskan kemelut perbedaan pendapat dan tingkah laku dalam melaksanakan kehidupan beragama. Kebutuhan ini dipandang mendesak agar terwujud kedamaian dan keamanan individu. Sampai saat ini nampaknya keinginan itu hanya sebatas wacana saja karena belum ada upaya- upaya riil dari lembaga-lembaga terkait untuk menyusun tatanan organisasi dan acuan hukum bagi suatu lembaga peradilan belum dapat diwujudkan. Mungkinkah semuanya itu hanya sebatas wacana yang berkembang ke publik untuk melegakan hati umat yang diklaim minoritas?

Kitab Dharmasastra yang memuat bidang hukum Hindu tertua dan sebagai sumber hukum Hindu yang paling terkenal adalah Manawa Dharmasastra. Berbagai bidang hukum Hindu yang termuat dalam Kitab Manawa Dharmasastra antara lain sebagai berikut.

1. Bidang Hukum Keagamaan
          Bidang hukum ini banyak memuat ajaran-ajaran yang mengatur tentang tata cara keagamaan yaitu menyangkut tentang beberapa hal seperti berikut ini.
  1. Bahwa semua alam semesta ini diciptakan dan dipelihara oleh suatu hukum yang disebut rta atau dharma.
  2. Ajaran-ajaran yang diturunkan bersifat anjuran dan larangan yang semuanya mengandung konsekuensi atau akibat (sanksi)
  3. Tiap-tiap ajaran mengandung sifat relatif yaitu dapat disesuaikan dengan zaman atau waktu dan di mana tempat dan kedudukan hukum itu dilaksanakan, dan absolut berarti mengikat dan wajib hukumnya dilaksanakan.
  4. Pengertian warna dharma berdasarkan pengertian golongan fungsional.

2. Bidang Hukum Kemasyarakatan
         Bidang hukum ini banyak memuat tentang aturan atau tata-cara hidup bermasyarakat (sosial). Dalam bidang ini banyak diatur tentang konsekuensi atau akibat dari sebuah pelanggaran, kalau kita telusuri lebih jauh saat ini lebih dikenal dengan hukum perdata dan pidana. Lembaga yang memegang peranan penting yang mengurusi tata kemasyarakatan adalah Badan Legislatif menurut Hukum Hindu adalah Parisadha. Lembaga ini dapat membantu menyelesaikan masalah dengan cara pendekatan perdamaian sebelum nantinya kalau tidak memungkinkan masuk ke pengadilan.

3. Bidang Hukum Tata Kenegaraan
           Bidang ini banyak memuat tentang tata-cara bernegara, di mana terjalinnya hubungan warga masyarakat dengan negara sebagai pengatur tata pemerintahan yang juga menyangkut hubungan dengan bidang keagamaan. Di samping sistem pembagian wilayah administrasi dalam suatu negara, Hukum Hindu ini juga mengatur sistem masyarakat menjadi kelompok – kelompok hukum yang disebut Warna, Kula, Gotra, Ghana, Puga, dan Sreni. Pembagian ini tidak bersifat kaku karena dapat disesuaikan dengan perkembangan jaman.
        Sumber hukum tata negara dan tata praja serta hukum pidana yang berlaku di Indonesia adalah sebagian besar merupakan hukum yang bersumber pada ajaran Manawa Dharmaṡāstra. Hal ini kemudian dikenal sebagai kebiasaan-kebiasaan atau hukum adat seperti yang berkembang di Indonesia dan khususnya dapat dilihat pada hukum adat di Bali.
         Istilah –istilah wilayah hukum dalam rangka tata laksana administrasi hukum dapat dilihat pada desa praja adalah administrasi terkecil dan bersifat otonomi dan inilah yang diterapkan pada zaman Majapahit terbukti dengan adanya sesanti, sesana dengan prasasti – prasasti yang dapat ditemukan di berbagai daerah di seluruh Nusantara. Lebih luas lagi wilayah yang mengaturnya dinamakan krama, dan daerah khusus ibu- kota sebagai daerah istimewa tempat administrasi tata pemerintahan disebut pura, penggabungan atas pengaturan semua wilayah ini dinamakan dengan istilah negara atau rastra. Maka dari itu hampir semua tatanan kenegaraan yang digunakan sekarang ini bersumber pada hukum Hindu.
        Demikian hukum Hindu (Dharmaṡāstra) dituliskan secara utuh dalam kitab Manawa Dharmasastra yang selanjutnya digunakan sebagai sumber hukum Hindu guna menata umat Hindu mewujudkan moksartham jagadhita ya ca iti dharma (sejahtera dan bahagia) lahir batin.

C. Sumber-sumber Hukum Hindu

Perenungan
“Ahaṁ manur abhavaṁ sūryaṡ ca ahaṁ kakṣivaṁ ṛṣir asmi viprah, ahaṁ kutsam arjuneyaṁ ny ṛnje ahaṁ kavir uṡana paṡyantā mā”.
Terjemahannya
“Aku, bersabda sebagai kesadaran tertinggi, Aku adalah sumber utama permenungan dan cahaya yang tertinggi. Aku seorang ṛṣi yang dapat melihat jauh dan merupakan pusat orbit alam semesta. Aku mempertajam intelek, Aku seorang penyair, Aku memenuhi keinginan semuanya, oleh karena itu, wahai engkau semua, patuhlah kepada Aku”.
(Rg Veda IV. 26. 1)
Memahami Teks
       Sumber hukum bagi umat Hindu atau masyarakat yang beragama Hindu adalah kitab suci Veda. Ketentuan mengenai Veda sebagai sumber hukum Hindu dinyatakan dengan tegas di dalam berbagai jenis kitab suci Veda. Sruti adalah merupakan sumber dari segala sumber hukum. Sruti merupakan sumber dari Smerti.
       Manawa Dharmasastra atau Manusmerti adalah kitab hukum yang telah tersusun secara teratur, dan sistematis. Kitab ini terbagi menjadi dua belas (12) Bab atau adyaya. Bila kita mempelajari kitab-kitab hukum Hindu maka kita banyak menemukan pokok-pokok pikiran yang berkaitan dengan titel hukum. Hal ini menunjukkan bahwa hukum Hindu mengalami proses perkembangan.

Kitab hukum Manawa Dharmasastra menjelaskan sebagai berikut.
“Idanim dharma pramananya ha, Wedo ‘khilo dharma mulam
smrti sile ca tad widam, ācāraṡca iwa sādhūnām ātmanasyuṣþir ewa ca.”
Terjemahannya:
“Seluruh Veda merupakan sumber utama daripada dharma (Agama Hindu) kemudian barulah Smrti di samping kebiasaan-kebiasaan yang baik dari orang- orang yang menghayati Veda serta kemudian acara tradisi dari orang-orang suci dan akhirnya atma tusti (rasa puas diri sendiri).”(Manawa Dharmasastra, II. 6).
Berdasarkan sloka tersebut di atas kita dapat mengenal sumber-sumber hukum Hindu menurut urut-urutannya adalah : 1) Veda Sruti, 2) Veda Smrti, 3) Sila, 4) Acara (Sadacara, dan 5) Atmanas tusti.

Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan, peninjauan sumber hukum Hindu dapat dilakukan melalui berbagai macam kemungkinan antara lain sebagai berikut.

1. Sumber Hukum Hindu menurut Sejarah

Sumber Hukum Hindu dalam arti sejarah adalah sumber hukum Hindu yang digunakan oleh para ahli Hindulogi dalam peninjauan dan penulisannya mengenai pertumbuhan serta kejadiannya. Kaidah-kaidah yang ada dalam bentuk tidak tertulis (Prasejarah), tidak bersifat sejarah melainkan secara tradisional atau kebiasaan yang di dalam hukum Hindu disebut Acara. Kemungkinan kaidah-kaidah yang berasal dari jaman prasejarah ditulis dalam zaman sejarah, dapat dinilai sebagai satu proses pertumbuhan sejarah hukum dari satu fase ke fase yang baru.

Menurut bukti-bukti sejarah, dokumen tertua yang memuat pokok-pokok hukum Hindu, untuk pertama kalinya kita jumpai di dalam Veda yang dikenal dengan nama Sruti. Kitab Veda Sruti tertua adalah kitab Reg Veda yang diduga mulai ada pada tahun 2000 SM. Adapun kitab-kitab berikutnya yang merupakan sumber hukum pula timbul dan berkembang pada jaman Smerti. Dalam jaman ini terdapat Yajur Veda, Atharwa Veda dan Sama Veda. Kemudian dikembangkan pula kitab Brahmana dan Aranyaka.
Fase berikutnya dalam sejarah pertumbuhan sumber hukum Hindu adalah adanya kitab Dharmasastra yang merupakan kitab undang-undang murni bila dibandingkan dengan kitab Sruti. Kitab ini dikenal dengan nama kitab smerti, yang memiliki jenis-jenis buku dalam jumlah yang banyak dan mulai berkembang sejak abad ke 10 SM. Kitab Smerti ini dikelompokkan menjadi enam jenis yang dikenal dengan istilah Sad Vedangga. Dalam kaitannya dengan hukum yang terpenting dari Sad Vedangga tersebut adalah dharma sastra (Ilmu Hukum).

Kitab dharma sastra menurut bentuk penulisannya dapat dibedakan menjadi dua macam, antara lain; 1) Sutra, yaitu bentuk penulisan yang amat singkat yakni semacam aphorisme. 2) Sastra, yaitu bentuk penulisan yang berupa uraian-uraian panjang atau lebih terinci.

Di samping kitab-kitab tersebut di atas yang digunakan sebagai sumber hukum Hindu, juga diberlakukan adat-istiadat. Hal ini merupakan langkah maju dalam perkembangan hukum Hindu. Menurut catatan sejarah perkembangan hukum Hindu, periode berlakunya hukum tersebut pun dibedakan menjadi beberapa bagian, antara lain;
  1. Pada zaman Krta Yuga, berlaku hukum Hindu (Manawa Dharmasastra) yang ditulis oleh Manu.
  2. Pada zaman Treta Yuga, berlaku hukum Hindu (Manawa Dharmasastra) yang ditulis oleh Gautama.
  3. Pada zaman Dwapara Yuga, berlaku hukum Hindu (Manawa Dharmasastra) yang ditulis oleh Samkhalikhita.
  4. Pada zaman Kali Yuga, berlaku hukum Hindu (Manawa Dharmasastra) yang ditulis oleh Parasara.
Selanjutnya sejarah pertumbuhan hukum Hindu dinyatakan terus berkembang. Hal ini ditandai dengan munculnya tiga mazhab dalam hukum Hindu di antaranya adalah, 1) Aliran Yajnawalkya oleh Yajnawalkya, 2) Aliran Mitaksara oleh Wijnaneswara, 3) Aliran Dayabhaga oleh Jimutawahana.

Di Indonesia kita warisi berbagai macam lontar dengan berbagai nama, seperti Usana, Gajahmada, Sarasamuscaya, Kutara Manawa, Agama, Adigama, Purwadigama, Krtapati, Krtasima, dan berbagai macam sasana di antaranya Rajasasana, Siwasasana, Putrasasana, Rsisasana dan yang lainnya. Semuanya itu adalah merupakan gubahan yang sebagian bersifat penyalinan dan sebagian lagi bersifat pengembangan.

Perlu dan penting kita ketahui sumber hukum dalam arti sejarah adalah adanya Rajasasana yang dituangkan dalam berbagai prasasti dan paswara-paswara yang digunakan sebagai yurisprudensi hukum Hindu yang dilembagakan oleh raja- raja Hindu. Hal semacam inilah yang nampak pada kita secara garis besarnya mengenai sumber-sumber Hukum Hindu berdasarkan sejarahnya.

2. Sumber Hukum Hindu dalam Arti Sosiologi

Pengetahuan yang membicarakan tentang kemasyarakatan disebut dengan sosiologi. Masyarakat adalah kelompok manusia pada daerah tertentu yang mempunyai hubungan, baik hubungan agama, budaya, bahasa, suku, darah dan yang lainnya. Hubungan di antara mereka telah mempunyai aturan yang melembaga, baik berdasarkan tradisi maupun pengaruh-pengaruh baru lainnya yang datang kemudian. Pemikiran tentang berbagai kaidah hukum tidak terlepas dari pandangan-pandangan masyarakat setempat. Terlebih pada umumnya hukum itu bersifat dinamis, maka peranan para pemikir, orang-orang tua, lembaga desa, parisadha dan lembaga yang lainnya turut mewarnai perkembangan hukum yang dimaksud.

Di dalam mempelajari data-data tertentu yang bersumber pada kitab Veda, kitab Nirukta menjelaskan sebagai berikut.
“Sakṣat kṛta dharmana ṛṣayo, bubhuvuste’ sakṣat kṛta dharmabhya upadesena mantran sampraduh”.
Terjemahannya :
“Para ṛṣi adalah mereka yang memahami dan mampu merealisasikan dharma dengan sempurna. Beliau mengajarkan hal tersebut kepada mereka yang mencari kesempurnaan yang belum merealisasikan hal itu” (Nirukta I. 19).
Kitab suci tersebut secara tegas menyatakan bahwa sumber hukum (dharma) bukan saja hanya kitab-kitab sruti dan smerti, melainkan juga termasuk sila (tingkah laku orang-orang beradab), acara (adat-istiadat atau kebiasaan setempat) dan atmanastusti yaitu segala sesuatu yang memberikan kebahagiaan pada diri sendiri. Oleh karena aspek sosiologi tidak hanya sebatas mempelajari bentuk masyarakat tetapi juga kebiasaan dan moral yang berkembang dalam masyarakat setempat.

Sloka-sloka yang menggariskan Veda sebagai sumber hukum yang bersifat universal di dalam kitab Manawa Dharmasastra dinyatakan sebagai berikut.
“Kamatmata na prasasta na caiwehastya kamatakamyohi Veda dhigamah karmayogas ca waidikah”
Terjemahannya:
“Berbuat hanya karena nafsu untuk memperoleh phala tidaklah terpuji namun berbuat tanpa keinginan akan phala tidak dapat kita jumpai di dunia ini karena keinginan-keinginan itu bersumber dari mempelajari Veda dan karena itu setiap perbuatan diatur oleh Veda”
(Manawa Dharmasastra, II.2).
“Teṣu samyag warttamāno gacchatya mara lokatām, yathā samkalpitāṁṡceha sarvān kāmān samaṡnute”
Terjemahannya :
“Ketahuilah bahwa ia yang selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah diatur dengan cara yang benar, mencapai tingkat kebebasan yang sempurna kelak dan memperoleh semua keinginan yang ia mungkin inginkan” (Manawa Dharmasastra, II.5).
“Yo’ wamanyeta te mūle hetu sāstrā srayad dwijaá, sa sādhubhir bahiskāryo nāstiko wedanindakaá”
Terjemahannya:
“Setiap dwijati yang menggantikan dengan lembaga dialektika dan dengan memandang rendah kedua sumber hukum (Sruti dan Smerti) harus dijauhkan dari orang-orang bijak sebagai seorang atheis dan yang menentang Veda” (Manawa Dharmasastra, II.11).
“Pitridewamanusyanam wedascaksuh sanatanah, asakyamca ‘prameyamca weda sastram iti sthitah”
Terjemahannya:
“Veda adalah mata yang abadi dari para leluhur, dewa-dewa, dan manusia; peraturan-peraturan dalam Veda sukar dipahami manusia dan itu adalah kenyataan”
(Manawa Dharmasastra, XII.94).
“Ya wda wahyah smrtayo yasca kasca kudrstayah, sarwastanisphalah pretya tamo nisthahitah smrtah”
Terjemahannya:
“Semua tradisi dan sistim kefilsafatan yang tidak bersumber pada Veda tidak akan memberi pahala kelak sesudah mati karena dinyatakan bersumber dari kegelapan” (Manawa Dharmasastra, XII.95)
“Utpadyante syawante ca yanyato nyani kanicit, tanyar wakalika taya nisphalanyanrtaani ca”
Terjemahannya:
“Semua ajaran yang timbul, yang menyimpang dari Veda segera akan musnah, tidak berharga dan palsu karena tak berpahala”
(Manawa Dharmasastra, XII. 96)
“Wibharti sarwabhutani wedasastram sanatanam, tasmadetat param manye yajjantorasya sadhanam”
Terjemahannya:
“Ajaran Veda menyangga semua mahkluk ciptaan ini, karena itu saya berpendapat, itu harus dijunjung tinggi sebagai jalan menuju kebahagiaan semua insani” (Manawa Dharmasastra, XII. 99)
“Senapatyam ca rajyam ca dandanetri twamewa ca, sarwa lokadhipatyam ca wedasastra widarhati”
Terjemahannya:
“Panglima angkatan bersenjata, Pejabat pemerintah, Pejabat pengadilan dan penguasa atas semua dunia ini hanya layak kalau mengenal ilmu Veda itu” (Manawa Dharmasastra, XII.100).
Sesungguhnya banyak sloka-sloka suci Veda yang menekankan betapa pentingnya Veda, baik sebagai ilmu maupun sebagai alat di dalam membina masayarakat. Oleh karena itu, berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ada itu penghayatan Veda bersifat sangat penting karena bermanfaat bukan saja kepada orang itu tetapi juga yang akan dibinanya. Karena itu Veda bersifat obligator baik untuk dihayati, diamalkan, maupun sebagai ilmu.

Dengan mengutip beberapa sloka yang bersangkutan dalam menghayati Veda, nampaknya semakin jelas mengapa Veda, baik Sruti maupun Smrti sangat penting. Kebajikan dan kebahagiaan berfungsi sebagaimana mestinya. Inilah yang menjadi hakikat dan tujuan dari penyebaran Veda itu.

3. Sumber Hukum Hindu dalam Arti Formal

Yang dimaksud dengan sumber hukum dalam arti formal menurut Prof. Mr. J.L. Van Aveldoorm adalah sumber hukum yang berdasarkan bentuknya yang dapat menimbulkan hukum positif. Artinya dibuat oleh badan atau lembaga yang berwenang. Yang termasuk sumber hukum dalam arti formal dan bersifat pasti, yaitu; 1) undang-undang, 2) kebiasaan dan adat, 3) traktat.

Di samping sumber-sumber hukum yang disebutkan di atas, ada juga sumber hukum yang diambil dari yurisprudensi dan pendapat para ahli hukum. Dengan demikian dapat kita lihat susunan sumber hukum dalam arti formal sebagai

1) undang-undang, 2) kebiasaan dan adat, 3) traktat, 4) yurisprudensi, dan 5) pen- dapat ahli hukum yang terkenal.

Sistematika susunan sumber hukum seperti tersebut di atas ini, dianut pula dalam hukum internasional sebagai tertera dalam pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional dengan menambahkan azas-azas umum hukum yang diakui oleh berbagai bangsa yang beradab sebagai sumber hukum juga. Dengan demikian, susunan hukum dapat dilihat juga sebagai: a) traktat internasional yang kedudukannya sama dengan undang-undang terhadap negara itu, b) kebiasaan internasional, c) azas-azas hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab, d) keputusan-keputusan hukum sebagai yurisprudensi bagi suatu negara, dan e) ajaran-ajaran yang dipublisir oleh para ahli dari berbagai negara hukum tersebut sebagai alat tambahan dalam bidang pengetahuan hukum.

Sistem dan azas yang digunakan untuk masalah sumber hukum terdapat pula dalam kitab Veda, terutama dalam kitab Manawa Dharmasastra sebagai berikut.  
”Idanim dharma pra mananya ha, vedo’khilo dharma mulam smrti sile, ca tad vidam acarasca iva, sadhunam atmanastustireva ca”.
(Manawa Dharmasastra II.6).
Terjemahannya:
”Seluruh pustaka suci Veda (sruti) merupakan sumber utama dharma (agama Hindu), kemudian barulah smerti di samping sila (kebiasaan-kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Veda) dan kemudian acara (tradisi-tradisi dari orang-orang suci) serta akhirnya atmanstuti (rasa puas diri sendiri).”
Berdasarkan penjelasan sloka suci kitab hukum Hindu tersebut di atas, dapat kita ketahui bahwa sumber-sumber hukum Hindu menurut Manawa Dharmasastra, adalah Veda Sruti, Veda Smerti, Sila, Acara (Sadacara), Atmanastuti.

4. Sumber Hukum Hindu dalam Arti Filsafat

Sumber hukum dalam arti filsafat merupakan aspek rasional dari agama dan merupakan satu bagian yang tak terpisahkan atau integral dari agama. Filsafat adalah ilmu pikir, dan juga merupakan pencairan rasional ke dalam sifat kebenaran atau realistis, yang juga memberikan pemecahan yang jelas dalam mengemukakan permasalahan-permasalahan yang lembut dari kehidupan ini, di mana ia juga menunjukkan jalan untuk mendapatkan pembebasan abadi dari penderitaan akibat kelahiran dan kematian.

Agama bukan hanya mengajarkan bagaimana manusia menyembah Tuhan, tetapi juga memuat tentang filsafat, hukum, dan lain-lain. Manawa Dharmasastra adalah kitab suci agama Hindu, yang memuat berbagai masalah hukum dilihat dari sistem kefilsafatannya, sosiologinya, dan bahkan dari aspek politik. Mengingat masalah hukum tersebut menyangkut berbagai bidang yang sangat luas, maka tidak akan terelakkan betapa pentingnya arti filsafat dalam menyusun suatu hipotesa hukum, bahkan filsafat menduduki tempat yang terpenting dalam ilmu hukum yang dituangkan dalam suatu cabang ilmu hukum yang disebut ”filsafat hukum”.

Berdasarkan sistem pertimbangan materi dan luas ruang lingkup isinya itu jelas kalau jumlah jenis buku Veda itu banyak. Walaupun demikian kita harus menyadari bahwa Veda itu mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh umat manusia. Maha Rsi Manu membagi jenis isi Veda itu ke dalam dua kelompok besar yang disebut: Veda Sruti, Veda Smrti.

Pembagian tersebut selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Veda baik secara tradisional maupun secara institusionil ilmiah. Dalam hal ini kelompok Veda Sruti merupakan kelompok buku yang isinya hanya memuat “Wahyu” (Sruti) sedangkan kelompok kedua Smrti adalah kelompok yang sifat isinya sebagai penjelasan terhadap “Sruti”. Jadi merupakan “manual”, buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti.

Kalau kita bandingkan dengan ilmu politik, “Sruti”, merupakan UUD-nya Hindu sedangkan “Smrti” adalah UU pokok. U.U. pelaksanaannya adalah kitab Nibandha, atau Carita, atau Sasana. Kedua-duanya merupakan sumber hukum yang mengikat yang harus diterima. Oleh karena itu, Bhagawan Manu menegaskan di dalam kitab Manawa Dharmasastra sebagai berikut.
“Srutistu wedo wijneyo dharmasastram tu wai smrtih,
Te sarwar thawam imamsye tabhyam dharmohi nirBabhu”.

Terjemahannya:
“Sesungguhnya Sruti (Wahyu) adalah Veda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apa pun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari hukum suci (dharma) itu” (Manawa Dharmasastra II.10).


Uji Kompetensi

Setelah mempelajari pembahasan materi pada pembelajaran 3 ini, jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan jelas pada lembar double polio. Setelah selesai, selanjutnya dikumpulkan kepada gurumu untuk mendapatkan nilai.

Pertanyaan:
  1. Bagaimana hubungan Dharmaṡāstra dengan kitab Manawa Dharmaṡāstra ?
  2. Menurut sumber bacaan di atas bagaimana pendapatu tentang keberadaan kitab Manawa Dharmasastra?
  3. Buatlah rangkuman yang berhubungan dengan kitab Manawa Dharmasastra dari berbagai sumber yang diketahui. Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtua kamu di rumah!
  4. Jelaskanlah minimal 2 sumber hukum Hindu menurut sejarah !
  5. Sebutkanlah sumber-sumber hukum Hindu menurut Manawa Dharmasastra !

Vibhuti Marga - Diktat Pembelajaran 2 Agama Hindu SMK Kelas XI Semester genap

Ajaran Vibhuti Marga
Ajaran Vibhuti Marga
PEMBELAJARAN 2
Vibhuti Marga

       “Ud vayaṁ tamataspari jyatis paṡyanta uttaram,
       Dewaṁ devatrā sūryam aganma jyotir uttamam”
Terjemahannya:
       “Dengan memandang sinar suci di luar alam gelap,
       kami sampai pada Sūrya, Dewata utama (tertinggi),
       sinar yang amat bagus” (Rg Veda I. 50. 10).

A. Pengertian dan Hakikat Vibhuti Mãrga
          Tuhan dalam keadaan tanpa sifat disebut nirguna atau sunya. Nirguna atau sunya adalah istilah yang digunakan untuk memahami hakikat Tuhan dalam keadaan hukumnya semula. Dalam ilmu filsafat dikatakan sebagai keadaan alam transendental. Transendental adalah sesuatu yang berada di luar lingkaran kemampuan pikir. Kalau diibaratkan fikiran itu mempunyai batas seperti lingkaran, segala yang ada di luar lingkaran dinamakan dalam alam transendental. Kitab Brahma Sutra memberi keterangan tentang aspek transendental itu dengan kalimat sebagai berikut.
       ‘Tad adwyaktm, Aha hi’ artinya sesungguhnya Tuhan itu yang tak terkatakan. Menggambarkan keagungan sifat-sifat Tuhan itu merupakan ajaran dari Vibhuti Marga.
Vibhuti Mārga berasal dari bahasa Sansekerta. Kata (Vibhu - ti) Vibhu ...(adjective): hadir di mana-mana; kekal; mengembang seluas-luasnya; kuat.
         ...(masculine): yang kuasa; yang maha kuasa; Brahman. Mārga ...(masculine : jalan; saluran; cara; gaya. Vibhuti mārga : Jalan atau cara – Brahman (Kamus Kecil Sansekerta – Indonesia, hal. 174 - 224).
Vibhuti Mārga berarti kebesaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para Maha Rsi melalui spiritual. Vibhuti Marga adalah penghayatan terhadap kebenaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para maharesi melalui spiritual yang kemudian penghayatannya dilukiskan dalam bentuk puisi sebagai rasa kekagumannya. Hakikat utama ajaran Vibhuti Marga adalah memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan persoalan-persoalan yang muncul mengenai sifat-sifat Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang transendental atau di luar alam indra.
     Penggambaran sifat-sifat mulia dan agung dari Tuhan yang melebihi dari segala yang ada merupakan ajaran Vibhuti Marga. Dalam ajaran ini dilukiskan sifat-sifat agung dari Tuhan seperti dewa dari semua dewa, maha bijaksana, maha mengetahui, maha adil, maha tinggi dan sebagainya. Semuanya ini adalah bentuk dari ajaran Vibhuti Marga. Kesadaran spiritual dalam penghayatan terhadap keagungan Tuhan yang dirasakan oleh seorang Maha Rsi di mana kekagumannya ini dilukiskan dengan suatu puisi yang bersifat abstrak yang mengandung makna moral yang digubah dengan begitu indahnya sehingga puisi itu bernilai sangat tinggi.
       Sumber yang digunakan untuk melukiskan segala keindahan itu adalah sinar. Oleh sebab itu sinar menjadi objek utama dan sangat dikagumi oleh para pujangga, sehingga akhirnya sinar menjadi simbul keindahan dan kemuliaan jiwa. Sinar merupakan simbol kebenaran, gambaran hukum Rta, kebaikan, kemuliaan, keindahan akal budi dan sebagainya. Dewa Agni sebagai dewa keagungan, dan sumber sinar. Maka ia dipuja sebagai yang berkilauan, memancarkan sinarnya ke bumi, ke langit, ke laut dan memberikan kehidupan pada semua makhluk.

B. Penerapan Vibhuti Marga dalam Kehidupan
Perenungan
“Tam insanām jagatattasdhusas pati ghiyam jinvār avase humahe vayam pusa no yatha vedasā masad vrghe raksita payuradacvah svataye”
Terjemahannya adalah.
“Ya, Yang Mahakuasa, dewa bagi yang bergerak dan yang tidak bergerak, yang mengilhami pikiran, kami mohon pertolongan. Semoga Tuhan, pelindung kami dan yang menjaga kami, yang tak terkalahkan, lipat gandakanlah kekayaan kami untuk kesejahteraan kami” (Åg Veda I.89-5).
     Apakah pemujaan itu sekadar menangkup tangan, atau sekadar mengucapkan doa dan lagu sanjungan? Ataukah sekadar memikirkan tentang Tuhan. Apakah pemujaan itu berarti penghormatan yang mungkin bersifat duniawi? Hal ini tidak pernah dijelaskan dengan tepat. Sekadar sujud saja belum berarti memuja. Begitu pula sekadar menyanjung dalam lagu dan nyanyian belum tentu memuja.
Banyak nyanyian yang kita dengar dalam upacara keagamaan atau dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini bukan pemujaan atau ini juga adalah pemujaan. Manusia melagukan nyanyian-nyanyian tentang kebahagiaan, tentang cinta, tentang penderitaan. Semuanya adalah kata hati yang digambarkan. Kita melagukan kebesaran Tuhan, berarti kita menyanyikan tentang kemuliaan Tuhan. Pendeknya banyak yang kita dengar dan kita lakukan. Kita menghormati dan sujud kepada orangtua, kita hormat kepada para pendeta. Semuanya juga berarti macam-macam. Untuk memperingati atau menghormati jasa seseorang kita mencontoh dan menggambarkan semua perjuangan atau tingkah laku orang yang kita agung-agungkan itu. Ini penghormatan atau pemujaan.
         Bahasa manusia terlalu terbatas untuk menggambarkan arti kata pemujaan yang sebenarnya. Yang terpenting dalam pemujaan adalah sifat menyerahkan diri sepenuh hati kepada yang dipuja. Jadi sifat bhakti dan dengan menghubungkan diri kepada yang dipuja. Menghubungkan diri artinya melakukan yoga. Yoga berasal dari kata Yuj dan dari kata itu kemudian lahir kata yoga. Cara melakukan hubungan inilah yang disebut sembahyang, atau memuja menurut bahasa Sansekerta.
        Kitab Rg. Veda X.71. mengemukakan ada empat jalan atau cara yang dapat dilakukan oleh manusia untuk sampai kepada Tuhan. Keempat cara atau jalan (Marga) itu disebutkan sebagai berikut.
  • Dengan cara menyanyikan lagu-lagu pujaan.
  • Dengan cara mempelajari dan mengenal Tuhan kemudian mengajarkannya. c. Dengan cara melakukan yajna dan memenuhi aturan yang digariskan.
  • Dengan cara membaca doa-doa mantra.
  • Keempat cara itulah yang mula-mula telah dikemukakan yang lazim dilakukan oleh orang-orang pada waktu itu.
Dari ajaran itu kemudian dikembangkan menjadi beberapa marga (yoga) yang kita kenal berikut ini.
1. Ajaran Bhakti Marga (Yoga)
        Bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan jalan kepatuhan atau bhakti. Bhakti Yoga disenangi oleh sebagian besar umat manusia. Tuhan merupakan pengejawantahan dari kasih sayang, dan dapat diwujudkan melalui cinta kasih seperti cinta suami kepada istrinya yang menggelora dan menyerap segalanya. Cinta kepada Tuhan harus selalu diusahakan. Mereka yang mencintai Tuhan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan. Ia tak pernah membenci makhluk hidup atau benda apa pun, dan tak pernah tertarik dengan objek-objek duniawi. Ia merangkul semuanya dalam dekapan tingkat kasih sayangnya.
2. Ajaran Jnana Marga (Yoga)
      Jñanayoga merupakan jalan pengetahuan. Pelajar Jñanayoga pertama-tama melengkapi dirinya dengan tiga cara yaitu: (1) pembedaan (viveka), (2) ketidakterikatan (vairagya), (3) kebajikan, ada enam macam (sat-sampat), yaitu: (a) ketenangan (sama), (b) pengekangan (dama), (c) penolakan (uparati), ketabahan (titiksa), (d) keyakinan (sraddha), (e) konsentrasi (samadhana), dan (f) kerinduan yang sangat akan pembebasan (mumuksutva). Selanjutnya ia mendengarkan kitab suci dengan duduk khusuk di depan tempat duduk (kaki padma) seorang guru yang tidak saja menguasai kitab suci Veda (Srotriya), tetapi juga bagus dalam Brahman (Brahmanistha). Selanjutnya para siswa melaksanakan perenungan, untuk mengusir segala keragu- raguan. Kemudian melaksanakan meditasi yang mendalam kepada Brahman dan mencapai Brahma-Satsakara. Ia seorang Jivanmukta (mencapai moksa, bersatu dengan-Nya dalam kehidupan ini.
3. Ajaran Vibhuti Marga (Yoga)
       Vibhuti Marga (Yoga) merupakan jalan penghayatan terhadap kebesaran dan kemuliaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai sinar-Nya sebagai simbol keindahan, kemuliaan jiwa, kebenaran, Rta, kebaikan, kebahagiaan, kekekalan, Tuhan dan lain-lain melalui jalan spiritual (pemikiran) oleh para Maharsi guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan umatnya. Vibhuti Marga adalah penghayatan terhadap kebenaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para maharesi melalui spiritual yang kemudian penghayatan tersebut dilukiskan secara lahiriah dalam bentuk puisi sebagai rasa kekagumannya.
4. Ajaran Karma Marga (Yoga)
       Karmayoga adalah jalan pelayanan yang membawa pencapaian menuju Tuhan melalui kerja tanpa pamrih. Yoga ini merupakan penolakan terhadap buah perbuatan. Karmayoga mengajarkan bagaimana bekerja demi untuk kerja itu, yaitu tiadanya keterikatan. Demikian juga bagaimana menggunakan tenaga untuk keuntungan yang terbaik. Bagi seorang Karmayogin, kerja adalah pemujaan, sehingga setiap pekerjaan dialihkan menjadi suatu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang Karmayogin tidak terikat oleh karma (hukum sebab akibat), karena ia mempersembahkan buah perbuatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5. Ajaran Raja Marga (Yoga)
       Rajayoga adalah jalan yang membawa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa, melalui pengekangan diri, pengendalian diri, dan pengendalian pikiran. Rajayoga mengajarkan bagaimana mengendalikan indra-indra dan vritti mental atau gejolak pikiran yang muncul dari pikiran melalui tapa, brata, yoga dan samadhi. Dalam Hatha Yoga terdapat disiplin fisik, sedangkan dalam Rajayoga terdapat disiplin pikiran. Raja Marga Yoga hendaknya dilakukan secara bertahap melalui Astāngga yoga yaitu delapan tahapan Yoga, yang meliputi yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi.
         Yang terpenting dalam pengertian cara sembahyang itu ialah keharusan agar seorang yang hendak sembahyang harus dalam keadaan suci dan baik. Suci dan baik tidak hanya suci karena mandi saja tetapi juga suci karena tingkah laku. Dalam Manu Smrti dikemukakan sebagaimana hal-hal berikut.
  1. Pikiran yang kotor dan tidak baik harus diperbaiki dan disucikan dengan membaca-baca mantra atau kitab-kitab Veda.
  2. Badan yang kotor harus dibersihkan dengan jalan mandi.
  3. Benda-benda yang kotor harus dibersihkan dengan air, api atau benda-benda pensuci lainnya.
  4. Perkataan yang kotor harus diganti, dan belajar berkata-kata yang baik, kata-kata halus dan budi bahasa yang baik.
     Mereka yang dalam keadaan suci seperti inilah yang dikatakan layak bersembah bakti pada Tuhan. Dengan kata lain ketentuan itu wajib sifatnya dan karena itu orang yang tidak memenuhi syarat doanya akan sia-sia saja, karena yang Maha Suci, Tuhan hanya terjangkau oleh sifat kesucian dan kebajikan manusia penyembahnya sendiri, sesuai menurut aturan yang telah ditentukan (Rg. Veda IX.73.6).

Definisi tentang Tuhan dijumpai dalam kitab Brahma Sūtra I.1.2 sebagai berikut.
“Janmādyasyayatah”
Terjemahannya.
“(Brahman adalah yang Maha Tahu dan penyebab yang Maha Kuasa) dari mana munculnya asal mula dan lain-lain, (yaitu pemeliharaan dan peleburan) dari (dunia ini)”.
       Kitab Brahma Sūtra merupakan sistematisasi dari pemikiran kitab-kitab Upanisad. Dalam Brahma Sūtra ditemukan nama-nama aliran pemikiran Vedānta. Bādarāyana, yang dianggap sebagai penyusun Brahma Sūtra atau Vedānta Sūtra, bukanlah satu-satunya orang yang mencoba mensistematisir gagasan filsafat yang terdapat dalam Upanisad, walaupun mungkin merupakan karya yang terakhir dan terbaik. Semua sekte di India sekarang ini menganggap karya beliau sebagai otoritas utama dan setiap sekte baru pastilah mulai dengan memberikan ulasan baru pada Brahma Sūtra ini – dan rasanya tak akan ada sekte yang dapat didirikan tanpa berbuat demikian (Vireśvarānanda, 2002 : 5).

C. Tujuan Ajaran Vibhuti Marga dan Tujuan Agama Hindu

Perenungan
“Bhadraṁ no api vātaya mano dakṣaṁ uta kratum,
adha te sakhye andhaso vi vo made raṇam gāvo na yavase vivaksaṣe.”
Terjemahannya.
“Berikanlah kami pikiran yang baik dan bahagia, berikanlah kami keterampilan dan pengetahuan. Maka semoga manusia dalam persahabatan-Mu merasa bahagia, ya Tuhan! seperti sapi di padang rumput. Engkau yang Mahaagung”(Rg Veda X. 25.1)


Memahami Teks
      Agama adalah kepercayaan hidup pada ajaran-ajaran suci yang diwahyukan oleh Ida Sang Hyang Widhi, yang kekal abadi. Tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai kedamaian/kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani umatnya. Tujuan agama Hindu ini sebagaimana dituliskan dalam berbagai pustaka suci Veda dengan sloka ”Moksartham jagadhita ya ca iti dharma”

D. Sloka-sloka Vibhuti Marga sebagai Tuntunan Hidup

Perenungan
“Yo dharta bhuvanam ya usranam apicya veda namani guhya, sa kavih kavya puru rupam dyairiva pusyati.”
Terjemahannya:
“Ia yang menjadi pendukung hidup, yang mengetahui nama-nama sinar pagi yang penuh rahasia.
Ia, penyanyi, pemelihara semua isi alam dengan kekuatan lagu-Nya, bahkan langit sekali pun” (Åg Veda VIII. 41-5).

Memahami Teks
        Penggambaran sifat-sifat mulia dan agung dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa melebihi dari segala yang ada, merupakan ajaran Vibhuti Marga yang dapat berfungsi sebagai tuntunan hidup guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagia umat sedharma.
Berbagai macam sloka berikut yang dikutip dari beberapa jenis kitab suci Veda dipercayai dapat mengilhami umat sedharma mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
”Ucchantì yā kṛṇoṣi mamhanā mahi prakhyai devi ṡvar ddaṡe
tasyate ratnabhaja imahe vayaṁ syāma mātur na sūnavaá”
Terjemahannya:
”Engkaulah, dewi, fajar merekah, dengan kemuliaan-Mu bumi ini tampak dan kami dapat melihat langit, Engkaulah, yang membagikan batu permata, kami panjatkan doa kepada-Mu semoga kami bagi-Mu bagaikan seorang anak (yang cinta) kepada ibunya”
(Ag Veda VII. 81. 4).
“Viṡvāni deva savitar duritāni parā suva, yad bhadraṁ tanna ā suva”
Terjemahannya:
“Ya Savita (Tuhan Yang Maha Cemerlang), jauhkanlah segala kejahatan,
anugrahkanlah segala kebajikan kepada kami” (Ag Veda V. 82. 5)’.
“Ã viṡvadevaṁ satpatiṁ sūktairadya vṛnimahe, satyasavam savitāram”
Terjemahannya:
“Dengan lagu pujian kami pilih seluruh dewata,
Dewa tertinggi untuk kebaikan, Savitar, yang hukumnya selalu benar” (Ag Veda V. 82. 7)
“vṛhatsumnaá prasavitā niveṡano jagataá sthāturubhayasya yo vaṡi sa no devaá savitā ṡarma yaccha
tvasme kṣayāya trivarutham aṁhasaá.”
Terjemahannya:
“Tuhan yang Mahapengasih, yang memberi kehidupan pada alam dan menegakkannya. Ia yang mengatur baik yang bergerak dan yang tidak bergerak. Semoga Ia Savitar, memberikan rakhmat-Nya kepada kami. Untuk ketentraman hidup, dengan kemampuan melawan kekuatan jahat.”
(Ag Veda IV. 53. 6)

         Dewa Surya disebut dengan sebutan Savita atau Savitar adalah sebagai dewa pencipta kehidupan yang ada di alam semesta, Maha Agung dan Mahakasih sebagai sumber kebajikan dan keindahan serta kebenaran. Pada dewa inilah semua makhluk berlindung beserta memohon agar dewa ini dapat memberikan ketentraman hidup dengan kekuatan untuk mampu melawan kejahatan.
Penggambaran sifat-sifat mulia dan agung dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dapat dilakukan dengan berbagai macam simbol. Penggambaran tentang Tuhan Yang Maha Esa dilakukan untuk mempermudah umat memahami tentang sifat-sifat Tuhan yang maha.

Uji Kompetensi
Setelah mempelajari materi pembelaran 2 diatas, selanjutnya jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini pada kertas double polio / sesuai permintaan gurumu kemudian dikumpulkan.
Pertanyaan:
  1. Apakah yang dimaksud dengan Vibhuti Marga? Jelaskanlah!
  2. Galilah konsep ajaran Vibhuti Marga yang ada pada berbagai jenis sumber buku yang pernah dibaca. Tuliskanlah dan pahamilah konsep-konsep yang dimaksud, selanjutnya tuangkan karyamu masing-masing dalam portopolio.
  3. Dengan cara bagaimana ajaran Vibhuti Marga dapat dilaksanakan? Jelaskanlah!
  4. Bagaimana pelaksanaan ajaran Vibhuti Marga yang ada di sekitar lingkungan kamu?
  5. Menurut kamu sejak kapan sebaiknya ajaran Vibhuti Marga dilaksanakan oleh umat Hindu? Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah dan teman-temanmu di sekolah.
  6. Apakah tujuan ajaran Vibhuti Marga?
  7. Apakah tujuan agama Hindu?
  8. Bagaimana hubungan tujuan ajaran Vibhuti Marga dengan tujuan agama Hindu? Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah dan teman - temanmu di sekolah!
  9. Mengapa kita perlu menggambarkan perwujudan Tuhan?
  10. Temukanlah bait-bait sloka yang menggambarkan tentang Tuhan dari berbagai sumber yang diketahui!
Jawablah pertanyaan tersebut dengan singkat dan jelas. Kamu dapat mencari jawaban dari sumber lain seperti Buku Paket dan buku penunjang lainnya.