"Selamat datang di situs The Bali Buzz, www.rah-toem.blogspot.com"

Kompetensi inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kurikulum 2013 revisi 2017 tingkat SMK/SMA

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan disuatu negara maka diperlukan adanya perubahan perubahan pada kurikulum yang berlaku yang tentunya disesuaikan dengan perkembangan jaman dan perilaku masyarakatnya. Seperti pada kurikulum pendidikan yang diberlakukan di Indonesia juga senantiasa mengalami perubahan untuk mencapai tujuan pendidikan yang muaranya adalah pada kemajuan negara. Berikut ini adalah Kompetensi inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kurikulum 2013 revisi 2017 tingkat SMK/SMA.

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kurikulum 2013 revisi 2017

Hai sahabat the bali buzz, kali ini saya berbagi informasi tentang kompetensi inti dan kompetensi terbaru mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kurikulum 2013 revisi 2017. Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang menonjol, hanya saja ada beberapa penyempurnaan untuk semua bidang keahlian.
Tujuan kurikulum mencakup empat aspek kompetensi, yaitu (1) aspek kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Aspek-aspek kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Hubungan Tattwa dengan Darsana dalam ajaran Agama Hindu

Hubungan Tattwa dengan Darsana dalam ajaran Agama Hindu
Sembahyang menurut Hindu
Kita sebagai umat Hindu tentu telah mengetahui apa saja yang menjadi penunjang kokohnya Agama Hindu. Agama Hindu dibangun oleh tiga kerangka yang dapat dilihat dari aktivitas keagamaan yang ditunjukan oleh umat. Tiga kerangka agama Hindu tersebut adalah Tattwa, Etika / susila dan Acara / Ritual. Selanjutnya bagaimana perkembangan gama Hindu yang dibangun atas dasar Tattwa? Tattwa tiada lain adalah pengetahuan yang dapat dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan keagamaan. 

Kata Tattva berasal dari bahasa Sanskerta ‘Tat’ yang artinya ‘Itu’, yang maksudnya adalah hakikat atau kebenaran (Thatnees). Dalam sumber lainnya, kata Tattva juga berarti falsafah (filsafat agama), yakni ilmu yang mempelajari kebenaran sedalam- dalamnya (sebenarnya) tentang sesuatu seperti mencari kebenaran tentang Tuhan, tentang atma, serta yang lainya sampai pada proses kebenaran tentang reinkarnasi dan karmapala. Dalam ajaran Tattva, kebenaran yang dicari adalah hakikat tentang Brahman (Tuhan) dan segala sesuatu yang terkait dengan kemahakuasaan Tuhan. Dalam buku Theologi Hindu, kata Tattva berarti hakikat tentang Tat atau Itu (yaitu Tuhan dalam bentuk Nirguṇa Brahman). Penggunaan kata Tat sebagai kata yang artinya Tuhan, adalah untuk menunjukkan kepada Tuhan yang jauh dengan manusia. Kata ‘Itu’ dibedakan dengan kata ‘Idam’ yang artinya menunjuk pada kata benda yang dekat (pada semua ciptaan Tuhan). Definisi tersebut berdasarkan pada pengertian bahwa Tuhan atau Brahman adalah asal segala yang ada, Brahman merupakan primacosa yang adanya bersifat mutlak. Karena sumber atas semua yang ada, tanpa ada Brahman maka tidak mungkin semuanya ada.

Tattva juga dapat diartikan kebenaran yang sejati dan hakiki. Penggunaan kata Tattva ini adalah istilah dalam filsafat yang didasarkan atas tujuan yang hendak dicapai yakni kebenaran tertinggi dan hakiki. Dalam lontar-lontar di Bali, kata Tattva lebih sering diguṇakan jika dibandingkan dengan istilah filsafat yang lainnya. Dengan pengertian ini dapat diartikan bahwa Tattva adalah suatu istilah dalam filsafat agama yang diartikan sebagai kebenaran sejati dan hakiki yang didasari perenungan mendalam dan memerlukan pemikiran yang cemerlang agar sampai kepada hakikat dan sifat kodrati. Ajaran Hindu kaya akan Tattva, dan secara khusus disebut Darśana. Kata Darśana berasal dari urat kata dṛś yang artinya melihat, menjadi kata Darśana (kata benda) yang artinya penglihatan atau pandangan. Kata Darśana dalam hubungan ini berarti pandangan tentang kebenaran (filsafat). Filsafat adalah ilmu yang mempelajari bagaimana caranya mengungkapkan nilai-nilai kebenaran hakiki yang dijadikan landasan untuk hidup yang dicita-citakan. Demikian juga halnya dengan Darśana yang berusaha mengungkap nilai-nilai kebenaran dengan bersumber pada kitab suci Veda. Dalam agama Hindu terdapat sembilan cabang filsafat yang disebut
Nawa Darśana.

Pada masa Upaniṣad, Darśana dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu astika (kelompok yang mengakui Veda sebagai ajaran tertinggi) dan nastika (kelompok yang tidak mengakui Veda ajaran tertinggi ). Terdapat enam cabang filsafat yang mengakui Veda yang disebut Ṣaḍ Darśana (Nyāyā, Sāṁkya, Yoga, Mīmāmsā, Vaisiseka, dan Vedānta) dan tiga cabang filsafat yang menentang Veda yaitu Jaina, Carvaka dan Buddha.

Darśana merupakan bagian penulisan Hindu yang memerlukan kecerdasan yang tajam, penalaran serta perasaan, karena masalah pokok yang dibahasnya merupakan inti sari dari ajaran Veda secara menyeluruh dibidang filsafat, yakni aspek rasional dari agama dan merupakan satu bagian integral dari agama. Nama atau istilah lain dari Darśana adalah Mananaśāstra (pemikiran atau renungan filsafat), Vicaraśāstra (menyelidiki tentang kebenaran filsafat), tarka (spekulasi), Śraddhā (keyakinan atau keimanan).

Filsafat juga merupakan pencarian rasional ke dalam sifat kebenaran atau realitas yang juga memberikan pemecahan yang jelas dalam mengemukakan permasalahan- permasalahan yang lembut dari kehidupan ini, di  mana  ia  juga  menunjukkan  jalan untuk mendapatkan pembebasan abadi dari penderitaan akibat kelahiran dan kematian. Filsafat bermula dari keperluan praktis umat manusia yang menginginkan untuk mengetahui masalah-masalah transendental ketika ia berada dalam perenungan tentang hakikat kehidupan itu sendiri. Ada dorongan dalam dirinya untuk mengetahui rahasia kematian, kekekalan, sifat dari jīva (roh), dan sang pencipta alam semesta ini. Dalam hal ini filsafat dapat membantu untuk mengetahui semua permasalahan yang dihadapi, karena filsafat merupakan ekspresi diri dari pertumbuhan jiwa manusia, sedangkan filsuf adalah wujud lahiriahnya. Para pemikir kreatif dan para filsuf merupakan wujud yang muncul pada setiap zaman dan mereka mengangkat atau mengilhami umat manusia.

Pemikiran tentang kematian selalu menjadi daya penggerak yang paling kuat dari ajaran agama dan kehidupan keagamaan. Manusia takut akan kematian dan tidak menginginkan untuk mati. Inilah yang merupakan titik awal dari filsafat, karena filsafat berusaha mencari dan menyelidikinya. Pemahaman yang jelas dari manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, merupakan masalah yang sangat penting bagi para pelajar filsafat dan bagi para calon spiritual (sādhaka) sehingga berbagai aliran filsafat dan bermacam-macam aliran kepercayaan keagamaan yang berbeda telah muncul dan berkembang dalam kehidupan umat manusia.

Filsafat Hindu bukan hanya merupakan spekulasi atau dugaan belaka, namun ia memiliki nilai yang sangat luhur, mulia, khas, dan sistematis yang didasarkan atas pengalaman spiritual mistis yang dikenal sebagai Aparokṣa Anubhūti. Para pengamat spiritual, para orang bijak, dan para Ṛṣi yang telah mengarahkan persepsi intuitif dari kebenaran adalah para pendiri dari berbagai sistem filsafat yang berbeda-beda, yang secara langsung maupun tidak langsung mendasarkan semuanya pada Veda. Mereka yang telah mempelajari kitab-kitab Upaniṣad secara tekun dan hati-hati akan menemukan keselarasan antara wahyu-wahyu Śruti dengan kesimpulan filsafat.

Ṣaḍ Darśana yang merupakan enam sistem filsafat Hindu merupakan enam sarana pengajaran yang benar atau enam cara pembuktian kebenaran. Masing-masing kelompok Darśana telah mengembangkan, mensistematisir serta menghubungkan berbagai bagian dari Veda, dengan caranya masing-masing, sehingga masing-masing kelompok tersebut memiliki seorang atau beberapa orang Sūtrakāra, yaitu penyusun doktrin-doktrin dalam ungkapan-ungkapan pendek (aphorisma) yang disebut Sūtra.

Demikianlah sesungguhnya pandangan-pandangan filsafat dari para maharsi tersebut tumbuhnya dari Tattwa, ilmu yang mempelajari kebenaran sedalam- dalamnya (sebenarnya) tentang sesuatu seperti mencari kebenaran tentang Tuhan, tentang atma, serta yang lainya sampai pada proses kebenaran tentang reinkarnasi dan karmapala.

Ulasan tentang Nawa Darsana, Sembilan Filsafat

Ulasan tentang Nawa Darsana, Sembilan Filsafat
Bagan Nawa Darsana
Sahabat The Bali Buzz, mungkin kita sudah sering sekali mendengar kata Nawadarsana. Nah sebenarnya apa pengertian dari Nawadarsana dan apa bedanya dengan Sad Darsana. Berikut ini akan diulas secara singkat dan jelas mengenai Nawa darsana dan penerapannya. 

Istilah Nawadarsana sebenarnya adalah penggabungan Sad darsana dengan filsafat Nastika yaitu aliran filsafat yang tidak mengakui otoritas Veda sehingga disebut filsafat heterodox. Ada tiga aliran besar dalam Nastika, sebagai berikut:
1) Aliran filsafat materialistis dari Cārvāka
Cārvāka tidak pernah percaya kepada  surga,  neraka,  dan  terhadap  Tuhan  yang menciptakan alam semesta, karena itu aliran ini bersifat atheis. Cārvāka menitikberatkan untuk mencari kesenangan duniawi saja. Ada dua jenis pengikut Cārvāka, yaitu Dhūrta (licik dan tidak terpelajar) dan Suśikṣita (terpelajar). Salah satu pengikut Suśikṣita yang terkenal adalah Vātsyāna yang terkenal dengan bukunya Kāmasūtra.

2) Aliran filsafat Jaina
Aliran Jaina artinya memperoleh kemenangan dalam menghadapi tantangan duniawi. Pendiri aliran ini adalah Mahāvīra yang nama aslinya Vardhamāna. Aliran filsafat ini bersifat atheis yang percaya seseorang dapat mencapai kebebasan rohani seperti guru mereka. Ada dua golongan Jaina, yaitu Digambara (golongan yang sangat fanatik dan bahkan telanjang bulat) dan Śvetāmbara (golongan yang lebih moderat, menggunakan pakaian serba putih). Bisa dikatakan filsafat Jaina bersifat pragmatis realistis.

3) Aliran filsafat Buddha
Filsafat Buddha didirikan oleh pengikut Sang  Buddha,  Siddhārtha  Gautama dan dinasti Sakya. Ajaran filsafat Buddha meliputi Catur Ārya Satyani (empat kebenaran mulia), Pratitya Samut Pada (dua belas hal yang menyebabkan penderitaan) dan Aṣṭa Mārga (delapan jalan yang benar).
Enam filsafat Hindu yang dikenal dengan Sad darsana adalah enam sistem filsafat orthodox yang merupakan enam cara mencari kebenaran, yaitu Nyāyā, Sāṁkya, Yoga, Vaisiseka, Mīmāmsā dan Vedānta. Di samping enam darsana pokok awal yang termasuk zaman Sūtra- sūtra juga terdapat beberapa darsana yang termasuk zaman skolastik, yaitu Dvaita, Viśiṣtādvaita dan Advaita. Kesemua sistem filsafat tersebut mendasarkan ajarannya kepada Veda baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga disebut juga sebagai Astika.

Demikian sekilas penjelasan tentang Nawadarsana yang merupakan sembilan bentuk filsafat yang berkembang di India. Nawadarsana terbentuk dari penggabungan antara sad darsana yang tergolong Astika darsana dengan Darsana yang tergolong Nastika Darsana yaitu Carwaka, Buddha dan Jaina.

Macam-macam Pedewasan Bidang Pertanian dan Dampak Padewasan

1. Macam-macam Pedewasan Bidang Pertanian
Diawali dengan mantra yang terdapat dalam Rgveda tersebut di atas, sebagai pemujaan  kepada  Tuhan sebagai penguasa Sinar dan pemberi  kebahagiaan pada  segala  musim  karena  Tuhanlah  sebagai  penguasa  dan  sang  pengendali dari musim tersebut. Demikian pula halnya dalam bidang pertanian, musim tanam  sangat ditentukan  dari padewasan. Karena tanaman  akan  berhasil dengan baik apabila  jenis tanaman  tepat  dan cocok dengan musim pada saat tersebut. Sistem  pertanian  dalam  ajaran Hindu bukanlah  suatu hal  yang baru, karena perkembangan  agama  Hindu di Indonesia tidak  lepas dari sejarah  perkembangan agama Hindu di daerah asalnya India. Sebelum pengaruh agama Hindu dan Buddha datang, kepercayaan  tradisional  masyarakat  Indonesia telah mengenal  pemujaan terhadap  unsur-unsur alam  termasuk benda-benda angkasa seperti matahari,  bulan dan bintang.
Sebagai  masyarakat agraris yang relegius terbangun sebuah keyakinan bahwa keberhasilan yang diperoleh tidak lepas dari  pengaruh-pengaruh di luar dirinya. Sehingga untuk mendapatkan  hasil yang baik tidak  lepas dari usaha realitas  di luar dirinya.  Mencari  hari  baik  (dewasa  ayu),  serta  melakukan  kegiatan  ritual  sebagai salah satu “resep” jitu untuk menopang keberasilan dalam aktivitas kehidupan. Sebelum  dikenalnya  sistem  penanggalan  seperti  dalam   kelender  yang  ada  saat ini,  dalam  menentukan  hari  baik  mereka  selalu  berpatokan pada  munculnya  bendabenda langit  (bintang)  serta posisi bumi, bulan dan matahari.  Hal ini digunakan  untuk menentukan hari yang baik dalam bercocok tanam, termasuk aktivitas religi. Jika  bintang  Wuluku/tenggala  (orion) berada  tepat  di atas, dua dari bintangnya berada di posisi barat dari garis tengah utara-selatan  jam 18.00-20.23 (dauh  wengi)  nanceb  masa  :  petani  mulai menanam  padi yang berumur 4 sampai 5 bulan, seperti padi ijo gading (4 bulan), pokal (4,5 bulan). Jatuh berkisar sasih  Palguna-Caitra/ Kaulu-Kesanga  (8-9) atau  Januari-Pebruhari.  Jika Bintang  Karawika (Taurus) mulai terlihat  di timur berkisar pukul 03.36-05.59 (dauh wengi)  mabyan  sawah,  petani mulai  menanam  bawang, semangka,  dan lain-lain.  Jatuh berkisar sasih  ShrawanaBhadrapada/Kasa-Karo (1-2)/Juni-Juli. Dasar  pertimbangan  dan  landasan  filosofis  relegius  tersebut,  hingga  kini  diwarisi wariga  yang berkaitan dalam bidang pertanian.  Adapun beberapa contoh baikburuknya hari dalam kaitannya bidang pertanian sebagai berikut :

Bercocok tanam sesuai Sapta  Wara
a.  Redite menanam tanaman  yang beruas (sarwa buku)
b.  Soma menanam tanaman yang berumbi (sarwa bungkah)
c.  Anggara tanaman yang daunnya yang berfungsi, (sarwa daun)
d.  Buddha menanam segala yang berbunga (sarwa sekar)
e.  Wrhaspati menaman segala biji-bijian (sarwa wija)
f.  Sukra nenanam segala  buah (sarwa phala)
g.  Saniscara menam tanaman  merambat (sarwa melilit)

Hari baik menanam padi berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara dan  Wuku
a.  Redite   - Umanis - merakih
b.  Coma   - umanis - tolu
c.  Anggara   - umanis - uye
d.  Buddha -  umanis - julungwangi
e.  Wraspati - umanis  - ugu
f.  Sukra   - umanis - langkir
g.  Saniscara -  umanis - watugunung

Pantangan menanam tanaman berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara dan  Wuku
a.  Wrhaspati -  Pon    -    Landep
b.  Redite -    Pon    -    Julungwangi
c.  Soma -    Pon    -    Dunggulan
d.  Anggara  -  Pon     -    Langkir
e.  Budha -  Pon     -    Pujut
f.  Wrhaspati  -    Pon    -     Krulut
g.  Wraspati   -    Pon     -    Tambir

2. Dampak Padewasan
 Dalam pandangan ahli spiritual setiap fenomena alam memiliki  rahasia dan akan mencerminkan  watak  (karakter)  tersendiri.  Termasuk  fenomena  perubahan  “hari” dalam  sistem  penanggalan.  Mengapa bisa demikian?  Dikarenakan  gerakan  bumi tidak  pernah  berhenti,  maka  setiap  detik  posisinya  berubah.  Untuk kembali  pada posisi yang sama, membutuhkan siklus waktu tertentu.  Siklus jam, siklus hari, bulan, tahun, pasaran (Legi,  Pon dsb),  Wuku dan lain  sebagainya.  Pada intinya  setiap  siklus berhubungan dengan posisi orbit bumi. Dengan latar  belakang  tersebut, maka  kelahiran  manusia  dan kejadian  di alam semesta  ini  (misalnya  musim)  dengan  sendirinya  akan  menempati  salah  satu  siklus diantara  siklus-siklus yang ada. Misalnya manusia yang dilahirkan  pada hari Senin, akan masuk ke dalam  siklus Senin yang telah  dihuni oleh banyak orang sebelumnya, yang lahir pada hari yang sama. Oleh karena itu secara umum mereka menjadi  satu wadah yang bernama siklus. Maka berdasarkan ‘Ilmu  Titen’  atau ilmu hasil dari mengenali  / mengamati  dan terus berlangsung turun-temurun,  watak seseorang atau pergerakan alam secara garis besar dapat dikenali bahkan diprediksi.

Agama adalah kebenaran dan kebaikan. Orang-orang yang berpegang teguh padanya  akan  terimbas  oleh kebenaran  dan kebaikan  agama.  Padewasan adalah salah satu cara untuk menjalankan  ajaran  agama  yang berkaitan  dengan aktivitas keagamaan,  termasuk kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan kehidupan, sehingga pengaruh dari pemahaman  terhadap padewan berdampak pada prilaku agama yang semakin konsisten serta pengamalan  agama yang semakin intensif. Kekuatan  agama  terhadap  diri  manusia  terlihat  dari  berbagai  dimensi  kehidupan manusia dalam membentuk sikap keagamaan. Ada beberapa dampak dari pemahaman  padewasan yang dapat membentuk  sikap keagamaan  antara lain:
a.  Dampak moral yaitu salah satu kencendrungan mengembangkan perasaan bersalah ketika manusia berperilaku menyimpang dari hal-hal yang tertuang dalam padewasan.
b.  Dampak kognitif yaitu meningkatnya pemahaman  dan keyakinan manusia, bahwa segala  keberhasilan  yang  diraih  oleh  manusia  tidak  saja  berasal  dari  dalam  dirinya (usaha) tetapi ada suatu kekuatan yang berasal dari luar dirinya yang bersumber dari  Tuhan, yang turut serta memberikan andil dalam keberhasilan tersebut.
c.  Dampak afektif yaitu pengalaman batin seseorang yang merupakan salah satu faktor yang ada dalam pengalaman setiap orang beragama. Sebagian orang mungkin mengganggap bahwa pelaksanaan upacara-upacara sesuai dengan padewasan sekedar serimonial saja, namun sebagian yang dengan khusuk berlandaskan keyakinan mencurahkan emosinya akan merasakan ketenangan dan kedamaian.
d.  Dampak  psikomotor yaitu  adanya  kehati-hatian  manusia  dalam  bertindak  dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
e.  Dampak sosial yaitu dengan adanya pemahaman  padewasan manusia selalu membangun  hubungan  sosial yang harmonis,  bukan  saja  sesama  manusia  tetapi juga dengan  Tuhan dan alam lingkungannya.

TUGAS MANDIRI
A. Buatlah ringkasan materi di atas pada buku catatan!
B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan jelas!
1. Jelaskan mengapa padewasan sangat penting bagi perkembangan bidang pertanian!
2.  Sebutkan dan jelaskanlah  bercocok tanam sesuai Sapta  Wara!
3.  Sebutkan pantangan menanam tanaman  berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara, dan Wuku!
4.  Apa yang menjadi pedoman para petani sebelum adanya sistem penanggalan seperti sekarang ini?
5.  Sebutkanlah hari baik menanam padi berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara, dan  Wuku!