"Selamat datang di situs The Bali Buzz, www.rah-toem.blogspot.com"

Bagian-bagian Catur Purusartha

Perenungan
“Uttamaning dhanolihing amet prih-awak aputéran, madhyama ng arthaning bapa kanista dhana saking ibu, nistanikang kanistan dhama yan saka ring anak-ébi, uttamaning hunuttama dhanolihing anuku musuh”.
Terjemahannya:
“Kekayaan yang terbaik adalah uang yang diperoleh sendiri dari kerja berat, yang baik adalah uang dari bapak, yang tidak baik uang dari pemberian ibu, ada pun yang sangat tidak baik, yaitu uang pemberian istri, tetapi yang utama sekali adalah rampasan dalam peperangan”. (Nitisastra II.2)

Catur Purushaartha adalah empat tujuan hidup yang utama. Catur Purusaartha dapat juga diartikan empat kekuatan atau dasar kehidupan menuju kebahagiaan, yaitu dharma, artha, kama, dan moksa. Urut-urutan ini merupakan tahapan yang tidak boleh ditukar-balik karena mengandung keyakinan bahwa tiada artha yang diperoleh tanpa melalui dharma; tiada kama diperoleh tanpa melalui artha, dan tiada moksa yang bisa dicapai tanpa melalui dharma, artha, dan kama. Berikut ini adalah bagian-bagian dari Catur Purusartha;
  1. Dharma
  2. Artha
  3. Kama
  4. Moksa
Selanjutnya akan dibahas secara terperinci mengenai bagian-bagian catur purusa artha tersebut.
Moksa sebagai bagian ke empat catur purusa artha
bagian ke empat catur purusa artha

A. Dharma
Dharma berasal dari akar kata “dhr” yang berarti menjinjing, memelihara, memangku atau mengatur. Jadi kata dharma dapat berarti sesuatu yang mengatur atau memelihara dunia beserta semua makhluk. Hal ini dapat pula berarti ajaran-ajaran suci yang mengatur, memelihara, atau menuntun umat manusia untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan ketenteraman batin (rohani). Dalam Santi Parwa (109,11) dapat ditemui keterangan tentang arti dharma sebagai berikut.
“Dharanad dharman ityahur,
dharmena widhrtah prajah (Santi Parwa (109,11).
Terjemahannya:
“Dharma dikatakan datangnya dari kata dharana (yang berarti memangku atau mengatur)”.
Makna yang terkandung dalam kata dharma sebenarnya sangat luas dan dalam.  Bagi mereka yang menekuni ajaran-ajaran agama akan memberi perhatian yang pokok pada pengertian dharma tersebut.
Kutipan dari salah satu sloka kitab Santi Parwa di atas telah menggambarkan bahwa semua yang ada di dunia ini telah mempunyai dharma, yang diatur oleh dharma tersebut.

Agar mudah menangkap pengertian dharma tersebut, kita ambil beberapa contoh. Manusia yang memelihara dan mengatur hidupnya untuk mencapai jagadhita dan moksa adalah telah melaksanakan dharma. Artinya melaksanakan kewajiban- kewajiban sebagai manusia tak lain adalah pelaksanaan dharma. Sebagaimana kitab Sarasamuccaya menjelaskan, bahwa kalau artha dan kama yang dituntut, maka seharusnya dharma dilakukan lebih dahulu, tak disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti. 

Tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma. Pernyataan di atas menekankan bahwa jika dharma harus dilaksanakan, maka artha dan kama datang dengan sendirinya. Bila petunjuk suci itu dapat kita jalani dalam hidup ini berarti kita telah dapat memfungsikan dharma dalam kehidupan ini. Sehubungan dengan itu, kitab Manu Samhita menyebutkan sebagai berikut.
“Veda” pramanakah Gryah sadhanani dharma”
Terjemahannya adalah.
“Di dalam ajaran suci Veda dharma dikatakan sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan (moksa)”
Selanjutnya di dalam kitab Udyoga Parwa khususnya bagian dari Asta Dasa Parwa dijumpai pernyataan berikut.
“Ikang dharma ngaranya, hetuning mara ring swarga ika, kadi gatining perahu, an hetuning banyaga nentasing tasik”.
Terjemahannya:
“Yang disebut dharma adalah jalan untuk pergi ke sorga, sebagai halnya perahu, sesungguhnya merupakan alat bagi pe- dagang dalam mengarungi lautan”.
Berdasarkan sloka di atas, yang dimaksud dengan dharma adalah kebenaran yang abadi (agama), atau sebagai hukum guna mengatur hidup dari segala perbuatan manusia yang berdasarkan pada pengabdian keagamaan. Di samping itu dharma juga merupakan suatu tugas sosial di masyarakat. Untuk mengamalkan ajaran ini dipakai pedoman “Catur Dharma” yang terdiri dari dharma kriya, dharma santosa, dharma jati, dan dharma Putus.
a. Dharma Kriya
Dharma Kriya berarti manusia harus berbuat, berusaha dan bekerja untuk kebahagiaan keluarga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, dengan menempuh cara peri kemanusiaan sesuai dengan ajaran-ajaran agama Hindu. Setiap pekerjaan dan usaha akan berhasil dengan baik apabila dilandasi dengan Sad Paramita, seperti diuraikan di bawah ini.
  1. Dana Paramita: suka berbuat dharma, amal dan kebajikan.
  2. Ksanti Paramita:suka mengampuni orang lain.
  3. Wirya Paramita: mengutamakan kebenaran dan keadilan.
  4. Prajna Paramita: selalu bersikap tenang, cakap dan bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu persoalan.
  5. Dhiyana Paramita: merasa bahwa segalanya ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya wajib menyayangi sesama makhluk hidup.
  6. Sila Paramita: selalu bertingkah laku yang baik (Tri Kaya Parisuda) dalam pergaulan.
b. Dharma Santosa.
Dharma Santosa berarti berusaha untuk mencapai kedamaiaan lahir bathin dalam diri sendiri, dilanjutkan ke dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Tanpa adanya kebahagiaan dan kedamaian dalam diri sendiri akan sangat sukar untuk mewujudkan kedamaian dan kesentausaan dalam keluarga, bangsa dan negara.
c. Dharma Jati.
Dharma Jati berarti kewajiban yang harus dilakukan untuk menjamin kesejahteraan dan ketenangan keluarga serta selalu mengutamakan kepentingan umum di samping kepentingan diri sendiri (golongan).
d. Dharma Putus.
Dharma Putus berarti melakukan kewajiban dengan penuh keikhlasan, berkorban serta bertanggung jawab demi terwujudnya keadilan sosial bagi umat manusia dan selalu mengutamakan penanaman budhi baik untuk menjauhkan diri dari noda dan dosa yang menyebabkan moral menjadi rusak. Secara singkat Dharma itu dapat dilaksanakan dengan mengamalkan ajaran “Tri Kaya Parisadha” yaitu tiga usaha dan jalan utama dalam seluruh kehidupan untuk mencapai tujuan agama yang terdiri dari beberapa hal berikut ini.
  1. Kayika artinya tingkah laku dan perbuatan yang baik.
  2. Wacika artinya perkataan dan pembicaraan yang jujur dan benar.
  3. Manacika artinya pikiran perasaan yang baik dan suci serta tresnasih.

B. Artha.
Artha dalam Catur Purusartha mempunyai beberapa makna. Di atas telah diuraikan bahwa dalam kaitannya dengan kata Purusartha, kata artha dapat berarti tujuan. Demikian pula dalam kaitannya dengan kata Parama Artha (tujuan yang tertinggi), Parartha (tujuan atau kepentingan orang lain), dan sebagainya. Tetapi sebagai tujuan dari Catur Purusartha, kata artha berarti harta atau kekayaan. Artha berarti benda-benda, materi, atau kekayaan sebagai sumber kebutuhan duniawi yang merupakan alat untuk mencapai kepuasan hidup. Artha merupakan pelengkap hidup. Artha (dalam arti artha benda) memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan beragama. di antaranya sebagaimana berikut ini.
a. Fungsi Artha dalam kehidupan beragama.
Artha dapat digunakan untuk beryajña, misalnya melaksanakan Panca Yajña yaitu seperti di bawah ini.
  1. Dewa Yajña: korban suci yang ditujukan untuk melakukan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya.
  2. Manusa Yajña: korban suci yang ditujukan untuk kesejahteraan umat manusia.
  3. Pitra Yajña: korban suci yang ditujukan ke hadapan para leluhur atau pitara baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal/disucikan.
  4. Rsi Yajña: korban suci atau penghormatan yang ditujukan terhadap para Rsi atau para guru dengan ilmu-ilmunya.
  5. Bhuta Yajña: korban yang tulus ikhlas ditujukan ke hadapan para Bhuta Kala, makhluk-makhluk bawahan dan unsur-unsur Panca Maha Bhuta yang lainnya.
b. Fungsi artha dalam mewujudkan Jagadhita.
Di samping fungsi artha dalam kepentingan agama, juga berperanan dalam mewujudkan Jagadhita atau kebahagiaan di dunia.
Berikut ini beberapa fungsi yang dimaksud.
1) Untuk kemakmuran dan kesejahteraan, meliputi hal-hal di bawah ini.
  • Bhoga yakni kebutuhan primer bagi perkembangan hidup jasmani dari segala makhluk, yaitu makanan dan minuman (pangan).
  • Upabhoga yakni kebutuhan hidup yang perlu dimiliki oleh manusia seperti pakaian, perhiasan, dan sebagainya (sandang).
  • Paribhoga yakni kebutuhan sosial lainnya, seperti peru- mahan, istri, anak dan lain- lainnya (papan).
2) Untuk “dana-dana” sosial atau punia yakni tanda terima kasih dan pertolongan fakir miskin. Terutama sekali artha digunakan dan disalurkan di samping untuk kepentingan yajna juga untuk kemajuan pendidikan. Secara singkat artha harus dimanfaatkan, untuk hal-hal berikut.
  • Maha Don Dharma Karya yaitu untuk dharma(dana, sosial).
  • Maha Don Artha Karya yaitu untuk kemakmuran dan kesejahteraan (dagang, perusahaan dan lain-lain).
  • Maha Don Kama Karya yaitu kenikmatan, makanan, pendidikan (kesenian, olahraga) dan sebagainya.
Pemanfaatan artha yang sesuai dengan petunjuk dharma berarti umat Hindu telah melaksanakan dharma agama. Kebahagiaan lahir bathin akan tercapai, kehidupan rumah tangga, masyarakat jadi rukun harmonis damai dan sentosa, tidak ada penghisaban antara manusia dengan manusia, karena umat telah menggunakan artha itu sesuai dengan ajaran dharma. Di dalam Brahma Purana dan Santi Parwa disebutkan sebagai berikut.
“Dharmo dharma nuban dharto dharmo natmantha pidakah” (Brahmana Purana 221,16)
Terjemahannya:
“Dharma bertalian erat dengan artha dan dharma tidak menentang artha itu sendiri (tetapi mengendalikan)”
Selanjutnya dalam kitab Santhi Parwa, didapat penjelasan tentang fungsi artha sebagai berikut.
“Dharma mulah sadaiwartah, Dharma sadai wartah, 
 Kamartha phalam utyata” (Çanti Parwa 123.4)

Terjemahannya:
“Walaupun artha dikatakan alat untuk kama, tetapi ia selalu sebagai sumber untuk dharma”
Sedangkan dalam kitab suci Sarasamuccaya juga disebutkan sebagai berikut.
“Apan ikang Artha, yan Dharma luirning karjanaya, ya ika labba ngaranya paramartha ning  amanggih  sukha  sang  tumemwaken  ika,  kuneng  yan adharma luirning karjanya, kasmala ika, sininggahan de sang sai jana,  matangnya  haywa  anasar  sangkeng  Dharma,  yan  tangarjana”
(Sarasamuccaya. 263)
Terjemahannya:
“Sebab artha itu, jika dharma landasan memperolehnya, laba atau untung namanya, sungguh-sungguh mengalami kesenangan orang yang memperoleh artha tersebut, namun jika artha itu diperoleh dengan jalan adharma, maka artha itu adalah merupakan noda, hal itu dihindari oleh orang yang berbudhi utama, oleh karenanya janganlah bertindak menyalahi dharma, jika hendak berusaha menuntun sesuatu”.
Menurut penjelasan dari beberapa kitab agama tersebut dapat disimpulkan, bahwa artha itu memang benar-benar sangat dibutuhkan dalam kehidupan di dunia ini sebagai sarana baik dalam melaksanakan ajaran agama maupun dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Fungsi dan manfaat artha sangat penting, namun semuanya tidak boleh bertentangan dengan dharma.

C. Kama
Kama berarti nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup. Kepuasan atau kenikmatan tersebut memang merupakan salah satu tujuan atau kebutuhan manusia. Biasanya kama itu diartikan dengan kesenangan, cinta.

Kama adalah tujuan kebahagiaan, kenikmatan yang didapat melalui indra, tetapi harus berlandaskan dharma dalam memenuhinya. Kama berarti kesenangan dan cinta kasih penuh keikhlasan terhadap sesama makhluk hidup dan yang penting memupuk cinta kasih, kebenaran, keadilan dan kejujuran untuk mencapainya.

Sehubungan dengan cinta kasih ini, kama dapat dibagi atas tiga bagian yang disebut “Tri Parartha” yakni seperti berikut ini.
  1. Asih, menyayangi dan nengasihi sesama makhluk sebagai mengasihi diri sendiri. Kita harus saling asah (harga menghargai), asih (cinta mencintai) asuh (hormat menghormati), dan mewujudkan ajaran Tat Twam Asi terhadap sesama makhluk agar terwujudnya kerukunan, kedamaian, dan keharmonisan dalam kehidupan serta tercapainya masyarakat Jagadhita (tat tentram kerta raharja).
  2. Punya, dana Punya cinta kasih kepada orang lain diwujudkan dengan selalu menolong dengan memberikan sesuatu (harta benda) yang kita miliki dan berguna bagi orang yang kita berikan.
  3. Bhakti, cinta kasih pada HyangWidhi dengan senantiasa sujud kepadanya dalam bentuk pelaksanaan agama. Kebahagiaan berupa bersatunya “atma” dengan “brahmana”( Tuhan ) menimbulkan“Sat Cit Ananda” (kesadaran, ketentraman, dan kebahagiaan abadi) yang dicapai hanya dengan ketekunan sujud bhakti dan sembahyang yang sempurna.
Kama atau kesenangan atau kenikmatan menurut ajaran agama, tidak akan ada artinya jika diperoleh menyimpang dari dharma. Karenanya dharma menduduki tempat di atas kama, dan menjadi pedoman dalam pencapaiannya. Dalam hal ini dikemukakan contoh, bagaimana tindakan seorang Raja dalam pencapaian kama tersebut. Dalam kekawin Ramayana disebutkan.
“Dewa ku sala-sala mwang Dharma ya pahayun mas ya ta paha wre ddhim bya ya ring kayu kekesan bhukti sakaharep tedwehing bala kasukhan dharma mwang artha mwang kama ta ngaran ika”.
(Ramayana I.3.54)
Terjemahannya:
“Tempat-tempat suci hendaknya dipelihara kumpulkanlah emas yang banyak serta diabadikan untuk pekerja yang baik, nikmati kesenangan dengan memberi kesempatan bersenang-senang kepada rakyatmu, itulah yang disebut dharma, artha dan kama”.
Dalam bait kekawin Ramayana di atas telah dinyatakan bahwa kenikmatan (kama) hendaknya terletak dalam kemungkinan yang diberikan pada orang lain untuk merasakan kenikmatannya. Jadi pekerjaan yang sifatnya ingin menguntungkan diri sendiri dalam memperoleh kama (kenikmatan) itu harus dihindari.

D. Moksa
Moksa berarti ketenangan dan kebahagiaan spiritual yang kekal abadi (suka tan pewali duka). Moksa adalah tujuan terakhir dari umat Hindu. Kebahagiaan bathin yang terdalam  dan langgeng ialah bersatunya atma dengan brahmana yang disebut moksa. Moksa atau mukti berarti kebebasan, kemerdekaan yang sempurna, ketentraman rohani sebagai dasar kebahagiaan abadi, kesucian dan bebasnya roh dari penjelmaan dan manunggal dengan Tuhan yang sering disebut dengan “Kelepasan”.

Manusia harus menyadari bahwa perjalanan hidup pada hakikatnya adalah perjalanan mencari Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), lalu bersatu dengan Tuhan. Perjalanan seperti itu penuh dengan rintangan, bagaikan mengarungi samudra yang bergelombang. Sudah dikatakan di atas bahwa ajaran agama telah menyiapkan sebuah perahu untuk mengarungi samudra itu, yaitu dharma. Hanya dengan berbuat berdasarkan dharma manusia akan dapat dengan selamat mengarungi samudra yang luas dan ganas itu.

Dengan bersatunya atma pada sumbernya yaitu brahmana (sang Hyang Widhi) maka berakhirlah proses atau lingkaran punarbhawa atau samsara bagi atma. Selesailah pengembaraan atma yang telah berulang kali lahir di dunia ini, dan tercapailah kebahagiaan yang kekal abadi. Berdasarkan petunjuk kitab-kitab suci agama Hindu moksa sebagai kebebasan abadi, dinyatakan memiliki beberapa tingkatan, antara lain sebagai berikut.
  1. Samipya; Samipya adalah moksa atau kebebasan yang dapat dicapai semasih hidupnya   ini, terutama oleh para Rsi saat melaksanakan yoga, samadhi, disertai dengan kemekaran antusiasnya, sehingga mereka dapat menerima wahyu dari Tuhan. Samipya sama sifatnya dengan Jiwan Mukti.
  2. Sarupya; Sarupya adalah moksa atau kebebasan yang dicapai semasih hidup di mana kedudukan atma mengatasi unsur-unsur maya. Kendati pun atma mengambil perwujudan tertentu namun tidak akan terikat oleh segala sesuatunya seperti halnya awatara seperti Budha, Sri Kresna, Rama dan lain sebagainya.
  3. Salokya (Karma Mukti); Salokya (Karma Mukti) merupakan kebebasan yang dicapai oleh atma itu sendiri dan telah berada dalam posisi kesadaran sama dengan Tuhan, tetapi belum dapat bersatu dengan-Nya. Dalam keadaan ini dapat dikatakan bahwa atma itu telah mencapai tingkat “Dewa” yang merupakan manifestasi dari sinar suci Tuhan itu sendiri.
  4. Sayujya (Purna Mukti); Sayujya (Purna Mukti) merupakan tingkatan kebebasan yang paling tinggi dan sempurna di mana atma telah dapat bersatu atau bersenyawa dengan Tuhan dan tidak terbatas oleh apa pun juga sehingga benar-benar telah mencapai “Brahma Atma Aikyam” yaitu atman dengan Tuhan betul-betul bersatu.
Walaupun ada beberapa aspek atau tingkatan dari moksa berdasarkan keadaan atma dalam hubungannya dengan Tuhan, yang terpenting dan patut menjadi kunci pemikiran untuk mencapai moksa itu adalah agar kita dapat melenyapkan pengaruh “awidya (maya)” dalam alam pikiran itu, sehingga atma akan mendapat kebebasan yang sempurna. Kitab Bhagavad Gita menyebutkan tentang itu, sebagai berikut.
“Anta kale ca mameva, smaran muktva kalevaran, yah prayate sa madhavam, yati  nasty atra sam sayah”.
(Bhagavad Gita VIII, 5)
Terjemahannya:
“Dan siapa saja pada waktu meninggal, melepaskan badannya dan berangkat hanya memikirkan Aku, ia mencapai tingkat Aku. Tentang ini tidak ada keragu- raguan lagi”.
Dalam pustaka suci Manawa Dharmasastra disebutkan, bahwa untuk mencapai rahmat yang tertinggi (nicreyasa) yakni moksa, antara lain dapat dicapai dengan cara sebagai berikut.
1) Mempelajari Weda.
2) Melakukan tapa.
3) Mempelajari / mencari pengetahuan yang benar.
4) Menunduk (mengendalikan) Panca Indra.
5) Tidak menyakiti makhluk lain.
6) Melayani/menghormati guru.

Keenam hal tersebut serentak harus dilaksanakan, jadi tidak hanya memilih salah satu. Di samping hal tersebut di atas kita juga mengenal jalan atau cara yang dapat dilalui untuk menuju ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa, yakni mempertemukan atman dengan atma. Cara seperti itu disebut dengan yoga. Yoga terdiri atas empat macam yang disebut Catur Yoga, yaitu Karma Yoga, Bhakti Yoga, Jnana Yoga dan Raja Yoga.

Kata “yoga” berasal dari akar kata “yuj” yang artinya menghubungkan diri. Setiap yoga di atas mempunyai cara dan sifat tersendiri, yang dapat diikuti atau dilaksanakan oleh setiap orang. Dan setiap orang dalam memilih yoga itu disesuaikan dengan sifat, bakat, dan kemampuannya. Dengan demikian cara yang ditempuh berbeda, namun sasaran atau tujuan yang ingin dicapai adalah satu dan sama yaitu moksa atau mukti. Untuk jelasnya akan diuraikan tentang yoga satu per satu sebagai berikut.

1) Karma Yoga
     Karma Yoga yaitu proses mempersatukan atman atau jiwatman dengan paramatma (Brahman) dengan jalan berbuat kebajikan (subha-karma) untuk membebaskan diri dari ikatan duniawi. Karma yang dimaksud adalah perbuatan baik (subhakarma), suatu perbuatan baik tanpa mengikat diri dengan mengharapkan hasilnya. Semua hasil (phala) perbuatan harus diserahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan perbuatan yang bebas dari harapan hasil itu disebut “Karma Nirwritta”. Sedangkan perbuatan (karma) yang masih mengharapkan hasilnya disebut “Karma Prawritta”. Jadi dengan mengabdikan diri kepada Ida  Sang  Hyang Widhi Wasa berlandaskan subha-karma yang tanpa pamrih itu, seseorang akan dapat mencapai kesempurnaan itu secara bertahap. Dengan bekerja tanpa terikat orang akan dapat mencapai tujuan tertinggi itu.
     Dengan  demikian  Karma  Yoga  yang  mengajarkan  bahwa  setiap  orang  yang menjalani cara ini bekerja dengan baik tanpa terikat dengan hasil, sesuai dengan kewajibannya (Swadharmanya). Salah kalau orang beranggapan bahwa dengan  tidak bekerja kesempurnaan akan dapat dicapai. Karena pada hakikatnya dunia ini pun dikuasai dan diatur oleh hukum karma sehingga seorang Karma Yoga beryajna dengan kerja (karma). Karena itu bekerjalah selalu dengan tidak mengikatkan diri pada hasilnya, sehingga tujuan tertinggi pasti akan dapat dicapai dengan cara yang demikian. Dengan menyerahkan segala hasil pekerjaan itu sebagai yajna kepada Sang Hyang Widhi dan dengan memusatkan pikiran kepada-Nya kemudian melepaskan diri dari segala pengharapan serta menghilangkan kekuatan maka kesempurnaan itu dapat dicapai. Dengan demikian ajaran Karma Yoga yang pada pokoknya menekankan kepada setiap orang agar selalu bekerja sesuai dengan Swadharmanya dengan tidak terikat pada hasilnya serta tidak mementingkan diri sendiri.

2) Bhakti Yoga
     Bhakti Yoga yaitu proses atau cara menyatukan atman dengan Brahman dengan berlandaskan atas dasar cinta kasih yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kata Bhakti berarti hormat, taat, sujud, menyembah, persembahan, kasih.
     Bhakti Yoga artinya jalan cinta kasih, jalan persembahan. Seorang Bhakta (orang yang menjalani Bhakti Marga) dengan sujud dan cinta, menyembah dan berdoa dengan pasrah mempersembahkan jiwa raganya sebagai yajna kepada Sang Hyang Widhi. Cinta kasih yang mendalam adalah suatu cinta kasih yang bersifat umum  dan mendalam yang disebut maitri. Semangat Tat Twam Asi sangat subur dalam  hati sanubarinya. Sehingga seluruh dirinya penuh dengan rasa cinta kasih dan kasih sayang tanpa batas, sedikit pun tidak ada yang terselip dalam dirinya sifat-sifat negatif seperti kebencian, kekejaman, iri dengki dan kegelisahan atau keresahan. Cinta baktinya kepada Hyang Widhi yang sangat mendalam, juga dipancarkan kepada semua makhluk baik manusia maupun binatang.
     Dalam doanya selalu menggunakan pernyataan cinta dan kasih sayang dan memohon kepada Sang Hyang Widhi agar semua makhluk tanpa kecuali selalu berbahagia dan selalu mendapat berkah termulia dari Sang Hyang Widhi. Jadi untuk lebih jelasnya seorang Bhakta akan selalu berusaha melenyapkan kebenciannya kepada semua makhluk. Sebaliknya ia selalu berusaha memupuk dan mengembangkan sifat-sifat Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa (Catur Paramita). Ia selalu berusaha membebaskan dirinya dari belenggu keakuannya (Ahamkara).
     Sikapnya selalu sama menghadapi suka dan duka, pujian dan celaan. Ia selalu merasa puas dalam segala-galanya, baik dalam kelebihan dan kekurangan. Jadi benar- benar tenang dan sabar selalu. Dengan demikian baktinya kian teguh dan kokoh kepada Hyang Widhi Wasa. Keseimbangan batinnya sempurna, tidak ada ikatan sama sekali terhadap apa pun. Ia terlepas dan bebas dari hukuman serba dua(dualis) misalnya suka dan duka, susah senang dan sebagainya.
     Seluruh kekuatannya dipakai untuk memusatkan pikirannya kepada Hyang Widhi dan dilandasi jiwa penyerahan total. Dengan begitu seorang Bhakti Yoga dapat mencapai moksa.

3) Jnana Yoga
    Jnana Yoga ialah pengetahuan suci yang dilaksanakan untuk mencapai hubungan atau persatuan antara atma dengan Brahman. Kata “Jnana” artinya pengetahuan sedangkan kata yoga berarti berhubungan. Jadi dengan jalan menggunakan ilmu pengetahuan suci (jnana) seorang (jnanin) menghubungkan dirinya (Atmanya) dengan Hyang Widhi untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan yang kekal abadi. Seorang Jnana akan memusatkan bayu, sabda dan idepnya untuk mendalami dan menekuni isi pustaka suci Veda, terutama bidang filsafat (tattwa).
    Dengan demikian lenyaplah ketidaktahuannya (Awidya) dan kekhayalannya (maya), sehingga dapat menembus jalan bebas dari ikatan karma dan samsara. Kebijaksanaan tertinggi itu sesungguhnya ada pada Hyang Widhi yang bergelar Sang Hyang Saraswati. Tuhan (Hyang Widhi) adalah serba tahu. Pengetahuan suci yang merupakan anugrah-Nya itu, patutlah dipakai sarana beryajna dan memusatkan pikiran kepada Beliau. Karena disebutkan bahwa yajna berupa pengetahuan(jnana) adalah lebih utama sifatnya dibandingkan dengan yajna (korban) benda yang  berupa apa pun. Segala pekerjaan tanpa kecuali memuncak atau berpusat dalam kebijaksanaan. Disebutkan pula dengan berdarmakan ilmu pengetahuan seseorang dapat menyebrangkan diri untuk mengarungi lautan dosa sekali pun.
     Dengan ilmu pengetahuan suci itu orang sanggup melepaskan diri dari ikatan karma. Semua hasil karma akan habis terbakar oleh apinya ilmu pengetahuan. Seperti halnya kayu api terbakar menjadi abu. Sehingga terhapuslah dualisme (suka-duka). Orang yang memiliki kebijaksanaan akan segera menemukan kedamaian yang abadi. Semua kebimbangan dan keraguan lenyap dan dengan demikian atma dapat bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi). Akhirnya hukum karma dan punarbawa dapat ditebus dan sampailah pada moksa.

4) Raja Yoga
     Raja Yoga dilaksanakan dengan cara pengendalian dan penggemblengan diri melalui tapa, brata dan samadi. Untuk melaksanakan yoga itu ada delapan langkah atau tahap yang harus dijalankan yang disebut Astāngga yoga. Adapun bagian-bagian dari Astāngga yoga tersebut sebagai berikut.
a) Yama : merupakan pengendalian diri tahap pertama.
b) Niyama : pengendalian diri dalam tahap lebih lanjut.
c) Asana : latihan berbagai sikap badan untuk meditasi.
d) Pranayama: pengaturan pernafasan untuk mencapai ketenangan pikiran.
e) Di dalam pengaturan nafas ada tiga jalan yaitu sebagai berikut.
  1. Puraka(menarik nafas)
  2. Kumbaka(menahan nafas)
  3. Recaka(mengeluarkan nafas) semua ini dilakukan secara teratur.
f) Pratyahara: mengontrol dan mengembalikan semua indra, sehingga dapat melihat sinar-sinar suci.
g) Dharana : usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan (Hyang Widhi).
h) Dhyana : usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan (Hyang Widhi) tarafnya lebih tinggi daripada Dharana).
i) Samadi : bersatunya Atma dengan Tuhan.

Dengan melakukan latihan Yoga (Astāngga yoga) seorang pengikut Raja Yoga akan dapat menerima wahyu melalui pengamatan intiusinya yang telah mekar. Dan juga akan dapat mengalami “Jiwan Mukti” selanjutnya setelah meninggal dunia maka atmanya akan dapat bersatu dengan Tuhan. Selanjutnya individu yang bersangkutan akan dapat menikmati kebebasan yang tertinggi (moksa). Di dalam Bhagavad Gita Bab 6, sloka 10 disebutkan sebagai berikut.
“Yogī yunjīta sata sida, Ātmānanam rahasi sthitah,
  ekākī yatacittatma nirasik aparigrahah”.

(Bhagavad Gita, VI.10)
Terjemahannya:
“Seorang yogin harus tetap memusatkan pikirannya kepada atma yang Maha Besar (Tuhan) tinggal dalam kesunyian dan tersendiri, bebas dari angan-angan dan keinginan untuk memilikinya”.
“Prasanta manarasam hy enam,
 yoginam sukham uttamam,
 Upaiti sāntara jasam
 Brahma-bhutam akalmasam”
.
(Bhagavad Gita, VI. 27)
Terjemahannya:
“Karena kebahagiaan tertinggi datang pada yogin, yang pikirannya tenang dan hawa nafsunya tidak bergolak yang keadaannya bersih dan bersatu dengan Tuhan (moksa)”.
Demikianlah cara atau jalan untuk dapat dituruti, dilaksanakan oleh manusia sebagai tuntunan baginya untuk mencapai tujuan hidup rohani, yakni guna dapat menikmati kesempurnaan hidup yang disebut moksa. Di antara keempat cara atau jalan tersebut di atas semuanya adalah sama, tiap-tiap jalan meletakkan dasar dan cara- cara tersendiri. Tidak ada yang lebih tinggi, atau pun yang lebih rendah, semuanya baik dan utama tergantung pada kepribadian, watak, kesanggupan dan bakat manusia masing-masing.

Semua akan mencapai tujuannya asal dilakukan dengan penuh kepercayaan, ketekunan dengan tulus ikhlas, kesujudan, keteguhan iman dan tanpa pamrih.

Di dalam kitab (Bhagavad Gita) dijelaskan sebagai berikut.
“Ye yathā mam prapadyante, tāms tathai va bhajāmy aham,
  mamavartma nuvartante,  manushyāh partha sarvasah”.

(Bhagavad Gita IV, 11).
Terjemahannya:
“Jalan mana pun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima dari mana- mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Parta”.
Jika kita perhatikan dari semua jalan tersebut semuanya menekankan bahwa syarat untuk mencapai kebebasan (moksa) ialah lenyapnya pengaruh maya dan emosi karena maya inilah yang merupakan perintang dan penghalang bagi atma untuk bersatu dengan Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa), seperti halnya udara di alam (di luar). 

Moksa sebagai tujuan spiritual bukan merupakan janji yang hampa melainkan suatu keyakinan yang tinggi bagi tiap orang yang beriman dan merupakan suatu pendidikan rohani untuk menciptakan rohani manusia yang berethika dan bermoral serta memberi efek positif. Demi tercapainya masyarakat yang sejahtera tersebut, bekerja atas dasar kebenaran, kebajikan dan pengorbanan dan bebas dari segala macam kecurangan (satyam eva jayate na órtam). Demikianlah moksa itu dapat ditempuh dengan beberapa macam jalan sesuai dengan tingkat kemampuan dari masing-masing orang.

UJI KOMPETENSI

Setelah membaca dan membuat rangkuman dari materi diatas, jawablah pertanyaan berikut pada kertas lempiran / buku tugas dan dikumpulkan.

SOAL:
1. Sebutkanlah bagian-bagian Catur Purusartha itu!
2. Jelaskanlah masing-masing bagian dari Catur Purusartha yang kamu ketahui!
3. Buatlah rangkuman tentang teks tersebut di atas sesuai kemampuan mu!
4. Coba buat peta konsep tentang ajaran Catur Purusartha yang dipedomani oleh umat Hindu sampai sekarang!

Pengertian, Pendiri dan Pokok-Pokok Ajaran Vedanta Darsana

A. Pendiri dan Sumber Ajarannya
Filsafat ini sangatlah kuno yang berasal dari kumpulan literatur bangsa Arya yang dikenal dengan nama Veda. Vedānta ini merupakan bunga diantara semua spekulasi, pengalaman dan analisis yang terbentuk dalam demikian banyak literatur yang dikumpulkan dan dipilih selama berabad-abad. Filsafat Vedānta ini memiliki kekhususan. Yang pertama, ia sama sekali impersonal, ia bukan dari seseorang atau Nabi.

Istilah Vedānta berasal dari kata Veda-anta, artinya bagian terakhir dari Veda atau inti sari atau akhir dari Veda, yaitu ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab Upaniṣad. Kitab Upaniṣad juga disebut dengan Vedānta, karena kitab-kitab ini merupakan jñana kāṇda yang mewujudkan bagian akhir dari Veda setelah Mantra, Brāhmaṇa dan Āraṇyaka yang bersifat mengumpulkan. Di samping itu ada tiga faktor yang menyebabkan Upaniṣad disebut dengan Vedānta yaitu:
  • Upaniṣad adalah hasil karya terakhir dari zaman Veda.
  • Pada zaman Veda program pelajaran yang disampaikan oleh para Rsi kepada sisyanya, Upaniṣad juga merupakan pelajaran yang terakhir. Para Brāhmacari pada mulanya diberikan pelajaran shamhita yakni koleksi syair-syair dari zaman Veda. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran  Brāhmaṇa yakni tata cara untuk melaksanakan upacara keagamaan, dan terakhir barulah sampai pada filsafat dari Upaniṣad.
  • Upaniṣad adalah merupakan kumpulan syair- syair yang terakhir dari pada zaman Veda.

Jadi pengertian Vedānta erat sekali hubungannya dengan Upaniṣad hanya saja kitab-kitab Upaniṣad  tidak   memuat uraian-uraian yang sistimatis. Usaha pertama untuk menyusun ajaran Upaniṣad secara sistimatis diusahakan oleh Śṛi VyāṢaḍeva, kira-kira 400 SM. Hasil  karyanya  disebut dengan Vedānta-Sūtra atau Brahma- Sūtra yang menjelaskan ajaran-ajaran Brahman. Brahma- Sūtra juga dikenal dengan Śarīraka Sūtra, karena ia mengandung pengejawantahan dari Nirguṇa Brahman Tertinggi  dan  juga  merupakan  salah  satu dari tiga buah buku yang berwewenang tentang Hinduisme, yaitu Prasthāna Traya, sedang dua buku lainnya adalah Upaniṣad dan Bhagavad Gītā. Śṛi Vyāsa telah mensistematisir prinsip-prinsip dari Vedānta dan menghilangkan kontradiksi- kontradiksi yang nyata dalam ajaran-ajaran tersebut.
sifat dan pokok ajaran vedanta darsana
Vedanta darsana
B. Sifat Ajaran Vedanta Darsana
Sistem filsafat Vedānta juga disebut Uttara Mīmāmsā kata ‘Vedānta’ berarti akhir dari Veda. Sumber ajarannya adalah kitab Upaniṣad. Oleh karena kitab Vedānta bersumber pada kitab-kitab Upaniṣad, Brahma Sūtra dan Bhagavad Gītā, maka  sifat ajarannya adalah absolutisme dan teisme. Absolutisme maksudnya adalah aliran yang meyakini bahwa Tuhan yang Maha Esa adalah mutlak dan tidak berpribadi (impersonal God),sedangkan teisme mengajarkan Tuhan yang berpribadi (personal God). Uttara-Mīmāmsā atau filsafat Vedānta dari Bādarāyaṇa atau Vyāsa ditempatkan sebagai terakhir dari enam filsafat orthodox, tetapi sesungguhnya ia menempati urutan pertama dalam kepustakaan Hindu.

C. Pokok- Pokok Ajaran Vedānta
     Vedānta mengajarkan bahwa nirvāna dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini, tak perlu menunggu setelah mati untuk mencapainya. Nirvāna adalah kesadaran terhadap diri sejati. Dan sekali mengetahui hal itu, walau sekejap, maka seseorang tak akan pernah lagi dapat diberdaya oleh kabut individualitas. Terdapat dua tahap pembedaan dalam kehidupan, yaitu yang pertama, bahwa orang yang mengetahui diri sejatinya tak akan dipengaruhi oleh hal apapun. Yang kedua bahwa hanya dia sendirilah yang dapat melakukan kebaikan pada dunia
      Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa filsafat Vedānta bersumber dari Upaniṣad. Brahma Sūtra atau Vedānta Sūtra dan Bhagavad Gītā. Brahma Sūtra mengandung 556 buah Sūtra, yang dikelompokkan atas 4 bab, yaitu Samanvaya, Avirodha, Sādhāna, dan Phala. Pada Bab I, pernyataan tentang sifat Brahman dan hubungannya dengan alam semesta serta roh pribadi. Pada Bab II, teori-teori Sāṁkya, Yoga, Vaiśeṣika dan sebagainya yang merupakan saingannya dikritik, dan jawaban yang sesuai diberikan terhadap lontaran pandangan ini. Pada Bab III, dibicarakan tentang pencapaian Brahmavidyā. Pada Bab IV, terdapat uraian tentang buah (hasil) dari pencapaian Brahmavidyā dan juga uraian tentang bagaimana roh pribadi mencapai Brahman  melalui  Devayana.  Setiap bab memiliki 4 bagian (Pāda). Sūtra-sūtra pada masing-masing bagian membentuk Adikaraṇa atau topik-topik pembicaraan. Lima Sūtra pertama sangat penting untuk diketahui karena berisi intisari ajaran Brahma Sūtra, yaitu:
  1. Sūtra pertama berbunyi : Athāto Brahmajijñāsā –oleh karena itu sekarang, penyelidikan ke dalam Brahman. Aphorisma pertama menyatakan objek dari keseluruhan sistem dalam satu kata, yaitu  Brahma-jijñāsā yaitu keinginan untuk mengetahui Brahman.
  2. Sūtra kedua adalah Janmādyasya yataḥ-Brahman yaitu Kesadaran Tertinggi, yang merupakan asal mula, penghidup serta leburnya alam semesta ini.
  3. Sūtra ketiga : Sāstra Yonitvāt – Kitab Suci itu sajalah yang merupakan cara untuk mencari pengetahuan yang benar.
  4. Sūtra keempat : Tat Tu Samvayāt – Brahman itu diketahui hanya dari kitab suci dan tidak secara bebas ditetapkan dengan cara lainnya, karena Ia merupakan sumber utama dari segala naskah Vedānta.
  5. Sūtra kelima: Īkṣater Nā Aśabdam – Disebabkan ‘berfikir’, Prakṛti atau Pradhāna bukan didasarkan pada kitab suci.
     Sūtra terakhir dari Bab IV adalah Anāvṛṭṭiḥ Śabdāt Anāvṛṭṭiḥ Śabdāt – tak ada kembali bagi roh bebas, disebabkan kitab suci menyatakan tentang akibat itu. Masing- masing buku tersebut memberikan ulasan isi filsafat itu berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh sudut pandangannya yang berbeda. Walaupun objeknya sama, tentu hasilnya akan berbeda. Sama halnya dengan orang buta yang meraba gajah dari sudut yang berbeda, tentu hasilnya akan berbeda pula.
     Demikian pula halnya dengan filsafat tentang dunia ini, ada yang memberikan ulasan bahwa dunia ini maya (bayangan saja), dilain pihak menyebutkan dunia ini betul-betul ada, bukan palsu sebab diciptakan oleh Tuhan dari diri-Nya sendiri. Karena perbedaan pendapat ini dengan sendirinya menimbulkan suatu teka-teki, apakah dunia ini benar- benar ada ataukah dunia ini betul-betul maya.
     Hal ini menyebabkan timbulnya penafsiran yangg bermacam-macam pula. Akibat dari penapsiran tersebut menghasilkan aliran-aliran filsafat Vedānta. Sūtra-sūtra atau Aphorisma dari Vyāsa merupakan dasar dari filsafat Vedānta dan telah dijelaskan oleh berbagai pengulas yang berbeda-beda sehingga dari ulasan-ulasan itu muncul beberapa aliran filsafat, yaitu:
  1. Kevala Advaita dari Śrī Ṣaṇkarācārya
  2. Viśiṣṭādvaita dari Śrī Rāmānujācārya
  3. Dvaita dari  Śrī Madhvācārya
  4. Bhedābedhā dari Śrī Caitanya
  5. Śuddha Advaita dari Śrī Vallabhācarya, dan
  6. Siddhānta dari Śrī Meykāṇdar.
     Masing-masing filsafat tersebut membicarakan tentang 3 masalah pokok yaitu, Tuhan, alam, dan roh. Dvaita, Viśiṣṭādvaita, dan Advaita  adalah  tiga  aliran  utama dari pemikiran metafisika, yang kesemuanya menapak jalan yang menuju kebenaran terakhir, yaitu Para Brahman. Dvaita, Viśiṣṭādvaita, dan Advaita adalah tiga aliran utama dari pemikiran metafisika, yang kesemuanya menapak jalan menuju kebenaran terakhir, yaitu Para Brahman.
     Mereka merupakan anak-anak tangga pada tangganya Yoga, yang sama sekali tidak saling bertentangan, bahkan sebaliknya  saling  memuji  satu  sama  lainnya. Tahapan ini disusun secara selaras dalam rangakaian pengalaman spiritual berjenjang, yang  dimulai dengan Dvaita, Viśiṣṭādvaita, dan Advaita murni yang semuanya ini akhirnya memuncak pada Advaita Vedāntis perwujudan dari yang mutlak atau Triguṇatītā Ananta Brahman transcendental.
     Madhva mengatakan: “Manusia adalah pelayan Tuhan” dan menegakkan ajaran Dvaita-nya. Rāmānuja berkata: “Manusia adalah cahaya dan percikan Tuhan” dan menegakkan filsafat Viśiṣṭādvaita-nya. Śaṅkara mengatakan: “Manusia identik dengan Brahman atau roh abadi” dan menegakkan filsafat Kevala Advaita-nya. Nimbārkācārya mendamaikan semua perbedaan pandangan mengenai Tuhan yang dipakai oleh Śaṅkara, Rāmānuja, Madhva dan yang lainnya serta membuktikan bahwa pandangan- pandangan mereka semua benar, dengan petunjuk pada aspek terentu dari Brahman, yang berhubungan dengannya, masing-masing dengan caranya sendiri. Śaṅkara telah menerima realitas pada aspek transendental-Nya, sedangkan  Rāmānuja  menerima- Nya pada aspek immanent-Nya, secara prinsipil, tetapi Nimbārkā telah menyelesaikan perbedaan pandangan yang diterima oleh para pengulas yang berbeda tersebut.
     Perbedaan konsepsi tentang Brahman tiada lain hanya merupakan perbedaan cara pendekatan terhadap Realitas, dan sangat sulit bahkan hampir tak mungkin bagi roh terbatas untuk memperolehnya sekaligus konsepsi tentang Yang Tak Terbatas atau Roh Tak Terbatas ini secara jelas, lebih-lebih lagi untuk menyatakannya dengan istilah yang memadai. Semuanya tak dapat menjamah ketinggian filsafat Kevala Advaita dari Śrī Śaṅkara sekaligus dan untuk itu pikiran harus didisiplinkan seperlunya sebelum dipakai sebagai sebuah alat yang pantas untuk memahami pendapat dari Advaita Vedānta-Nya Śrī Śaṅkara.
     Oleh karena itu kita sepatutnya merasa bersyukur dengan kehadiran beliau sebagai Avatāra Puruṣa, yang masing-masing menjelmakan diri di bumi ini untuk melengkapi suatu misi yang tak terbatas, untuk mengajarkan serta menyebarkan ajaran-ajaran tertentu, yang tumbuh subur pada masa tertentu, yang ada pada tahapan evolusi tertentu, dan semua aliran filsafat diperlukan, yang masing-masing dianggap paling sesuai bagi tipe manusia tertentu karena perbedaan konsep mengenai Brahman hanyalah perbedaan pendekatan terhadap realitas.

Pengertian dan pokok-pokok ajaran Vaiśeṣika Darśana

a. Pendiri dan Sumber Ajarannya
Vaiśeṣika yang merupakan salah satu aliran filsafat India yang tergolong ke dalam Ṣaḍ Darśana agaknya lebih tua dibandingkan dengan filsafat Nyāya. Vaiśeṣika dan Nyāya Darśana bersesuaian dalam prinsip pokok mereka, seperti sifat-sifat   dan hakikat Sang Diri dan teori atom alam semesta, dan dikatakan pula Vaiśeṣika merupakan tambahan dari filsafat Nyāya, yang memiliki analisis pengalaman sebagai objektif utamanya. Diawali dengan susunan pengamatan atas kategori-kategori (padārtha), yaitu perhitungan atau perumusan tentang sifat-sifat umum yang dapat dikenakan pada benda-benda yang ada di alam semesta ini, serta merumuskan konsep-konsep umum yang berlaku pada benda-benda yang dikenal, baik melalui indra maupun melalui penyimpulan, perbandingan, dan otoritas  tertinggi.
Pokok-pokok ajaran vaisesika darsana
Pokok ajaran vaisesika darsana

Sistem filsafat Vaiśeṣika mengambilnamadarikata Viśesa yang artinyakekhususan, yang merupakan ciri-ciri pembeda dari benda-benda. Jadi ciri pokok permasalahan yang diuraikan didalamnya adalah kekhususan (padārtha) atau kategori-kategori yang nantinya akan disebutkan secara lebih terperinci. Vaiśeṣika muncul pada abad ke-4 SM, dengan tokohnya Rṣi Kaṇāda, yang juga dikenal sebagai Rṣi Ūluka, sehingga sistem ini juga dikenal sebagai Aūlukya Darśana dan juga dengan nama Kaśyapa dan dianggap seorang Deva-ṛṣi. Kata Ūluka artinya burung hantu.

Dalam  buku  karyanya  Vaiśeṣika-Sūtra  yang  terdiri  atas  10  bab,  Rṣi Kaṇāda menguraikan berbagai permasalahan pada setiap bab sebagai  berikut:
  1. Pada bab I berisi keseluruhan kelompok padārtha atau kategori-kategori yang dapat dinyatakan.
  2. Pada bab II berisi penetapan tentang benda-benda
  3. Pada bab III berisi uraian tentang Jīva dan indra dalam
  4. Pada bab IV berisi uraian tentang badan dan bahan penyusunnya
  5. Pada bab V berisi tentang Karma atau kegiatan
  6. Pada bab VI berisi uaraian tentang Dharma atau kebajikan menurut kitab suci.
  7. Pada bab VII berisi uraian tentang sifat-sifat dan Samavāya (keterpaduan atau saling berhubungan)
  8. Pada bab VIII berisi tentang wujud pengetahuan, sumbernya dan sebagainya
  9. Pada bab IX berisi tentang pemahaman tertentu atau yang konkrit, dan
  10. Pada bab X berisi uraian tentang perbedaan sifat dari Jīva.
Sistem filsafat ini terutama dimaksudkan untuk menetapkan tentang Padārtha, tetapi Rsi Kanada membuka pokok permasalahan dengan sebuah pengamatan tentang intisari dari Dharma, yang merupakan sumber dari pengetahuan inti dari Padārtha. Sūtra pertama berbunyi: ”Ytao bhyudayanihsreyasa siddhiḥ sa dharmaḥ” artinya, Dharma adalah yang memuliakan dan memberikan kebaikan tertinggi atau Moksa (penghentian dari penderitaan).

b. Pokok-Pokok Ajaran Vaisesika
Padārtha secara harfiah artinya adalah arti dari sebuah kata, tetapi di sini Padārtha adalah satu permasalahan benda dalam filsafat. Sebuah Padārtha merupakan suatu objek yang dapat dipikirkan (artha) dan diberi nama (pada). Semua yang ada, yang dapat diamati dan dinamai, yaitu semua objek pengalaman adalah Padārtha. Benda- benda majemuk saling bergantung dan sifatnya sementara, sedangkan benda-benda sederhana sifatnya abadi dan bebas.

Padārtha dan Vaiśeṣika Darśana, seperti yang disebutkan oleh Rsi Kanada sebenarnya hanya 6 buah kategori, namun satu katagori ditambahkan oleh penulis- penulis berikutnya, sehingga akhirnya berjumlah 7 katagori (Padārtha), yaitu:

1) Substansi (dravya).
     Substansi adalah zat yang ada dengan sendirinya dan bebas dari pengaruh unsur- unsur lain. Namun unsur lain tidak dapat ada tanpa substansi. Substansi (dravya) dapat menjadi sebab yang melekat pada apa yang dijadikannya. Atau dravya dapat menjadi tidak ada pada apa yang dihasilkannya. Contoh: tanah sebagai substansi telah terdapat pada periuk yang terbuat dari tanah. Jadi tanah itu selalu dan telah  ada pada apa yang dihasilkannya, sedangkan periuk itu tidak dapat terjadi tanpa substansi (tanah). Demikian pula halnya kategori lain tidak dapat ada tanpa substansi (zat) seperti beraneka ragam minuman tidak dapat terjadi tanpa air (zat cair), tapi air dapat ada walaupun tidak adanya bermacam-macam minuman.
      Ada sembilan substansi yang dinyatakan oleh Vaiśeṣika, yaitu (1) Tanah (pṛthivī); (2) Air (āpah,  jala); (3) Api (tejah); (4) Udara (vāyu); (5) Ether (ākāśa); (6) Waktu (kāla); (7) ruang (dis); (8) diri/roh (Jīva); dan (9) pikiran (manas). 
     Semua substansi tersebut di atas riil, tetap, dan kekal. Namun hanya udara, waktu, akasa bersifat tak terbatas. Kombinasi dari sembilan itulah membentuk alam semesta beserta isinya menjadikan hukum-hukumnya yang berlaku terhadap semua yang ada di alam ini baik bersifat fisik maupun yang bersifat rohaniah.
     Adapun yang termasuk substansi badani (fisik) adalah bumi, air, api, udara, ruang, waktu, dan akasa. Sedang yang tergolong substansi rohaniah terdiri atas akal (manas/ pikiran), diri (atman/jiwa). Kedua substansi rohaniah ini bersifat kekal dan pada setiap makhluk (manusia) hanya terdapat satu jiwa dan satu manas.
    Demikianlah pribadi (diri/atma) itu bersifat individu dan menjadi sumber kesadaran setiap makhluk yang senantiasa berhubungan dengan kegiatan badani atau fisik. Setiap pribadi (atma) memiliki manas tersendiri yang dipakai sebagai alat untuk mengenal dan mengalami segala sesuatu melalui alat fisik termasuk juga dipakai sebagai alat untuk mencapai kebebasan. Namun dilain pihak manas juga diakui dapat menyebabkan kelahiran kembali. Oleh karena setiap makhluk (manusia) dijiwai oleh pribadi (jiwa/atma). Maka pandangan Vaiśeṣika terhadap jiwa adalah riil dan pluralis, yaitu jiwa itu benar-benar ada dan tak terbatas jumlahnya.

2) Kualitas (guṇa)
     Guṇa ialah keadaan atau sifat dari suatu substansi. Guṇa sesungguhnya nyata dan terpisah dari benda (substansi) namun tidak dapat dipisahkan secara mutlak   dari substansi yang diberi sifat. Guṇa atau sifat-sifat atau ciri-ciri dari substansi  yang jumlahnya ada 24, yaitu (1) warna (Rūpa); (2) rasa (rasa); (3) bau (gandha); (4) sentuhan/raba (sparśa); (5) jumlah (Sāṁkhya); (6) ukuran (parimāṇa); (7) keanekaragaman (pṛthaktva); (8) persekutuan (saṁyoga); (9) keterpisahan (vibhāga); (10) keterpencilan (paratva); (11) kedekatan (aparatva); (12) bobot (gurutva); (13) kecairan/keenceran (dravatva); (14) kekentalan (sneha); (15) suara (śabda); (16) pemahaman/pengetahuan (buddhi/jñāna); (17) kesenangan (sukha); (18) penderitaan (dukḥa); (19) kehendak (īccha); (20) kebencian/keengganan (dvesa); (21) usaha (prayatna); (22) kebajikan/manfaat (dharma); (23) kekurangan/cacat (adharma); dan (24) sifat pembiakan sendiri (saṁskāra). Sejumlah 8 sifat, yaitu buddhi/jñāna, īccha, dvesa, sukha, dukḥa, dharma, adharma dan prayatna merupakan milik dari roh, sedangkan 16 lainnya merupakan milik dari substansi material.

3) Aktivitas (karma)
     Karma mewakili berbagai jenis gerak (movement) yang berhubungan dengan unsur dan kualitas, namun juga memiliki realitas mandiri. Tidak semua substansi (zat) dapat bergerak. Hanya substansi yang bersifat terbatas saja dapat bergerak atau mengubah tempatnya. Sedangkan substansi yang tak terbatas (atma, hawa nafsu dan akasa) tidak dapat bergerak karena telah memenuhi segala yang ada.
Gerakan dari benda-benda di alam ini bukan bersumber dari dirinya, melainkan ada sesuatu yang berkesadaran yang menjadi sumber gerakan itu. Benda-benda hanya dapat menerima gerakan dari sesuatu yang berkesadaran. Bila terlihat kenyataan yang terjadi di alam ini seperti adanya hembusan angin, peredaran bumi dan planet-planet, maka tentu ada sumber penggerak yang adikodrati. Sumber yang adikodrati itulah Tuhan.
     Karena Tuhan sebagai sumber gerakan alam ini, maka Tuhan Maha Mengetahui segala gerak dan perilaku benda-benda di alam ini. Termasuk mengetahui benar perilaku (karma) manusia. Ada 5 macam gerak, yaitu (1)  Utkṣepaṇa  (gerakan  ke atas); (2) Avakṣepaṇa (gerakan ke bawah); (3) A-kuñcana (gerakan membengkok); (4) Prasaraṇa (gerakan mengembang); dan (5) Gamana (gerakan menjauh atau mendekat).

4) Universalia (sāmānya)
     Samanya bersifat umum yang menyangkut 2 permasalahan, yaitu sifat umum yang lebih tinggi dan lebih rendah, dan jenis kelamin dan spesies. Dalam epistemologi, hal ini mirip dengan konsep universalia dan agak mirip dengan idenya Plato. Ia ada dalam semua dan dalam masing-masing objek, namun tidak berbeda dalam objek partikular yang berbeda. Karenanya ide ‘kesapian’ adalah tunggal dan tidak dapat dianalisis. Ide itu selalu hidup, tetapi tidak dapat dimengerti melalui dirinya sendiri, namun hanya melalui seekor ‘sapi’ khusus. Walaupun tampak bersama, namun ‘sapi’ dan ‘kesapian’ dipahami sebagai dua entitas berbeda. Dari universalia-universalia ini, ‘Ada’ (being, satta) adalah yang tertinggi, karena ia memberikan ciri pada banyak sekali entitas.

5) Individualitas (viśeṣa)
     Kategori ini menunjukkan ciri atau sifat yang membedakan sebuah objek dari objek lainnya. Sistem Vaiśeṣika diturunkan dari kata viśeṣa, dan merupakan aspek objek yang mendapat penekanan khusus dari para filsuf Vaiśeṣika. Kategori ini berurusan dengan ciri-ciri khusus ke sembilan substansi (dravya). Dalam sistem Vaiśeṣika, unsur tanah, air, api, udara, dan pikiran dibangun dari atom (paramānu), sedangkan eter, ruang, waktu dan jiwa dianggap sebagai substansi sangat khusus tanpa dimensi atau visibilitas. Inilah yang menyebabkan sistem darśana ini disebut Vaiśseṣika Darśana.

6) Hubungan Niscaya (samavāya)
     Dimensi objek ini menunjukkan hakikat hubungan yang mungkin antara kualitas-kualitasnya yang inheren. Hubungan ini dapat dilihat bersifat sementara (saṁyoga) atau permanen (samavāya). Saṁyoga adalah hubungan sementara seperti antara sebuah buku dan tangan yang memegangnya. Hubungan selesai ketika buku dilepaskan dari tangan. Di sisi lain, samavāya adalah sebuah hubungan yang tetap dan hanya berakhir ketika salah satu di antara keduanya dihancurkan. Ada lima jenis hubungan yang tetap dan entitas yang tetap atau tidak terpisahkan ini (ayūta-siddḥa):
  • Hubungan keseluruhan dengan bagian-bagiannya, seperti sehelai kain dan benang-benangnya.
  • Hubungan kualitas dengan objek yang memilikinya, seperti kendi air dan warna merahnya.
  • Hubungan antara tindakan dan pelakunya, seperti tindakan melompat dan kuda yang melakukannya.
  • Hubungan antara partikular dengan yang universal, ibarat satu jenis sapi dengan seekor sapi atau bangsa Jepang dan seorang Jepang.
  • Hubungan antara substansi kekal dan substansi khusus. Menurut sistem Vaiśeṣika, partikel subatomis (paramānu) setiap substansi abadi memiliki ciri- ciri khusus yang tidak membiarkan atom dari satu substansi bercampur dengan atom substansi lainnya. Ciri khusus (Viśeṣa) dipertahankan oleh partikel subatomis masing-masing melalui ‘hubungan tak terpisahkan’ (samavāya).
7) Penyangkalan, Negasi, Non-Eksistensi (abhāva)
     Kategori ini menunjukkan sebuah objek yang telah terurai atau larut ke dalam partikel subatomis terpisah melalui pelarutan universal (mahapralaya) dan ke dalam ketiadaan (nothingness). Semua benda-benda yang ada dan bernama digolongkan sebagai bhava, sedangkan entitas yang sudah tidak ada digolongkan sebagai abhāva. Sebenarnya kategori ini bukan merupakan sebuah klasifikasi seperti kategori lainnya, namun hanya modus pengaturan negatif. Abhāva, yang merupakan kategori ke 7, ada 4 macam, yaitu:
  • Pragabhāva, yaitu ketidakadaan dari suatu benda sebelumnya. Contohnya: ketidak adaan periuk sebelum dibuat oleh pengrajin periuk.
  • Dhvaṅsabhāva, yaitu penghentian keberadaan, misalnya periuk yang dipecahkan, di mana dalam pecahan periuk itu tak ada periuk.
  • Atyāntabhāva, atau ketidakadaan timbal balik, seperti misalnya udara yang dari dulu tidak pernah berwarna atau pun berbentuk. Ketiga ketidakadaan ini disebut sebagai Samsarga-bhava, yaitu ketidakadaan suatu benda dalam benda yang lain.
  • Anyonyābhāva, atau ketidak adaan mutlak, dimana antara benda yang satu sama sekali tidak ada persamaannya dengan yang lain, seperti sebuah periuk yang  tidak sama dengan sepotong pakaian, demikian pula sebaliknya.
Ṛṣi Kaṇāda di dalam Sūtra-nya tidak secara terbuka menunjukkan tentang Tuhan. Keyakinannya adalah bahwa formasi atau susunan alam dunia ini merupakan hasil dari Adṛṣṭa yaitu kekuatan yang tak terlihat dari karma atau kegiatan. Beliau menelusuri aktivitas atom dan roh mula-mula melalui prinsip Adṛṣṭa ini. Para pengikut Rṣi Kaṇāda kemudian memperkenalkan Tuhan sebagai penyebab efisien dari alam semesta, sedangkan atom-atom adalah materialnya. Atom-atom yang tak terpikirkan itu tidak memiliki daya dan kecerdasan untuk menjalankan alam semesta ini secara teratur. Namun yang pasti, aktivitas atom-atom itu diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Kesimpulan dari otoritas kitab suci seperti ini mengharuskan kita untuk mengakui adanya Tuhan.

Kecerdasan yang membuat Adṛṣṭa dapat bekerja adalah kecerdasan Tuhan, sedangkan lima unsur (pañca mahābhūta) hanya merupakan akibat. Semua ini harusnya didahului oleh ‘keberadaan’ yang memiliki pengetahuan tentang itu adalah Tuhan. Roh-roh dalam keadaan penghancuran, kurang memiliki kecerdasan, sehingga mereka tidak dapat mengendalikan aktivitas atom-atom dan dalam atom-atom itu sendiri tidak ada sumber gerakan.

Pada sistem Vaiśeṣika, seperti halnya sistem Nyāya, susunan alam semesta ini diduga dipengaruhi oleh pengumpulan atom-atom, yang tak terhitung jumlahnya dan kekal. Kosmologi Vaiśeṣika dalam batasan mengenai keberadaan atom abadi bersifat dualistik dan secara positif memisahkan hubungan yang pasti antara roh dan materi. Terjadinya alam semesta menurut sistem filsafat Vaiśeṣika memiliki kesamaan dengan ajaran Nyāya yaitu dari gabungan atom-atom catur bhuta (tanah, air, cahaya dan udara) ditambah dengan lima substansi yang bersifat universal seperti akāsa, waktu, ruang, jiwa dan manas.

Lima substansi universal tersebut tidak memiliki atom-atom, maka itu ia tidak dapat memproduksi sesuatu di dunia ini. Cara penggabungan atom-atom itu dimulai dari dua atom (dvyānuka), tiga atom (Triyānuka), dan tiga atom ini saling menggabungkan diri dengan cara yang bermacam-macam, maka terwujudlah alam semesta beserta isinya.

Bila gabungan atom-atom dalam Catur  Bhuta  ini terlepas satu dengan lainnya maka lenyaplah  alam beserta isinya. Gabungan dan terpisahnya gerakan atom-atom itu tidaklah dapat terjadi dengan sendirinya, mereka digerakkan oleh suatu kekuatan yang memiliki kesaḍaran dan kemahakuasaan.
Sesuatu yang memiliki kesadaran dan kekuatan yang maha dahsyat itu menurut Vaiśeṣika adalah Tuhan Yang Maha Esa. Vaiśeṣika dalam etikanya menganjurkan semua orang untuk kelepasan. Kelepasan akan dapat dicapai melalui Tatwa Jnaña, Sravāna, manāna, dan Meditasi.

Pengertian Upaveda dan Kedudukan Upaveda dalam Veda

Tasmād Yajñat sarvahuta ṛcaḥ samani Yajñire, chandaṁsi Yajñire Tasmād yajus Tasmād ajayata (Yajurveda XXXI.7)
Terjemahan:
Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadaNya umat Manusia
mempersembahkan berbagai Yajña, daripadaNyalah muncul Ṛgveda dan Sāmaveda.
DaripadaNya pula muncul Yajurveda dan Atharvaveda
Setiap ajaran agama memberikan tuntunan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia lahir dan batin dan diyakini pula bahwa ajaran agama itu bersumber pada kitab suci. Demikian pula umat Hindu yakin bahwa kitab sucinya itu merupakan wahyu atau sabda Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Śrutiyang artinya yang didengar (revealed teachings). Veda sebagai himpunan sabda atau wahyu berasal dari Apauruseya (yang artinya bukan dari Purusa atau manusia), sebab para rsi penerima wahyu berfungsi hanya sebagai instrumen (sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan ajaran suci-Nya.

Sebagai kitab suci, Veda  adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Veda-  lah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Ajaran Veda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya. Dari kitab Veda-(Sruti) mengalirlah ajarannya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smrti, Itihāsa, Purana, Tantra, Darśaṇa dan Tatwa-tatwa yang kita warisi di Indonesia.
Pengertian Upaveda dan Kedudukan Upaveda dalam Veda
Pengertian Upaveda dan Kedudukan Upaveda dalam Veda
A. Pengertian Upaveda
Seseorang yang mengucapkan mantram (Veda) dan tidak memahami makna yang terkandung dalam mantram (Veda) itu, tidak pernah memperoleh penerangan seperti halnya sebatang kayu bakar, walaupun disiram dengan minyak tanah, tidak akan terbakar bila tidak disulut dengan api. Demikian orang yang hanya mengucapkan (membaca) mantram (Veda) tidak mendapatkan cahaya pengetahuan yang sejati.

Agama Hindu sebagaimana agama-agama lainnya, juga memiliki kitab suci yang disebut Veda. Veda adalah sumber dari ajaran Agama Hindu sebagai wahyu Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Di dalam ajaran agama Hindu tersebut, termuat tentang ajaran agama, kebudayaan, dan filsafat.

Umat Hindu berkeyakinan bahwa Veda bersifat anādi ananta, yakni tidak berawal dan tidak berakhir dan sebagai śabda Brāhmān. Sebagai śabda, Veda telah ada semenjak Tuhan Yang Maha Esa ada. Tradisi sekolah pada jaman Veda dikenal dengan nama sākhā yang pada awalnya berarti cabang dan kemudian berarti tempat mempelajari Veda. Selanjutnya  pengertian  sākhā ini berkembang menjadi sampradaya atau āśrama, yaitu tempat atau pusat mempelajari Veda. Kata Veda berasal dari Bahasa Saṅskṛta yang artinya Ilmu Pengetahuan atau Pengetahuan Suci.

Istilah Upaveda diartikan sebagai Veda yang lebih kecil dan merupakan kelompok kedua setelah Vedāngga. Upa berarti dekat atau sekitar dan Veda berarti pengetahuan dan dapat pula berarti Veda. Dengan demikiam Upaveda dapat diartikan sekitar hal- hal yang bersumber dari Veda. Dilihat dari materi isinya yang dibahas dalam beberapa kitab Upaveda, tampak kepada kita bahwa tujuan penulisan Upaveda sama seperti Vedāngga. Hanya saja dalam pengkhususan untuk bidang tertentu. Pengkhususan yang dibahas adalah aspek pengetahuan atau hal-hal yang terdapat di dalam Veda dan kemudian difokuskan pada bidang itu saja sehingga dengan demikian kita memiliki pengetahuan dan pengarahan mengenai pengetahuan dan peruntukan ilmu pengetahuan yang dimaksud.

B. Kedudukan Upaveda dalam Veda
Sebagai kitab suci agama Hindu, maka ajaran Veda diyakini dan dipedomani oleh umat Hindu sebagai satu-satunya sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari ataupun untuk melakukan pekerjaan- pekerrjaan tertentu. Veda dinyatakan sebagai kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkannya pun adalah Tuhan yang diyakini Maha Suci. Apapun yang diturunkan sebagai ajaran oleh Tuhan kepada umat manusia kesemuanya itu merupakan ajaran suci. Lebih-lebih isinya dapat dijadikan pedoman bimbingan tentang bagaimana hidup yang suci harus dijalankan.

Sebagai kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Ajaran Veda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya. Dari kitab Veda (Sruti) mengalirlah ajarannya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smrti, Itihāsa, Puraṇa, Tantra, Darśaṇa dan Tatwa-tatwa yang kita warisi di Indonesia.

Veda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan di dunia ini dan di akhirat nanti. Ajaran Veda tidak terbatas hanya sebagai tuntunan hidup individual saja, tetapi juga dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Veda menuntun hidup manusia sejak lahir hingga akhir menutup mata. Segala tuntunan hidup ditunjukkan kepada kita oleh ajaran Veda.

Veda Śruti dan Veda Smṛti adalah merupakan dua jenis kitab suci agama Hindu, yang dijadikan sebagai pedoman dalam penyebaran dan pengamalan ajaran-ajarannya. Pengelompokan ini didasarkan pada sistem pertimbangan jenis, materi, dan ruang lingkup isi dari kitab-kitab tersebut yang sangat banyak. Berbagai aspek tentang kehidupan yang ada di dunia ini ada diuraikan dalam kitab suci Veda tersebut.

Kelompok Veda Śruti isinya memuat dan menguraikan tentang wahyu Tuhan. Sedangkan kelompok Smṛti memuat tentang kehidupan manusia dalam bermasyarakat, bernegara dan semua didasarkan atas hukum yang juga disebut Dharma Śāstra.

Dharma berarti hukum, Śāstra berarti ilmu. Smṛti adalah kitab suci Veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharṣi yang bersumber dari wahyu Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu kedudukannya sama dengan kitab Veda Śruti. Menurut tradisi dan lazim telah diterima dibidang ilmiah istilah Smṛti adalah untuk menyebutkan jenis kelompok Veda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara lebih sistematis manurut bidang profesi.

Mengenai kedudukan Upaveda dalam Veda, dilihat dari materi isinya sudahlah jelas sesuai arti dan tujuannya serta apa yang menjadi bahan kajian dalam kitab Upaveda itu, maka Upaveda pada dasarnya dinyatakan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Veda. Tiap buku merupakan pengkhususan dalam memberi keterangan yang sangat diperlukan untuk diketahui dalam Veda itu. Jadi kedudukannya sama dengan apa yang kita lihat dengan Vedāngga. Kalau kita pelajari secara mendalam, maka beberapa materi kejadian yang dibahas di dalam Purāna dan Vedāngga maupun apa yang terdapat dalam Itihāsa, banyak dibahas ulang di dalam kitab Upaveda dengan penajamam-penajaman untuk bidang-bidang tertentu.

Dengan demikian untuk meningkatkan pengertian dan pendalaman tentang berbagai ajaran yang terdapat dalam Veda, maka kitab Upaveda akan dibicarakan pokoknya satu persatu. Kitab Upaveda artinya dekat dengan Veda (pengetahuan suci) atau Veda tambahan. Kitab Upaveda terdiri atas beberapa cabang ilmu antara lain Itihāsa (Rāmāyana dan Mahābhārata), Purāṇa, Arthaśāstra, Āyur Veda dan Gandharwa Veda.

KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan tentang pengertian Upaveda dan kedudukan Upaveda dalam Weda sebagai berikut:
1. Pengertian Upaveda: 
Istilah Upaveda diartikan sebagai Veda yang lebih kecil dan merupakan kelompok kedua setelah Vedāngga. Upa berarti dekat atau sekitar dan Veda berarti pengetahuan dan dapat pula berarti Veda. Dengan demikiam Upaveda dapat diartikan sekitar hal- hal yang bersumber dari Veda.
2. Kedudukan Upaveda dalam kitab Weda:
Tiap buku merupakan pengkhususan dalam memberi keterangan yang sangat diperlukan untuk diketahui dalam Veda itu. Jadi kedudukannya sama dengan apa yang kita lihat dengan Vedāngga. Untuk meningkatkan pengertian dan pendalaman tentang berbagai ajaran yang terdapat dalam Veda, maka kitab Upaveda akan dibicarakan pokoknya satu persatu. Kitab Upaveda artinya dekat dengan Veda (pengetahuan suci) atau Veda tambahan. 

Kompetensi inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kurikulum 2013 revisi 2017 tingkat SMK/SMA

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan disuatu negara maka diperlukan adanya perubahan perubahan pada kurikulum yang berlaku yang tentunya disesuaikan dengan perkembangan jaman dan perilaku masyarakatnya. Seperti pada kurikulum pendidikan yang diberlakukan di Indonesia juga senantiasa mengalami perubahan untuk mencapai tujuan pendidikan yang muaranya adalah pada kemajuan negara. Berikut ini adalah Kompetensi inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kurikulum 2013 revisi 2017 tingkat SMK/SMA.