"Selamat datang di situs The Bali Buzz, www.rah-toem.blogspot.com"

Pengertian Upaveda dan Kedudukan Upaveda dalam Veda

Tasmād Yajñat sarvahuta ṛcaḥ samani Yajñire, chandaṁsi Yajñire Tasmād yajus Tasmād ajayata (Yajurveda XXXI.7)
Terjemahan:
Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadaNya umat Manusia
mempersembahkan berbagai Yajña, daripadaNyalah muncul Ṛgveda dan Sāmaveda.
DaripadaNya pula muncul Yajurveda dan Atharvaveda
Setiap ajaran agama memberikan tuntunan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia lahir dan batin dan diyakini pula bahwa ajaran agama itu bersumber pada kitab suci. Demikian pula umat Hindu yakin bahwa kitab sucinya itu merupakan wahyu atau sabda Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Śrutiyang artinya yang didengar (revealed teachings). Veda sebagai himpunan sabda atau wahyu berasal dari Apauruseya (yang artinya bukan dari Purusa atau manusia), sebab para rsi penerima wahyu berfungsi hanya sebagai instrumen (sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan ajaran suci-Nya.

Sebagai kitab suci, Veda  adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Veda-  lah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Ajaran Veda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya. Dari kitab Veda-(Sruti) mengalirlah ajarannya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smrti, Itihāsa, Purana, Tantra, Darśaṇa dan Tatwa-tatwa yang kita warisi di Indonesia.
Pengertian Upaveda dan Kedudukan Upaveda dalam Veda
Pengertian Upaveda dan Kedudukan Upaveda dalam Veda
A. Pengertian Upaveda
Seseorang yang mengucapkan mantram (Veda) dan tidak memahami makna yang terkandung dalam mantram (Veda) itu, tidak pernah memperoleh penerangan seperti halnya sebatang kayu bakar, walaupun disiram dengan minyak tanah, tidak akan terbakar bila tidak disulut dengan api. Demikian orang yang hanya mengucapkan (membaca) mantram (Veda) tidak mendapatkan cahaya pengetahuan yang sejati.

Agama Hindu sebagaimana agama-agama lainnya, juga memiliki kitab suci yang disebut Veda. Veda adalah sumber dari ajaran Agama Hindu sebagai wahyu Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Di dalam ajaran agama Hindu tersebut, termuat tentang ajaran agama, kebudayaan, dan filsafat.

Umat Hindu berkeyakinan bahwa Veda bersifat anādi ananta, yakni tidak berawal dan tidak berakhir dan sebagai śabda Brāhmān. Sebagai śabda, Veda telah ada semenjak Tuhan Yang Maha Esa ada. Tradisi sekolah pada jaman Veda dikenal dengan nama sākhā yang pada awalnya berarti cabang dan kemudian berarti tempat mempelajari Veda. Selanjutnya  pengertian  sākhā ini berkembang menjadi sampradaya atau āśrama, yaitu tempat atau pusat mempelajari Veda. Kata Veda berasal dari Bahasa Saṅskṛta yang artinya Ilmu Pengetahuan atau Pengetahuan Suci.

Istilah Upaveda diartikan sebagai Veda yang lebih kecil dan merupakan kelompok kedua setelah Vedāngga. Upa berarti dekat atau sekitar dan Veda berarti pengetahuan dan dapat pula berarti Veda. Dengan demikiam Upaveda dapat diartikan sekitar hal- hal yang bersumber dari Veda. Dilihat dari materi isinya yang dibahas dalam beberapa kitab Upaveda, tampak kepada kita bahwa tujuan penulisan Upaveda sama seperti Vedāngga. Hanya saja dalam pengkhususan untuk bidang tertentu. Pengkhususan yang dibahas adalah aspek pengetahuan atau hal-hal yang terdapat di dalam Veda dan kemudian difokuskan pada bidang itu saja sehingga dengan demikian kita memiliki pengetahuan dan pengarahan mengenai pengetahuan dan peruntukan ilmu pengetahuan yang dimaksud.

B. Kedudukan Upaveda dalam Veda
Sebagai kitab suci agama Hindu, maka ajaran Veda diyakini dan dipedomani oleh umat Hindu sebagai satu-satunya sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari ataupun untuk melakukan pekerjaan- pekerrjaan tertentu. Veda dinyatakan sebagai kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkannya pun adalah Tuhan yang diyakini Maha Suci. Apapun yang diturunkan sebagai ajaran oleh Tuhan kepada umat manusia kesemuanya itu merupakan ajaran suci. Lebih-lebih isinya dapat dijadikan pedoman bimbingan tentang bagaimana hidup yang suci harus dijalankan.

Sebagai kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Ajaran Veda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya. Dari kitab Veda (Sruti) mengalirlah ajarannya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smrti, Itihāsa, Puraṇa, Tantra, Darśaṇa dan Tatwa-tatwa yang kita warisi di Indonesia.

Veda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan di dunia ini dan di akhirat nanti. Ajaran Veda tidak terbatas hanya sebagai tuntunan hidup individual saja, tetapi juga dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Veda menuntun hidup manusia sejak lahir hingga akhir menutup mata. Segala tuntunan hidup ditunjukkan kepada kita oleh ajaran Veda.

Veda Śruti dan Veda Smṛti adalah merupakan dua jenis kitab suci agama Hindu, yang dijadikan sebagai pedoman dalam penyebaran dan pengamalan ajaran-ajarannya. Pengelompokan ini didasarkan pada sistem pertimbangan jenis, materi, dan ruang lingkup isi dari kitab-kitab tersebut yang sangat banyak. Berbagai aspek tentang kehidupan yang ada di dunia ini ada diuraikan dalam kitab suci Veda tersebut.

Kelompok Veda Śruti isinya memuat dan menguraikan tentang wahyu Tuhan. Sedangkan kelompok Smṛti memuat tentang kehidupan manusia dalam bermasyarakat, bernegara dan semua didasarkan atas hukum yang juga disebut Dharma Śāstra.

Dharma berarti hukum, Śāstra berarti ilmu. Smṛti adalah kitab suci Veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharṣi yang bersumber dari wahyu Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu kedudukannya sama dengan kitab Veda Śruti. Menurut tradisi dan lazim telah diterima dibidang ilmiah istilah Smṛti adalah untuk menyebutkan jenis kelompok Veda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara lebih sistematis manurut bidang profesi.

Mengenai kedudukan Upaveda dalam Veda, dilihat dari materi isinya sudahlah jelas sesuai arti dan tujuannya serta apa yang menjadi bahan kajian dalam kitab Upaveda itu, maka Upaveda pada dasarnya dinyatakan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Veda. Tiap buku merupakan pengkhususan dalam memberi keterangan yang sangat diperlukan untuk diketahui dalam Veda itu. Jadi kedudukannya sama dengan apa yang kita lihat dengan Vedāngga. Kalau kita pelajari secara mendalam, maka beberapa materi kejadian yang dibahas di dalam Purāna dan Vedāngga maupun apa yang terdapat dalam Itihāsa, banyak dibahas ulang di dalam kitab Upaveda dengan penajamam-penajaman untuk bidang-bidang tertentu.

Dengan demikian untuk meningkatkan pengertian dan pendalaman tentang berbagai ajaran yang terdapat dalam Veda, maka kitab Upaveda akan dibicarakan pokoknya satu persatu. Kitab Upaveda artinya dekat dengan Veda (pengetahuan suci) atau Veda tambahan. Kitab Upaveda terdiri atas beberapa cabang ilmu antara lain Itihāsa (Rāmāyana dan Mahābhārata), Purāṇa, Arthaśāstra, Āyur Veda dan Gandharwa Veda.

KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan tentang pengertian Upaveda dan kedudukan Upaveda dalam Weda sebagai berikut:
1. Pengertian Upaveda: 
Istilah Upaveda diartikan sebagai Veda yang lebih kecil dan merupakan kelompok kedua setelah Vedāngga. Upa berarti dekat atau sekitar dan Veda berarti pengetahuan dan dapat pula berarti Veda. Dengan demikiam Upaveda dapat diartikan sekitar hal- hal yang bersumber dari Veda.
2. Kedudukan Upaveda dalam kitab Weda:
Tiap buku merupakan pengkhususan dalam memberi keterangan yang sangat diperlukan untuk diketahui dalam Veda itu. Jadi kedudukannya sama dengan apa yang kita lihat dengan Vedāngga. Untuk meningkatkan pengertian dan pendalaman tentang berbagai ajaran yang terdapat dalam Veda, maka kitab Upaveda akan dibicarakan pokoknya satu persatu. Kitab Upaveda artinya dekat dengan Veda (pengetahuan suci) atau Veda tambahan. 

Kompetensi inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kurikulum 2013 revisi 2017 tingkat SMK/SMA

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan disuatu negara maka diperlukan adanya perubahan perubahan pada kurikulum yang berlaku yang tentunya disesuaikan dengan perkembangan jaman dan perilaku masyarakatnya. Seperti pada kurikulum pendidikan yang diberlakukan di Indonesia juga senantiasa mengalami perubahan untuk mencapai tujuan pendidikan yang muaranya adalah pada kemajuan negara. Berikut ini adalah Kompetensi inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kurikulum 2013 revisi 2017 tingkat SMK/SMA.

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kurikulum 2013 revisi 2017

Hai sahabat the bali buzz, kali ini saya berbagi informasi tentang kompetensi inti dan kompetensi terbaru mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kurikulum 2013 revisi 2017. Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang menonjol, hanya saja ada beberapa penyempurnaan untuk semua bidang keahlian.
Tujuan kurikulum mencakup empat aspek kompetensi, yaitu (1) aspek kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Aspek-aspek kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Hubungan Tattwa dengan Darsana dalam ajaran Agama Hindu

Hubungan Tattwa dengan Darsana dalam ajaran Agama Hindu
Sembahyang menurut Hindu
Kita sebagai umat Hindu tentu telah mengetahui apa saja yang menjadi penunjang kokohnya Agama Hindu. Agama Hindu dibangun oleh tiga kerangka yang dapat dilihat dari aktivitas keagamaan yang ditunjukan oleh umat. Tiga kerangka agama Hindu tersebut adalah Tattwa, Etika / susila dan Acara / Ritual. Selanjutnya bagaimana perkembangan gama Hindu yang dibangun atas dasar Tattwa? Tattwa tiada lain adalah pengetahuan yang dapat dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan keagamaan. 

Kata Tattva berasal dari bahasa Sanskerta ‘Tat’ yang artinya ‘Itu’, yang maksudnya adalah hakikat atau kebenaran (Thatnees). Dalam sumber lainnya, kata Tattva juga berarti falsafah (filsafat agama), yakni ilmu yang mempelajari kebenaran sedalam- dalamnya (sebenarnya) tentang sesuatu seperti mencari kebenaran tentang Tuhan, tentang atma, serta yang lainya sampai pada proses kebenaran tentang reinkarnasi dan karmapala. Dalam ajaran Tattva, kebenaran yang dicari adalah hakikat tentang Brahman (Tuhan) dan segala sesuatu yang terkait dengan kemahakuasaan Tuhan. Dalam buku Theologi Hindu, kata Tattva berarti hakikat tentang Tat atau Itu (yaitu Tuhan dalam bentuk Nirguṇa Brahman). Penggunaan kata Tat sebagai kata yang artinya Tuhan, adalah untuk menunjukkan kepada Tuhan yang jauh dengan manusia. Kata ‘Itu’ dibedakan dengan kata ‘Idam’ yang artinya menunjuk pada kata benda yang dekat (pada semua ciptaan Tuhan). Definisi tersebut berdasarkan pada pengertian bahwa Tuhan atau Brahman adalah asal segala yang ada, Brahman merupakan primacosa yang adanya bersifat mutlak. Karena sumber atas semua yang ada, tanpa ada Brahman maka tidak mungkin semuanya ada.

Tattva juga dapat diartikan kebenaran yang sejati dan hakiki. Penggunaan kata Tattva ini adalah istilah dalam filsafat yang didasarkan atas tujuan yang hendak dicapai yakni kebenaran tertinggi dan hakiki. Dalam lontar-lontar di Bali, kata Tattva lebih sering diguṇakan jika dibandingkan dengan istilah filsafat yang lainnya. Dengan pengertian ini dapat diartikan bahwa Tattva adalah suatu istilah dalam filsafat agama yang diartikan sebagai kebenaran sejati dan hakiki yang didasari perenungan mendalam dan memerlukan pemikiran yang cemerlang agar sampai kepada hakikat dan sifat kodrati. Ajaran Hindu kaya akan Tattva, dan secara khusus disebut Darśana. Kata Darśana berasal dari urat kata dṛś yang artinya melihat, menjadi kata Darśana (kata benda) yang artinya penglihatan atau pandangan. Kata Darśana dalam hubungan ini berarti pandangan tentang kebenaran (filsafat). Filsafat adalah ilmu yang mempelajari bagaimana caranya mengungkapkan nilai-nilai kebenaran hakiki yang dijadikan landasan untuk hidup yang dicita-citakan. Demikian juga halnya dengan Darśana yang berusaha mengungkap nilai-nilai kebenaran dengan bersumber pada kitab suci Veda. Dalam agama Hindu terdapat sembilan cabang filsafat yang disebut
Nawa Darśana.

Pada masa Upaniṣad, Darśana dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu astika (kelompok yang mengakui Veda sebagai ajaran tertinggi) dan nastika (kelompok yang tidak mengakui Veda ajaran tertinggi ). Terdapat enam cabang filsafat yang mengakui Veda yang disebut Ṣaḍ Darśana (Nyāyā, Sāṁkya, Yoga, Mīmāmsā, Vaisiseka, dan Vedānta) dan tiga cabang filsafat yang menentang Veda yaitu Jaina, Carvaka dan Buddha.

Darśana merupakan bagian penulisan Hindu yang memerlukan kecerdasan yang tajam, penalaran serta perasaan, karena masalah pokok yang dibahasnya merupakan inti sari dari ajaran Veda secara menyeluruh dibidang filsafat, yakni aspek rasional dari agama dan merupakan satu bagian integral dari agama. Nama atau istilah lain dari Darśana adalah Mananaśāstra (pemikiran atau renungan filsafat), Vicaraśāstra (menyelidiki tentang kebenaran filsafat), tarka (spekulasi), Śraddhā (keyakinan atau keimanan).

Filsafat juga merupakan pencarian rasional ke dalam sifat kebenaran atau realitas yang juga memberikan pemecahan yang jelas dalam mengemukakan permasalahan- permasalahan yang lembut dari kehidupan ini, di  mana  ia  juga  menunjukkan  jalan untuk mendapatkan pembebasan abadi dari penderitaan akibat kelahiran dan kematian. Filsafat bermula dari keperluan praktis umat manusia yang menginginkan untuk mengetahui masalah-masalah transendental ketika ia berada dalam perenungan tentang hakikat kehidupan itu sendiri. Ada dorongan dalam dirinya untuk mengetahui rahasia kematian, kekekalan, sifat dari jīva (roh), dan sang pencipta alam semesta ini. Dalam hal ini filsafat dapat membantu untuk mengetahui semua permasalahan yang dihadapi, karena filsafat merupakan ekspresi diri dari pertumbuhan jiwa manusia, sedangkan filsuf adalah wujud lahiriahnya. Para pemikir kreatif dan para filsuf merupakan wujud yang muncul pada setiap zaman dan mereka mengangkat atau mengilhami umat manusia.

Pemikiran tentang kematian selalu menjadi daya penggerak yang paling kuat dari ajaran agama dan kehidupan keagamaan. Manusia takut akan kematian dan tidak menginginkan untuk mati. Inilah yang merupakan titik awal dari filsafat, karena filsafat berusaha mencari dan menyelidikinya. Pemahaman yang jelas dari manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, merupakan masalah yang sangat penting bagi para pelajar filsafat dan bagi para calon spiritual (sādhaka) sehingga berbagai aliran filsafat dan bermacam-macam aliran kepercayaan keagamaan yang berbeda telah muncul dan berkembang dalam kehidupan umat manusia.

Filsafat Hindu bukan hanya merupakan spekulasi atau dugaan belaka, namun ia memiliki nilai yang sangat luhur, mulia, khas, dan sistematis yang didasarkan atas pengalaman spiritual mistis yang dikenal sebagai Aparokṣa Anubhūti. Para pengamat spiritual, para orang bijak, dan para Ṛṣi yang telah mengarahkan persepsi intuitif dari kebenaran adalah para pendiri dari berbagai sistem filsafat yang berbeda-beda, yang secara langsung maupun tidak langsung mendasarkan semuanya pada Veda. Mereka yang telah mempelajari kitab-kitab Upaniṣad secara tekun dan hati-hati akan menemukan keselarasan antara wahyu-wahyu Śruti dengan kesimpulan filsafat.

Ṣaḍ Darśana yang merupakan enam sistem filsafat Hindu merupakan enam sarana pengajaran yang benar atau enam cara pembuktian kebenaran. Masing-masing kelompok Darśana telah mengembangkan, mensistematisir serta menghubungkan berbagai bagian dari Veda, dengan caranya masing-masing, sehingga masing-masing kelompok tersebut memiliki seorang atau beberapa orang Sūtrakāra, yaitu penyusun doktrin-doktrin dalam ungkapan-ungkapan pendek (aphorisma) yang disebut Sūtra.

Demikianlah sesungguhnya pandangan-pandangan filsafat dari para maharsi tersebut tumbuhnya dari Tattwa, ilmu yang mempelajari kebenaran sedalam- dalamnya (sebenarnya) tentang sesuatu seperti mencari kebenaran tentang Tuhan, tentang atma, serta yang lainya sampai pada proses kebenaran tentang reinkarnasi dan karmapala.

Ulasan tentang Nawa Darsana, Sembilan Filsafat

Ulasan tentang Nawa Darsana, Sembilan Filsafat
Bagan Nawa Darsana
Sahabat The Bali Buzz, mungkin kita sudah sering sekali mendengar kata Nawadarsana. Nah sebenarnya apa pengertian dari Nawadarsana dan apa bedanya dengan Sad Darsana. Berikut ini akan diulas secara singkat dan jelas mengenai Nawa darsana dan penerapannya. 

Istilah Nawadarsana sebenarnya adalah penggabungan Sad darsana dengan filsafat Nastika yaitu aliran filsafat yang tidak mengakui otoritas Veda sehingga disebut filsafat heterodox. Ada tiga aliran besar dalam Nastika, sebagai berikut:
1) Aliran filsafat materialistis dari Cārvāka
Cārvāka tidak pernah percaya kepada  surga,  neraka,  dan  terhadap  Tuhan  yang menciptakan alam semesta, karena itu aliran ini bersifat atheis. Cārvāka menitikberatkan untuk mencari kesenangan duniawi saja. Ada dua jenis pengikut Cārvāka, yaitu Dhūrta (licik dan tidak terpelajar) dan Suśikṣita (terpelajar). Salah satu pengikut Suśikṣita yang terkenal adalah Vātsyāna yang terkenal dengan bukunya Kāmasūtra.

2) Aliran filsafat Jaina
Aliran Jaina artinya memperoleh kemenangan dalam menghadapi tantangan duniawi. Pendiri aliran ini adalah Mahāvīra yang nama aslinya Vardhamāna. Aliran filsafat ini bersifat atheis yang percaya seseorang dapat mencapai kebebasan rohani seperti guru mereka. Ada dua golongan Jaina, yaitu Digambara (golongan yang sangat fanatik dan bahkan telanjang bulat) dan Śvetāmbara (golongan yang lebih moderat, menggunakan pakaian serba putih). Bisa dikatakan filsafat Jaina bersifat pragmatis realistis.

3) Aliran filsafat Buddha
Filsafat Buddha didirikan oleh pengikut Sang  Buddha,  Siddhārtha  Gautama dan dinasti Sakya. Ajaran filsafat Buddha meliputi Catur Ārya Satyani (empat kebenaran mulia), Pratitya Samut Pada (dua belas hal yang menyebabkan penderitaan) dan Aṣṭa Mārga (delapan jalan yang benar).
Enam filsafat Hindu yang dikenal dengan Sad darsana adalah enam sistem filsafat orthodox yang merupakan enam cara mencari kebenaran, yaitu Nyāyā, Sāṁkya, Yoga, Vaisiseka, Mīmāmsā dan Vedānta. Di samping enam darsana pokok awal yang termasuk zaman Sūtra- sūtra juga terdapat beberapa darsana yang termasuk zaman skolastik, yaitu Dvaita, Viśiṣtādvaita dan Advaita. Kesemua sistem filsafat tersebut mendasarkan ajarannya kepada Veda baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga disebut juga sebagai Astika.

Demikian sekilas penjelasan tentang Nawadarsana yang merupakan sembilan bentuk filsafat yang berkembang di India. Nawadarsana terbentuk dari penggabungan antara sad darsana yang tergolong Astika darsana dengan Darsana yang tergolong Nastika Darsana yaitu Carwaka, Buddha dan Jaina.