"Selamat datang di situs The Bali Buzz, www.rah-toem.blogspot.com"

Nawa Dewata sesuai Simbolnya Masing-masing | PAH Kls VIII

Keagungan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai empat sifat kemahakuasaan yang disebut Cadhu Cakti yang terdiri dari:
1. Prabhu Sakti
Prabhu Sakti adalah Mahakuasa, jadi Hyang Widhi memiliki sifat kemahakuasaan yang menguasai segala-galanya.
2. Jnana Sakti
Jnana Sakti adalah Mahatahu, jadi Hyang Widhi memiliki sifat kemahakuasaan yang mengetahui segala-galanya.
3. Kriya Sakti
Kriya Sakti adalah Mahakarya, jadi Hyang Widhi memiliki sifat kemahakuasaan yang mengerjakan segala-galanya.
4. Wibhu Sakti×Ø
Wibhu Sakti adalah Mahaada, jadi Hyang Widhi memiliki sifat kemahakuasaan yang mengadakan segala-galanya.

Dipandang dari kemahakuasaan Hyang Widhi sebagai Wibhu Sakti (Mahaada), Hyang Widhi ada di mana-mana, meresap memenuhi Bhuana yang ada di setiap arah atau mata angin.

Atas dasar kemahakuasaan di atas (Wibhu Sakti dan Prabhu Sakti), maka Hyang Widhi sebagai lambang dari kemahakuasan-Nya yang menguasai seluruh arah mata angin (pengider-ider Bhuana). Untuk mengetahui lebih jauh dan lengkap dengan atribut-atributnya mengenai Nawa Dewata ikuti uraian berikut.

1. Dewa Iswara (Gni Jaya)
     Dewa Iswara saktinya adalah Dewi Uma, sebagai penguasa arah Timur (Purwa). Aksara sucinya Sang, senjatanya Badjra, warnanya Putih, memiliki urip 5, Pancawaranya Umanis, Saptawaranya Redite, dan wahananya Lembu, berstana dan dipuja di Pura Lempuyang Luhur, yang terletak di puncak Gunung Kutri, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Upacara atau pujawalinya jatuh pada Wrespati/Kamis, Wuku Dungulan. Pura Lempuyang Luhur berdiri pada abad ke 10 Masehi pada zaman Raja Marakatta.

2. Dewa Mahesora
      Dewa Mahesora saktinya adalah Dewi Laksmi, sebagai penguasa arah Tenggara, aksara sucinya Nang, senjatanya Dupa, warnanya Dadu/Merah muda, memiliki urip 8, Saptawaranya Weraspati, dan wahananya burung Merak. Dewa Mahesora berstana di Pura Goa Lawah yang terletak di Desa Pasinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Dalam lontar Usana Dewa disebutkan Pura Goa Lawah didirikan oleh Mpu Kuturan pada abad X Masehi. Upacara atau puja walinya pada hari Selasa Keliwon
Wuku Medangsia.

3. Dewa Brahma
      Dewa Brahma saktinya adalah Dewi Saraswati, sebagai penguasa arah Selatan, aksara sucinya Bang, senjatanya Gada, warnanya Merah, memiliki urip 9, Pancawaranya Pahing, Saptawaranya Saniscara, dan wahananya Angsa, berstana di Pura Andakasa. Pura Andakasa terletak di atas bukit Andakasa Desa Angentelu, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem dengan ketinggian 200 meter dari permukaan laut. Dalam Lontar Usana Bali disebutkan bahwa Pura Andakasa didirikan oleh Mpu Kuturan sekitar abad X pada pemerintahan raja Marakata. Pujawali/Piodalannya dilakukan setiap enam bulan sekali (210 hari) setiap Anggara/ Selasa Keliwon Wuku Medangsia dan satu tahun sekali pada Purnama sasih Sada dilaksanakan upacara pengurip Bumi. Pada waktu pelaksanaan puja wali semua wastra/kain seperti ider-ider, wastra pelinggih, tedung, lalontek memakai warna merah.

4. Dewa Rudra (Hyang Maha Jaya)
      Dewa Rudra saktinya Dewi Somadhi, sebagai penguasa arah Barat Daya (Nariti), aksara sucinya Mang, senjatanya Moksala, warnanya Jingga, memiliki urip 3, Saptawaranya Anggara, wahananya Kerbau Putih, dan berstana di Pura Luhur Uluwatu.
Pura Luhur Uluwatu terletak di ujung paling selatan Pulau Bali bagian Barat, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Lokasinya ± 30 Km dari Kota Denpasar. Pura ini ditata dan dikembangkan oleh Danghyang Nirarta pada Abad XIV. Sekitar tahun 1690 sampai 1740 Masehi ditata dan dipelihara oleh Kerajaan Mengwi Badung. Pada tahun 1890 dilanjutkan oleh Kerajaan Badung dari Puri Satria. Puja walinya pada hari Selasa Keliwon Wuku Medangsia.

5. Dewa Mahadewa
      Dewa Mahadewa saktinya Dewi Sanci, sebagai penguasa arah Barat (Pascima), aksara sucinya Tang, senjatanya Nagapasa, warnanya Kuning, uripnya 7; Pancawaranya Pon, Saptawaranya Buda, dan wahananya Nagapasa, berstana di Pura Batukaru terletak di Desa Wangaya Gede, Kecamatan Panebel, Kabupaten Tabanan, Bali, lebih kurang 60 Km dari Kota Denpasar. Ahli Arkeologi menafsirkan bahwa berdirinya Pura Batukaru sudah ada sebelum Mpu Kuturan ke Bali. Pujawali/Piodalannya setiap hari Kamis/Weraspati Umanis Watu Gunung.

6. Dewa Sangkara
      Dewa Sangkara saktinya Dewi Rodri, sebagai penguasa arah Barat Laut (Wayabhaya), aksara sucinya Sing, senjatanya Angkus, warnanya Hijau, uripnya 1, Saptawaranya Sukra, wahananya belibis, dan berstana di Pura Gunung Mangu. Pura Gunung (Pucak) Mangu adalah Pura Kahyangan Jagat terletak di Desa Tinggan Kecamatan Petang Kabupaten Badung yang didirikan pada tahun 1752 Saka atau 1830 Masehi. Upacara atau piodalannya dilakukan setiap Purnama Sasih Kapat.

7. Dewa Wisnu
      Dewa Wisnu saktinya Dewi Sri, sebagai penguasa arah Utara (Utara), aksara sucinya Ang, senjatanya Cakra, warnanya Hitam, uripnya 4, Pancawaranya Wage, Saptawaranya Soma, dan wahananya Burung Garuda, dan berstana di Pura Batur. Pada awalnya Pura ini terletak di lembah Gunung Batur, tapi karena adanya letusan Gunung Batur, Pura ini dipindahkan ke Karang Anyar, Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli, pada tahun 1928. Upacara atau piodalannya dilaksanakan setiap Purnama Kedasa.

8. Dewa Sambu
      Dewa Sambu saktinya Dewi Mahadewa, sebagai penguasa arah Timur Laut (Airsanya), aksara sucinya Wang, senjatanya Trisula, warnanya Abu- abu, uripnya 6, Saptawaranya Sukra, dan Wahana atau kendaraannya Harimau. Berstana di Pura Besakih terletak di Kabupaten Karangasem, Bali.

9. Dewa Siwa
      Dewa Siwa saktinya Dewi Durga, sebagai penguasa arah Tengah (Madya), aksara sucinya Ing dan Yang, senjatanya Padma, warnanya Panca warna, uripnya 8, Pancawaranya Keliwon, dan wahananya Lembu. Berstana di Pura Besakih terletak di lereng sebelah barat daya Gunung Agung dengan ketinggian 1000 M dari permukaan laut, termasuk di daerah Desa Besakih Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
      Pura Besakih termasuk Kahyangan Jagat yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan jagat sebagai benteng keselamatan Pulau Bali yang merupakan sepiritual tinggi umat Hindu di Bali.
      Berdirinya Pura Besakih belum diketahui secara pasti baik atas prasasti maupun lontar, namun kajian dari arkeologi menunjukkan bahwa Pura Besakih sudah amat tua, bermula dari zaman megalitikum (zaman batu) dengan bukti bangunan berundak-undak dan adanya Menhir yang ada di Pura Batu Madeg.

Dengan adanya Hyang Widhi dalam wujudnya sebagai Nawa Dewata yang menguasai seluruh mata angin yang merupakan benteng keselamatan bagi alam semesta dengan segala isinya. Alam semesta pun menjadi tenang, nyaman, dan damai. Kesembilan jenis-jenis senjata Nawa Dewata biasanya dipasang pada saat upacara piodalan di Pura sesuai dengan tempat Pura arah mata angin.

Hubungan Nawa Dewata dengan Ida Hyang Widhi | Hindu Kls VIII

Hyang Widhi /Tuhan Yang Maha Esa disebut tidak berwujud (impersonal God), sangat luhur dan meresapi serta memenuhi segala-galanya di alam semesta ini, sangat sulit untuk dipahami oleh umat manusia pada
umumnya. Pemahaman terhadap Hyang Widhi yang tidak berwujud ini terbatas di kalangan para Vipra atau Jnanin.

Bagi umat awam pada umumnya, jalan yang paling mudah ditempuh dan dipahami dalam ajaran Catur Marga Yoga adalah Bhakti dan Karma Marga. Jalan Bhakti adalah usaha untuk mendekatkan diri ke hadapan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa di antaranya dengan melalui pelaksanaan sembahyang, melakukan japa dan melaksanakan Tirtayatra. Sedangkan jalan Karma, di samping melakukan karya yang dilandasi hati yang tulus ikhlas, juga dengan mempersembahkan berbagai upacara atau Yadnya. 

Di dalam Bhakti dan Karma Marga ini Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa dipahami sebagai Yang berwujud (Personal God) disimbolkan dengan Nawa Dewata, setiap wujud dari Hyang Widhi mempunyai tempat/
wilayah dan fungsi yang berbeda-beda. 

Di Bali, Hyang Widhi diwujudkan dalam Nawa Dewata yang berstana di Pura-pura Kahyangan yang diilustrasikan ke dalam wujud jagat antara lain sebagai berikut:
1. Pura Lempuyang Luhur, terletak di Kabupaten Karangasem, tempat memuja Dewa Iswara.
2. Pura Andakasa, terletak di Kabupaten Karangasem, tempat memuja Dewa Brahma.
3. Pura Batukaru terletak di Kabupaten Tabanan, tempat memuja Dewa Mahadewa.
4. Pura Batur terletak di Kabupaten Bangli, tempat memuja Dewa Wisnu.
5. Pura Goalawah terletak di Kabupaten Klungkung, tempat memuja Dewa Mahesora.
6. Pura Uluwatu di Kabupaten Badung, tempat memuja Dewa Rudra.
7. Pura Gunung Mangu terletak di Kabupaten Badung, tempat memuja Dewa Sangkara.
8. Pura Besakih (Penataran Agung), tempat memuja Dewa Sambhu.
9. Pura Besakih juga tempat memuja Dewa Tri Purusa (Parama Siwa, Sada Siwa, dan Siwa).

Luir Wilangan Gebogan (Jenis-jenisan bilangan gebogan)

Rahajeng ring para alit-alite sane sampun rauh ring blog puniki. Ring galahe puniki jagi baosang titiang indik Wilangan Gebogan. Sane kewastanin wilangan gebogan inggih punika wilangan basa Bali sane madue wasta niri-niri kadi ring sor.

Luir Wilangan Gebogan (jenis-jenis bilangan Gebogan)

25 : Selae
35 : Sasur
45 : Setiman
50 : Seket
75 : Telung benang
100 : Satus
150 : Karobelah
175 : Lebak
200 : Satak
400 : Samas
600 : Telungatak
800 : Domas
1000 : Siu
1200 : Nembangsit
1600 : Sepa

Nika sampun sane kewastanin Wilangan Gebogan. Suksma šŸ™šŸ™šŸ™

Pengertian dan Hakekat Catur Purusa Artha


“Kamarthau lipsamānastu dharmmamevāditaį¹£caret, nahi dharmmādapetyārthah kāmo vapi kadācana.
Yan paramārthanya, yan arthakāma sādhyan, dharma juga lƫkasakƫna rumuhun, niyata katƫmwaning arthakāma mƫne tan paramārtha
wi katemwaning arthakāma deninganasar sakeng dharma”.
(Sarasamuscaya.12)

Terjemahannya:
“Pada hakikatnya, jika artha dan kama dituntut, maka seharusnya dharma dilakukan lebih dulu; tak disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti; tidak akan ada artinya, jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma”.

Pengertian Catur Purusartha
Perenungan
Uttamaning dhanolihing amet prih-awak aputĆ©ran, madhyama ng arthaning bapa kanista dhana saking ibu, nistanikang kanistan dhama yan saka ring anak-Ć©bi, uttamaning hunuttama dhanolihing anuku musuh”.

Terjemahannya:
“Kekayaan yang terbaik adalah uang yang diperoleh sendiri dari kerja berat,yangbaik adalah uang dari bapak, yang tidak baik uang dari pemberian ibu, ada pun yang sangattidakbaik,yaitu uang pemberian istri, tetapi yang utama sekali adalah rampasan dalam peperangan”. (NitisastraII.2)


Memahami Teks
Menurut Agama Hindu, dalam kehidupan ini manusia mempunyai empat tujuan yang dinamakan “Catur Purusartha”. Catur artinya empat, purusa artinya manusia dan artha artinya tujuan, sehingga Catur Purusartha mempunyai arti empat tujuan hidup manusia.
Kitab Sarasamuscaya menerangkan bahwa kelahiran menjadi manusia merupakan suatu kesempatan yang terbaik untuk memperbaiki diri. Manusialah yang dapat memperbaiki segala tingkah lakunya yang dipandang tidak baik agar menjadi baik, guna menolong dirinya dari penderitaan dalam usahanya untuk mencapai moksa.
Dalam kitab Nitisastra, Bhagawan Sukra mengemukakan bahwa semua perbuatan manusia itu pada hakikatnya didasarkan pada usaha untuk mencapai empat hakikat hidup yang terpenting dharma, artha, kama dan moksa. Tidak ada satupun perbuatan manusia yang tidak didorong oleh keinginannya untuk mencapai keempat tujuanitu, sehingga dapat dikatakan bahwa keempat hal inilah yang menjadi hakikat tujuan hidup manusia menurut ajaran Agama Hindu. dharma, artha, kama dan moksa dikenal juga dengan “Catur Warga atau Catur Purusartha”. Keempat aspek tujuan hidup manusia ini di dalam ilmu politik disamakan dengan aspek-aspek keamanan, kesejahteraan, kebahagiaan lahir batin dan dharma yang mengandung pengertian aspek keadilan dan kepatutan.
Unsur keinginan yang berakar pada pikiran manusia, terdapat pula hakikat tujuan agama Hindu yang dirumuskan dalam “Moksartham Jagadhita ya, ca iti Dharma” artinya bahwa dharma bertujuan untuk mencapai moksa dan kesejahteraan dunia. Moksa dalam filsafat Hindu “Tattwa Dharsana” merupakan tujuan hidup manusia tertinggi. Tujuan ini harus diusahakan oleh setiap umat Hindu untuk mencapainya dengan cara mengamalkan agama sebaik-baiknya. Adapun Jagadhita atau kesejahteraan itu akan dicapai apabila ketiga kerangka dharma, artha dan kama itu terealisir dan manusia benar-benar berusaha untuk mewujudkannya dengan jalan berpikir, bertutur kata danberyajna.
Keinginan manusia itu tidak ada batasnya dan pada umumnya cenderung selalu merasa kurang. Oleh karena itu, Agama Hindu memberi ukuran yang bersifat membatasinya dengan Catur Purusartha, yaitu suatu usaha untuk mewujudkan kesejahteraan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah secara seimbang melalui pengamalan dharma. Disamping itu Agama Hindu juga dapat dijadikan menyucikan jasmani dan rohani. Agama Hindu sebagai dharma untuk mengatur tata kehidupan manusia dalam berhubungan dengan Tuhan, dengan sesamanya dan dengan alam sekitarnya. Hindu sebagai agama bukan hanya bersifat doktrinal dan dogma semata, tetapi juga memberikan jalan berdasarkan Wahyu Tuhan yang sifatnya ilmiah, karena itu Kitab Suci Agama Hindu disebut Veda, artinya ilmu pengetahuan tertinggi.
Agama diturunkan kedunia oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menuntun manusia agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia maupun di alam rohani. Untuk itu setiap orang harus mempunyai empat landasan yang disebut dengan Catur Purusartha, yang artinya empat tujuan hidup.
Catur Purusartha sering disebut Catur Warga. Kata Warga dalam hal ini artinya ikatan atau jalinan yang saling melengkapi atau saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Di samping itu, keempat tujuan hidup itu saling menunjang. Dharma adalah landasan untuk mendapatkan arta dan kama. Artha dan kama adalah landasan atau sarana untuk melaksanakan dharma. Dharma, arta dan kama adalah landasan untuk mencapai moksa. Moksa Juga landasan untuk mendapatkan dharma, arta dan kama, justru akan mengikat manusia karena bukan tujuanakhir.
Dalam kitab tafsiran tentang Catur Purusartha, disebutkan bahwa dharma, arta dan kama merupakan tujuan pertama dan moksa disebut tujuan akhir atau tujuan tertinggi untuk kembali kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa. Empat tujuan hidup itu adalah suatu kenyataan yang tidak mungkin dapat dihindari oleh setiap orang yang mendambakan hidup yang sejahtera lahir dan batin.


Tugas Mandiri

  1. Apakah yang dimaksud dengan Catur Purusartha?Jelaskanlah!
  2. Apakah yang akan terjadi bila umat Hindu ingin mewujudkan tujuan hidup tanpa berpedoman kepada Catur Purusartha?Jelaskanlah!
  3. Buatlah analisis teori mana yang paling kuat dari beberapa teori tentang konsep Catur Purusartha! Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu dirumah!

Bentuk Larangan-Larangan Orang Suci Agama Hindu

Orang suci dalam penampilannya dapat mewujudkan ketenangan dan penuh welas asih, yang disertai kemurnian lahir dan batin didalam mengamalkan ajaran agama, tidak terpengaruh oleh gelombang hidup suka dan duka. Oleh karena itu, orang suci memiliki larangan yang mesti dijauhi di antaranya sebagai berikut :
1. Tidak boleh berjudi.
2. Ahimsa artinya tidak menyakiti
3. Satya artinya tidak berdusta
4. Astanya artinya tidak mencuri
5. Awyawaharika artinya tidak suka bertengkar
6. Tidak boleh berzinah
7. Tidak boleh ingkar janji
8. Tidak boleh berpolitik praktis
9. Tidak boleh tersangkut pidana
10. Tan Adol Awelya artinya tidak berjual beli
11. Tidak boleh melakukan perbuatan dosa.
12. Tidak boleh bergaul dengan orang jahat.

Selain bentuk larangan di atas terdapat juga pantangan makan dan minum bagi orang suci di antaranya sebagai berikut :
1. Tidak boleh minum minuman berakohol seperti : tuak, arak, dan minuman keras lainnya.
2. Tidak boleh makan daging sapi.
3. Tidak boleh makan daging babi.
4. Tidak boleh makan daging anjing.
5. Tidak boleh makan daging kuda.
6. Tidak boleh makan atau minuman yang berasal dari mencuri, menipu, korupsi, merampok.

Demikianlah bentuk larangan bagi orang suci baik dalam bentuk perilaku, aktivitas maupun makanan.