Penjelasan tentang Sad Ripu sebagai Aspek Diri yang Harus Dikendalikan - Materi Ajar

Sudah banyak yang telah membahas tentang Sad Ripu dan upaya mengendalikan sad ripu. Namun disini akan lebih diperjelas lagi mengenai pengertian dari Sad Ripu sesuai dengan asal katanya serta akan dijelaskan tentang pembagian sad ripu yang merujuk pada sastra-sastra agama Hindu.

Sebelum membahas tentang Sad Ripu, ada baiknya jika terlebih dahulu membaca Petikan Sloka dibawah ini untuk membuka pandangan dan pemikiran kita.
"Evam buddhem param buddhva,
samstabhya ‘tmanam atmanah,
jahi satrum mahabaho,
kamarupam durasadam
"
Terjemahan:
Mengetahui Dia lebih agung dari intelek dengan mengendalikan jiwamu dengan jiwa, basmilah musuhmu dalam bentuk hawa nafsu, yang tidak mudah ditundukkan, Oh Mahabhahu
Bhagavad-gītā III.43
A. Sad Ripu dalam Diri
Sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama Hindu dalam etikanya bahwa perilaku yang tidak baik (negatif) merupakan salah satu perilaku yang tidak boleh dilaksanakan. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi manusia didunia ini yang mana terdapat musuh yang harus dihindari oleh setiap makhluk hidup sangatlah dekat dengan diri. Musuh itu terlihat seperti sahabat jika dibungkus oleh kemunafikan dan pembenaran sehingga terkesan orang tersebut adalah orang yang baik. Musuh manusia sangatlah dekat dengan dirinya. Dalam agama Hindu, musuh dalam diri disebut Sad Ripu.
Sad Ripu dalam diri liar bagaikan singa
Sad Ripu Dalam Diri
Penjelasan tentang pengertian Sad Ripu dapat dilihat dari asal katanya. Sad Ripu berasal dari bahasa Sanskerta, dari kata sad berarti enam dan ripu berarti musuh. Jadi, secara harfiah, Sad Ripu berarti enam musuh dalam diri manusia. Enam musuh pada setiap orang dapat memengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupannya. Pengaruh yang ditimbulkan oleh Sad Ripu berbeda-beda sesuai situasi dan kondisi manusia di masyarakat. Dalam kekawin Rāmāyana, dijelaskan musuh sangatlah dekat.

Kekawin Rāmāyana sargah 1 berbunyi sebagai berikut:
ragadi musuh mapara
rihati ya tonggwanya tan madoh ringawak
yeka tan hana ri sira
prawira wikian sireng

Terjemahan:
Hawa nafsu dan sebagainya musuh yang dekat di dalam hati tempatnya tidak jauh dari kita yang seperti itu tidak ada padanya pemberani dan sangat mengetahui tentang ilmu pengetahuan.

Kekawin Rāmāyana sargah 1 menjelaskan bahwa musuh manusia terdapat di dalam hati. Hati yang negatif dapat membuat seseorang melakukan perilaku-perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama. Selain dalam kekawin Rāmāyana, dalam pustaka suci Śarasamuccaya juga mengungkapkan keberadaan musuh manusia.

Pustaka suci Śarasamuccaya sloka 128 menjelaskan bahwa:
amrtam caiva mrtyucca dvayam dehe pratistitam, mrtyurapadyate
mohāt satyenāpaddyate’mrtam

Terjemahan
Tak berjauhan bisa (racun) itu dengan amrta;
di sinilah, di badan sendirilah tempatnya.

Apa yang tertuang dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 128 menjelaskan bahwa musuh yang paling berbahaya sangatlah dekat dengan kita, yakni dalam diri sendiri. Dalam diri kita, terdapat sifat baik juga terdapat sifat buruk, diibaratkan racun dan amerta. Musuh-musuh yang terdapat dalam diri manusia sangatlah berbahaya jika dipupuk, dan dipelihara. Enam musuh manusia itu adalah sebagai berikut.

1. Kama
Kama adalah keinginan atau hawa nafsu yang dimiliki oleh manusia. Setiap manusia memiliki keinginan. Keinginan dapat bersifat positif dan negatif. Keinginan yang sifatnya positif dapat menumbuhkan orang-orang yang kreatif, inovatif, dan selalu melakukan perbuatan yang baik. Keinginan yang dimiliki manusia tanpa batas, dapat diibaratkan seperti alam semesta. Keinginan tersebut haruslah dikendalikan ke arah yang positif. Sifat kama dapat menyebabkan orang penuh dosa. Hal ini terdapat dalam pustaka suci Bhagavad-gītā III.37.

kāma esa krodha esa
rajo-guna-samudbhavah
mahāśano mahā-pāpmā
viddhy enam iha vairinam

Terjemahan:
Itu adalah nafsu, amarah yang lahir dari rājaguna;
sangat merusak, penuh dosa ketahuilah bahwa keduanya ini adalah musuh yang ada di bumi.

Nafsu manusia dapat menyebabkan hilang akal sehatnya dalam menentukan pilihan. Hilangnya akal sehat menyebabkan manusia melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat menimbulkan dosa.

2. Lobha
Lobha adalah sifat tamak atau rakus yang dimiliki manusia. Sifat lobha yang terdapat dalam diri manusia ada yang bersifat negatif dan positif. Sifat lobha yang tergolong negatif akan menyebabkan seseorang terdorong untuk melakukan kejahatan karena merasa tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Orang yang memiliki sifat lobha yang negatif dapat menumbuhkan rasa gusar, resah, gelisah, dan tidak senang.
Sifat lobha tertuang dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 267, sebagai berikut:

jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasça
prajñāmāhanti prajñā hanti hatā çriyam
.
Terjemahan:
Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain, hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu, itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

3. Krodha
Krodha adalah sifat pemarah yang dimiliki manusia. Orang yang dipengaruhi kemarahan dapat menjadi sumber penderitaan dan kesengsaraan. Sifat krodha juga dapat menyebabkan pikiran tidak terkontrol sehingga dapat dijauhi semua orang. Sifat marah tertuang dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 96, sebagai berikut:

na catravah ksayam yānti yāvajjīvamapi ghnatah,
krodham niyantum yo veda tasya dvestā na vidyate.

Terjemahan:
Sebenarnya, meskipun orang itu selalu jaya terhadap seterunya, serta tak terbilang jumlah musuh yang dibunuhnya, asal yang dibencinya musnah, selama hidupnya pun, jika ia hanya menuruti kemarahan hatinya belaka, tentu saja tidak akan habis-habis musuhnya itu. Akan tetapi, orang yang benar-benar tidak mempunyai musuh adalah orang yang berhasil mengekang kemarahan hatinya.

4. Moha
Moha adalah sifat bingung yang dapat menyebabkan pikiran menjadi gelap. Hal ini akan menyebabkan orang tersebut tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pustaka suci Bhagavad-gītā XVIII.25 menjelaskan bahwa:

anubhandham kshayam himsām
anapekshya ca paurusam
mohād ārabhyate karma
yat tat tāmasam ucyate
.
Terjemahan:
Kegiatan kerja yang dilakukan karena kebingungan tanpa menghiraukan akibatnya, menyakiti hati dan tak peduli akan kemampuan, yang demikian itu disebut tamasa.

Berdasarkan bunyi sloka di atas jelaslah bahwa orang yang bekerja dalam kondisi bingung tidak mampu bekerja dengan baik dan efektif. Kebingungan dapat menyebabkan manusia kehilangan arah. Terdapat beberapa sebab timbulnya kebingungan antara lain:
a. kesusahan yang amat dalam.
b. kehilangan terhadap sesuatu yang sangat dicintai
c. masalah yang tidak mampu dipecahkan

5. Mada
Mada adalah mabuk. Orang mabuk pikirannya tidak berfungsi secara baik. Akibatnya, timbullah sifat–sifat angkuh, sombong, takabur dan mengucapkan kata–kata yang menyakitkan hati orang lain. Contoh mada ialah mabuk kekayaan, mabuk karena ketampanan. Mabuk juga dapat ditimbulkan karena minum-minuman keras. Minum-minuman keras yang berlebihan akan menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran sehingga menimbulkan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 325, dijelaskan bahwa:

samklistakarmānamatipramādam bhūyo’nrtam cadr
dabhaktikam ca, vicistaragam bahumāyinam ca naitān niseveta
narādhamān sat.

Terjemahan:
Inilah misalnya orang yang tidak patut dijadikan kawan bergaul, orang yang mengusahakan penyakit dan kesedihan kepada orang lain, serta buruk laku, orang yang lupa, orang berbohong atau dusta, orang yang terikat hatinya kepada minuman keras, keenam orang yang sangat keji itulah, yang patut dihindarkan.

Kemabukan dalam pandangan agama Hindu banyak jenisnya, Adapun kemabukan dalam diri ada tujuh jenisnya, yang lebih dikenal dengan sebutan Sapta Timira, yakni sebagai berikut.
a. Surupa artinya mabuk karena kecantikan atau ketampanan
b. Dana artinya mabuk karena kekayaan atau harta benda
c. Kulina artinya mabuk karena keturunan atau kebangsawanan
d. Yowana artinya mabuk karena keremajaan
e. Sura artinya mabuk karena minuman keras
f. Guna artinya mabuk karena kepandaian
g. Kasuran artinya mabuk karena keberanian

6. Matsarya
Matsarya adalah sifat dengki atau iri hati. Hal ini akan menyiksa diri sendiri dan dapat merugikan orang lain. Orang yang matsarya merasa hidupnya susah, miskin, bernasib sial sehingga akan menyiksa batinnya sendiri. Dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 88, dijelaskan bahwa:

abhīdhyāluh parasvesu
neha nāmutra nandati,
tasmādabhidhyā santyājyā sarvadābhīpsatā sukham.

Terjemahan:
Adalah orang yang tabiatnya menginginkan atau menghendaki milik orang lain, menaruh iri hati akan kebahagian orang lain; orang yang demikian tabiatnya, sekali-kali tidak akan mendapat kebahagiaan di dunia ini, ataupun di dunia yang lain; oleh karena itu patut ditinggalkan tabiat itu oleh orang yang ingin mengalami kebahagiaan abadi.

BENTUK-BENTUK PELAKSANAAN YADNYA

Tari Topeng Sidakarya dalam Yadnya
Pelaksanaan Yadnya bukan hanya dalam bentuk upacara yadnya dengan menggunakan persembahan berupa banten / upakara saja, melainkan Yadnya dapat dilaksanakan dalam bentuk yang beragam karena yadnya itu merupakan segala bentuk kegiatan atau pengorbanan yang dilakukan dengan tulus ikhlas tanpa mengharapkan pamrih. Sehingga dengan demikian, Yadnya dapat dilakukan dalam bentuk yang bermacam-macam. Ada yadnya yang dilaksanakan dalam bentuk persembahan dengan menggunakan sarana berupa banten / sesajen, dalam bentuk pengorbanan diri yaitu pengendalian diri, mengorbankan segala aktivitas, mengorbankan harta benda dan pengorbanan dalam bentuk ilmu pengetahuan. Bentuk yadnya ini diuraikan / dijelaskan secara tegas dalam kitab Bhagavadgita IV.28 yang isinya adalah sebagai berikut:
“Dravya-yajnana tapo-yajna yoga-yajnas tathapare,
Svadhyaya-jnana-yajnas ca yatayah samsita-vratah.”

Terjemahannya:
“Setelah bersumpah dengan tegas, beberapa diantara mereka dibebaskan dari kebodohan dengan cara mengorbankan harta bendanya. Sedangkan orang lain dengan melakukan pertapaan yang keras, dengan berlatih yoga kebathinan terdiri atas delapan bagian, atau dengan mempelajari Veda untuk maju dalam pengetahuan suci”
Selanjutnya dijelaskan tentang bentuk pelaksanaan Yajna dalam kitab Bhagavadgita IV.II yang isinya adalah sebagai berikut:
“Ye yatha mam prapadyante tams tathaiva bhajamy aham,
Mama vartmanuvartante manusyah partha sarvasah”

Terjemahannya:
“Sejauh mana orang menyerahkan diri kepada-Ku, aku menganugrahi mereka sesuai dengan penyerahan dirinya itu, semua orang menempuh jalan-Ku, dalam segala hal, Wahai putra Partha”
Sangat jelas dari kedua sloka tersebut telah dinyatakan bahwa Tuhan akan menerima umatnya melalui Yadnya yang dilakukan yang pelaksanaannya dapat dipilih oleh umat. Seperti dengan melakukan penyerahan diri pada Tuhan, Tapa dan persembahan yang tulus dan ikhlas.

Pembagian Yajna berdasarkan Waktu Pelaksanaannya
Terkait dengan waktu melaksanakan Yajna, maka Yajna dapat dibedakan atas 3 bagian, yaitu:
1) Nitya Yajna
2) Naimittika Yajna
3) Insidental

1. Nitya Yajna
Nitya yajna adalah Yajna yang dilaksanakan setiap hari. Contoh pelaksanaan Yajna yang dilakukan sehari-hari adalah Tri Sandhya, Yadnya sesa dan Jnana Yajna.
a) Tri Sandhya, merupakan bentuk Yajna yang dilaksnakan setiap hari dengan kurun waktu pagi hari, siang hari dan sore hari. Pelaksanaan dari Tri Sandhya adalah untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas segala anugerah yang telah dilimpahkan-Nya.

b) Yadnya Sesa, juga disebut dengan masaiban atau ngejot. Merupakan Yajna yang dilakukan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta dengan segala manifestasinya setelah memasak atau sebelum menikmati makanan. Yadnya sesa dilakukan dengan tujuan untuk mengucapkan rasa terima kasih dan syukur atas segala anugerah yang diberikan. Adapun petikan sloka yang terkait dengan pelaksanaan Yadnya sesa adalah sebagai berikut:
“Yajna-ssstasinah santo mucyantesarva-kilbisaih,
Bhunjate te tv agham papa pacanty atma-karanat.”

Artinya:
“Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa,
Karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang hanya menyiapkan makanan untuk menikmati indriya-indriya pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja”
Makna dari pelaksanaan Yadnya sesa adalah sebagai berikut:
- Mengucapkan rasa terima kasih dan syukur kepada Tuhan
- Belajar dan berlatih dalam pengendalian diri
- Melatih sikap untuk tidak mementingkan diri sendiri

Selanjutnya dalam pelaksanaan yadnya sesa terdapat tempat-tempat tertentu untuk mempersembahkan banten saiban tersebut, yaitu:
- Di halaman rumah, dipersembahkan kepada Ibu Pertiwi
- Di tempat air, dipersembahkan kepada Dewa Wisnu
- Di kompor atau tungku, dipersembahkan kepada Dewa Brahma
- Di pelangkiran, di atap rumah, yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Akasa dan Ether
- Di tempat beras
- Di tempat saluran air (sombah)
- Di tempat menumbuk padi
- Di pintu keluar pekarangan (Lebuh)

c) Jnana Yajna, merupakan Yajna dalam bentuk pengetahuan. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan proses belajar dan mengajar yang baik, baik formal maupun informal. Jnana yajna dapat dilakukan setiap hari dan setiap saat dengan menerapkan pembelajaran yang baik menuju peningkatan pengetahuan dan kualitas diri. Karena dengan pengetahuan, manusia akan dapat menyadari esensi dalam diri dan dapat berpikir yang luas sehingga dapat berbuat yang baik dan bijaksana.

2. Naimittika Yajna

Naimittika yajna merupakan yajna yang dilakukan secara berkala dan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal. Pelaksanaan Naimittika yajna menggunakan suatu perhitungan tertentu dengan dasar perhitungannya adalah sebagai beriktu:
a) Berdasarkan perhitungan wara. Perhitungan wara adalah perhitungan yang menggunakan perpaduan antara Tri wara dengan panca wara.
Contohnya: Kajeng kliwon.
Menggunakan perpaduan antara Sapta wara dengan panca wara,
Contohnya: Buda wage, Buda kliwon, anggara kasih dan sebagainya.

b) Berdasarkan perhitungan Wuku, adalah pelaksanaan yajna yang dilakukan dengan memperhitungan pawukon. Contohnya : Galungan, Pagerwesi, Saraswati, Kuningan.

c) Berdasarkan atas perhitungan Sasih. Contohnya: Puranama, tilem, Nyepi, Siwaratri.

3. Insidental Yajna Insidental 
adalah Yajna yang dilaksanakan didasarkan atas adanya peristiwa atau kejadian-kejadian tertentu tidak terjadwal, namun dipandang perlu untuk dilaksanakan dan dibuatkan upacara persembahan. Melaksanakan Yadnya insidental adalah dilakukan sesuai dengan kemampuan, keadaan dan situasi. Dengan menyesuaikan tersebut maka Yajna dapat dilakukan sesuai dengan kwantitasnya yaitu Kanista, Madya, dan Mautama yang masing-masing memiliki 3 bagian sehingga tingkatan yajna sesuai dengan kwantitasnya berjumlah 9 tingkatan.

3 (tiga) Kwalitas Yadnya dalam Agama Hindu

Contoh Upacara yadnya yang Sattwika
Contoh Upacara yadnya yang Sattwika
Mengamalkan ajaran agama hindu dapat dilakukan dengan berbagai cara yang baik sesuai dengan kondisi umatnya namun tetap berdasarkan sastra. Tujuan dari Agama hindu adalah untuk mencapai penyatuan diri dengan Brahman. Dalam hal menghubungkan diri dengan Brahman, ada 4 jalan yang dapat dilakukan antara lain:
  1. Jnana marga yoga
  2. karma marga yoga
  3. Bhakti marga yoga
  4. Raja marga yoga
Dalam pelaksanaan bhakti marga yoga dapat dilakukan dengan menunjukan rasa bhakti dan cinta kasih sepenuhnya untuk Brahman dan melalui persembahan kepada Tuhan. Di Bali, jalan Bhakti dapat dilihat dari pelaksanaan Upacara Yadnya yang dilakukan oleh masyarakatnya. Dalam pelaksanaan Upacara yadnya ini, tentu saja penerapannya dipengaruhi oleh Tri Guna yang telah dibawa oleh manusia sejak lahir, yaitu guna sattwam, guna rajas, dan guna tamas.
Pengaruh tri guna dalam pelaksanaan Upacara yadnya, menyebabkan pelaksanaan yadnya memiliki kwalitas yang berbeda sesuai dengan motif dari yadnya yang dilaksanakan. Kwalitas yadnya dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:
  • Sattwika yadnya yang pelaksanaannya lebih banyak dipengaruhi oleh guna sattwa. Sehingga pelaksanaan yadnya yang sattwika dilakukan sesuai dengan arahan dari sastra dan pelaksanaannya mengandung unsur Karya, Sreya, Budhi dan bhakti. Bila keempat unsur tersebut telah ada dalam pelaksanaan Yadnya, maka yadnya yang dilakukan tergolong dalam Sattwika Yadnya.
  • Rajasika Yadnya, pelaksanaan upacara yadnya-nya dipengaruhi oleh guna rajas. Wujud dari pelaksanaan Rajasika Yadnya adalah pelaksanaan yadnya lebih pada pengharapan akan hasilnya. Pelaksanaan yadnya yang Rajasika bersifat pamer sehingga tujuannya membuat orang yang melihat menjadi terkagum-kagum dan takjub. Dalam pelaksanaan yadnya yang rajasika, unsur tanpa pamrihnya tidak kelihatan.
  • Tamasika Yadnya adalah yadnya yang dilakukan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastra, mantra, kidung suci, daksina dan sraddha. Keyakinan seseorang yang melaksanakan yadnya tidaklah nampak. demikian juga keseimbangan dari upacara yadnya tidak terlihat. Penerapan yadnya lebih pada paksaan. Sehingga banyak umat yang memiliki watak guna tamas akan selalu mengeluh dalam melaksanakan yadnya.
Demikian kwalitas yadnya yang dilakukan sesuai dengan sifat-sifat dari manusia yang melakukan. Kewajiban umat adalah agar dapat melaksanakan yadnya yang sattwika dengan mengendalikan sifat rajas dan tamas yang bergejolak dalam diri.

Deskripsi Tentang Industri Perhotelan - Materi Industri perhotelan kelas X

MODUL 1
Deskripsi Tentang Industri Perhotelan

Kompetensi Dasar:
3.1. Mendeskripsikan tentang industri perhotelan
4.1. Menemukan informasi tentang industri perhotelan

Indikator:
1. Menjelaskan Pengertian Hotel
2. Menjelaskan bagian departemen pada usaha perhotelan
3. Menjelaskan Fasilitas Usaha Hotel
4. Menjelaskan gambaran umum aktivitas industri perhotelan

Tujuan pembelajaran:
1. Siswa mampu menjelaskan Pengertian Hotel
2. Siswa mampu menjelaskan bagian departemen pada usaha perhotelan
3. Siswa mampu menjelaskan Fasilitas Usaha Hotel
4. Siswa mampu menjelaskan gambaran umum aktivitas industri perhotelan

Materi:
1. Pengertian Hotel
2. Ruang lingkup industri perhotelan
3. Departemen dalam industri Perhotelan

Metode Pembelajaran:
1. Dikusi 
2. Ceramah
3. Tanya Jawab
4. Penugasan
5. Presentasi 
6. Demonstrasi

Sumber Belajar
1. Buku Pengantar Wisata Jilid I, Internet, Surat kabar.

Penilaian
1. Penilaian sikap
2. Penugasan
3. Presentasi
4. Ketrampilan
5. Tes tertulis

Indikator penilaian Sikap
Kerja sama, Mengkomunikasikan pendapat , Toleransi, Sopan, Keaktifan, Menghargai pendapat teman, Berpakaian rapi.


I. PENGERTIAN HOTEL

Berikut ini dikutif beberapa pengertian hotel :

a. Menurut kamus Oxford, The advance learner’s Dictionary adalah: “Building where meals and rooms are provided for travelers.” Yang dapat diartikan sebagai bangunan (fisik) yang menyediakan layanan kamar, makanan dan minuman bagi tamu.

b. Menurut SK Menparpostel no.KM 37/PW.340/MPPT-86 tentang peraturan usaha dan pengelolaan hotel menyebutkan bahwa hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial.

c. Menurut the American Hotel and Motel Association (AHMA) sebagaimana dikutif oleh Steadmon dan Kasavana: A hotel may be defined as an establishment whose primary business is providing lodging facilities for the general public and which furnishes one or more of the following services: food and beverage service, room attendant service, uniformed service, Laundering of linens and use of furniture and fixtures.
Yang dapat diartikan sebagai berikut:
Hotel dapat didefinisikan sebagai sebuah bangunan yang dikelola secara komersial dengan memberikan fasilitas penginapan untuk umum dengan fasilitas pelayanan sebagai berikut: pelayanan makan dan minum, pelayanan kamar, pelayanaan barang bawaan, pencucian pakaian dan dapat menggunakan fasilitas/perabotan dan menikmati hiasan-hiasan yang ada didalamnya.

Hotel adalah suatu perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makanan, minuman dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang-orang yang sedang melakukan perjalanan dan mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus.

Dengan mengacu pada pengertian-pengertian tersebut di atas, dan untuk penggolongan hotel di Indonesia, pemerintah menurunkan peraturan yang dituangkan dalam surat keputusan Menparpostel, bahwa hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa pelayanan, penginapan, makan dan minuman serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hotel adalah:
1. Suatu jenis akomodasi
2. Menggunakan bangunan fisik.
3. Menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa lainnya
4. Diperuntukkan bagi umum
5. Dikelola secara komersial, yang dimaksud dengan dikelola secara komersial adalah : dikelolah dengan memperhitungkan untung atau ruginya, serta yang utama adalah bertujuan untuk mendapatkan keuntungan berupa uang sebagai tolak ukurnya.

II. Ruang Lingkup Usaha Perhotelan
Hotel merupakan wadah yang menyediakan sarana tempat tinggal sementara (akomodasi) bagi umum, yaitu : orang-orang yang datang dengan berbagai ragam tujuan, maksud serta keperluan ke daerah di mana hotel berdomisili.

Hotel memilih domisilinya di tempat-tempat atau di lingkungan daerah yang memiliki potensi untuk dikunjungi, seperti panorama, adat istiadat masyarakat, social, budaya, sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, keagamaan dan pusat kegiatan spiritual dan lain-lain.

Hotel sebagai tempat tinggal sementara harus dapat mencerminkan pola kebudayaan masyarakatnya dalam arti yang luas.

Hotel diharapkan dapat mencerminkan suasana hunian yang dinamis, kreatif, serta dapat menciptakan suasana yang homogeny di tengah-tengah suasana yang heterogen di daerah di mana hotel berlokasi.

III. Fasilitas Usaha Hotel
Hotel merupakan bagian yang integral dari usaha pariwisata yang menurut Keputusan Menparpostel disebutkan sebagai suatu usaha akomodasi yang dikomersialkan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas sebagai berikut :
1. Kamar tidur (kamar tamu)
2. Makanan dan minuman
3. Pelayanan-pelayanan penunjang lain seperti :
    a. Tempat-tempat rekreasi
    b. Fasilitas olah raga
    c. Fasilitas laundry, dsb

Hotel merupakan usaha jasa pelayanan yang cukup rumit pengelolaannya, dengan menyediakan berbagai fasilitas yang dapat dipergunakan oleh tamu-tamunya selama 24 jam (untuk klasifikasi hotel berbintang 4 dan 5). Di samping itu, usaha perhotelan juga dapat menunjang kegiatan para usahawan yang sedang melakukan perjalanan usaha ataupun para wisatawan pada waktu melakukan perjalanan untuk mengunjungi daerah-daerah tujuan wisata, dan membutuhkan tempat untuk menginap, makan dan minum serta hiburan.

Gambar. 2.1 Beberapa Gambar Bangunan Hotel 
Contoh bangunan Hotel - industri perhotelan
Contoh bangunan hotel

Di samping itu seringkali disediakan sarana penunjang seperti: fasilitas olahraga, bisnis centre, kolam renang, musik hidup,dan jenis atraksi lainnya. Layanan yang ramah mulai dari pimpinan puncak sampai dengan karyawan pelaksana diperlukan untuk memberikan kepuasan kepada setiap tamu.

Adapun fasilitas yang di miliki hotel biasanya sebagai berikut :
- Jasa penginapan
- Pelayanan makan dan minum
- Jasa laundry
- Jasa bawa’an
- Jasa penggunaan perabot dan lainnya
- Jasa menyediakan kebutuhan bagi wisatawan yang bermalam di hotel

IV. Departemen Dalam Hotel

1. Room Departement:
· Front Office, berfungsi dalam memberikan pelayanan pada bagian depan hotel
· Room Division, berfungsi dalam administrasi yang berkaitan dengan kamar
· Housekeeping, berfungsi dalam masalah penyiapan dan pembersihan kamar
· Reservation, berfungsi menerima reservasi dari tamu dan agen
· Roommaid/Roomboy, berfungsi menyiapkan dan membersihkan kamar
· Bellboy, memberikan pelayanan mengantar & membawa barang tamu
· Operator, berfungsi memberikan pelayanan melalui telepon

2. Food & Beverage Departement:
· Cook, berfungsi menyiapkan menu sesuai order dan bertugas pd F & B produksi
· Steward, berfungsi membantu cook membersihkan peralatan dapur
· Waiter/Waitress, berfungsi memberikan pelayanan pd tamu dan bertugas pada F & B service

3. Accounting Departement:
· General Cashier, berfungsi mengadministrasikan penerimaan dan pengeluaran kas dan bertugas pada back office
· Income auditor, berfungsi melaporkan pendapatan hotel dan bertanggung jawab atas pengendaliannya
· Credit, berfungsi melakukan analisa kredit kredit dan kebutuhan modal kerja hotel
· Staff (accounting Receivable, Acconting Payable), berfungsi membantu pengadministrasian piutang dan hutang
· Marketing/Sales, berfungsi dalam administrasi pemasaran hotel
· Personnel, berfungsi dalam administrasi karyawan hotel

4. Monor Departemen:
o Operator, berfungsi memberikan pelayan telepon
o Laundry, berfungsi memberikan pelayan laundry
o Sport, berfungsi memberikan pelayanan fasilitas olahraga
o Sauna dan lain-lain

5. Fungsi Lain:
o Purchasing, berfungsi melakukan pembelian barang keperluan hotel
o Security, berfungsi menjaga keamanan hotel
o Houseman, berfungsi melakukan pembersihan area luar kamar

V. Gambaran Umum Aktivitas Industri Perhotelan
Secara umum, ruang lingkup kegiatan subsektor industri hotel meliputi penyediaan jasa di bidang perhotelan dengan segala fasilitas dan sarana penunjangnya yang terdiri dari :
1. Akomodasi (yaitu ruang inap beserta seluruh kelengkapannya)
2. Perkantoran (yaitu ruang kantor beserta fasilitas komunikasi)
3. Pusat perbelanjaan (yaitu ruang toko beserta fasilitas penunjangnya)
4. Apartemen (yaitu ruang huni permanen beserta kelengkapannya)
5. Sarana rekreasi dan hiburan (contoh restoran, kafe, kolam renang, pusat kebugaran, sauna, dan lain-lain)
6. Sarana penunjang lainnya (contoh areal parkir, binatu, banquet, jasa boga, pusat layanan kegiatan bisnis, tranportasi, pemesanan tiket, perwakilan agen wisata, dan lain-lain)

Oleh karena seluruh kegiatan yang tersebut di atas umumnya terintegrasi dalam satu lokasi, maka pihak manajemen hotel biasanya menerapkan konsep responsibility center untuk mengukur dan mengakui pendapatan dan bebannya. Secara umum, pihak manajemen hotel membagi pengelolaan manajemen menjadi dua bagian yaitu:
1. Penyedia jasa selaku profit center
2. Pemelihara sarana dan prasarana selaku cost center.

Dari segi status, pihak pengelola hotel dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Hotel Owner
2. Hotel Operator
3. Hotel Franchisor

Dalam pelaksanaannya, status pihak pengelola hotel dapat terpisah-pisah seperti kategori di atas namun tidak tertutup kemungkinan satu pihak memiliki gabungan ketiga status tersebut.

VI. Istilah

1. City Ledger ialah bagian dari buku besar tambahan yang memuat rincian piutang usaha dari konsumen jasa hotel setelah yang bersangkutan meninggalkan hotel secara permanen (sudah check-out). Biasanya hal ini terjadi apabila ada lembaga lain yang bertanggung jawab atas pembayaran hotel, contoh: agen wisata, kantor, dan lain-lain.
2. Guest Ledger ialah bagian dari buku besar tambahan yang memuat rincian piutang usaha dari konsumen jasa hotel pada saat yang bersangkutan masih menginap di hotel (belum check-out).
3. Hotel Franchisor adalah pihak yang berstatus sebagai pemilik waralaba pengelolaan operasional kegiatan hotel dan berhak menjualnya kepada pihak lain, dalam hal ini hotel owner.
4. Hotel Operator adalah pihak yang berstatus sebagai pengelola operasional kegiatan hotel.
5. Hotel Owner adalah pihak yang berstatus sebagai pemilik hotel.


WACANA

INDUSTRI PERHOTELAN INDONESIA

Industri perhotelan di Indonesia merupakan salah satu kontributor devisa negara, terutama dalam kaitannya dengan pariwisata Indonesia.

Pariwisata & Akomodasi = HOSPITALITY INDUSTRY

Bidang studi Hospitality semakin hari semakin populer dan berharga, dikarenakan bidang pengetahuan hospitality selalu berkembang dan akan selalu dibutuhkan terutama dalam dunia kerja. 

World Tourism Organization (WTO) menyatakan bahwa jumlah orang-orang yang melakukan aktivitas bepergian akan meningkat dari waktu ke waktu. Oleh karena itu maka kebutuhan tenaga kerja terampil untuk menjalankan kegiatan operasional dari segi layanan pariwisata, transportasi, hingga akomodasi akan selalu dibutuhkan untuk menunjang industri tersebut. Bahkan WTO juga menyatakan bahwa industri hospitality nantinya akan menjadi salah satu industri terbesar di dunia, dimana para profesional yang telah memahami hospitality dapat bekerja pada sektor strategis.

Apa yang dimaksud dengan esensi hospitality?
Terdapat penjelasan kamus mengenai hospitality, yaitu: keramahtamahan sebagai suatu bentuk penerimaan (penyambutan) untuk memberikan kenyamanan; atau secara praktis menciptakan suasana nyaman sebagai bentuk layanan.

Industri hospitality dapat juga didefinisikan sebagai industri yang berhubungan dengan sifat keramahtamahan, pelayanan, dan memberikan kenyamanan kepada konsumen. 

Manajemen hospitality di sisi lain lebih berfokus ke arah studi mengenai tata kelola perusahaan berkaitan dengan penyediaan layanan akomodasi secara profesional.

Beberapa aspek manajemen hospitality:
Studi terhadap manajemen hospitality lebih banyak menekankan pada aspek bisnis dari suatu kegiatan operasional hospitality, seperti misalnya pengaturan keuangan, pemasaran, sumber daya manusia, dll. Dengan tidak melupakan aspek-aspek penting seperti operasional hospitality, manajemen f&b, manajemen kantor depan, manajemen tata graha, manajemen pengelolaan acara, dan terutama esensi layanan pariwisata. 

_________________________________________
Indonesia dan prospek hospitality
_________________________________________
Pada survey pariwisata dan travel dunia yang dilakukan secara acak, Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup kompetitif pada kategori hotel dengan prospek bisnis. Bahkan faktanya dapat dilihat beberapa vila eksklusif dengan pemandangan yang indah sebagian diantaranya dimiliki oleh warga negara asing dan diperuntukkan bagi para warga negara asing.

Terlepas dari hal itu, terdapat juga sebuah survey yang menyatakan bahwa interaksi yang terjadi antara para turis dan para pekerja bidang hospitality di Indonesia terjalin sangat baik. Bahkan beberapa diantaranya juga saling menambahkan akun sosial media sebagai sarana dalam menjalin hubungan baik. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa Negara Indonesia memang dikenal dengan budaya ramah, oleh karenanya bidang hospitality merupakan salah satu bidang yang sesuai untuk mengangkat nilai-nilai budaya terutama sebagai keramahan bangsa.


Peluang Karier :

Beberapa pilihan karier pada bidang industri hospitality diantaranya:
-Travel & Pariwisata
-Layanan Penerbangan & Pelayaran Pesiar
-Hotel, Apartemen, Restoran, Katering
-Penyelenggaraan Acara (Rapat, Eksibisi, Konvensi, dll.)
-Hiburan (Entertainment)
-Humas, Pemasaran dan Penjualan
-Spa, Health & Sports Club
-Sarana Rekreasi
-Dan berbagai atraksi hospitality lainnya.



Daftar Pustka

- Suwithi, ni Wayan, Dkk. 2008. Akomodasi Perhotelan untuk SMK Jilid 1. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

- Nn.tt. Industri Perhotelan Indonesia . Web: http://perhotelan.org/indonesia/

- Suci, Titis. 2013. Pengertian Hotel. Web: http://titissuci3ap134.blogspot.com/

- Meweks, Awin. 2011. Memahami Ruang Lingkup Usaha Perhotelan . Web: http://meweks.blogspot.com/2011/12/memahami-ruang-lingkup-usaha-perhotelan.html

- Symfoni.2013. Hospitality Perhotelan. Web : http://anisanurdzakya3ap104.blogspot.com/

Kompetensi Dasar (KD) Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMK Kelas X Kurikulum 2013

Melasti ke segara
Mungkin ada banyak dari rekan-rekan guru agama Hindu yang sedang mencari Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMK Kelas X Kurikulum 2013. Nah biar anda tidak bingung, berikut ini kami akan membagikannya.

Kompetensi Dasar (KD) Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMK Kelas X Kurikulum 2013

Blog Archive

Artikel Menarik