"Selamat datang di situs The Bali Buzz, www.rah-toem.blogspot.com"

Yajña dalam Mahabharata dan Masa Kini

Svar yanto nāpekṣanta, ā dyaṁ rohanti rodasi.
 yajñam ye vi vatodharam, savidvamso vitenire
”.
Terjemahannya:
”Para sarjana yang terkenal yang melaksanakan pengorbanan, mencapai kahyangan (sorga) tanpa suatu bantuan apa pun. Mereka membuat jalan masuk dengan mudah ke kahyangan (sorga), yang menyeberangi bumi dan wilayah- pertengahan”. (Yajur Veda XXIII.62)


Memahami Teks
Sarpayajña

Pada zaman Mahabharata dikisahkan Panca Pandawa melaksanakan Yajña Sarpa yang sangat besar dan dihadiri seluruh rakyat dan undangan yang terdiri atas raja- raja terhormat dari negeri tetangga. Bukan itu saja, undangan juga datang dari para pertapa suci yang berasal dari hutan atau gunung. Tidak dapat dilukiskan betapa meriahnya pelaksanaan upacara besar yang mengambil tingkatan utamaning utama.
Yajña dalam Mahabharata dan Masa Kini
Upacara agni hotra
Menjelang puncak pelaksanaan yajña, datanglah seorang brahmana suci dari hutan ikut memberikan doa restu dan menjadi saksi atas pelaksanaan upacara yang besar itu. Seperti biasanya, setiap tamu yang hadir dihidangkan berbagai macam makanan yang lezat dalam jumlah yang tidak terhingga. Kepada brahmana utama ini diberikan suguhan yang enak-enak. Setelah melalui perjalanan yang sangat jauh dari gunung ke ibu kota Hastinapura, ia sangat lapar dan pakaiannya mulai terlihat kotor. Begitu dihidangkan makanan oleh para dayang kerajaan, Sang Brahmana Utamapun langsung melahapnya dengan cepat bagaikan orang yang tidak pernah menemukan makanan. Bersamaan dengan itu melintaslah Dewi Drupadi yang tidak lain adalah penyelenggara yajña besar tersebut.

Melihat cara Brahmana Utama menyantap makanan dengan tergesa-gesa, berkomentarlah Drupadi sambil mencela. “Kasihan Brahmana Utama itu, seperti tidak pernah melihat makanan, cara makannya tergesa- gesa,”kata Drupadi dengan nada mengejek. Walaupun jarak antara Dewi Drupadi dengan Sang Brahmana Utama cukup jauh, tetapi karena kesaktiannya ia dapat mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Drupadi. Sang Brahmana Utama diam, tetapi batinnya kecewa. Drupadi pun melupakan peristiwa tersebut.


Dalam ajaran agama Hindu, disampaikan bahwa apabila kita melakukan tindakan mencela, maka pahalanya akan dicela dan dihinakan. Terlebih lagi apabila mencela seorang Brahmana Utama, pahalanya bisa bertumpuk-tumpuk. Dalam kisah berikutnya, Dewi Drupadi mendapatkan penghinaan yang luar biasa dari saudara iparnya yang tidak lain adalah Duryadana dan adik-adiknya.

Di hadapan Maha Raja Drestarata, Rsi Bisma, Begawan Drona, Kripacarya, dan Perdana Menteri Widura serta disaksikan oleh para menteri lainnya, Dewi Drupadi dirobek pakaiannya oleh Dursasana atas perintah Pangeran Duryadana. Perbuatan biadab merendahkan kehormatan wanita dengan merobek pakaian di depan umum, berdampak pada kehancuran bagi negeri para penghina. Terjadinya penghinaan terhadap Drupadi adalah pahala dari perbuatannya yang mencela Brahmana Utama ketika menikmati hidangan.

Dewi Drupadi tidak bisa ditelanjangi oleh Dursasana, karena dibantu oleh  Krisna dengan memberikan kain secara ajaib yang tidak bisa habis sampai adiknya Duryadana kelelahan lalu jatuh pingsan. Krisna membantu Drupadi karena Drupadi pernah berkarma baik dengan cara membalut jari Krisna yang terkena Panah Cakra setelah membunuh Supala. Pesan moral dari cerita ini adalah, kalau melaksanakan yajña harus tulus ikhlas, tidak boleh mencela dan tidak boleh ragu-ragu.

Uji Kompetensi

1. Makna apa yang dapat dipetik dari pelaksanaan yajña dalam cerita Mahabharata?
2. Rangkumlah cerita diatas dan berikanlah komentarmu bagaimana mempersembahkan yajña agar berhasil! Sebelumnya diskusikanlah dahulu dengan orangtua di rumah.

Bagian-bagian panca yadnya (yajna dalam mahabharata) materi kelas XI

Bagian-bagian Panca Yadnya
Berdasarkan sasaran yang akan diberikan yajña, maka korban suci ini dibedakan menjadi lima jenis sebagai berikut.
a.    Dewa Yajña
Yajña jenis ini adalah persembahan suci yang dihaturkan kepada Sang Hyang Widhi dengan segala manisfestasi-Nya. Contoh Dewa Yajña dalam kesehariannya, melaksanakan puja Tri Sandya, sedangkan contoh Dewa Yajña pada hari-hari tertentu melaksanakan piodalan di pura dan lain sebagainya.
kāòksanta karmaṇāṁ siddhiṁ yajanta iha devatāá, kṣipraṁ hi mānuṣe loke siddhir bhavati karma-jā”.
Terjemahannya adalah.
“Mereka yang menginginkan keberhasilan yang timbul dari karma, beryajña di dunia untuk para deva, karena keberhasilan manusia segera terjadi dari karma, yang lahir dari pengorbanan”.  (Bhagavad Gita. IV.12).
b.    Rsi Yajña
Rsi Yajña adalah korban suci yang tulus ikhlas kepada para Rsi. Mengapa yajña ini dilaksanakan, karena para Rsi sudah berjasa menuntun masyarakat dan melakukan puja surya sewana setiap hari. Para Rsi telah mendoakan keselamatan dunia, alam semesta  beserta  isinya.  Bukan  itu  saja, ajaran suci Veda juga pada mulanya disampaikan oleh para Rsi. Para Rsi dalam hal ini adalah orang yang disucikan oleh masyarakat. Ada yang sudah melakukan upacara dwijati  disebut  pandita,  dan  ada yang melaksanakan upacara ekajati disebut pinandita atau pemangku. Umat hindu  memberikan   yajña   terutama pada saat mengundang orang suci yang dimaksud untuk menghantarkan upacara yajña yang dilaksanakan.


c.    Pitra Yajña
Upacara ngaben
Upacara ngaben
Korban suci jenis ini merupakan bentuk rasa normat dan terima kasih kepada para pitara atau leluhur karena telah berjasa ketika masih hidup melindungi kita. Kewajiban setiap orang yang telah dibesarkan oleh leluhur adalah memberikan persembahan yang terbaik secara tulus ikhlas. Ini sangat sesuai dengan ajaran suci Veda agar umat Hindu selalu saling memberi demi menjaga keteraturan sosial.

d.    Manusa Yajña
 Manusa Yajña adalah pengorbanan untuk manusia, terutama bagi mereka yang memerlukan bantuan. Umpamanya ada musibah banjir dan tanah longsor. Banyak pengungsi yang hidup menderita. Dalam situasi begini, umat Hindu diwajibkan melakukan Manusa Yajña dengan cara memberikan sumbangan makanan, pakaian layak pakai, dan sebagainya. Bila perlu terlibat langsung untuk menjadi relawan yang membantu secara sukarela. Dengan demikian, memahami Manusa Yajña tidak hanya sebatas melakukan serentetan prosesi keagamaan, melainkan juga seperti donor darah dan membantu orang miskin.

yeyathāmāṁ    prapadyante tāṁs tathaiva bhajāmy aham, Mamavartmānuvartante manusyaá partha sarvaṡaá”.
Terjemahannya adalah.
“Bagaimanapun (jalan) manusia mendekati-Ku, Aku terima wahai Arjuna. Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan”. (Bhagavad Gita.IV.11).
Manusa Yajña dalam bentuk ritual keagamaan juga penting untuk dilaksanakan. Karena sekecil apa pun sebuah yajña dilakukan, dampaknya sangat luas dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Umpamanya, kalau kita melaksanakan upacara potong gigi, maka semuanya ikut terlibat dan terkena dampaknya. Agama Hindu mengajarkan agar upacara Manusa Yajña. dilakukan  sejak  anak  dalam  kandungan  seorang   ibu.
Upacara pernikahan / pawiwahan
Upacara pernikahan / pawiwahan
 Ada beberapa perbuatan yang diajarkan oleh Veda sebagai bentuk pelaksanaan dari ajaran Manusa Yajña, antara lain:

  1.  Membantu orangtua, wanita atau anak-anak yang menyeberang jalan ketika kondisi lalu lintas sedang ramai.
  2. Menjenguk dan memberikan bantuan kepada teman yang sakit.
  3. Melakukan bakti sosial, donor darah, dan pengobatan gratis.
  4. Memberikan tempat duduk kita kepada orangtua, wanita, atau anak-anak ketika berada di dalam kendaraan umum.
  5. Memberikan beras kepada orang yang membutuhkan.
  6. Memberikan petunjuk jalan kepada orang yang tersesat.
  7. Membantu fakir miskin yang sangat membutuhkan pertolongan.
  8. Membantu teman atau siapa saja yang terkena musibah, bencana alam, kerusuhan, atau kecelakaan lalu lintas.
  9. Memberikan jalan terlebih dahulu kepada mobil ambulan yang sedang membawa orang sakit.
Semua perilaku ini wajib dilatih, dibiasakan, dan dikembangkan sebagai bentuk pelaksanaan Manusa Yajña. Dalam konteks ini, tidak berarti hanya melakukan upacara saja, tetapi juga termasuk membantu orang.

e.    Bhuta Yajña
Upacara Bhuta Yajña adalah korban suci untuk para bhuta, yaitu roh yang tidak nampak oleh mata tetapi ada di sekitar kita. Para bhuta cenderung menjadi kekuatan yang tidak baik, lebih suka mengganggu orang. Contoh upacara Bhuta Yajña adalah masegeh, macaru, tawur agung, panca wali krama. Sedangkan tujuannya adalah menetralisir kekuatan  bhuta  kala  yang kurang baik menjadi kekuatan bhuta hita yang baik dan mendukung kehidupan umat manusia.
Baca juga:
Pengertian dan Hakekat Yadnya (Yajña dalam Mahabharata)
Uji Kompetensi
  1. Apakah yang dimaksud dengan yajña dan jelaskanlah salah satu contohnya yang sudah kamu lakukan dalam kehidupan sehari- hari!
  2. Sebutkan bagian-bagian dari Panca Yajña dan berikan masing-masing satu contohnya!
  3. Coba jelaskan apa yang dimaksud dengan upakara dan upacara dalam yajña?

Pengertian dan Hakekat Yadnya (Yajña dalam Mahabharata)

Yajña dalam Mahabharata

Sahayajñāh prajāh sṛṣtvā puro ‘vāsa prajāpatiá, anena prasavisyadhvam eṣa vo ‘iṣtakhamadhuk”.
Terjemahannya:
”Pada zaman dahulu kala Prajapati (Tuhan Yang Maha Esa) menciptakan manusia dengan yajna
dan bersabda; dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu ”. (Bhagavad Gita, III.10).

Setiap tindakan tanpa dilandasi keyakinan yang mantap, akan sia-sia. Demikian pula keyakinan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sraddha apnoti brahma apnoti, mereka yang memiliki iman yang mantap dapat mencapai dan bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa, demikian pula dalam melaksanakan yajna, mutlak dilandasi Sraddha (keimanan atau keyakinan) yang mantap.


A.    Pengertian dan Hakikat Yajña

Ojaṡce me, sahaṡca me, ātmā ca me, tanūṡca me, ṡarma ca me, varma came, yajñena kalpantām.”
Terjemahannya adalah.
“Dengan sarana persembahan (yajña), semoga kami memperoleh sifat-sifat  yang berikut ini: kemuliaan, kejayaan, kekuatan rohaniah, kekuatan jasmaniah, kesejahteraan dan perlindungan.”  (Yajur Veda XVIII.3)


Kata yajña berasal dari bahasa Sansekerta, dengan akar kata ”yaj” berarti memuja, mempersembahkan, korban. Dalam kamus bahasa Sansekerta, kata yajña diartikan; upacara korban, orang yang berkorban yang berhubungan dengan korban (yajña). Dalam kitab Bhagavad Gita dijelaskan, yajña artinya suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran untuk melaksanakan persembahan kepada Tuhan.
Pengertian dan Hakekat Yadnya (Yajña dalam Mahabharata)
Yadnya - sembahyang di pura melanting

Yajña berarti upacara persembahan kurban suci. Pemujaan yang dilakukan menggunakan kurban suci memerlukan dukungan sikap dan mental yang suci juga. Sarana yang diperlukan sebagai perlengkapan sebuah yajña disebut dengan istilah upakara.

Upakara yang tertata dalam bentuk tertentu yang difungsikan sebagai sarana memuja keagungan Tuhan disebut sesajen. Upakara dapat diartikan memberikan pelayanan yang ramah tamah atau kebaikan hati. Dengan demikian sudah semestinya setiap upakara yang dipersembahkan hendaknya dilandasi dengan kemantapan, ketulusan dan kesucian hati, yang diwujudkan dengan sikap dan perilaku ramah tamah bersumber dari hati yang hening dan suci.


Tata cara atau rangkaian pelaksanaan suatu yajña disebut upacara. Kata upacara dalam kamus Sansekerta diartikan mendekati, kelakuan, sikap, pelaksanaan, kecukupan, pelayanan sopan santun, perhatian, penghormatan, hiasan, upacara, pengobatan. Kegiatan upacara dapat memberikan ciri-ciri tersendiri bagi agama- agama tertentu, sekaligus membedakannya dengan agama-agama yang lainnya. Setiap agama memiliki tatanan tersendiri dalam melaksanakan upacaranya. Di dalam pelaksanaan upacara diharapkan terjadinya suatu upaya untuk mendekatkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta prabhawanya, kepada alam lingkungannya, para pitara, para rsi atau maha rsi dan manusia sebagai sesamanya.

Wujud dari pendekatan itu dapat dilakukan dengan berbagai bentuk persembahan maupun tata pelaksanaan sebagaimana yang ditentukan dalam berbagai sastra yang memuat ajaran agama Hindu. Kesucian itu adalah sifat dari  Tuhan  Yang  Maha Esa. Siapa pun orangnya bila berkeinginan mendekatkan diri dan berdoa ke hadapan Tuhan Yang Maha Suci, hendaknya menyucikan diri secara lahiriah dan bathiniah. Secara alamiah dunia beserta isinya harus bergerak harmonis, selaras, seimbang, dan saling mendukung. Agama Hindu mengajarkan umatnya selalu hidup harmonis, seimbang, selaras, dan saling mendukung.

Tidak dibenarkan sama sekali oleh ajaran suci Veda hanya meminta saja dari alam, tetapi memberi kepada alam juga menjadi sebuah kewajiban dalam rangka menjaga keseimbangan alam. Katakanlah dengan bunga, kata orang bijak yang masih relevan dilakukan sepanjang zaman. Ketika memberi, tak boleh mengharapkan pengembalian, itu merupakan ajaran Veda tentang ketulusikhlasan. Saling memberi adalah satu-satunya cara untuk menjaga keteraturan sosial. Jangan heran bila di masyarakat dalam setiap upacara adat keagamaan selalu saling memberikan makanan.

Alam semesta ini diciptakan oleh Brahman dengan kekuatan-Nya sebagai Dewa Brahma. Isi alam yang kita nikmati untuk kesehatan lahir dan batin. Makanan yang disediakan oleh alam harus disyukuri dan dinikmati secara seimbang. Kitab suci Veda mengajarkan umat hindu dalam menyampaikan rasa syukur dengan memakai isi alam, yaitu bunga, daun, cahaya, air, dan buah. Isi alam ini dikemas, ditata dalam aturan tertentu sehingga menjadi sesajen persembahan (banten).Sesajen ini dipakai sebagai media persembahan kepada Brahman.

Sesajen atau banten bukan makanan para dewa atau Tuhan, melainkan sarana umat dalam menyampaikan dan mewujudkan rasa bakti dan syukur kepada Brahman, Sang Hyang Widhi. Di dalam ajaran suci Veda, Santi Parwa atau Bhagavad Gita disebutkan, mereka yang makan sebelum memberikan yajña disebut pencuri. Veda mengajarkan tentang etika sopan santun, mengingat semua yang ada di dunia ini berasal dari Sang Hyang Widhi, maka tentu sangat sopan apabila sebelum makan diwajibkan mengadakan penghormatan dengan persembahan kepada pemilik makanan sesungguhnya, yaitu Sang Hyang Widhi. Dengan demikian, yajña itu adalah kurban suci yang tulus ikhlas untuk menjaga keseimbangan alam dan keteraturan sosial.

Pada hakekatnya Yadnya dilaksanakan atas dasar 3 (tiga) hutang yang dibawa oleh manusia sejak lahir yang disebut dengan Tri Rna yang mana dibagi menjadi tiga yaitu Dewa rna, Pitra rna dan Rsi rna.
Baca juga:
Bagian-bagian panca yadnya (yajna dalam mahabharata) materi kelas XI
Yajña berarti persembahan, pemujaan, penghormatan, dan kurban suci. Yajña adalah korban suci yang tulus ikhlas tanpa pamrih.

Ajaran Astangga Yoga - Bahan Ajar Agama Hindu SMK Kelas XI

Perenungan
”Pratena dikṡām āpnoti dikṣāya āpnoti dakṣiṇām, dakṣinā ṡraddhām āpnoti ṡraddhāya satyam āpyate”.
Terjemahannya adalah.
”Melalui pengabdian kita memperoleh kesucian, dengan kesucian kita mendapat   kemuliaan.
Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran”
(Yajur veda XIX.30).

Dalam menjalankan yoga ada tahap-tahap yang harus ditempuh yang disebut dengan Astāngga yoga. Maksudnya adalah delapan tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan yoga. Adapun bagian-bagian dari Astāngga yoga yaitu  yama  (pengendalian  diri  unsur jasmani), nyama (pengendalian diri unsur-unsur rohani), asana (sikap tubuh), pranayama (latihan pernafasan), pratyahara (menarik semua indrinya ke dalam), dharana (telah memutuskan untuk memusatkan diri dengan Tuhan), dhyana (mulai  meditasi dan merenungkan diri serta nama Sang Hyang Widhi Wasa), dan samadhi (telah mendekatkan diri, menyatu atau kesendirian yang sempurna atau merealisasikan diri). Di bawah ini dijelaskan bagian-bagian dari Astāngga yoga yang dimaksud antara lain sebagai berikut.
Ajaran Astangga Yoga
gomukhasana

1. Yama (Panca Yama Brata)
Panca Yama Brata adalah lima pengendalian diri tingkat jasmani yang harus dilakukan tanpa kecuali. Gagal melakukan pantangan dasar ini maka seseorang  tidak akan pernah bisa mencapai tingkatan berikutnya. Penjabaran kelima Yama Bratha ini diuraikan dengan jelas dalam patanjali yoga sūtra II.35 – 39.


a) Ahimsa atau tanpa kekerasan. Jangan melukai mahluk lain manapun dalam pikiran, perbuatan atau perkataan (Patanjali Yoga Sūtra II.35).
b) Satya atau kejujuran/kebenaran dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, atau pantangan akan kecurangan, penipuan dan kepalsuan (Patanjali Yoga Sūtra II.36).
c) Astya atau pantang menginginkan segala sesuatu yang bukan miliknya sendiri. Atau dengan kata lain pantang melakukan pencurian baik hanya dalam pikiran, perkataan apalagi dalam perbuatan (Patanjali Yoga Sūtra II.37).
d) Brahmacarya atau berpantang kenikmatan seksual (Patanjali Yoga Sūtra II.38).
e) Aparigraha atau pantang akan kemewahan; seorang praktisi yoga (yogin) harus hidup sederhana (Patanjali Yoga Sūtra II.38).
2. Niyama (Panca Niyama Bratha)
Panca Yama Brata adalah lima pengendalian diri tingkat rohani dan sebagai pendukung dari pantangan dasar sebelumnya diuraikan dalam Patanjali Yoga Sūtra II.40-45.
a) Sauca, kebersihan lahir batin. Lambat laun seseorang yang menekuni prinsip ini akan mulai mengesampingkan kontak fisik dengan badan orang lain dan membunuh nafsu yang mengakibatkan kekotoran dari kontak fisik tersebut (Patanjali Yoga Sūtra II.40).
Sauca juga menganjurkan kebajikan sattvasuddi atau pembersihan kecerdasan untuk membedakan hal-hal berikut.
  • 1) Saumanasya atau keriangan hati,
  • 2) Ekagrata atau pemusatan pikiran,
  • 3) Indriajaya atau pengawasan nafsu-nafsu,
  • 4) Atmadarsana atau realisasi diri (Patanjali Yoga Sūtra II.41).


b) Santosa atau kepuasan. Hal ini dapat membawa praktisi yoga ke dalam kesenangan yang tidak terkatakan. Dikatakan dalam kepuasan terdapat tingkat kesenangan transendental (Patanjali Yoga Sūtra II.42).
c) Tapa atau mengekang. Melalui pantangan tubuh dan pikiran akan menjadi kuat dan terbebas dari noda dalam aspek spiritual (Patanjali Yoga Sūtra II.43).
d) Svadhyaya atau mempelajari kitab-kitab suci, melakukan japa (pengulangan pengucapan nama-nama suci Tuhan) dan penilaian diri sehingga memudahkan tercapainya “istadevata-samprayogah, persatuan dengan apa yang dicita- citakannya (Patanjali Yoga Sūtra II.44).
e) Isvarapranidhana atau penyerahan dan pengabdian kepada Sang Hyang Widhi yang akan mengantarkan seseorang kepada tingkatan samadhi (Patanjali Yoga Sūtra II.45).

3. Asana
Asana adalah sikap duduk pada waktu melaksanakan yoga. Buku Yogasutra tidak mengharuskan sikap duduk tertentu, tetapi menyerahkan sepenuhnya kepada siswa sikap duduk yang paling disenangi dan relaks, asalkan dapat menguatkan konsentrasi dan pikiran, dan tidak terganggu karena badan merasakan sakit akibat sikap duduk yang dipaksakan. Selain itu sikap duduk yang dipilih agar dapat berlangsung lama, serta mampu mengendalikan sistem syaraf sehingga terhindar dari goncangan-goncangan pikiran. Sikap duduk yang relaks antara lain silasana (bersila) bagi laki-laki dan bajrasana (bersimpuh, menduduki tumit) bagi wanita, dengan punggung yang lurus dan tangan berada di atas kedua paha, telapak tangan menghadap ke atas.

4. Pranayama
Pranayama adalah pengaturan nafas keluar masuk paru-paru melalui lubang hidung dengan tujuan menyebarkan prana (energi) ke seluruh tubuh. Pada saat manusia menarik nafas mengeluarkan suara So, dan saat mengeluarkan nafas berbunyi Ham. Dalam bahasa Sansekerta So berarti energi kosmik, dan Ham berarti diri sendiri (saya). Ini berarti setiap detik manusia mengingat diri dan energi kosmik. Pranayama terdiri dari puraka yaitu memasukkan nafas, kumbhaka  yaitu  menahan  nafas,  dan recaka yaitu mengeluarkan nafas. Puraka, kumbhaka dan recaka dilaksanakan pelan- pelan bertahap masing-masing dalam tujuh detik. 

Hitungan tujuh detik ini dimaksudkan untuk menguatkan kedudukan ketujuh cakra yang ada dalam tubuh manusia yaitu muladhara yang terletak di pangkal tulang punggung di antara dubur dan kemaluan, svadishthana yang terletak di atas kemaluan, manipura yang terletak di pusar, anahata yang terletak di jantung, vishuddha yang terletak di leher, ajna yang terletak di tengah-tengah kedua mata, dan sahasrara yang terletak di ubun-ubun.

5. Pratyahara
Pratyahara adalah penguasaan panca indra oleh pikiran sehingga apa pun yang diterima panca indra melalui syaraf ke otak tidak mempengaruhi pikiran. Panca indra adalah pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa dan peraba. Pada umumnya indra menimbulkan nafsu kenikmatan setelah mempengaruhi pikiran. Yoga  bertujuan memutuskan mata rantai olah pikiran dari rangsangan syaraf ke keinginan (nafsu), sehingga citta menjadi murni dan bebas dari goncangan- goncangan. Jadi yoga tidak bertujuan mematikan kemampuan indra.
Untuk jelasnya mari kita kutip pernyataan dari Maharsi Patanjali sebagai berikut 
“Swa Viyasa Asamprayoga,
Cittayasa Svarupa Anukara, Iva Indrayanam Pratyaharah,
tatah Parana Vasyata Indriyanam”

Terjemahannya adalah:
“Pratyahara terdiri dari pelepasan alat-alat indra dan nafsunya masing-masing, serta menyesuaikan alat-alat indra dengan bentuk citta (budi) yang murni. Makna yang lebih luas sebagai berikut pratyahara hendaknya dimohonkan kepada Sang Hyang Widhi dengan konsentrasi yang penuh agar mata rantai olah pikiran ke nafsu terputus”
6. Dharana
Dharana artinya mengendalikan pikiran agar terpusat pada suatu objek konsentrasi. Objek itu dapat berada dalam tubuh kita sendiri, misalnya “selaning lelata” (sela- sela alis) yang dalam keyakinan Sivaism disebut sebagai “trinetra” atau mata ketiga Siwa. Dapat pula pada “tungtunging panon” atau ujung (puncak) hidung sebagai objek pandang terdekat dari mata. Para sulinggih (pendeta) di Bali banyak yang menggunakan ubun-ubun (sahasrara) sebagai objek karena di saat “ngili atma” di ubun-ubun dibayangkan adanya padma berdaun seribu dengan mahkotanya berupa atman yang bersinar “spatika” yaitu berkilau bagaikan mutiara. Objek lain di luar tubuh manusia misalnya bintang, bulan, matahari, dan gunung. Penggunaan bintang sebagai objek akan membantu para yogin menguatkan pendirian dan keyakinan pada ajaran Dharma, jika bulan yang digunakan membawa ke arah kedamaian batin, matahari untuk kekuatan jasmani, dan gunung untuk kesejahteraan. Objek di luar badan yang lain misalnya patung dan gambar dari dewa-dewi, guru spiritual, yang bermanfaat bagi terserapnya vibrasi kesucian dari objek yang ditokohkan itu. Kemampuan pengikut yoga melaksanakan dharana dengan baik akan dapat memudahkan yang bersangkutan mencapai dhyana dan samadhi.


7. Dhyana
Dhyana adalah suatu keadaan di mana arus pikiran tertuju tanpa putus-putus pada objek yang disebutkan dalam Dharana itu, tanpa tergoyahkan oleh objek atau gangguan atau godaan lain baik yang nyata maupun yang tidak nyata. Gangguan atau godaan yang nyata dirasakan oleh panca indra baik melalui pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap maupun peraba. Gangguan atau godaan yang tidak nyata adalah dari pikiran sendiri yang menyimpang dari sasaran objek dharana. Tujuan dhyana adalah aliran pikiran yang terus menerus kepada Sang Hyang Widhi melalui objek dharana. Lebih jelasnya Yogasutra Maharsi Patanjali menyatakan : “Tantra Pradyaya Ekatana Dhyanam” terjemahannya, arus buddhi (pikiran) yang tiada putus-putusnya menuju tujuan (Sang Hyang Widhi). Kaitan antara pranayama, pratyahara dan dhyana sangat kuat, dinyatakan oleh Maharsi Yajanawalkya sebagai berikut ”Pranayamair Dahed Dosan, Dharanbhisca Kilbisan,Pratyaharasca Sansargan, Dhyanena Asnan Gunan”. Artinya, dengan pranayama terbuanglah kotoran badan dan kotoran buddhi, dengan pratyahara terbuanglah kotoran ikatan (pada objek keduniawian), dan dengan dhyana dihilangkanlah segala apa (hambatan) yang berada di antara manusia dan Sang Hyang Widhi.

8. Samadhi
Samadhi adalah tingkatan tertinggi dari Astāngga yoga, yang dibagi dalam dua
keadaan yaitu:
  • 1) Samprajnatta samadhi atau Sabija samadhi, adalah keadaan di mana yogin masih mempunyai kesadaran.
  • 2) Asamprajnata samadhi atau Nirbija samadhi, adalah keadaan di mana yogin sudah tidak sadar akan diri dan lingkungannya, karena batinnya penuh diresapi oleh kebahagiaan tiada tara, diresapi oleh cinta kasih Sang Hyang Widhi.

Baik dalam keadaan Sabija samadhi maupun Nirbija-samadhi, seorang yogin merasa sangat berbahagia, sangat puas, tidak cemas, tidak merasa memiliki apa pun, tidak mempunyai keinginan, pikiran yang tidak tercela, bebas dari “Catur Kalpana” (yaitu : tahu, diketahui, mengetahui, pengetahuan), tidak lalai, tidak ada ke-”aku”- an, tenang, tentram dan damai. Samadhi adalah pintu gerbang menuju moksa. Ini dikarenakan unsur-unsur moksa sudah dirasakan oleh seorang yogin.  Samadhi  yang dapat dipertahankan terus-menerus keberadaannya, akan sangat memudahkan pencapaian moksa.

”Yada Pancavatisthante, 
 Jnanani Manasa Saha, 
 Buddhis Ca Na Vicestati, 
 tam Ahuh Paramam Gatim” 
Terjemahannya adalah
“Bilamana panca indra dan pikiran berhenti dari kegiatannya dan buddhi sendiri kokoh dalam kesucian, inilah keadaan manusia yang tertinggi.” (Katha Upanisad II.3.1)

Jenis-jenis Yoga Asana dan Manfaatnya - Bahan ajar Agama Hindu SMK kelas XI

Dalam hatha yoga ada beberapa jenis yoga asana yang dapat dipraktekan. Masing-masing yoga asana ini memiliki tingkat kesulitannya sendiri-sendiri. Jika anda ingin melaksanakan yoga maka sangat penting untuk memilih jenis yoga asanas yang menurut anda nyaman sehingga membuat anda bisa berkonsentrasi karena kenyamanan sangat mempengaruhi pikiran disamping juga pengaturan nafas. Setiap asanas memberikan manfaat positif bagi tubuh sehingga dapat juga dijadikan sebagai solusi dalam pengobatan, namun harus dilakukan secara berkelanjutan dan teratur. Nah berikut ini ada beberapa jenis yoga asana beserta dengan manfaatnya.


1.Padmasana
Kedua kaki diluruskan ke depan lalu tempatkan kaki kanan di atas paha kiri, kemudian kaki kiri di atas paha kanan. Kedua tangan boleh ditempatkan di lutut.
Manfaat: Dapat menopang tubuh dalam jangka waktu yang lama, hal ini disebabkan karena tubuh mulai dapat dikendalikan oleh pikiran.

2. Siddhasana
Letakkan salah satu tumit di pantat, dan tumit yang lain di pangkal kemaluan. Kedua kaki diletakkan begitu rupa sehingga kedua ugel-ugel mengenai satu dengan yang lain.
Manfaat: Memberikan efek ketenangan pada seluruh jaringan saraf dan mengendalikan fungsi seksual.
siddhasana
siddhasana
3. Swastikasana
Kedua kaki lurus ke depan kemudian lipat kaki dan taruh dekat otot paha kanan, bengkokkan kaki kanan dan dorong telapak kaki dalam ruang antara paha dengan otot betis. 
Manfaat: Menghilangkan reumatik, menghilangkan penyakit empedu dan lendir dalam keadaan sehat, membersihkan dan menguatkan urat-urat kaki dan paha.
BACA JUGA:



4. Sarvangasana
Berbaring dengan punggung di atas selimut, angkat kedua kaki perlahan kemudian angkat tubuh bagian atas, pinggang, paha, dan kaki lurus ke atas. Punggung ditunjang oleh kedua tangan.
Manfaat: Memelihara kelenjar thyroid.

5. Halāsana
Posisi tubuh rebah dengan telapak tangan telungkup di samping badan. Kedua kaki rapat lalu diangkat ke atas dengan posisi lurus. Tubuh jangan bengkok. Kaki dan tubuh buat siku lebar. Turunkan kedua kaki melalui muka sampai jari kaki mengenai lantai. Paha dan kaki membentuk garis lurus.
Manfaat: Menguatkan urat dan otot tulang belakang dan susunan urat-urat di sisi kanan kiri tulang punggung.

6. Matsyāsana
Rebahkan diri di atas punggung, dengan kepala diletakkan pada kedua tangan yang disalipkan.
Manfaat: Membasmi bermacam penyakit seperti asma, paru-paru, bronchitis.

7. Paschimottanāsana.
Duduk di lantai dengan kaki menjulur lurus, pegang jari kaki dengan tangan, tubuh dibengkokkan ke depan.
Manfaat: Membuat nafas berjalan di brahma nadi (sungsum) dan menyalakan api pencernaan, dan untuk mengurangi lemak di perut.
Paschimottanasana
Paschimottanasana
8. Mayurāsana (Burung Berlutut di atas lantai, Merak).
jongkok di atas jari kaki, angkat tumit ke atas dengan kedua tangan berdekatan, dengan telapak tangan di atas lantai, ibu jari kedua tangan harus mengenai lantai dan harus berhadapan dengan kaki.
Manfaat: Menguatkan pencernaan, membetulkan salah pencernaan dan salah perut seperti kembung, juga murung hati dan limpa yang bekerja lemah akan baik kembali.

9. Ardha Matsyendrāsana
Letakkan tumit kiri di dekat lubang pantat dan di bawah kemaluan mengenai tempat di antara lubang pantat dan kemaluan. Belokkan lutut kanan dan letakkan ugel-ugel kanan di pangkal paha kiri, dan kaki kanan diletakkan di atas lantai berdekatan dengan sambungan kiri, letakkan ketiak kiri di atas lutut kanan kemudian dorong sedikit ke belakang sehingga mengenai bagian belakang dari ketiak. Pegang lutut kiri dengan telapak tangan kiri perlahan punggung belokkan ke sisi dan putar sedapat mungkin ke kanan, belokkan jidat ke kanan sehingga segaris dengan pundak kanan, ayunkan tangan kanan ke belakang pegang paha kiri dengan tangan kanan, tulang punggung lurus.
Manfaat: Memperbaiki alat-alat pencernaan, menambah nafsu makan. Kundalini akan dibangunkan juga dan membuat candranadi mengalir tetap.

10. Salabhāsana
Rebahkan diri dengan telungkup, kedua tangan di sisi badan terlentang. Tangan diletakkan di bawah perut, hirup nafas seenaknya kemudian keluarkan perlahan. Keraskan seluruh badan dan angkat kaki ke atas + 40 cm, dengan lurus sehingga paha dan perut bawah dapat terangkat juga.
Manfaat: Menguatkan otot perut, paha, dan kaki, Menyembuhkan penyakit perut dan usus juga penyakit limpa dan penyakit bungkuk dapat dikurangi.

11. Bhuyanggāsana.
Merebahkan diri dengan telungkup, lemaskan otot, dan tenangkan hati, letakkan telapak tangan di lantai di bawah bahu dan siku, tubuh dan pusar sampai jari-jari kaki tetap di lantai. Angkat kepala dan tubuh ke atas perlahan seperti kobra ke atas, bengkokkan tulang punggung ke atas.
Manfaat: Istimewa untuk wanita, dapat memberi banyak faedah, rahim dan kantung kemih akan dikuatkan, menyembuhkan amenorhoea (datang bulan tidak cocok), dysmenorhoea (merasa sakit pada waktu datang bulan, leucorrhoea (sakit keputihan), dan macam penyakit lain di kantung kemih, indung telur dan peranakan.
Bhujanga asana (Sikap kobra)
Bhujanga asana (Sikap kobra)
12. Dhanurāsana.
Rebahkan diri dengan dada dan muka di bawah, kedua tangan diletakkan di sisi, kedua kaki ditekuk ke belakang, naikkan tangan ke belakang dan pegang ugel-ugel, angkat dada dan kepala ke atas, lebarkan dada, tangan dan kaki kaku dan luruskan, tahan nafas dan keluarkan nafas perlahan.
MANFAAT: Menghilangkan sakit bungkuk, reumatik di kaki, lutut, dan tangan. Mengurangi kegemukan, dan melancarkan peredaran darah.

13. Gomukhāsana
Tumit kaki kiri diletakan di bawah pantat kiri, kaki kanan diletakkan sedemikian rupa, sehingga lutut kanan berada di atas lutut kiri dan telapak kaki kanan ada di sebelah paha kiri berdekatan.
MANFAAT: Menghilangkan reumatik di kaki, ambeen, sakit kaki dan paha, menghilangkan susah BAB (Buang Air Besar).

14. Trikonāsana.
Berdiri tegak, kedua kaki terpisah, + 65 – 70 cm, kemudian luruskan tangan dengan lebar, segaris dengan pundak, tangan sejajar dengan lantai.
MANFAAT: Menguatkan urat-urat tulang punggung dan alat-alat di perut, menguatkan gerak usus dan menambah nafsu makan.

15. Baddha Padmāsana.
Duduk dengan sikap padmasana, tumit mengenai perut, tangan kanan ke belakang memegang ibu jari kanan, begitu juga tangan kiri. Tekan janggut ke dada, lihat pada ujung hidung dan bernafas pelan- pelan.
MANFAAT: Asana ini bukan untuk bermeditasi tetapi untuk memperkuat kesehatan dan menguatkan badan. Dapat menyembuhkan lever, uluhati, usus.

16. Padahasthāsana.
Berdiri tegak, tangan digantung di sebelah badan, kedua tumit harus rapat tapi jari harus terpisah, angkat tangan kedua-duanya ke atas kepala. Perlahan bengkokkan badan ke bawah, jangan bengkokkan siku lalu pegang jari kaki dengan ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah.
MANFAAT: Menghilangkan hawa nafsu, tamas, menghilangkan lemak.

17. Matsyendrāsana.
Duduk dengan kaki menjulur, letakkan kaki kiri di atas pangkal paha kanan dan letakkan tumit kaki kiri di pusar. Kaki kanan letakkan di lantai di pinggir lutut kiri. Tangan kiri melalui lutut kanan di luarnya memegang jari kaki kanan dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah lalu tekankan pada lutut kanan dan kiri.
MANFAAT: Menghilangkan reumatik, menguatkan prana shakti (gaya batin) dan menyembuhkan bayak penyakit.
matsyendrasana
matsyendrasana
18. Chakrāsana.
Berdiri dengan tangan diangkat ke atas, perlahan- lahan turunkan ke belakang dengan membengkokkan tulang punggung.
MANFAAT: Melatih kegesitan, tangkas, segala pekerjaan akan dilaksanakan dengan cepat.

19. Savāsana.
Tidur terlentang, tangan lurus di samping badan, luruskan kaki dan tumit berdekatan. Tutup mata bernafas perlahan, lemaskan semua otot.
MANFAAT: Memberikan istirahat pada badan, pikiran, dan sukma.
BACA JUGA:
20. Janusirāsana
Letakkan tumit kiri di antara lubang pantat dan kemaluan, dan tekanlah tempat itu. Kaki kanan menjulur dengan lurus. Pegang jari kaki kanan dengan dua tangan.
MANFAAT: Menambah semangat dan menolong pencernaan. Asana ini menggiatkan surya chakra.

21. Garbhāsana.
Kedua tangan di antara paha dan betis, keluarkan kedua siku lalu pegang telinga kanan dengan tangan kanan dan sebaliknya.
MANFAAT: Menguatkan otot perut dan membakar lemak di seputar perut.

22. Kukutāsana.
Lebih dulu membuat padmasana. Masukkan tangan satu per satu dalam betis hingga sampai kira- kira di siku, telapak tangan diletakkan di lantai dengan jari terbuka ke depan, angkat badan ke atas salib kaki kira-kira sampai di siku.
MANFAAT: Menguatkan otot-otot dada dan pundak.
kukutasana
kukutasana

UJI KOMPETENSI
  1. Buatlah peta konsep tentang jenis-jenis yoga yang kamu ketahui!
  2. Latihlah dirimu untuk beryoga setiap saat, selanjutnya buatlah laporan tentang perkembangan yoga yang kamu lakukan baik secara fisik maupun rohani! Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah.
  3. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari beryoga? Tuliskanlah pengalamanmu!