"Selamat datang di situs The Bali Buzz, www.rah-toem.blogspot.com"

Pengertian dan Hakekat Catur Purusa Artha


“Kamarthau lipsamānastu dharmmamevāditaṣcaret, nahi dharmmādapetyārthah kāmo vapi kadācana.
Yan paramārthanya, yan arthakāma sādhyan, dharma juga lëkasakëna rumuhun, niyata katëmwaning arthakāma mëne tan paramārtha
wi katemwaning arthakāma deninganasar sakeng dharma”.
(Sarasamuscaya.12)

Terjemahannya:
“Pada hakikatnya, jika artha dan kama dituntut, maka seharusnya dharma dilakukan lebih dulu; tak disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti; tidak akan ada artinya, jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma”.

Pengertian Catur Purusartha
Perenungan
Uttamaning dhanolihing amet prih-awak aputéran, madhyama ng arthaning bapa kanista dhana saking ibu, nistanikang kanistan dhama yan saka ring anak-ébi, uttamaning hunuttama dhanolihing anuku musuh”.

Terjemahannya:
“Kekayaan yang terbaik adalah uang yang diperoleh sendiri dari kerja berat,yangbaik adalah uang dari bapak, yang tidak baik uang dari pemberian ibu, ada pun yang sangattidakbaik,yaitu uang pemberian istri, tetapi yang utama sekali adalah rampasan dalam peperangan”. (NitisastraII.2)


Memahami Teks
Menurut Agama Hindu, dalam kehidupan ini manusia mempunyai empat tujuan yang dinamakan “Catur Purusartha”. Catur artinya empat, purusa artinya manusia dan artha artinya tujuan, sehingga Catur Purusartha mempunyai arti empat tujuan hidup manusia.
Kitab Sarasamuscaya menerangkan bahwa kelahiran menjadi manusia merupakan suatu kesempatan yang terbaik untuk memperbaiki diri. Manusialah yang dapat memperbaiki segala tingkah lakunya yang dipandang tidak baik agar menjadi baik, guna menolong dirinya dari penderitaan dalam usahanya untuk mencapai moksa.
Dalam kitab Nitisastra, Bhagawan Sukra mengemukakan bahwa semua perbuatan manusia itu pada hakikatnya didasarkan pada usaha untuk mencapai empat hakikat hidup yang terpenting dharma, artha, kama dan moksa. Tidak ada satupun perbuatan manusia yang tidak didorong oleh keinginannya untuk mencapai keempat tujuanitu, sehingga dapat dikatakan bahwa keempat hal inilah yang menjadi hakikat tujuan hidup manusia menurut ajaran Agama Hindu. dharma, artha, kama dan moksa dikenal juga dengan “Catur Warga atau Catur Purusartha”. Keempat aspek tujuan hidup manusia ini di dalam ilmu politik disamakan dengan aspek-aspek keamanan, kesejahteraan, kebahagiaan lahir batin dan dharma yang mengandung pengertian aspek keadilan dan kepatutan.
Unsur keinginan yang berakar pada pikiran manusia, terdapat pula hakikat tujuan agama Hindu yang dirumuskan dalam “Moksartham Jagadhita ya, ca iti Dharma” artinya bahwa dharma bertujuan untuk mencapai moksa dan kesejahteraan dunia. Moksa dalam filsafat Hindu “Tattwa Dharsana” merupakan tujuan hidup manusia tertinggi. Tujuan ini harus diusahakan oleh setiap umat Hindu untuk mencapainya dengan cara mengamalkan agama sebaik-baiknya. Adapun Jagadhita atau kesejahteraan itu akan dicapai apabila ketiga kerangka dharma, artha dan kama itu terealisir dan manusia benar-benar berusaha untuk mewujudkannya dengan jalan berpikir, bertutur kata danberyajna.
Keinginan manusia itu tidak ada batasnya dan pada umumnya cenderung selalu merasa kurang. Oleh karena itu, Agama Hindu memberi ukuran yang bersifat membatasinya dengan Catur Purusartha, yaitu suatu usaha untuk mewujudkan kesejahteraan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah secara seimbang melalui pengamalan dharma. Disamping itu Agama Hindu juga dapat dijadikan menyucikan jasmani dan rohani. Agama Hindu sebagai dharma untuk mengatur tata kehidupan manusia dalam berhubungan dengan Tuhan, dengan sesamanya dan dengan alam sekitarnya. Hindu sebagai agama bukan hanya bersifat doktrinal dan dogma semata, tetapi juga memberikan jalan berdasarkan Wahyu Tuhan yang sifatnya ilmiah, karena itu Kitab Suci Agama Hindu disebut Veda, artinya ilmu pengetahuan tertinggi.
Agama diturunkan kedunia oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menuntun manusia agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia maupun di alam rohani. Untuk itu setiap orang harus mempunyai empat landasan yang disebut dengan Catur Purusartha, yang artinya empat tujuan hidup.
Catur Purusartha sering disebut Catur Warga. Kata Warga dalam hal ini artinya ikatan atau jalinan yang saling melengkapi atau saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Di samping itu, keempat tujuan hidup itu saling menunjang. Dharma adalah landasan untuk mendapatkan arta dan kama. Artha dan kama adalah landasan atau sarana untuk melaksanakan dharma. Dharma, arta dan kama adalah landasan untuk mencapai moksa. Moksa Juga landasan untuk mendapatkan dharma, arta dan kama, justru akan mengikat manusia karena bukan tujuanakhir.
Dalam kitab tafsiran tentang Catur Purusartha, disebutkan bahwa dharma, arta dan kama merupakan tujuan pertama dan moksa disebut tujuan akhir atau tujuan tertinggi untuk kembali kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa. Empat tujuan hidup itu adalah suatu kenyataan yang tidak mungkin dapat dihindari oleh setiap orang yang mendambakan hidup yang sejahtera lahir dan batin.


Tugas Mandiri

  1. Apakah yang dimaksud dengan Catur Purusartha?Jelaskanlah!
  2. Apakah yang akan terjadi bila umat Hindu ingin mewujudkan tujuan hidup tanpa berpedoman kepada Catur Purusartha?Jelaskanlah!
  3. Buatlah analisis teori mana yang paling kuat dari beberapa teori tentang konsep Catur Purusartha! Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu dirumah!

Bentuk Larangan-Larangan Orang Suci Agama Hindu

Orang suci dalam penampilannya dapat mewujudkan ketenangan dan penuh welas asih, yang disertai kemurnian lahir dan batin didalam mengamalkan ajaran agama, tidak terpengaruh oleh gelombang hidup suka dan duka. Oleh karena itu, orang suci memiliki larangan yang mesti dijauhi di antaranya sebagai berikut :
1. Tidak boleh berjudi.
2. Ahimsa artinya tidak menyakiti
3. Satya artinya tidak berdusta
4. Astanya artinya tidak mencuri
5. Awyawaharika artinya tidak suka bertengkar
6. Tidak boleh berzinah
7. Tidak boleh ingkar janji
8. Tidak boleh berpolitik praktis
9. Tidak boleh tersangkut pidana
10. Tan Adol Awelya artinya tidak berjual beli
11. Tidak boleh melakukan perbuatan dosa.
12. Tidak boleh bergaul dengan orang jahat.

Selain bentuk larangan di atas terdapat juga pantangan makan dan minum bagi orang suci di antaranya sebagai berikut :
1. Tidak boleh minum minuman berakohol seperti : tuak, arak, dan minuman keras lainnya.
2. Tidak boleh makan daging sapi.
3. Tidak boleh makan daging babi.
4. Tidak boleh makan daging anjing.
5. Tidak boleh makan daging kuda.
6. Tidak boleh makan atau minuman yang berasal dari mencuri, menipu, korupsi, merampok.

Demikianlah bentuk larangan bagi orang suci baik dalam bentuk perilaku, aktivitas maupun makanan.

Inilah Syarat-Syarat Orang Suci dalam Agama Hindu

Setiap umat Hindu memiliki hak yang sama untuk menjadi seorang Sulinggih. Seseorang dapat diangkat menjadi seorang Sulinggih apabila telah memenuhi syarat-syarat berikut ini :
1. Laki-laki yang sudah menikah atau tidak menikah seumur hidupnya (Sukla Brahmacari).
2. Wanita yang sudah menikah atau tidak menikah seumur hidupnya (Sukla Brahmacari).
3. Pasangan suami istri
4. Usia minimal 40 tahun.
5. Paham bahasa Kawi, Sanskerta, Indonesia, menguasai secara mendalam isi dari kitab suci Weda, dan memiliki pengetahuan umum yang luas.
6. Sehat jasmani dan rohani.
7. Berbudi pekerti yang luhur.
8. Tidak tersangkut pidana.
9. Mendapat persetujuan dari gurunya (Nabe).
10. Lulus Diksa Pariksa yang dinyatakan dengan surat resmi dari pengurus PHDI Kabupaten atau Provinsi setempat.
11. Tidak terikat dengan pekerjaan di luar kegiatan keagamaan.

Demikianlah beberapa syarat untuk menjadi seorang Sulinggih / Pandita (orang suci Agama Hindu).

Perilaku Santun Kepada Orang Suci

Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berperilaku berdasarkan ajaran Susila. Susila atau Etika merupakan bagian kedua dari Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yang memiliki arti aturan-aturan atau norma-norma berbuat baik. Etika dan sopan santun adalah menjadi bagian dari hidup kita, oleh karena itu sebagai umat Hindu yang taat, hendaknya kita harus mengedepankan perilaku santun kepada semua orang, terlebih kepada orang suci. Agama Hindu yang kental dengan budaya, selalu menjunjung tinggi etika dan kesopanan.

Dalam Sarasamuscaya 305 kita dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang baik, terjemahan slokanya adalah sebagai berikut :
"Jika anda berkawan, maka hendaklah orang yang berbudi luhur saja yang menjadi kawan anda; jika hendak mencari persaudaraan, orang yang berbudi
luhur itu anda usahakan untuk dijadikan persaudaraan; andaikata sampai berbantah sekalipun, apalagi jika bersahabat, hendaklah dengan orang yang baik budi itu; sebab mustahil tidak akan tidak kelimpahan budi luhur itu
(jika telah bergaul dengan orang sadhu)."

Perilaku santun kepada orang suci dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai
berikut :
1. Hormat dan taat menjalankan nasihatnya.
2. Selalu berdoa setiap memulai suatu kegiatan.
3. Rajin membaca kitab suci dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Selalu mengamalkan ajaran Tri Kaya Parisudha.
5. Hormat kepada Catur Guru.
6. Melaksanakan Rsi Yadnya

Teks latin Kekawin Ramayana 1 sargah 1 wirama Sronca


Om Swastyastu,
Berikut dibawah ini kami sajikan teks dengan tulisan latin kekawin Ramayana 1 sargah 1 dengan wirama sronca.

KAKAWIN RAMAYANA
I   PRATHAMAS SARGGAH

Om Awighnamastu.

SRONCA

1.      Hana sira ratu dibya rĕngön,
prasāsta ring rāt musuhnira pranata,
jaya pandita ring aji kabéh,
Sang Dasaratha nāma tāmoli.

Wéntĕn Ida sang prabu maraga lĕwih durus pirĕngang,
kasub kasumbung ring jagaté mĕsĕh Idané ngandap kasor,
molihing kaprajñanan ring tattwa sami,
Sang Dasarata parab Ida tanpa tandingan.



2.      Sira ta Triwikramapitā,
pinaka bapa Bhatāra Wisnu mangjanma,
       inakanikang bhuwana kabéh,
       ya ta donira nimittaning janma.

Ida wantah ajin Sang Hyang Tri Wikrama,
kanggĕh aji rikala Sang Hyang Hari manumadi,
jaga ngarahayuang jagaté sami,
sapunika tatujon Ida mawinan manrĕsti.

3.      Gunamānta sang Dasaratha,
wruh sira ring wéda bhakti ring déwa,
       tar malupéng pitra pūja,
       māsih ta siréng swagotra kabéh.

Lĕwihing guna Ida Sang Dasaratha,
wikan Ida ring Wéda bhakti ring Hyang,
tan lali Ida ngastawa Sang Hyang Pitara,
swéca Ida ring samĕton Ida sami.

4.      Rāgādi musuh maparö,
ri hati ya tonggwanya tan madoh ring awak,
       yékā tan hana ri sira,
       prawïra wihikan siréng nïti.

Smara dudu miwah sĕkancan ipun mĕsĕh sané tampĕk,
ring kayun gĕnahnyané tan doh saking raga,
sané sapunika tan wéntên ring Ida,
purusa wikan Ida ring Niti.

5.      Kadi mégha manghudanakĕn,
padanira yar wéhakĕnnikang dāna,
dînāndha krĕpana ya winéh,
nguni-ngunî dang hyang lawan dang ācāryya.

Kadi gulĕm nĕdunang sabĕh,
sesamén Idané tatkala micayang padana-dana,
janmané nista buta kĕlaran punika sané kaswécanin,
punapi malih majĕng ring sang mĕraga suci miwah pĕdanda nabé.

6.      Mwang satya ta sira mojar,
ring anakĕbi towi tar mrsĕwāda,
nguni-nguni yan ri para jana,
priyahita sojar nirātišaya.

Sĕmaliha Ida satya wĕcana,
yadyastun ring anak istri Ida tan nahĕnin linyok,
punapi malih ring janma siosan,
sĕpangandikan Ida dahat nghyun-hyunin.

7.      Saphala sira rāksakéng rāt,
tuwi sira mitra Hyang Indra bhakti tĕmĕn,
māhéswara ta sira lanā,
Šiwa bhakti ginöng lanā ginawé.

Molihing kasidhan Ida ngamĕl jagat,
wyakti Ida kantin Bathara Indra kalintang subakti,
Ida satata ngĕmanggĕhang mahéswara,
inggih punika bhakti ring sang Hyang Siwa kabuatang sĕtata kĕkardinin.

8.      Ikanang dhanurdhara kabéh,
kapwa ya bhakti ri sira pranata matwang,
kadi mawwata yasa lanā,
rupanyanagöng ta kïrtti nira.

Prajurit-prajurité sané masanjata panah sami,
maka sami bhakti ring Ida nungkul ngalap kasor,
sĕkadi pacang ngawĕwĕhin kawibuhan Ida satata,
pakantĕnannya agung wantah kértin Idané.

9.      Jñānanira suddha mawulan,
parārtha gumawé sukānikang bhuwana,
sāksāt Indra sira katon,
tuhun hanéng bhumi bhédanira.

Pakayunan Ida nirmala kadi bulan,
parartha inggih punika ngardi kaliangan jagat,
waluya sang hyang Indra Ida kantĕn,
sakéwantĕn antuk magĕnah ring jagaté siyos Idané.

10.    Ikanang  pratāpa dumilah,
suka nikanang rāt ginawénya,
kadi bahni ring pahoman,
dumilah mangdé suka nikang rāt.

Prabawan Ida sang Prabu wiakti dumilah,
karahayon jagaté wantah kakardinin,
kadi agni ring pakundan,
angabar-abar ngawinang kaliangan jagat.

11.    Hana rājya tulya kéndran,
kakwéhan sang mahārddhika susila,
ring Ayodhyā subhagéng rāt,
yéka kadatwannirang nrĕpati.

Wéntĕn puri waluya kéndran,
kébĕkan antuk sang pradnyan lĕwihing laksana,
ring Ayodya kalintang kasub ring jagaté,
punika purin Ida Sang Prabu.

12.    Hayuning swargga tuwi masor,
déning Ayodhyāpurātisaya,
suka nityakāla ménak,
ri rĕngrĕng towi ring lahru.

Kabĕcikan Swargané wyakti kasor,
antuk puri Ayodyané sané tanpa tandingan,
irika satata kahanan lédang,
ring masan sabêh pituwi ring masan ĕndang.

13.    Sakwéhning mūlya kabéh,
kanaka rajata lén manik hana ngkana,
yāngkĕn huntunya maputih,
gumuyu-guyung swargga sor dénya.

Sakancan mulé-muléné sami,
mas pérak miwah sasocan wéntĕn irika,
punika saksat giginnyané putih,
ngĕdékin swargané kandapan antuk ipun.

14.    Hana ta umah kanaka manik,
kinulilingan ikang taman rāmya,
wara kanyakāmĕng-amĕng,
surāpsāri tulya ring Méru.

Wéntĕn punika balé mas masĕsocan,
kailĕhin antuk taman sané ngulangunin,
gĕnah daha sariné jĕgég-jĕgég malila-lila,
waluya widyadari ring gunung méru.

15.    Špatika manik tamalahalah,
satéja mungwing umah paniñjowan,
kadi Gangga saka Himawān,
rūpanya katon sutéjāsri.

Manik banyuné akéh pisan,
sami pakĕdépdep magĕnah ring balé pangungangané,
kadi tukad ganggané saking gunung himawan,
kantĕn rupannya dumilah nghyun-hyunin.

16.    Suka trĕpti sang naréndra,
bhuktîkang bhoga tan papada dibya,
nirbhaya tan hana katakut,
sāmanta kabéh masö pranata.

Lédang dĕgdĕg Ida Sang Prabu,
muponin kasukan tanpa tandingan beciknyané,
tan wéntĕn bhaya tan wéntĕn sané kajĕjĕhin,
nĕgara panyandingé sami rawuh ngandap kasor.

17.    Sang Kékayī Sumitrā,
Kosalyā ghāra sang naréndra tiga,
Durggā Ganggā Gorī,
padanira ya surūpa dibyaguna.

Dyah Kékaki Dyah Sumitra,
Déwi Kosalya rabin sang prabu tatiga,
Bhatari Durgga gangga gori,
sasamén Idané munggwing kahayon lĕwihing gagunan.

18.    Suka sang naréndra makurĕn,
déwî nira kapwa yatna yan paniwi,
tan hana māmbĕk irsya,
ri sirang déwî matūt katiga.

Lédang sang prabu marabyan,
paraméswarin idané sami plapan rikala ngiring pakayunan,
tan wéntĕn mapakayunan iri ati,
munggwing patnin Ida adung maka tatiga.

19.    Kadi harsa sang mahārsi,
sakténg rêg sāma lén yajurwéda,
mangkana sang Dasaratha wéh,
harsanira ta dé mahādéwî.

Kadi kalédangan Ida sang rĕsi agung,
tĕlĕb ring rĕg sama miwah yajur wéda,
sapunika talĕr sang Dasaratha,
kalédangan Idané majĕng ring para rabiné.

20.    Malawas sirār papangguh,
masnéha lawan mahādéwi,
suraséng sanggama rinasan,
ālinggana cumbanādinya.

Sampun suwé ida marabyan,
asih kumasih sarĕng para rabin Ida,
lĕwih rasa patĕmoné sampun karasayang,
magĕlut maaras-arasan miwah sakancan punika.

21.    Mahyun ta sira maputrā,
mānaka wétnyar warĕg rikang wisaya,
malawas tar pānak atah,
mahyūn ta sirāgawé yajña.

Mapakayun raris Ida mangda maduwé putra,
mangda wéntĕn putra antuk sampun wanĕh ring indrya,
suwé wyakti Ida tan maduwé wĕka,
raris makayun Ida ngwangun yajña.

22.    Hana sira rĕsyasrĕngga,
prasāsta karĕngö widagdha ring sāstra,
tarmoli ri yajña kabéh,
anung makaphalāng anak dibya.

Wéntĕn Ida maparab rĕsya srĕngga,
kasub kalumbrah pradnyan ring sastra,
tan wéntĕn nyaménin ring paindikan yajna sami,
sané prasida mikolihang putra uttama.

23.    Sira ta pinét naranātha,
marā ry Ayodhyā purohita ngkāna,
tātar wihang sira pinét,
pininta kasihan sirāyajñā.

Ida sané katuur antuk Ida sang prabu,
mangda rawuh kapuri Ayodya kadĕgang bhagawanta irika,
néntĕn tulak Ida katuur,
katunas icain Ida mangda ngajĕngin yajña.

24.    Sajining yajña ta umadang,
sri-wrĕksa samiddha puspa gandha phala,
dadhi ghrĕta krĕsnatila madhu,
mwang kumbha kusāgra wrĕtti wĕtih.

Upakaran yajñane sampun cumawis,
cêndana kayu asĕp sĕkar miyik-miyikan woh-wohan,
santĕĕmpĕhan minyak wijén irĕng madu,
miwah jun muncuk ambêngan burat wangi nyanyah gringsing.

25.    Lurnĕkas ta sira mahoma,
prétādi pisāca rāksasa minantran,
bhūta kabéh inilagakĕn,
asing mamighnā rikang yajña.

Raris ngawitin Ida ngwangun homa,
pitra miwah sané siyos-siyosan pisaca raksasa sampun kamantrain,
bhutané sami pada katundung,
sakancan sané jagi nyĕngkalén homané punika.

26.    Sakali kārana ginawé,
āwāhana lén pratista sānnidhya,
Paraméswara inangĕn-angĕn,
umunggu ring kunda bahnimaya.

Sahilén-ilén upakarané sami sampun kakaryanin,
upakara panuhur miwah linggih Ida Bhatara sampun cumawis,
Sang Hyang Siwa sané kācĕp,
malingga ring homa gĕniné.

27.    Sāmpun Bhatāra inĕnah,
tinitisakĕn tang minyāk sasomyamaya,
lawan krĕsnatila madhu,
sri-wrĕksa samiddha rowangnya.

Ring sampuné Bhatara kalinggihang,
raris kasiratang minyak somané,
maruntutan minyak wijén irĕng madu,
cĕnana kayu asĕp duluran ipun.

28.    Sang Hyang kunda pinūjā,
caru makulilingan samatsya māngsa dadhi,
kalawan sĕkul niwédya,
inamĕs salwir nikang marasa.

Bhatara sané malingga ring pahoman raris kastawa,
kailĕhin antuk caru saha ulam daging ĕmpĕhan,
maka miwah ajĕngan yadnyané,
kacampur sakancan sané marasa utama.

29.    Ri sĕdĕng Sang Hyang dumilah,
niniwédyākĕn ikang niwédya kabéh,
Usadhi lén phalamūla,
mwang kĕmbang gandha dhūpādi.

Rikala Sang Hyang Agni dumilah,
raris kaantĕbang punika sadaging yadnyané sami,
basan tamba siyos malih woh-wohan umbi-umbian,
miwah sĕkar arum-aruman dupa kalih sané lianan.

30.    Sāmpun pwa sira pinūjā,
binojanan sang mahārsi paripūrna,
kalawan sang wiku sāksi,
winūrsitan dinaksinān ta sira.

Sasampuné puput Ida Bhatara kaastawa,
katuran rayunan Ida Rĕsi Agung sampurna pisan,
maka miwah para wiku saksiné,
kabaktinin kāturin paguru yagan Ida.

31.    Šésa mahārsi mamūjā,
pūrnnāhuti dibya patya gandha rasa,
ya ta pinangan kinabéhan,
dé nira déwi mahārāja.

Lungsuran Ida Rĕsi Agung ngastawa,
caru sané sampurna bhoga sané lĕwih rasa miwah ambunnyané ngĕnyudin kahyun,
punika raris karayunang sarĕng sami,
antuk para rabin Ida sang prabu.

32.    Nda tatîta kāla lunghā,
mānak tānakbi sang Dasarathāsih,
sang Rāmānak matuha,
i sira mahādéwi Kosalyā.

Inggih, tan critayang malih kasuwén-suwén,
maputra punika rabin Ida sang Dasaratha sané pinih kahéman,
Sang Rama putrané pinih duhur,
saking Ida pramiswari Déwi Kosalya.

33.    Sang Kékayī sira makānak,
sang Bharata kyāti šakti dibya guna,
déwi sirang Sumitrā,
Laksmana Šatrughna putranira.

Putran Ida Déwi Kékayi,
Sang Bharata kasub sakti lĕwihing guna,
munggwing Ida Déwi Sumitra,
Sang Laksmana miwah Sang Satrughna putran Ida.

34.    Ri wĕtunikang putra kabéh,
pinulung dang hyang lawan dang acaryya,
paripūrna sira pinūjā,
binojanan dé mahārāja.

Ring sampuné ĕmbas putrané sami,
kakumpulang para pandita miwah Ida Pranda nabé,
tĕgĕp pisan Ida kapuja,
kahaturan rayunan olih Ida sang Prabu.

35.    Matuhānak naranātha,
winara-warah angajya wédāstra,
Bhagawān Wasistha mangajar,
nipuna wruh ring dhanurwéda.

Sasampuné duhur putran Ida Sang Prabu,
raris kaurukang mangda murukin aji papanahan,
Bhagawan Wasista sané ngurukang,
pradnyan pascat ring aji papanahan.

36.    Sang Rāma sira winarahan,
ring astra dé sang Wasista tar malawas,
kalawan anténira tiga,
prajñéng widyā kabéh wihikan.

Sang Rama Ida kicén pawarah,
ring indik papanahan olih Bhagawan Wasista tan lami,
kasarĕngin olih rahin Idané tatiga,
pradnyan tur wikan ring daging pangawĕruhé sami.

37.    Sāwara-warah mahārsi,
hĕnti kabéh tan pasésa kapwa tama,
karĕngö ta sira ring rāt,
gunāmānta susïla towi raray.

Saluwir wara-warah Ida Sang Mahamuni,
tĕlas makasami tanpa gantulan sampun kauningin,
kaloktah ida ring jagaté,
lĕwihing guna tur susila yadyastun kantun anom.

38.    Hana sira Gādhi suta rsi,
yogiswara lén tapaswi rājarsi,
Wišwāmitra ngaranira,
sira rumĕngö sakti sang Rāma,

Wéntĕn rĕsi tosning gadi,
yogi agung miwah tĕlĕb ring tapa, ngraja rĕsi,
Sang Wiswamitra pĕséngan Ida,
Ida mirĕng kasaktian Ida Sang Rama.

39.    Patapanira yā mananā,
déning rāksasa krūrakarmma,
mahyun ta sira rināksā,
patapan nira dénirang Rāma.

Pasraman Ida rusak,
olih iraksasa sané malaksana ngapak-apak,
mapakahyun Ida mangda kakĕmit,
pasraman Ida olih Ida Sang Rama.

40.    Naranātha sang Dašaratha,
sira pinaran dénirang mahārsi wara,
gorawa sang prabhu pinaran,
pranata manambah sirānungsung.

Ida Sang Prabu Dasaratha,
Ida karawuhin olih sang mahamuni lĕwih,
pranamya Ida Sang Prabu karawuhin,
ngandapang raga saha mangastungkara Ida mamĕndak.

41.    Apa doni sang mahārsi,
kita jaya ring mantra siddha sākahyun,
tatwa linolyan ta lanā,
yatikā mūlya ri rĕsi kadi kita.

Punapi pisarat singgih rĕsi agung,
iratu molih ring mantra kasidhan sapakahyun,
sĕtata iratu nĕlĕbang sarwa tatwané,
punika sané uttama majĕng ring sang rĕsi kadi iratu.

42.    Sumahur ta sang mahārsi,
tan madwa wuwus naréndra yukti tĕmĕn,
kami ikihĕn wiku matapa,
jñana lawan yoga mūlya juga.

Nyawis Ida sang mahamuni,
boya lémpas pawacanan sang prabu patut pisan,
tityang puniki wiku nangun tapa,
wantah jnyana miwah yoga punika sané utama.

43.    lkana kunang dona mami,
mamalakwa rinaksā dé mahārāja,
hana sanghulun mayajña,
ndan yālila rāksasāmighné.

Punika munggwing pisarat tityang,
jaga nglungsur mangda kakĕmit antuk ratu sang prabu,
dwaning rikala tityang ngawéntĕnang yadnya,
kala punika watĕk raksasané nguragada mĕncanén.

44.    Ikana kunang yan yogyā,
sang Rāma marā ring āsrāmāngraksā,
sarāna mamin wĕnanga,
umatyanang rāksasāmighné.

Punika mawinan yaning kapatut,
sang rama mangda rawuh kapasraman jaga ngĕmit,
pinaka kantin tityang sanê pacang mrĕsidayang,
jaga madĕmang iraksasa sané nyĕngkalén.

45.    Mangkana ling mahārsi,
naréndra trĕsna tĕmĕn ri sang Rāma,
ndātar sahur tumungkul,
mojar tā sang mahārsi muwah.

Sapunika babawos ida rĕsi agung,
Ida Sang Prabu sayang pisan ring Ida Sang Rama,
tan wéntĕn nyawis Ida manguntul,
malih ngandika Ida Sang Mahamuni.

46.    Hé nātha Sang Dašaratha,
nojarku rengönta yatna pituhun ya,
yan tan yogya ksama ya,
jātining aswî maminta kasih.

Inggih ratu sang prabu Dasaratha,
atur tityangé puniki piarsayang bĕcikang ngahyunin,
yaning tan patut ampurayang ugi,
dwaning parikĕdĕh pisan tityang nunas pitulung.

47.    Nyā dharmmaning kadi kita,
pinakašarana dénirang tapaswi kabéh,
salwiraning katakuta,
kita tāng rāksā ri duhka kabéh.

Sapuniki swadarman kadi iratu,
kānggén kanti olih Ida Sang tapaswi maka sami,
sakaluwir sané jaga nyĕjĕhin,
iratu patut mangĕmit ring pakéwĕhé sami.

48.    Nyā dharmmaning kadi kami,
mawaraha kita ring sinangguhan dharmma,
punya lawan pāpa kunang,
kami mawaraha ngwang kadi kiténg yukti.

Sapuniki swadarman kadi tityang,
patut mapawungu ring iratu ring sané kabawos darma,
sané patut miwah sané iwang,
tityang patut mapawungu ring iratu sané mawasta patut.

49.    Brahmana Ksatriyan padulur,
jātinya parasparopa sarppana ya,
wiku tanpa nātha ya hilang,
tanpa wiku kunang ratu wisîrnna.

Sang Brahmana ring sang ksatrya patut adung,
kasinahan ipun patut paras paros tulung tinulung,
wiku tanpa ratu jantĕn rusak,
ratu tanpa wiku talĕr rusak.

50.    Kalawan tambhāra iké,
apan mahāsakti rakwa Sang Rāma,
rānak sri naranātha,
tatan hana padanira ri kašaktin.

Samaliha tan wéntĕn abot puniki,
duaning kalangkung sakti Ida sang Rama,
putran palungguh sang prabu,
néntĕn wéntĕn samén Ida ring kasaktén.

51.    Ya matangnya hé naréndra,
haywa ta sandéha ring swa putra jayā,
dānawa rāksasa hilanga,
prabhāwa sang Rāma hétunya.

Punika awinan ratu sang prabu,
sampunang sumandéha ring putran iratu jaga molih,
danawa miwah rakasasané jaga padĕm,
prabhawan Ida sang rama sané ngawinang.

52.    Nā ling mahārsi mojar,
umĕnĕng atah sang Naréndra māngĕn-angĕn,
Dolāya māna citta,
képwan sira tar wĕnang sumahur.

Sapunika pawacanan Ida sang mahamuni,
mĕnĕng ida sang prabhu mapakahyun-kahyun,
pakahyunané bingung,
kémĕngan Ida néntĕn prasida nyawis.

53.    An lakwéki si Rāma,
lumagé musuh mahārsi ring patapan,
pĕjahāwas ya kasāmbya,
apan raré tan wruhing bisama.

Yan pradé majalan i rama jani,
lakar nyiyatin mĕsĕh ida sang rĕsi agung di pasraman,
sinah iya lakar mati apinan,
wiréh iya ĕnu cĕnik tondén nawang pakéwĕh.

54.    Tuhu yan wruh ya ring astra,
ndātan tahu manglagé musuh bisama,
rāksasa māyā ya kabéh,
lāwan paracidra yan paprang.

saja iya duwĕg unduk sanjata,
nanging tondén taén nyiyatin musuh ané makéwĕhin,
raksasané makĕjang bisa ngĕnah ilang,
buwina para singsé yan masiyat.

55.    Yapwan wihanga sang rsi,
anumoda yar paminta šarana ngké,
krodhā sirān salahasan,
byakta kami kabéh sināpa nira.

Yan pradé piwalin ida sang rĕsi,
nagingin kahyun Ida ngarsayang kanti rawuh mai,
jantên bĕndu ida réhning salit arsa,
sinah idéwék ajak makĕjang pastun Ida.

56.    Ri huwus nira māngĕn-angĕn,
sumahur ta sirānumoda tar pamihang,
Om om sajña mahārsi,
yan yogyā pwangkulun saranā.

Ring sampun Ida puput mapakahyun-kahyun,
nyawis Ida ngiringang tan wéntĕn piwal,
inggih inggih ndawĕgang tityang singgih rĕsi agung,
yaning wantah patut ipun dados kanti.

57.    Bālaka raray mapunggung,
tapwan paprang taman panon šatru,
yapwan wĕnangāsaranā,
sojar mahārsi tan wihangĕn. 

Ipun kantun alit tur tambĕt,
durung  nahĕnin mayuda durung nahĕning ngĕton mĕsĕh,
manawi ta patut ipun pacang dados kanti,
ndawĕgang ratu rĕsi agung tityang néntĕn piwal.

58.    Dadi tusta sang mahārsi,
madĕg ta sira māmwit muliha sighra,
sang Rāma sira madandan,
lumakwa umaré rikang patapan.

Dadyanya lédang Ida Sang mahamuni,
ngadĕg Ida mapamit digĕlis pacang mantuk,
Sang Rama Ida makinkin,
jaga mamarga lunga ka pasraman.

59.    Sang Laksmana sira dibya,
sira sama suka duhka mwang sang Rāma,
rumakĕt cittanira lanā,
dadi ta sira tumūt maréng patapan.

Sang Laksmana Ida maraga lĕwih,
Ida sarĕng nanggĕnin suka duhka ngiring Ida Sang Rama,
satata rakĕt pakahyunan Idané,
kandugi Ida sarĕng lunga ka pasraman.

60.    Sira magawé pratiwimba,
tuladan ikang wwang ulah nirar paniwi,
sakwan sang Rāma tumūt,
tar dadi kantun asing saparan.

Ida makarya imba,
mangda katulad olih para janané pidabdab Idané manywita,
sapangandikan Ida sang Rama kairingang,
néntĕn kahyun palas salampah laku.


Demikian teks dengan tulisan latin kekawin Ramayana 1 pada sargah 1 dengan wiramanya adalah sronca.