Manawa Dharmasãstra (Kitab Hukum Hindu) - Diktat Pembelajaran 3 Agama Hindu SMK Kelas XI Semester genap

PEMBELAJARAN 3
Manawa Dharmasãstra
(Kitab Hukum Hindu)

     “Satyaṁ brūyat priyaṁ,
      priyaṁ ca nānṛtaṁ brūyād eṣa dharmaá sanātanaá”.

Terjemahannya :
     “Hendaknya ia mengatakan apa yang benar, hendaknya ia mengucapkan apa yang menyenangkan   hati, hendaknya ia jangan mengucapkan kebenaran yang tidak menyenangkan dan jangan pula ia     mengucapkan kebohongan yang menyenangkan, inilah hukum hidup duniawi yang abadi”
(M.Dharmasastra IV.138).

A. Pengertian Manawa Dharmaṡāstra sebagai Kitab Hukum Hindu

Perenungan
Manawa Dharmaṡāstra sebagai Kitab Hukum Hindu
Ilustrasi Kitab Manawa Dharmasastra
“Šrutistu vedo vijñeyo dharmaṡāstram tu vai smṛtiá
te sarvātheṣva mimāmsye tābhyāṁ dharmohi nirBabhau”.

Terjemahannya:
“Yang dimaksud dengan Sruti, ialah Veda dan dengan Smrti adalah Dharmasastram, kedua macam pustaka suci ini tak boleh diragukan kebenaran ajarannya, karena keduanya itulah sumber dharma” (M.Dharmasastra II.10).
Memahami Teks
            Kata dharmaṡastra berasal dari bahasa Sansekerta (dharma – Šāstra). Dharma (masculine) m : perintah menetapkan; lembaga; adat kebiasaan; aturan; kewajiban; moral; pekerjaan yang baik; kebenaran; hukum; keadilan (Kamus Kecil Sansekerta Indonesia (KKSI) hal. 121). Šāstra (neuter) n : perintah; ajaran; nasihat; aturan; teori; tulisan ilmiah (KKSI hal. 246). Dharmaṡāstra berarti ilmu hukum.
          Bila kita membaca kitab-kitab mantra dan sastra-sastra Sansekerta yang tersedia kitab Smrti dinyatakan sebagai kitab Dharmaṡāstra. Smrti adalah kelompok kitab yang kedua sesudah kitab Sruti. Dharmaṡāstra (Smrti) dipandang sebagai kitab hukum Hindu karena di dalamnya banyak dimuat tentang syariat Hindu yang disebut dharma. Dharma disamakan artinya dengan syariat di dalam bahasa arab. Tentang Dharmaṡāstra sebagai kitab Hukum Hindu selanjutnya didapatkan keterangan yang sangat mendukung keberadaannya sebagai berikut.
“Šruti wedaá samākhyato dharmaṡāstram tu wai smṛtiá, te sarwātheswam imāmsye tābhyāṁ dharmo winirbhþtaá.

Nyang ujaraken sekarareng, Šruti ngaranya Sang Hyang Catur Veda, Sang Hyang Dharmaṡāstra Smṛti ngaranira, Sang Hyang Šruti lawan Sang Hyang Smṛti sira juga prāmanākena, tūtakena warah-warah nira, ring asing prayojana, yawat mangkana paripurna alep Sang Hyang Dharmaprawṛtti“
(Sarasamuscaya, 37)

Terjemahannya:
“Ketahuilah oleh mu Šruti itu adalah Veda dan Šmṛti itu sesungguhnya adalah Dharmaṡāstra; keduanya harus diyakini dan dituruti agar sempurna dalam melaksanakan dharma itu”.
“Itihasa puranabhyam wedam samupawrmhayet, bibhetyalpasrutadwedo mamayam pracarisyati “ (Sarasamuscaya, 39).
Terjemahannya:
“Hendaklah Veda itu dihayati dengan sempurna melalui mempelajari Itihasa dan Purana karena pengetahuan yang sedikit itu menakutkan (dinyatakan) janganlah mendekati saya”.
         Hukum Hindu adalah sebuah tata aturan yang membahas aspek kehidupan manusia secara menyeluruh yang menyangkut tata keagamaan, mengatur hak dan kewajiban manusia baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial, dan aturan manusia sebagai warga negara (tata Negara).
         Hukum Hindu juga berarti perundang-undangan yang merupakan bagian terpenting dari kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ada kode etik yang harus dihayati dan diamal- kan sehingga menjadi kebiasaan- kebiasaan yang hidup dalam masyarakat. Dengan demikian pemerintah dapat menggunakan hukum ini sebagai kewenangan mengatur tata pemerintahan dan pengadilan, dapat menggunakan sebagai hukuman bagi masyarakat yang melanggarnya.
             Mengingat umat Hindu juga sebagai warga negara yang terikat oleh hukum nasional. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa hukum Hindu penting untuk dipelajari.
  1. Hukum Hindu merupakan bagian dari hukum positif yang berlaku bagi masyarakat Hindu di Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, khususnya pasal 29 ayat 1 dan 2, serta pasal 2 aturan peralihan Undang-Undang Dasar 1945.
  2. Untuk memahami bahwa berlakunya hukum Hindu di Indonesia dibatasi oleh falsafah Negara Pancasila dan ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Dasar 1945.
  3. Untuk dapat mengetahui persamaan dan perbedaan antara hukum adat (Bali) dengan hukum agama Hindu atau hukum Hindu.
  4. Untuk dapat membedakan antara adat murni dengan adat yang bersumber pada ajaran-ajaran agama Hindu.
B. Hubungan Dharmaṡāstra dengan Manawa Dharmaṡāstra

Perenungan
“Šruti dvaidhaṁ tu yatra syāt tatra dharmāvubhau smrtau, ubhāvapi hi tau dharmau samyag uktau maniṣibhiá”.
Terjemahannya:
“Jika dalam dua kitab suci ada perbedaan, keduanya dianggap sebagai hukum, karena keduanya memiliki otoritas kebajikan yang sepadan” (Manawa Dharmasastra II.14)
Memahami Teks
            Manawa Dharmasastra adalah sebuah kitab Dharmasastra yang dihimpun dengan bentuk yang sistematis oleh Bhagawan Bhrigu, salah seorang penganut ajaran Manu, dan beliau pula salah seorang Sapta Rsi. Kitab ini dianggap paling penting bagi masyarakat Hindu dan dikenal sebagai salah satu dari kitab Sad Wedangga. Wedangga adalah kitab yang merupakan batang tubuh Veda yang tidak dapat dipisahkan dengan Veda Sruti dan Veda Smrti. Penafsiran terhadap pasal-pasal Manawa Dharmaṡāstra telah dimulai sejak tahun 120 M dipelopori oleh Kullukabhatta dan Medhiti di tahun 825 M. Kemudian beberapa Maha Rsi memasyarakatkan tafsir-tafsir Manawa Dharmasastra menurut versinya masing-masing sehingga menumbuhkan beberapa aliran Hukum Hindu, misalnya: Yajnawalkya, Mitaksara, dan Dayabhaga.
        Para Maha Rsi yang melakukan penafsiran-penafsiran pada Manawa Dharmaṡāstra menyesuaikan dengan tradisi dan kondisi setempat. Aliran yang berkembang di Indonesia adalah Mitaksara dan Dayabhaga. Di zaman Majapahit, Manawa Dharmaṡāstra lebih populer disebut sebagai Manupadesa. Proses penyesuaian kaidah-kaidah hukum Hindu nampaknya berjalan terus hingga abad ke-12 dipelopori oleh tokoh-tokoh suci: Wiswarupa, Balakrida, Wijnaneswara, dan Apararka. Dua tokoh pemikir Hindu, yaitu Sankhalikhita dan Wikhana berpandangan bahwa Manawa Dharmaṡāstra adalah ajaran dharma yang khas untuk zaman Krtayuga, sedangkan sekarang adalah zaman Kaliyuga. Keduanya mengelompokkan Dharmaṡāstra yang dipandang sesuai dengan zaman masing-masing, yaitu seperti di bawah ini.
  1. Manu; Manawa Dharmaṡāstra sesuai untuk zaman Krta Yuga
  2. Gautama; Manawa Dharmaṡāstra sesuai untuk zaman Treta Yuga
  3. Samkhalikhita; Manawa Dharmaṡāstra sesuai untuk zaman Dwapara Yuga
  4. Parasara; Manawa Dharmaṡāstra sesuai untuk zaman Kali Yuga
Dari temuan-temuan di atas dapatlah disimpulkan bahwa ajaran Manu atau Manawa Dharmaṡāstra tidaklah dapat diaplikasikan begitu saja tanpa mempertimbangkan kondisi, waktu, dan tempat (desa-kala-patra). Di Indonesia, reformasi tentang Hukum Hindu telah dilakukan di zaman Majapahit dengan menghasilkan produk-produk hukum lainnya seperti: Sarasamuscaya, Syara Jamba, Siwa Sasana, Purwadigama, Purwagama, Dewagama, Kutaramanawa, Adigama, Krta Sima, Paswara, dll.

Kutaramanawa yang disusun pada puncak kejayaan Majapahit menjadi acuan pokok terbentuknya Hukum Adat di Indonesia, karena penguasa Majapahit berkepentingan menjaga tertib hukum di kawasan Nusantara. Zaman terus beredar dan peradaban manusia meningkat dengan segala aspeknya. Pada tahun 1951 Raad Kerta atau Lembaga Peradilan Agama Hindu (di Bali) dihapuskan. Ditinjau dari segi kehidupan beragama, penghapusan Raad Kerta merupakan kemunduran yang serius karena pada kehidupan sehari-hari umat Hindu di Bali bersandar pada hukum-hukum agama Hindu, namun bila terjadi sengketa/ perkara Pemerintah RI menyediakan lembaga Hukum Peradilan Perdata/Pidana yang mengacu pada sumber hukum Eropa (Belanda) dan Yurisprudensi.

Sampai abad ke-21 (tahun 2013) umat Hindu di Bali (Indonesia) menginginkan adanya Lembaga Peradilan Agama Hindu yang dapat memutuskan kemelut perbedaan pendapat dan tingkah laku dalam melaksanakan kehidupan beragama. Kebutuhan ini dipandang mendesak agar terwujud kedamaian dan keamanan individu. Sampai saat ini nampaknya keinginan itu hanya sebatas wacana saja karena belum ada upaya- upaya riil dari lembaga-lembaga terkait untuk menyusun tatanan organisasi dan acuan hukum bagi suatu lembaga peradilan belum dapat diwujudkan. Mungkinkah semuanya itu hanya sebatas wacana yang berkembang ke publik untuk melegakan hati umat yang diklaim minoritas?

Kitab Dharmasastra yang memuat bidang hukum Hindu tertua dan sebagai sumber hukum Hindu yang paling terkenal adalah Manawa Dharmasastra. Berbagai bidang hukum Hindu yang termuat dalam Kitab Manawa Dharmasastra antara lain sebagai berikut.

1. Bidang Hukum Keagamaan
          Bidang hukum ini banyak memuat ajaran-ajaran yang mengatur tentang tata cara keagamaan yaitu menyangkut tentang beberapa hal seperti berikut ini.
  1. Bahwa semua alam semesta ini diciptakan dan dipelihara oleh suatu hukum yang disebut rta atau dharma.
  2. Ajaran-ajaran yang diturunkan bersifat anjuran dan larangan yang semuanya mengandung konsekuensi atau akibat (sanksi)
  3. Tiap-tiap ajaran mengandung sifat relatif yaitu dapat disesuaikan dengan zaman atau waktu dan di mana tempat dan kedudukan hukum itu dilaksanakan, dan absolut berarti mengikat dan wajib hukumnya dilaksanakan.
  4. Pengertian warna dharma berdasarkan pengertian golongan fungsional.

2. Bidang Hukum Kemasyarakatan
         Bidang hukum ini banyak memuat tentang aturan atau tata-cara hidup bermasyarakat (sosial). Dalam bidang ini banyak diatur tentang konsekuensi atau akibat dari sebuah pelanggaran, kalau kita telusuri lebih jauh saat ini lebih dikenal dengan hukum perdata dan pidana. Lembaga yang memegang peranan penting yang mengurusi tata kemasyarakatan adalah Badan Legislatif menurut Hukum Hindu adalah Parisadha. Lembaga ini dapat membantu menyelesaikan masalah dengan cara pendekatan perdamaian sebelum nantinya kalau tidak memungkinkan masuk ke pengadilan.

3. Bidang Hukum Tata Kenegaraan
           Bidang ini banyak memuat tentang tata-cara bernegara, di mana terjalinnya hubungan warga masyarakat dengan negara sebagai pengatur tata pemerintahan yang juga menyangkut hubungan dengan bidang keagamaan. Di samping sistem pembagian wilayah administrasi dalam suatu negara, Hukum Hindu ini juga mengatur sistem masyarakat menjadi kelompok – kelompok hukum yang disebut Warna, Kula, Gotra, Ghana, Puga, dan Sreni. Pembagian ini tidak bersifat kaku karena dapat disesuaikan dengan perkembangan jaman.
        Sumber hukum tata negara dan tata praja serta hukum pidana yang berlaku di Indonesia adalah sebagian besar merupakan hukum yang bersumber pada ajaran Manawa Dharmaṡāstra. Hal ini kemudian dikenal sebagai kebiasaan-kebiasaan atau hukum adat seperti yang berkembang di Indonesia dan khususnya dapat dilihat pada hukum adat di Bali.
         Istilah –istilah wilayah hukum dalam rangka tata laksana administrasi hukum dapat dilihat pada desa praja adalah administrasi terkecil dan bersifat otonomi dan inilah yang diterapkan pada zaman Majapahit terbukti dengan adanya sesanti, sesana dengan prasasti – prasasti yang dapat ditemukan di berbagai daerah di seluruh Nusantara. Lebih luas lagi wilayah yang mengaturnya dinamakan krama, dan daerah khusus ibu- kota sebagai daerah istimewa tempat administrasi tata pemerintahan disebut pura, penggabungan atas pengaturan semua wilayah ini dinamakan dengan istilah negara atau rastra. Maka dari itu hampir semua tatanan kenegaraan yang digunakan sekarang ini bersumber pada hukum Hindu.
        Demikian hukum Hindu (Dharmaṡāstra) dituliskan secara utuh dalam kitab Manawa Dharmasastra yang selanjutnya digunakan sebagai sumber hukum Hindu guna menata umat Hindu mewujudkan moksartham jagadhita ya ca iti dharma (sejahtera dan bahagia) lahir batin.

C. Sumber-sumber Hukum Hindu

Perenungan
“Ahaṁ manur abhavaṁ sūryaṡ ca ahaṁ kakṣivaṁ ṛṣir asmi viprah, ahaṁ kutsam arjuneyaṁ ny ṛnje ahaṁ kavir uṡana paṡyantā mā”.
Terjemahannya
“Aku, bersabda sebagai kesadaran tertinggi, Aku adalah sumber utama permenungan dan cahaya yang tertinggi. Aku seorang ṛṣi yang dapat melihat jauh dan merupakan pusat orbit alam semesta. Aku mempertajam intelek, Aku seorang penyair, Aku memenuhi keinginan semuanya, oleh karena itu, wahai engkau semua, patuhlah kepada Aku”.
(Rg Veda IV. 26. 1)
Memahami Teks
       Sumber hukum bagi umat Hindu atau masyarakat yang beragama Hindu adalah kitab suci Veda. Ketentuan mengenai Veda sebagai sumber hukum Hindu dinyatakan dengan tegas di dalam berbagai jenis kitab suci Veda. Sruti adalah merupakan sumber dari segala sumber hukum. Sruti merupakan sumber dari Smerti.
       Manawa Dharmasastra atau Manusmerti adalah kitab hukum yang telah tersusun secara teratur, dan sistematis. Kitab ini terbagi menjadi dua belas (12) Bab atau adyaya. Bila kita mempelajari kitab-kitab hukum Hindu maka kita banyak menemukan pokok-pokok pikiran yang berkaitan dengan titel hukum. Hal ini menunjukkan bahwa hukum Hindu mengalami proses perkembangan.

Kitab hukum Manawa Dharmasastra menjelaskan sebagai berikut.
“Idanim dharma pramananya ha, Wedo ‘khilo dharma mulam
smrti sile ca tad widam, ācāraṡca iwa sādhūnām ātmanasyuṣþir ewa ca.”
Terjemahannya:
“Seluruh Veda merupakan sumber utama daripada dharma (Agama Hindu) kemudian barulah Smrti di samping kebiasaan-kebiasaan yang baik dari orang- orang yang menghayati Veda serta kemudian acara tradisi dari orang-orang suci dan akhirnya atma tusti (rasa puas diri sendiri).”(Manawa Dharmasastra, II. 6).
Berdasarkan sloka tersebut di atas kita dapat mengenal sumber-sumber hukum Hindu menurut urut-urutannya adalah : 1) Veda Sruti, 2) Veda Smrti, 3) Sila, 4) Acara (Sadacara, dan 5) Atmanas tusti.

Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan, peninjauan sumber hukum Hindu dapat dilakukan melalui berbagai macam kemungkinan antara lain sebagai berikut.

1. Sumber Hukum Hindu menurut Sejarah

Sumber Hukum Hindu dalam arti sejarah adalah sumber hukum Hindu yang digunakan oleh para ahli Hindulogi dalam peninjauan dan penulisannya mengenai pertumbuhan serta kejadiannya. Kaidah-kaidah yang ada dalam bentuk tidak tertulis (Prasejarah), tidak bersifat sejarah melainkan secara tradisional atau kebiasaan yang di dalam hukum Hindu disebut Acara. Kemungkinan kaidah-kaidah yang berasal dari jaman prasejarah ditulis dalam zaman sejarah, dapat dinilai sebagai satu proses pertumbuhan sejarah hukum dari satu fase ke fase yang baru.

Menurut bukti-bukti sejarah, dokumen tertua yang memuat pokok-pokok hukum Hindu, untuk pertama kalinya kita jumpai di dalam Veda yang dikenal dengan nama Sruti. Kitab Veda Sruti tertua adalah kitab Reg Veda yang diduga mulai ada pada tahun 2000 SM. Adapun kitab-kitab berikutnya yang merupakan sumber hukum pula timbul dan berkembang pada jaman Smerti. Dalam jaman ini terdapat Yajur Veda, Atharwa Veda dan Sama Veda. Kemudian dikembangkan pula kitab Brahmana dan Aranyaka.
Fase berikutnya dalam sejarah pertumbuhan sumber hukum Hindu adalah adanya kitab Dharmasastra yang merupakan kitab undang-undang murni bila dibandingkan dengan kitab Sruti. Kitab ini dikenal dengan nama kitab smerti, yang memiliki jenis-jenis buku dalam jumlah yang banyak dan mulai berkembang sejak abad ke 10 SM. Kitab Smerti ini dikelompokkan menjadi enam jenis yang dikenal dengan istilah Sad Vedangga. Dalam kaitannya dengan hukum yang terpenting dari Sad Vedangga tersebut adalah dharma sastra (Ilmu Hukum).

Kitab dharma sastra menurut bentuk penulisannya dapat dibedakan menjadi dua macam, antara lain; 1) Sutra, yaitu bentuk penulisan yang amat singkat yakni semacam aphorisme. 2) Sastra, yaitu bentuk penulisan yang berupa uraian-uraian panjang atau lebih terinci.

Di samping kitab-kitab tersebut di atas yang digunakan sebagai sumber hukum Hindu, juga diberlakukan adat-istiadat. Hal ini merupakan langkah maju dalam perkembangan hukum Hindu. Menurut catatan sejarah perkembangan hukum Hindu, periode berlakunya hukum tersebut pun dibedakan menjadi beberapa bagian, antara lain;
  1. Pada zaman Krta Yuga, berlaku hukum Hindu (Manawa Dharmasastra) yang ditulis oleh Manu.
  2. Pada zaman Treta Yuga, berlaku hukum Hindu (Manawa Dharmasastra) yang ditulis oleh Gautama.
  3. Pada zaman Dwapara Yuga, berlaku hukum Hindu (Manawa Dharmasastra) yang ditulis oleh Samkhalikhita.
  4. Pada zaman Kali Yuga, berlaku hukum Hindu (Manawa Dharmasastra) yang ditulis oleh Parasara.
Selanjutnya sejarah pertumbuhan hukum Hindu dinyatakan terus berkembang. Hal ini ditandai dengan munculnya tiga mazhab dalam hukum Hindu di antaranya adalah, 1) Aliran Yajnawalkya oleh Yajnawalkya, 2) Aliran Mitaksara oleh Wijnaneswara, 3) Aliran Dayabhaga oleh Jimutawahana.

Di Indonesia kita warisi berbagai macam lontar dengan berbagai nama, seperti Usana, Gajahmada, Sarasamuscaya, Kutara Manawa, Agama, Adigama, Purwadigama, Krtapati, Krtasima, dan berbagai macam sasana di antaranya Rajasasana, Siwasasana, Putrasasana, Rsisasana dan yang lainnya. Semuanya itu adalah merupakan gubahan yang sebagian bersifat penyalinan dan sebagian lagi bersifat pengembangan.

Perlu dan penting kita ketahui sumber hukum dalam arti sejarah adalah adanya Rajasasana yang dituangkan dalam berbagai prasasti dan paswara-paswara yang digunakan sebagai yurisprudensi hukum Hindu yang dilembagakan oleh raja- raja Hindu. Hal semacam inilah yang nampak pada kita secara garis besarnya mengenai sumber-sumber Hukum Hindu berdasarkan sejarahnya.

2. Sumber Hukum Hindu dalam Arti Sosiologi

Pengetahuan yang membicarakan tentang kemasyarakatan disebut dengan sosiologi. Masyarakat adalah kelompok manusia pada daerah tertentu yang mempunyai hubungan, baik hubungan agama, budaya, bahasa, suku, darah dan yang lainnya. Hubungan di antara mereka telah mempunyai aturan yang melembaga, baik berdasarkan tradisi maupun pengaruh-pengaruh baru lainnya yang datang kemudian. Pemikiran tentang berbagai kaidah hukum tidak terlepas dari pandangan-pandangan masyarakat setempat. Terlebih pada umumnya hukum itu bersifat dinamis, maka peranan para pemikir, orang-orang tua, lembaga desa, parisadha dan lembaga yang lainnya turut mewarnai perkembangan hukum yang dimaksud.

Di dalam mempelajari data-data tertentu yang bersumber pada kitab Veda, kitab Nirukta menjelaskan sebagai berikut.
“Sakṣat kṛta dharmana ṛṣayo, bubhuvuste’ sakṣat kṛta dharmabhya upadesena mantran sampraduh”.
Terjemahannya :
“Para ṛṣi adalah mereka yang memahami dan mampu merealisasikan dharma dengan sempurna. Beliau mengajarkan hal tersebut kepada mereka yang mencari kesempurnaan yang belum merealisasikan hal itu” (Nirukta I. 19).
Kitab suci tersebut secara tegas menyatakan bahwa sumber hukum (dharma) bukan saja hanya kitab-kitab sruti dan smerti, melainkan juga termasuk sila (tingkah laku orang-orang beradab), acara (adat-istiadat atau kebiasaan setempat) dan atmanastusti yaitu segala sesuatu yang memberikan kebahagiaan pada diri sendiri. Oleh karena aspek sosiologi tidak hanya sebatas mempelajari bentuk masyarakat tetapi juga kebiasaan dan moral yang berkembang dalam masyarakat setempat.

Sloka-sloka yang menggariskan Veda sebagai sumber hukum yang bersifat universal di dalam kitab Manawa Dharmasastra dinyatakan sebagai berikut.
“Kamatmata na prasasta na caiwehastya kamatakamyohi Veda dhigamah karmayogas ca waidikah”
Terjemahannya:
“Berbuat hanya karena nafsu untuk memperoleh phala tidaklah terpuji namun berbuat tanpa keinginan akan phala tidak dapat kita jumpai di dunia ini karena keinginan-keinginan itu bersumber dari mempelajari Veda dan karena itu setiap perbuatan diatur oleh Veda”
(Manawa Dharmasastra, II.2).
“Teṣu samyag warttamāno gacchatya mara lokatām, yathā samkalpitāṁṡceha sarvān kāmān samaṡnute”
Terjemahannya :
“Ketahuilah bahwa ia yang selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah diatur dengan cara yang benar, mencapai tingkat kebebasan yang sempurna kelak dan memperoleh semua keinginan yang ia mungkin inginkan” (Manawa Dharmasastra, II.5).
“Yo’ wamanyeta te mūle hetu sāstrā srayad dwijaá, sa sādhubhir bahiskāryo nāstiko wedanindakaá”
Terjemahannya:
“Setiap dwijati yang menggantikan dengan lembaga dialektika dan dengan memandang rendah kedua sumber hukum (Sruti dan Smerti) harus dijauhkan dari orang-orang bijak sebagai seorang atheis dan yang menentang Veda” (Manawa Dharmasastra, II.11).
“Pitridewamanusyanam wedascaksuh sanatanah, asakyamca ‘prameyamca weda sastram iti sthitah”
Terjemahannya:
“Veda adalah mata yang abadi dari para leluhur, dewa-dewa, dan manusia; peraturan-peraturan dalam Veda sukar dipahami manusia dan itu adalah kenyataan”
(Manawa Dharmasastra, XII.94).
“Ya wda wahyah smrtayo yasca kasca kudrstayah, sarwastanisphalah pretya tamo nisthahitah smrtah”
Terjemahannya:
“Semua tradisi dan sistim kefilsafatan yang tidak bersumber pada Veda tidak akan memberi pahala kelak sesudah mati karena dinyatakan bersumber dari kegelapan” (Manawa Dharmasastra, XII.95)
“Utpadyante syawante ca yanyato nyani kanicit, tanyar wakalika taya nisphalanyanrtaani ca”
Terjemahannya:
“Semua ajaran yang timbul, yang menyimpang dari Veda segera akan musnah, tidak berharga dan palsu karena tak berpahala”
(Manawa Dharmasastra, XII. 96)
“Wibharti sarwabhutani wedasastram sanatanam, tasmadetat param manye yajjantorasya sadhanam”
Terjemahannya:
“Ajaran Veda menyangga semua mahkluk ciptaan ini, karena itu saya berpendapat, itu harus dijunjung tinggi sebagai jalan menuju kebahagiaan semua insani” (Manawa Dharmasastra, XII. 99)
“Senapatyam ca rajyam ca dandanetri twamewa ca, sarwa lokadhipatyam ca wedasastra widarhati”
Terjemahannya:
“Panglima angkatan bersenjata, Pejabat pemerintah, Pejabat pengadilan dan penguasa atas semua dunia ini hanya layak kalau mengenal ilmu Veda itu” (Manawa Dharmasastra, XII.100).
Sesungguhnya banyak sloka-sloka suci Veda yang menekankan betapa pentingnya Veda, baik sebagai ilmu maupun sebagai alat di dalam membina masayarakat. Oleh karena itu, berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ada itu penghayatan Veda bersifat sangat penting karena bermanfaat bukan saja kepada orang itu tetapi juga yang akan dibinanya. Karena itu Veda bersifat obligator baik untuk dihayati, diamalkan, maupun sebagai ilmu.

Dengan mengutip beberapa sloka yang bersangkutan dalam menghayati Veda, nampaknya semakin jelas mengapa Veda, baik Sruti maupun Smrti sangat penting. Kebajikan dan kebahagiaan berfungsi sebagaimana mestinya. Inilah yang menjadi hakikat dan tujuan dari penyebaran Veda itu.

3. Sumber Hukum Hindu dalam Arti Formal

Yang dimaksud dengan sumber hukum dalam arti formal menurut Prof. Mr. J.L. Van Aveldoorm adalah sumber hukum yang berdasarkan bentuknya yang dapat menimbulkan hukum positif. Artinya dibuat oleh badan atau lembaga yang berwenang. Yang termasuk sumber hukum dalam arti formal dan bersifat pasti, yaitu; 1) undang-undang, 2) kebiasaan dan adat, 3) traktat.

Di samping sumber-sumber hukum yang disebutkan di atas, ada juga sumber hukum yang diambil dari yurisprudensi dan pendapat para ahli hukum. Dengan demikian dapat kita lihat susunan sumber hukum dalam arti formal sebagai

1) undang-undang, 2) kebiasaan dan adat, 3) traktat, 4) yurisprudensi, dan 5) pen- dapat ahli hukum yang terkenal.

Sistematika susunan sumber hukum seperti tersebut di atas ini, dianut pula dalam hukum internasional sebagai tertera dalam pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional dengan menambahkan azas-azas umum hukum yang diakui oleh berbagai bangsa yang beradab sebagai sumber hukum juga. Dengan demikian, susunan hukum dapat dilihat juga sebagai: a) traktat internasional yang kedudukannya sama dengan undang-undang terhadap negara itu, b) kebiasaan internasional, c) azas-azas hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab, d) keputusan-keputusan hukum sebagai yurisprudensi bagi suatu negara, dan e) ajaran-ajaran yang dipublisir oleh para ahli dari berbagai negara hukum tersebut sebagai alat tambahan dalam bidang pengetahuan hukum.

Sistem dan azas yang digunakan untuk masalah sumber hukum terdapat pula dalam kitab Veda, terutama dalam kitab Manawa Dharmasastra sebagai berikut.  
”Idanim dharma pra mananya ha, vedo’khilo dharma mulam smrti sile, ca tad vidam acarasca iva, sadhunam atmanastustireva ca”.
(Manawa Dharmasastra II.6).
Terjemahannya:
”Seluruh pustaka suci Veda (sruti) merupakan sumber utama dharma (agama Hindu), kemudian barulah smerti di samping sila (kebiasaan-kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Veda) dan kemudian acara (tradisi-tradisi dari orang-orang suci) serta akhirnya atmanstuti (rasa puas diri sendiri).”
Berdasarkan penjelasan sloka suci kitab hukum Hindu tersebut di atas, dapat kita ketahui bahwa sumber-sumber hukum Hindu menurut Manawa Dharmasastra, adalah Veda Sruti, Veda Smerti, Sila, Acara (Sadacara), Atmanastuti.

4. Sumber Hukum Hindu dalam Arti Filsafat

Sumber hukum dalam arti filsafat merupakan aspek rasional dari agama dan merupakan satu bagian yang tak terpisahkan atau integral dari agama. Filsafat adalah ilmu pikir, dan juga merupakan pencairan rasional ke dalam sifat kebenaran atau realistis, yang juga memberikan pemecahan yang jelas dalam mengemukakan permasalahan-permasalahan yang lembut dari kehidupan ini, di mana ia juga menunjukkan jalan untuk mendapatkan pembebasan abadi dari penderitaan akibat kelahiran dan kematian.

Agama bukan hanya mengajarkan bagaimana manusia menyembah Tuhan, tetapi juga memuat tentang filsafat, hukum, dan lain-lain. Manawa Dharmasastra adalah kitab suci agama Hindu, yang memuat berbagai masalah hukum dilihat dari sistem kefilsafatannya, sosiologinya, dan bahkan dari aspek politik. Mengingat masalah hukum tersebut menyangkut berbagai bidang yang sangat luas, maka tidak akan terelakkan betapa pentingnya arti filsafat dalam menyusun suatu hipotesa hukum, bahkan filsafat menduduki tempat yang terpenting dalam ilmu hukum yang dituangkan dalam suatu cabang ilmu hukum yang disebut ”filsafat hukum”.

Berdasarkan sistem pertimbangan materi dan luas ruang lingkup isinya itu jelas kalau jumlah jenis buku Veda itu banyak. Walaupun demikian kita harus menyadari bahwa Veda itu mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh umat manusia. Maha Rsi Manu membagi jenis isi Veda itu ke dalam dua kelompok besar yang disebut: Veda Sruti, Veda Smrti.

Pembagian tersebut selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Veda baik secara tradisional maupun secara institusionil ilmiah. Dalam hal ini kelompok Veda Sruti merupakan kelompok buku yang isinya hanya memuat “Wahyu” (Sruti) sedangkan kelompok kedua Smrti adalah kelompok yang sifat isinya sebagai penjelasan terhadap “Sruti”. Jadi merupakan “manual”, buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti.

Kalau kita bandingkan dengan ilmu politik, “Sruti”, merupakan UUD-nya Hindu sedangkan “Smrti” adalah UU pokok. U.U. pelaksanaannya adalah kitab Nibandha, atau Carita, atau Sasana. Kedua-duanya merupakan sumber hukum yang mengikat yang harus diterima. Oleh karena itu, Bhagawan Manu menegaskan di dalam kitab Manawa Dharmasastra sebagai berikut.
“Srutistu wedo wijneyo dharmasastram tu wai smrtih,
Te sarwar thawam imamsye tabhyam dharmohi nirBabhu”.

Terjemahannya:
“Sesungguhnya Sruti (Wahyu) adalah Veda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apa pun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari hukum suci (dharma) itu” (Manawa Dharmasastra II.10).


Uji Kompetensi

Setelah mempelajari pembahasan materi pada pembelajaran 3 ini, jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan jelas pada lembar double polio. Setelah selesai, selanjutnya dikumpulkan kepada gurumu untuk mendapatkan nilai.

Pertanyaan:
  1. Bagaimana hubungan Dharmaṡāstra dengan kitab Manawa Dharmaṡāstra ?
  2. Menurut sumber bacaan di atas bagaimana pendapatu tentang keberadaan kitab Manawa Dharmasastra?
  3. Buatlah rangkuman yang berhubungan dengan kitab Manawa Dharmasastra dari berbagai sumber yang diketahui. Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtua kamu di rumah!
  4. Jelaskanlah minimal 2 sumber hukum Hindu menurut sejarah !
  5. Sebutkanlah sumber-sumber hukum Hindu menurut Manawa Dharmasastra !

Vibhuti Marga - Diktat Pembelajaran 2 Agama Hindu SMK Kelas XI Semester genap

Ajaran Vibhuti Marga
Ajaran Vibhuti Marga
PEMBELAJARAN 2
Vibhuti Marga

       “Ud vayaṁ tamataspari jyatis paṡyanta uttaram,
       Dewaṁ devatrā sūryam aganma jyotir uttamam”
Terjemahannya:
       “Dengan memandang sinar suci di luar alam gelap,
       kami sampai pada Sūrya, Dewata utama (tertinggi),
       sinar yang amat bagus” (Rg Veda I. 50. 10).

A. Pengertian dan Hakikat Vibhuti Mãrga
          Tuhan dalam keadaan tanpa sifat disebut nirguna atau sunya. Nirguna atau sunya adalah istilah yang digunakan untuk memahami hakikat Tuhan dalam keadaan hukumnya semula. Dalam ilmu filsafat dikatakan sebagai keadaan alam transendental. Transendental adalah sesuatu yang berada di luar lingkaran kemampuan pikir. Kalau diibaratkan fikiran itu mempunyai batas seperti lingkaran, segala yang ada di luar lingkaran dinamakan dalam alam transendental. Kitab Brahma Sutra memberi keterangan tentang aspek transendental itu dengan kalimat sebagai berikut.
       ‘Tad adwyaktm, Aha hi’ artinya sesungguhnya Tuhan itu yang tak terkatakan. Menggambarkan keagungan sifat-sifat Tuhan itu merupakan ajaran dari Vibhuti Marga.
Vibhuti Mārga berasal dari bahasa Sansekerta. Kata (Vibhu - ti) Vibhu ...(adjective): hadir di mana-mana; kekal; mengembang seluas-luasnya; kuat.
         ...(masculine): yang kuasa; yang maha kuasa; Brahman. Mārga ...(masculine : jalan; saluran; cara; gaya. Vibhuti mārga : Jalan atau cara – Brahman (Kamus Kecil Sansekerta – Indonesia, hal. 174 - 224).
Vibhuti Mārga berarti kebesaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para Maha Rsi melalui spiritual. Vibhuti Marga adalah penghayatan terhadap kebenaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para maharesi melalui spiritual yang kemudian penghayatannya dilukiskan dalam bentuk puisi sebagai rasa kekagumannya. Hakikat utama ajaran Vibhuti Marga adalah memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan persoalan-persoalan yang muncul mengenai sifat-sifat Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang transendental atau di luar alam indra.
     Penggambaran sifat-sifat mulia dan agung dari Tuhan yang melebihi dari segala yang ada merupakan ajaran Vibhuti Marga. Dalam ajaran ini dilukiskan sifat-sifat agung dari Tuhan seperti dewa dari semua dewa, maha bijaksana, maha mengetahui, maha adil, maha tinggi dan sebagainya. Semuanya ini adalah bentuk dari ajaran Vibhuti Marga. Kesadaran spiritual dalam penghayatan terhadap keagungan Tuhan yang dirasakan oleh seorang Maha Rsi di mana kekagumannya ini dilukiskan dengan suatu puisi yang bersifat abstrak yang mengandung makna moral yang digubah dengan begitu indahnya sehingga puisi itu bernilai sangat tinggi.
       Sumber yang digunakan untuk melukiskan segala keindahan itu adalah sinar. Oleh sebab itu sinar menjadi objek utama dan sangat dikagumi oleh para pujangga, sehingga akhirnya sinar menjadi simbul keindahan dan kemuliaan jiwa. Sinar merupakan simbol kebenaran, gambaran hukum Rta, kebaikan, kemuliaan, keindahan akal budi dan sebagainya. Dewa Agni sebagai dewa keagungan, dan sumber sinar. Maka ia dipuja sebagai yang berkilauan, memancarkan sinarnya ke bumi, ke langit, ke laut dan memberikan kehidupan pada semua makhluk.

B. Penerapan Vibhuti Marga dalam Kehidupan
Perenungan
“Tam insanām jagatattasdhusas pati ghiyam jinvār avase humahe vayam pusa no yatha vedasā masad vrghe raksita payuradacvah svataye”
Terjemahannya adalah.
“Ya, Yang Mahakuasa, dewa bagi yang bergerak dan yang tidak bergerak, yang mengilhami pikiran, kami mohon pertolongan. Semoga Tuhan, pelindung kami dan yang menjaga kami, yang tak terkalahkan, lipat gandakanlah kekayaan kami untuk kesejahteraan kami” (Åg Veda I.89-5).
     Apakah pemujaan itu sekadar menangkup tangan, atau sekadar mengucapkan doa dan lagu sanjungan? Ataukah sekadar memikirkan tentang Tuhan. Apakah pemujaan itu berarti penghormatan yang mungkin bersifat duniawi? Hal ini tidak pernah dijelaskan dengan tepat. Sekadar sujud saja belum berarti memuja. Begitu pula sekadar menyanjung dalam lagu dan nyanyian belum tentu memuja.
Banyak nyanyian yang kita dengar dalam upacara keagamaan atau dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini bukan pemujaan atau ini juga adalah pemujaan. Manusia melagukan nyanyian-nyanyian tentang kebahagiaan, tentang cinta, tentang penderitaan. Semuanya adalah kata hati yang digambarkan. Kita melagukan kebesaran Tuhan, berarti kita menyanyikan tentang kemuliaan Tuhan. Pendeknya banyak yang kita dengar dan kita lakukan. Kita menghormati dan sujud kepada orangtua, kita hormat kepada para pendeta. Semuanya juga berarti macam-macam. Untuk memperingati atau menghormati jasa seseorang kita mencontoh dan menggambarkan semua perjuangan atau tingkah laku orang yang kita agung-agungkan itu. Ini penghormatan atau pemujaan.
         Bahasa manusia terlalu terbatas untuk menggambarkan arti kata pemujaan yang sebenarnya. Yang terpenting dalam pemujaan adalah sifat menyerahkan diri sepenuh hati kepada yang dipuja. Jadi sifat bhakti dan dengan menghubungkan diri kepada yang dipuja. Menghubungkan diri artinya melakukan yoga. Yoga berasal dari kata Yuj dan dari kata itu kemudian lahir kata yoga. Cara melakukan hubungan inilah yang disebut sembahyang, atau memuja menurut bahasa Sansekerta.
        Kitab Rg. Veda X.71. mengemukakan ada empat jalan atau cara yang dapat dilakukan oleh manusia untuk sampai kepada Tuhan. Keempat cara atau jalan (Marga) itu disebutkan sebagai berikut.
  • Dengan cara menyanyikan lagu-lagu pujaan.
  • Dengan cara mempelajari dan mengenal Tuhan kemudian mengajarkannya. c. Dengan cara melakukan yajna dan memenuhi aturan yang digariskan.
  • Dengan cara membaca doa-doa mantra.
  • Keempat cara itulah yang mula-mula telah dikemukakan yang lazim dilakukan oleh orang-orang pada waktu itu.
Dari ajaran itu kemudian dikembangkan menjadi beberapa marga (yoga) yang kita kenal berikut ini.
1. Ajaran Bhakti Marga (Yoga)
        Bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan jalan kepatuhan atau bhakti. Bhakti Yoga disenangi oleh sebagian besar umat manusia. Tuhan merupakan pengejawantahan dari kasih sayang, dan dapat diwujudkan melalui cinta kasih seperti cinta suami kepada istrinya yang menggelora dan menyerap segalanya. Cinta kepada Tuhan harus selalu diusahakan. Mereka yang mencintai Tuhan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan. Ia tak pernah membenci makhluk hidup atau benda apa pun, dan tak pernah tertarik dengan objek-objek duniawi. Ia merangkul semuanya dalam dekapan tingkat kasih sayangnya.
2. Ajaran Jnana Marga (Yoga)
      Jñanayoga merupakan jalan pengetahuan. Pelajar Jñanayoga pertama-tama melengkapi dirinya dengan tiga cara yaitu: (1) pembedaan (viveka), (2) ketidakterikatan (vairagya), (3) kebajikan, ada enam macam (sat-sampat), yaitu: (a) ketenangan (sama), (b) pengekangan (dama), (c) penolakan (uparati), ketabahan (titiksa), (d) keyakinan (sraddha), (e) konsentrasi (samadhana), dan (f) kerinduan yang sangat akan pembebasan (mumuksutva). Selanjutnya ia mendengarkan kitab suci dengan duduk khusuk di depan tempat duduk (kaki padma) seorang guru yang tidak saja menguasai kitab suci Veda (Srotriya), tetapi juga bagus dalam Brahman (Brahmanistha). Selanjutnya para siswa melaksanakan perenungan, untuk mengusir segala keragu- raguan. Kemudian melaksanakan meditasi yang mendalam kepada Brahman dan mencapai Brahma-Satsakara. Ia seorang Jivanmukta (mencapai moksa, bersatu dengan-Nya dalam kehidupan ini.
3. Ajaran Vibhuti Marga (Yoga)
       Vibhuti Marga (Yoga) merupakan jalan penghayatan terhadap kebesaran dan kemuliaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai sinar-Nya sebagai simbol keindahan, kemuliaan jiwa, kebenaran, Rta, kebaikan, kebahagiaan, kekekalan, Tuhan dan lain-lain melalui jalan spiritual (pemikiran) oleh para Maharsi guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan umatnya. Vibhuti Marga adalah penghayatan terhadap kebenaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para maharesi melalui spiritual yang kemudian penghayatan tersebut dilukiskan secara lahiriah dalam bentuk puisi sebagai rasa kekagumannya.
4. Ajaran Karma Marga (Yoga)
       Karmayoga adalah jalan pelayanan yang membawa pencapaian menuju Tuhan melalui kerja tanpa pamrih. Yoga ini merupakan penolakan terhadap buah perbuatan. Karmayoga mengajarkan bagaimana bekerja demi untuk kerja itu, yaitu tiadanya keterikatan. Demikian juga bagaimana menggunakan tenaga untuk keuntungan yang terbaik. Bagi seorang Karmayogin, kerja adalah pemujaan, sehingga setiap pekerjaan dialihkan menjadi suatu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang Karmayogin tidak terikat oleh karma (hukum sebab akibat), karena ia mempersembahkan buah perbuatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5. Ajaran Raja Marga (Yoga)
       Rajayoga adalah jalan yang membawa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa, melalui pengekangan diri, pengendalian diri, dan pengendalian pikiran. Rajayoga mengajarkan bagaimana mengendalikan indra-indra dan vritti mental atau gejolak pikiran yang muncul dari pikiran melalui tapa, brata, yoga dan samadhi. Dalam Hatha Yoga terdapat disiplin fisik, sedangkan dalam Rajayoga terdapat disiplin pikiran. Raja Marga Yoga hendaknya dilakukan secara bertahap melalui Astāngga yoga yaitu delapan tahapan Yoga, yang meliputi yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi.
         Yang terpenting dalam pengertian cara sembahyang itu ialah keharusan agar seorang yang hendak sembahyang harus dalam keadaan suci dan baik. Suci dan baik tidak hanya suci karena mandi saja tetapi juga suci karena tingkah laku. Dalam Manu Smrti dikemukakan sebagaimana hal-hal berikut.
  1. Pikiran yang kotor dan tidak baik harus diperbaiki dan disucikan dengan membaca-baca mantra atau kitab-kitab Veda.
  2. Badan yang kotor harus dibersihkan dengan jalan mandi.
  3. Benda-benda yang kotor harus dibersihkan dengan air, api atau benda-benda pensuci lainnya.
  4. Perkataan yang kotor harus diganti, dan belajar berkata-kata yang baik, kata-kata halus dan budi bahasa yang baik.
     Mereka yang dalam keadaan suci seperti inilah yang dikatakan layak bersembah bakti pada Tuhan. Dengan kata lain ketentuan itu wajib sifatnya dan karena itu orang yang tidak memenuhi syarat doanya akan sia-sia saja, karena yang Maha Suci, Tuhan hanya terjangkau oleh sifat kesucian dan kebajikan manusia penyembahnya sendiri, sesuai menurut aturan yang telah ditentukan (Rg. Veda IX.73.6).

Definisi tentang Tuhan dijumpai dalam kitab Brahma Sūtra I.1.2 sebagai berikut.
“Janmādyasyayatah”
Terjemahannya.
“(Brahman adalah yang Maha Tahu dan penyebab yang Maha Kuasa) dari mana munculnya asal mula dan lain-lain, (yaitu pemeliharaan dan peleburan) dari (dunia ini)”.
       Kitab Brahma Sūtra merupakan sistematisasi dari pemikiran kitab-kitab Upanisad. Dalam Brahma Sūtra ditemukan nama-nama aliran pemikiran Vedānta. Bādarāyana, yang dianggap sebagai penyusun Brahma Sūtra atau Vedānta Sūtra, bukanlah satu-satunya orang yang mencoba mensistematisir gagasan filsafat yang terdapat dalam Upanisad, walaupun mungkin merupakan karya yang terakhir dan terbaik. Semua sekte di India sekarang ini menganggap karya beliau sebagai otoritas utama dan setiap sekte baru pastilah mulai dengan memberikan ulasan baru pada Brahma Sūtra ini – dan rasanya tak akan ada sekte yang dapat didirikan tanpa berbuat demikian (Vireśvarānanda, 2002 : 5).

C. Tujuan Ajaran Vibhuti Marga dan Tujuan Agama Hindu

Perenungan
“Bhadraṁ no api vātaya mano dakṣaṁ uta kratum,
adha te sakhye andhaso vi vo made raṇam gāvo na yavase vivaksaṣe.”
Terjemahannya.
“Berikanlah kami pikiran yang baik dan bahagia, berikanlah kami keterampilan dan pengetahuan. Maka semoga manusia dalam persahabatan-Mu merasa bahagia, ya Tuhan! seperti sapi di padang rumput. Engkau yang Mahaagung”(Rg Veda X. 25.1)


Memahami Teks
      Agama adalah kepercayaan hidup pada ajaran-ajaran suci yang diwahyukan oleh Ida Sang Hyang Widhi, yang kekal abadi. Tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai kedamaian/kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani umatnya. Tujuan agama Hindu ini sebagaimana dituliskan dalam berbagai pustaka suci Veda dengan sloka ”Moksartham jagadhita ya ca iti dharma”

D. Sloka-sloka Vibhuti Marga sebagai Tuntunan Hidup

Perenungan
“Yo dharta bhuvanam ya usranam apicya veda namani guhya, sa kavih kavya puru rupam dyairiva pusyati.”
Terjemahannya:
“Ia yang menjadi pendukung hidup, yang mengetahui nama-nama sinar pagi yang penuh rahasia.
Ia, penyanyi, pemelihara semua isi alam dengan kekuatan lagu-Nya, bahkan langit sekali pun” (Åg Veda VIII. 41-5).

Memahami Teks
        Penggambaran sifat-sifat mulia dan agung dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa melebihi dari segala yang ada, merupakan ajaran Vibhuti Marga yang dapat berfungsi sebagai tuntunan hidup guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagia umat sedharma.
Berbagai macam sloka berikut yang dikutip dari beberapa jenis kitab suci Veda dipercayai dapat mengilhami umat sedharma mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
”Ucchantì yā kṛṇoṣi mamhanā mahi prakhyai devi ṡvar ddaṡe
tasyate ratnabhaja imahe vayaṁ syāma mātur na sūnavaá”
Terjemahannya:
”Engkaulah, dewi, fajar merekah, dengan kemuliaan-Mu bumi ini tampak dan kami dapat melihat langit, Engkaulah, yang membagikan batu permata, kami panjatkan doa kepada-Mu semoga kami bagi-Mu bagaikan seorang anak (yang cinta) kepada ibunya”
(Ag Veda VII. 81. 4).
“Viṡvāni deva savitar duritāni parā suva, yad bhadraṁ tanna ā suva”
Terjemahannya:
“Ya Savita (Tuhan Yang Maha Cemerlang), jauhkanlah segala kejahatan,
anugrahkanlah segala kebajikan kepada kami” (Ag Veda V. 82. 5)’.
“Ã viṡvadevaṁ satpatiṁ sūktairadya vṛnimahe, satyasavam savitāram”
Terjemahannya:
“Dengan lagu pujian kami pilih seluruh dewata,
Dewa tertinggi untuk kebaikan, Savitar, yang hukumnya selalu benar” (Ag Veda V. 82. 7)
“vṛhatsumnaá prasavitā niveṡano jagataá sthāturubhayasya yo vaṡi sa no devaá savitā ṡarma yaccha
tvasme kṣayāya trivarutham aṁhasaá.”
Terjemahannya:
“Tuhan yang Mahapengasih, yang memberi kehidupan pada alam dan menegakkannya. Ia yang mengatur baik yang bergerak dan yang tidak bergerak. Semoga Ia Savitar, memberikan rakhmat-Nya kepada kami. Untuk ketentraman hidup, dengan kemampuan melawan kekuatan jahat.”
(Ag Veda IV. 53. 6)

         Dewa Surya disebut dengan sebutan Savita atau Savitar adalah sebagai dewa pencipta kehidupan yang ada di alam semesta, Maha Agung dan Mahakasih sebagai sumber kebajikan dan keindahan serta kebenaran. Pada dewa inilah semua makhluk berlindung beserta memohon agar dewa ini dapat memberikan ketentraman hidup dengan kekuatan untuk mampu melawan kejahatan.
Penggambaran sifat-sifat mulia dan agung dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dapat dilakukan dengan berbagai macam simbol. Penggambaran tentang Tuhan Yang Maha Esa dilakukan untuk mempermudah umat memahami tentang sifat-sifat Tuhan yang maha.

Uji Kompetensi
Setelah mempelajari materi pembelaran 2 diatas, selanjutnya jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini pada kertas double polio / sesuai permintaan gurumu kemudian dikumpulkan.
Pertanyaan:
  1. Apakah yang dimaksud dengan Vibhuti Marga? Jelaskanlah!
  2. Galilah konsep ajaran Vibhuti Marga yang ada pada berbagai jenis sumber buku yang pernah dibaca. Tuliskanlah dan pahamilah konsep-konsep yang dimaksud, selanjutnya tuangkan karyamu masing-masing dalam portopolio.
  3. Dengan cara bagaimana ajaran Vibhuti Marga dapat dilaksanakan? Jelaskanlah!
  4. Bagaimana pelaksanaan ajaran Vibhuti Marga yang ada di sekitar lingkungan kamu?
  5. Menurut kamu sejak kapan sebaiknya ajaran Vibhuti Marga dilaksanakan oleh umat Hindu? Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah dan teman-temanmu di sekolah.
  6. Apakah tujuan ajaran Vibhuti Marga?
  7. Apakah tujuan agama Hindu?
  8. Bagaimana hubungan tujuan ajaran Vibhuti Marga dengan tujuan agama Hindu? Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah dan teman - temanmu di sekolah!
  9. Mengapa kita perlu menggambarkan perwujudan Tuhan?
  10. Temukanlah bait-bait sloka yang menggambarkan tentang Tuhan dari berbagai sumber yang diketahui!
Jawablah pertanyaan tersebut dengan singkat dan jelas. Kamu dapat mencari jawaban dari sumber lain seperti Buku Paket dan buku penunjang lainnya.

CATUR MARGA - Diktat Pembelajaran 1 Agama Hindu SMK Kelas XI Semester genap

DIKTAT PAH XI
PEMBELAJARAN 1
Catur Marga


abhyùróoti yatragnaý bhiûakti viúvam yat tùram, premandhaá ravyatriá úroóo bhùt”.
Terjemahannya:
“Ia memberikan pakaian kepada yang telanjang, ia mengobati yang sakit, Melalui dia orang buta dapat melihat, yang lumpuh dapat berjalan”.
(Åg Veda VIII. 79.2)

A.Pengertian dan Hakikat Catur Marga
Perenungan:
Bhadram no api vataya mano daksam uta kratum, adha te sakhye andhaso vi vo made ranam gavo na yavase vivaksase”.
Terjemahannya adalah.
“Berikanlah kami pikiran yang baik dan bahagia, berikanlah kami keterampilan dan pengetahuan. Maka semoga manusia dalam persahabatan-mu merasa bahagia, ya Tuhan! seperti sapi di padang rumput. Engkau yang Maha Agung”. (Rg Veda X25. 1)

Catur Marga berasal dari dua kata yaitu Catur dan Marga. Catur berarti empat dan Marga berarti jalan/cara ataupun usaha. Jadi catur marga adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Catur Marga juga sering disebut dengan Catur Yoga Marga. Catur Marga atau Catur Yoga disebutkan adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

Sumber ajaran Catur Marga diajarkan dalam pustaka suci Bhagavad Gita, terutama pada trayodhyaya tentang karma yoga/marga yakni sebagai satu sistem yang berisi ajaran yang membedakan antara ajaran subha karma (perbuatan baik) dengan ajaran asubha karma (perbuatan yang tidak baik) yang dibedakan menjadi perbuatan tidak berbuat (akarma) dan wikarma (perbuatan yang keliru).
Karma memiliki dua makna yakni karma terkait ritual atau yajna dan karma dalam arti tingkah perbuatan. Kedua, tentang bhakti yoga marga yakni menyembah Tuhan dalam wujud yang abstrak dan menyembah Tuhan dalam wujud yang nyata, misalnya mempergunakan nyasa atau pratima berupa arca atau mantra. Ketiga, tentang jnana yoga marga yakni jalan pengetahuan suci menuju Tuhan Yang Maha Esa.

Ada dua pengetahuan yaitu jnana (ilmu pengetahuan) dan wijnana (serba tahu dalam penetahuan itu). Keempat, Raja Yoga Marga yakni mengajarkan tentang cara atau jalan yoga atau meditasi (konsentrasi pikiran) untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dalam Bhagavad Gita, 7:21 disebutkan.
Yo-yo yàý- yàý tanuý bhaktaá úraddhayàrcitum icchati, tasya tasyà calàý úraddàý tàm eva vidadhàmy aham
Terjemahannya adalah.
”Kepercayaan apa pun yang ingin dipeluk seseorang, Aku perlakukan mereka sama dan Ku-berikan berkah yang setimpal supaya ia lebih mantap”

B. Penjelasan Bagian-bagian Catur Marga Yoga
Perenungan
“Iyam hi yonih prathamā yonih prāpya jagatipate, ātmānam ṣakyate trātum karmabhih ṡubhalakṣaṇaih”.

“Apan iking dadi wwang, utama juga ya, nimitaning mangkana, wénang ya tumulung awaknya sangkeng sangsāra, makasādhanang ṡubhakarma, hinganing kotamaning dadi wwang”.

Terjemahannya adalah.
“Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia”. (Sarasamuçcaya I.4).

1. Bhakti Marga Yoga
Sivananda (1997:129-130) menyatakan bahwa bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan jalan kepatuhan atau bhakti. Bhaktiyoga disenangi oleh sebagian besar umat manusia. Tuhan merupakan pengejawantahan dari kasih sayang, dan dapat diwujudkan melalui cinta kasih seperti cinta suami kepada istrinya yang menggelora. Cinta kepada Tuhan harus selalu. Mereka yang
mencintai Tuhan diutamakan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan. Ia tak pernah mem- benci makhluk hidup atau benda apa pun, dan tak pernah tertarik dengan objek-objek duniawi.

2. Jnana Marga Yoga
Sivanada (1993:133-134) menyatakan bahwa jñanayoga merupakan jalan pengetahuan. Moksa (tujuan hidup tertinggi manusia berupa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa) dicapai melalui pengetahuan tentang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Pelepasan dicapai melalui realisasi identitas dari roh pribadi dengan roh tertinggi atau Brahman. Penyebab ikatan dan penderitaan adalah avidya atau ketidaktahuan. Jiwa kecil, karena ketidaktahuan secara bodoh menggambarkan dirinya terpisah dari Brahman. Avidya bertindak sebagai tirai
atau layer dan menyelubungi jiwa dari kebenaran yang sesungguhnya, yaitu bersifat Tuhan. Pengetahuan tentang Brahman atau Brahmajñana membuka selubung ini dan membuat jiwa bersandar pada Sat-Cit-Ananda Svarupa (sifat utamanya sebagai keberadaan kesadaran- kebahagian mutlak) dirinya.

3. Karma Marga Yoga
Karma yoga adalah jalan pelayanan tanpa pamrih, yang membawa pencapaian menuju Tuhan melalui kerja tanpa pamrih. Yoga ini merupakan penolakan terhadap buah perbuatan. Karma yoga mengajarkan bagaimana bekerja demi untuk kerja itu, yaitu tiadanya keterikatan. Demikian juga bagaimana menggunakan tenaga untuk keuntungan yang terbaik. Bagi seorang Karmayogin, kerja adalah pemujaan, sehingga setiap pekerjaan dialihkan menjadi suatu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang Karmayogin tidak terikat
oleh karma (hukum sebab akibat), karena ia mempersembahkan buah perbuatannya kepada Tuhan yang Maha Esa. Penjelasan tentang setiap pekerjaan dilaksanakan sebagai wujud bhakti kepada Tuhan yang Maha Esa dijelaskan dalam Bhagavad Gita IX.27-28.

Dalam kitab Bhagavad Gita (III.19, 30) juga mengamanatkan sebagai berikut.
“Tasmād asaktaá satataṁ kāryaṁ karma samācara, asakto by ācaram karma param āpnoti pūruṣaá”
Terjemahannya adalah.
“Oleh karena itu, laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat (pada akibatnya), sebab dengan melakukan kegiatan kerja yang bebas dari keterikatan, orang itu sesungguhnya akan mencapai yang utama” (Bhagavad Gita.III. 19)
“Mayi sarvani karmani sannyasyadhyatma-cetasa, nirasir nirmamo bhutva yudhyasva vigatajvarah”.
Terjemahannya adalah.
“Pasrahkan semua kegiatan kerjamu itu kepada-Ku, dengan pikiran terpusat pada sang atma, bebas dari nafsu keinginan dan keakuan, berperanglah, enyahkan rasa gentarmu itu”. (Bhagavad Gita. III. 30)

4. Raja Marga
Raja Yoga adalah jalan yang membawa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa, melalui pengekangan diri dan pengendalian diri dan pengendalian pikiran. Raja yoga mengajarkan bagaimana mengendalikan indra-indra dan vritti mental atau gejolak pikiran yang muncul dari pikiran melalui tapa, brata, yoga dan samadhi. Dalam Hatha Yoga terdapat disiplin fisik, sedangkan dalam Raja Yoga terdapat disiplin pikiran. Melakukan Raja Marga Yoga hendaknya dilakukan secara bertahap melalui Astāngga yoga yaitu delapan tahapan yoga, yang meliputi yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi. Seseorang yang melaksanakan ajaran Raja Marga Yoga disebut dengan sebutan yogi.
Konsentrasi dan meditasi menuntun menuju samadhi atau pengalaman supra sadar, yang memiliki beberapa tingkatan pendakian, disertai atau tidak disertai dengan pertimbangan (vitarka), analisa (vicara), kebahagiaan (ananda), dan kesadaran diri (asmita). Demikian, kailvaya atau kemerdekaan tertinggi dicapai. Dari keempat jalan tersebut semuanya adalah sama, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah, semuanya baik dan utama tergantung pada kepribadian, watak dan kesanggupan manusia untuk melaksanakannya.

C. Contoh-contoh Penerapan Catur Marga dalam Kehidupan
Perenungan
“Eto nvindraṁ stavama ṡiddhaṁ ṡuddhena samrā
ṡuddhair ukthair vāvṛghvāmṡāṁ ṡuddha āṡirvān mamattu”.
Terjemahannya adalah.
“Marilah kita semua memanjatkan doa kepada Tuhan, yang suci, dengan nyanyian pujian sama, Dia yang dimuliakan dengan lagu-lagu pujian, semoga yang suci, yang Mahapemurah senang”. (Rg Veda VIII. 95. 1)
1. Bhakti Marga/Yoga
a. Pelaksanaan Tri Sandya dan yajña Sesa
b. Pelaksanaan pada Hari-hari Keagamaan
    - seperti hari Saraswati, tumpek wariga dan tumpek uye

2. Jnana Marga Yoga
a. Ajaran Brahmacari
Brahmacari adalah mengenai masa menuntut ilmu dengan tulus ikhlas. Tugas pokok kita pada sebagian masa ini adalah belajar. Belajar dalam arti luas, yakni dalam pengertian bukan hanya membaca buku. Tetapi lebih mengacu pada ketulusikhlasan dalam segala hal. Contohnya rela dan ikhlas jika dimarahi guru atau orangtua. Guru dan orangtua, jika memarahi pasti demi kebaikan anak.
b. Ajaran Aguron-guron
Merupakan suatu ajaran mengenai proses hubungan guru dan murid. Namun istilah dan proses ini telah lama dilupakan karena sangat susah mendapatkan guru yang mempunyai kualifikasi tertentu dan juga sangat sedikit orang menaruh perhatian dan minat terhadap hal ini.
c. Ajaran Catur Guru
Catur Guru Bhakti senantiasa relevan sepanjang masa, sesuai dengan sifat agama Hindu yang Sanatana Dharma. Aktualisasi ajaran Guru Bhakti atau rasa bhakti kepada Catur Guru dapat dikembangkan dalam situasi apa pun, sebab hakikat dari ajaran ini adalah untuk pendidikan diri, utamanya pendidikan disiplin, patuh dan taat kepada sang Catur Guru dalam arti yang seluas-luasnya.

3. Karma Marga Yoga
a. Berkarma Tulus dan Membantu
Berbuat ikhlas dan membantu dalam bahasa Bali Ngayah dan Matatulung:
merupakan suatu istilah yang ada di Bali dan identik dengan gotong royong. Ngayah ini dapat dilakukan di pura-pura dalam hal upacara keagamaan, seperti odalan-odalan/karya. Sedangkan matatulungan ini bisa dilakukan antarmanuasia yang mengadakan upacara ke- agamaan pula, seperti upacara pawiwahan, mecaru dan lain
b. Berkarma yang Baik
Berbuat baik atau mekarma sane melah hendaknya selalu kita lakukan. Dalam agama Hindu ada slogan mengatakan “Rame ing gawe sepi ing pamrih” Slogan itu begitu melekat pada diri kita sebagai orang Hindu. Banyaklah berbuat baik tanpa pernah berpikir dan berharap suatu balasan.
c. Ajaran Karmaphala
Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk.

4. Raja Marga Yoga
Penerapan Raja Marga Yoga ini antara lain terdapat pada ajaran Astāngga yoga, yaitu catur brata penyepian. Pelaksanaan Hari Raya Nyepi, pada hakikatnya merupakan penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin (jagadhita dan moksa) terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/keindahan).

D. Hubungan Catur Marga dengan Tujuan Ajaran Agama Hindu
Perenungan
“Dharma ewa plawo nanyah swargam sabhiwanchatam sa ca naurpwanijastatam jala dhen paramicchatah”.
Ikang dharma ngaranya, hetuning mare ring swarga ika, kadi gatining prahu, an hetuning banyaga nentasing tasik”
Terjemahannya adalah.
“Yang disebut dharma, penyebab menuju sampai ke surga itu, seperti halnya sebuah perahu alat bagi pedagang menyebrangi laut” (Sarasamuçcaya I.14).
Umat manusia tentunya memiliki tujuan hidup, termasuk umat Hindu memiliki tujuan hidup yang jelas yakni seperti berikut ini.
1. Moksartham jagad hita ya ca iti Dharma.
2. Catur Purusartha.
3. Santa Jagadhita.
4. Sukerta Sakala lan Niskala.
5. Mencapai keharmonisan hidup sesuai ajaran Catur Marga.

Penerapan Catur Marga oleh umat Hindu sesungguhnya telah diterapkan secara rutin dalam kehidupannya sehari- hari, termasuk juga oleh umat Hindu yang tinggal di Bali maupun yang tinggal di luar Bali. Banyak cara dan jalan yang dapat ditempuh untuk dapat menerapkannya. Inti dari penerapan Catur Marga adalah untuk memantapkan mengenai hidup dan kehidupan umat manusia di alam semesta ini, terutama untuk peningkatan, pencerahan, serta memantapkan keyakinan atau kepercayaan (sraddha) dan pengabdian (bhakti) terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan memahami dan menerapkan ajaran Catur Marga, diharapkan segenap umat Hindu dapat menjadi umat yang berkualitas, bertanggung jawab, memiliki loyalitas, dedikasi, jati diri yang mulia dan harapan lainnya guna tercapai kehidupan yang damai, rukun, tenteram, sejahtera, bahagia dan sebagainya. Jadi dengan penerapan ajaran Catur Marga diharapkan agar tujuan dari agama Hindu dapat terwujud.


Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan dibawah ini pada kertas double polio, kemudian kumpulkan kepada Guru-mu untuk mendapatkan nilai ulangan harian 1 !
  1. Apakah yang dimaksud dengan Catur Marga?
  2. Apa tujuan dari pelaksanaan Catur Marga?
  3. Coba jelaskan contoh-contoh yang dapat dilakukan dalam menerapkan Catur Marga!
  4. Coba sebutkan bagian- bagian dari Catur Marga!
  5. Apakah dalam kehidupanmu sehari- hari sudah menerapkan ajaran Catur Marga? Jika sudah berikan contohnya!
  6. Jelaskanlah bagian- bagian dari Catur Marga yang kamu ketahui!
  7. Coba sebutkan contoh-contoh pengalaman pribadimu yang sudah dilakukan dalam menerapkan ajaran Catur Marga!
  8. Termasuk pada bagian yang manakah dalam Catur Marga pelaksanaan Tri Sandya?
  9. Bagaimana hubungan mebanten Saiban, dengan ajaran Catur Marga itu? Jelaskanlah! Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah!
  10. Amatilah gambar berikut ini dengan baik dan benar, selanjutnya buatlah deskripsinya !

pengabenan wujud bhakti pada leluhur
pengabenan wujud bhakti pada leluhur

Penjelasan tentang Sad Ripu sebagai Aspek Diri yang Harus Dikendalikan - Materi Ajar

Sudah banyak yang telah membahas tentang Sad Ripu dan upaya mengendalikan sad ripu. Namun disini akan lebih diperjelas lagi mengenai pengertian dari Sad Ripu sesuai dengan asal katanya serta akan dijelaskan tentang pembagian sad ripu yang merujuk pada sastra-sastra agama Hindu.

Sebelum membahas tentang Sad Ripu, ada baiknya jika terlebih dahulu membaca Petikan Sloka dibawah ini untuk membuka pandangan dan pemikiran kita.
"Evam buddhem param buddhva,
samstabhya ‘tmanam atmanah,
jahi satrum mahabaho,
kamarupam durasadam
"
Terjemahan:
Mengetahui Dia lebih agung dari intelek dengan mengendalikan jiwamu dengan jiwa, basmilah musuhmu dalam bentuk hawa nafsu, yang tidak mudah ditundukkan, Oh Mahabhahu
Bhagavad-gītā III.43
A. Sad Ripu dalam Diri
Sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama Hindu dalam etikanya bahwa perilaku yang tidak baik (negatif) merupakan salah satu perilaku yang tidak boleh dilaksanakan. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi manusia didunia ini yang mana terdapat musuh yang harus dihindari oleh setiap makhluk hidup sangatlah dekat dengan diri. Musuh itu terlihat seperti sahabat jika dibungkus oleh kemunafikan dan pembenaran sehingga terkesan orang tersebut adalah orang yang baik. Musuh manusia sangatlah dekat dengan dirinya. Dalam agama Hindu, musuh dalam diri disebut Sad Ripu.
Sad Ripu dalam diri liar bagaikan singa
Sad Ripu Dalam Diri
Penjelasan tentang pengertian Sad Ripu dapat dilihat dari asal katanya. Sad Ripu berasal dari bahasa Sanskerta, dari kata sad berarti enam dan ripu berarti musuh. Jadi, secara harfiah, Sad Ripu berarti enam musuh dalam diri manusia. Enam musuh pada setiap orang dapat memengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupannya. Pengaruh yang ditimbulkan oleh Sad Ripu berbeda-beda sesuai situasi dan kondisi manusia di masyarakat. Dalam kekawin Rāmāyana, dijelaskan musuh sangatlah dekat.

Kekawin Rāmāyana sargah 1 berbunyi sebagai berikut:
ragadi musuh mapara
rihati ya tonggwanya tan madoh ringawak
yeka tan hana ri sira
prawira wikian sireng

Terjemahan:
Hawa nafsu dan sebagainya musuh yang dekat di dalam hati tempatnya tidak jauh dari kita yang seperti itu tidak ada padanya pemberani dan sangat mengetahui tentang ilmu pengetahuan.

Kekawin Rāmāyana sargah 1 menjelaskan bahwa musuh manusia terdapat di dalam hati. Hati yang negatif dapat membuat seseorang melakukan perilaku-perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama. Selain dalam kekawin Rāmāyana, dalam pustaka suci Śarasamuccaya juga mengungkapkan keberadaan musuh manusia.

Pustaka suci Śarasamuccaya sloka 128 menjelaskan bahwa:
amrtam caiva mrtyucca dvayam dehe pratistitam, mrtyurapadyate
mohāt satyenāpaddyate’mrtam

Terjemahan
Tak berjauhan bisa (racun) itu dengan amrta;
di sinilah, di badan sendirilah tempatnya.

Apa yang tertuang dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 128 menjelaskan bahwa musuh yang paling berbahaya sangatlah dekat dengan kita, yakni dalam diri sendiri. Dalam diri kita, terdapat sifat baik juga terdapat sifat buruk, diibaratkan racun dan amerta. Musuh-musuh yang terdapat dalam diri manusia sangatlah berbahaya jika dipupuk, dan dipelihara. Enam musuh manusia itu adalah sebagai berikut.

1. Kama
Kama adalah keinginan atau hawa nafsu yang dimiliki oleh manusia. Setiap manusia memiliki keinginan. Keinginan dapat bersifat positif dan negatif. Keinginan yang sifatnya positif dapat menumbuhkan orang-orang yang kreatif, inovatif, dan selalu melakukan perbuatan yang baik. Keinginan yang dimiliki manusia tanpa batas, dapat diibaratkan seperti alam semesta. Keinginan tersebut haruslah dikendalikan ke arah yang positif. Sifat kama dapat menyebabkan orang penuh dosa. Hal ini terdapat dalam pustaka suci Bhagavad-gītā III.37.

kāma esa krodha esa
rajo-guna-samudbhavah
mahāśano mahā-pāpmā
viddhy enam iha vairinam

Terjemahan:
Itu adalah nafsu, amarah yang lahir dari rājaguna;
sangat merusak, penuh dosa ketahuilah bahwa keduanya ini adalah musuh yang ada di bumi.

Nafsu manusia dapat menyebabkan hilang akal sehatnya dalam menentukan pilihan. Hilangnya akal sehat menyebabkan manusia melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat menimbulkan dosa.

2. Lobha
Lobha adalah sifat tamak atau rakus yang dimiliki manusia. Sifat lobha yang terdapat dalam diri manusia ada yang bersifat negatif dan positif. Sifat lobha yang tergolong negatif akan menyebabkan seseorang terdorong untuk melakukan kejahatan karena merasa tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Orang yang memiliki sifat lobha yang negatif dapat menumbuhkan rasa gusar, resah, gelisah, dan tidak senang.
Sifat lobha tertuang dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 267, sebagai berikut:

jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasça
prajñāmāhanti prajñā hanti hatā çriyam
.
Terjemahan:
Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain, hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu, itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

3. Krodha
Krodha adalah sifat pemarah yang dimiliki manusia. Orang yang dipengaruhi kemarahan dapat menjadi sumber penderitaan dan kesengsaraan. Sifat krodha juga dapat menyebabkan pikiran tidak terkontrol sehingga dapat dijauhi semua orang. Sifat marah tertuang dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 96, sebagai berikut:

na catravah ksayam yānti yāvajjīvamapi ghnatah,
krodham niyantum yo veda tasya dvestā na vidyate.

Terjemahan:
Sebenarnya, meskipun orang itu selalu jaya terhadap seterunya, serta tak terbilang jumlah musuh yang dibunuhnya, asal yang dibencinya musnah, selama hidupnya pun, jika ia hanya menuruti kemarahan hatinya belaka, tentu saja tidak akan habis-habis musuhnya itu. Akan tetapi, orang yang benar-benar tidak mempunyai musuh adalah orang yang berhasil mengekang kemarahan hatinya.

4. Moha
Moha adalah sifat bingung yang dapat menyebabkan pikiran menjadi gelap. Hal ini akan menyebabkan orang tersebut tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pustaka suci Bhagavad-gītā XVIII.25 menjelaskan bahwa:

anubhandham kshayam himsām
anapekshya ca paurusam
mohād ārabhyate karma
yat tat tāmasam ucyate
.
Terjemahan:
Kegiatan kerja yang dilakukan karena kebingungan tanpa menghiraukan akibatnya, menyakiti hati dan tak peduli akan kemampuan, yang demikian itu disebut tamasa.

Berdasarkan bunyi sloka di atas jelaslah bahwa orang yang bekerja dalam kondisi bingung tidak mampu bekerja dengan baik dan efektif. Kebingungan dapat menyebabkan manusia kehilangan arah. Terdapat beberapa sebab timbulnya kebingungan antara lain:
a. kesusahan yang amat dalam.
b. kehilangan terhadap sesuatu yang sangat dicintai
c. masalah yang tidak mampu dipecahkan

5. Mada
Mada adalah mabuk. Orang mabuk pikirannya tidak berfungsi secara baik. Akibatnya, timbullah sifat–sifat angkuh, sombong, takabur dan mengucapkan kata–kata yang menyakitkan hati orang lain. Contoh mada ialah mabuk kekayaan, mabuk karena ketampanan. Mabuk juga dapat ditimbulkan karena minum-minuman keras. Minum-minuman keras yang berlebihan akan menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran sehingga menimbulkan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 325, dijelaskan bahwa:

samklistakarmānamatipramādam bhūyo’nrtam cadr
dabhaktikam ca, vicistaragam bahumāyinam ca naitān niseveta
narādhamān sat.

Terjemahan:
Inilah misalnya orang yang tidak patut dijadikan kawan bergaul, orang yang mengusahakan penyakit dan kesedihan kepada orang lain, serta buruk laku, orang yang lupa, orang berbohong atau dusta, orang yang terikat hatinya kepada minuman keras, keenam orang yang sangat keji itulah, yang patut dihindarkan.

Kemabukan dalam pandangan agama Hindu banyak jenisnya, Adapun kemabukan dalam diri ada tujuh jenisnya, yang lebih dikenal dengan sebutan Sapta Timira, yakni sebagai berikut.
a. Surupa artinya mabuk karena kecantikan atau ketampanan
b. Dana artinya mabuk karena kekayaan atau harta benda
c. Kulina artinya mabuk karena keturunan atau kebangsawanan
d. Yowana artinya mabuk karena keremajaan
e. Sura artinya mabuk karena minuman keras
f. Guna artinya mabuk karena kepandaian
g. Kasuran artinya mabuk karena keberanian

6. Matsarya
Matsarya adalah sifat dengki atau iri hati. Hal ini akan menyiksa diri sendiri dan dapat merugikan orang lain. Orang yang matsarya merasa hidupnya susah, miskin, bernasib sial sehingga akan menyiksa batinnya sendiri. Dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 88, dijelaskan bahwa:

abhīdhyāluh parasvesu
neha nāmutra nandati,
tasmādabhidhyā santyājyā sarvadābhīpsatā sukham.

Terjemahan:
Adalah orang yang tabiatnya menginginkan atau menghendaki milik orang lain, menaruh iri hati akan kebahagian orang lain; orang yang demikian tabiatnya, sekali-kali tidak akan mendapat kebahagiaan di dunia ini, ataupun di dunia yang lain; oleh karena itu patut ditinggalkan tabiat itu oleh orang yang ingin mengalami kebahagiaan abadi.

BENTUK-BENTUK PELAKSANAAN YADNYA

Tari Topeng Sidakarya dalam Yadnya
Pelaksanaan Yadnya bukan hanya dalam bentuk upacara yadnya dengan menggunakan persembahan berupa banten / upakara saja, melainkan Yadnya dapat dilaksanakan dalam bentuk yang beragam karena yadnya itu merupakan segala bentuk kegiatan atau pengorbanan yang dilakukan dengan tulus ikhlas tanpa mengharapkan pamrih. Sehingga dengan demikian, Yadnya dapat dilakukan dalam bentuk yang bermacam-macam. Ada yadnya yang dilaksanakan dalam bentuk persembahan dengan menggunakan sarana berupa banten / sesajen, dalam bentuk pengorbanan diri yaitu pengendalian diri, mengorbankan segala aktivitas, mengorbankan harta benda dan pengorbanan dalam bentuk ilmu pengetahuan. Bentuk yadnya ini diuraikan / dijelaskan secara tegas dalam kitab Bhagavadgita IV.28 yang isinya adalah sebagai berikut:
“Dravya-yajnana tapo-yajna yoga-yajnas tathapare,
Svadhyaya-jnana-yajnas ca yatayah samsita-vratah.”

Terjemahannya:
“Setelah bersumpah dengan tegas, beberapa diantara mereka dibebaskan dari kebodohan dengan cara mengorbankan harta bendanya. Sedangkan orang lain dengan melakukan pertapaan yang keras, dengan berlatih yoga kebathinan terdiri atas delapan bagian, atau dengan mempelajari Veda untuk maju dalam pengetahuan suci”
Selanjutnya dijelaskan tentang bentuk pelaksanaan Yajna dalam kitab Bhagavadgita IV.II yang isinya adalah sebagai berikut:
“Ye yatha mam prapadyante tams tathaiva bhajamy aham,
Mama vartmanuvartante manusyah partha sarvasah”

Terjemahannya:
“Sejauh mana orang menyerahkan diri kepada-Ku, aku menganugrahi mereka sesuai dengan penyerahan dirinya itu, semua orang menempuh jalan-Ku, dalam segala hal, Wahai putra Partha”
Sangat jelas dari kedua sloka tersebut telah dinyatakan bahwa Tuhan akan menerima umatnya melalui Yadnya yang dilakukan yang pelaksanaannya dapat dipilih oleh umat. Seperti dengan melakukan penyerahan diri pada Tuhan, Tapa dan persembahan yang tulus dan ikhlas.

Pembagian Yajna berdasarkan Waktu Pelaksanaannya
Terkait dengan waktu melaksanakan Yajna, maka Yajna dapat dibedakan atas 3 bagian, yaitu:
1) Nitya Yajna
2) Naimittika Yajna
3) Insidental

1. Nitya Yajna
Nitya yajna adalah Yajna yang dilaksanakan setiap hari. Contoh pelaksanaan Yajna yang dilakukan sehari-hari adalah Tri Sandhya, Yadnya sesa dan Jnana Yajna.
a) Tri Sandhya, merupakan bentuk Yajna yang dilaksnakan setiap hari dengan kurun waktu pagi hari, siang hari dan sore hari. Pelaksanaan dari Tri Sandhya adalah untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas segala anugerah yang telah dilimpahkan-Nya.

b) Yadnya Sesa, juga disebut dengan masaiban atau ngejot. Merupakan Yajna yang dilakukan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta dengan segala manifestasinya setelah memasak atau sebelum menikmati makanan. Yadnya sesa dilakukan dengan tujuan untuk mengucapkan rasa terima kasih dan syukur atas segala anugerah yang diberikan. Adapun petikan sloka yang terkait dengan pelaksanaan Yadnya sesa adalah sebagai berikut:
“Yajna-ssstasinah santo mucyantesarva-kilbisaih,
Bhunjate te tv agham papa pacanty atma-karanat.”

Artinya:
“Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa,
Karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang hanya menyiapkan makanan untuk menikmati indriya-indriya pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja”
Makna dari pelaksanaan Yadnya sesa adalah sebagai berikut:
- Mengucapkan rasa terima kasih dan syukur kepada Tuhan
- Belajar dan berlatih dalam pengendalian diri
- Melatih sikap untuk tidak mementingkan diri sendiri

Selanjutnya dalam pelaksanaan yadnya sesa terdapat tempat-tempat tertentu untuk mempersembahkan banten saiban tersebut, yaitu:
- Di halaman rumah, dipersembahkan kepada Ibu Pertiwi
- Di tempat air, dipersembahkan kepada Dewa Wisnu
- Di kompor atau tungku, dipersembahkan kepada Dewa Brahma
- Di pelangkiran, di atap rumah, yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Akasa dan Ether
- Di tempat beras
- Di tempat saluran air (sombah)
- Di tempat menumbuk padi
- Di pintu keluar pekarangan (Lebuh)

c) Jnana Yajna, merupakan Yajna dalam bentuk pengetahuan. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan proses belajar dan mengajar yang baik, baik formal maupun informal. Jnana yajna dapat dilakukan setiap hari dan setiap saat dengan menerapkan pembelajaran yang baik menuju peningkatan pengetahuan dan kualitas diri. Karena dengan pengetahuan, manusia akan dapat menyadari esensi dalam diri dan dapat berpikir yang luas sehingga dapat berbuat yang baik dan bijaksana.

2. Naimittika Yajna

Naimittika yajna merupakan yajna yang dilakukan secara berkala dan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal. Pelaksanaan Naimittika yajna menggunakan suatu perhitungan tertentu dengan dasar perhitungannya adalah sebagai beriktu:
a) Berdasarkan perhitungan wara. Perhitungan wara adalah perhitungan yang menggunakan perpaduan antara Tri wara dengan panca wara.
Contohnya: Kajeng kliwon.
Menggunakan perpaduan antara Sapta wara dengan panca wara,
Contohnya: Buda wage, Buda kliwon, anggara kasih dan sebagainya.

b) Berdasarkan perhitungan Wuku, adalah pelaksanaan yajna yang dilakukan dengan memperhitungan pawukon. Contohnya : Galungan, Pagerwesi, Saraswati, Kuningan.

c) Berdasarkan atas perhitungan Sasih. Contohnya: Puranama, tilem, Nyepi, Siwaratri.

3. Insidental Yajna Insidental 
adalah Yajna yang dilaksanakan didasarkan atas adanya peristiwa atau kejadian-kejadian tertentu tidak terjadwal, namun dipandang perlu untuk dilaksanakan dan dibuatkan upacara persembahan. Melaksanakan Yadnya insidental adalah dilakukan sesuai dengan kemampuan, keadaan dan situasi. Dengan menyesuaikan tersebut maka Yajna dapat dilakukan sesuai dengan kwantitasnya yaitu Kanista, Madya, dan Mautama yang masing-masing memiliki 3 bagian sehingga tingkatan yajna sesuai dengan kwantitasnya berjumlah 9 tingkatan.