Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ulasan tentang Nawa Darsana, Sembilan Filsafat

Ulasan tentang Nawa Darsana, Sembilan Filsafat
Bagan Nawa Darsana
Sahabat The Bali Buzz, mungkin kita sudah sering sekali mendengar kata Nawadarsana. Nah sebenarnya apa pengertian dari Nawadarsana dan apa bedanya dengan Sad Darsana. Berikut ini akan diulas secara singkat dan jelas mengenai Nawa darsana dan penerapannya. 


Istilah Nawadarsana sebenarnya adalah penggabungan Sad darsana dengan filsafat Nastika yaitu aliran filsafat yang tidak mengakui otoritas Veda sehingga disebut filsafat heterodox. Ada tiga aliran besar dalam Nastika, sebagai berikut:
1) Aliran filsafat materialistis dari Cārvāka
Cārvāka tidak pernah percaya kepada  surga,  neraka,  dan  terhadap  Tuhan  yang menciptakan alam semesta, karena itu aliran ini bersifat atheis. Cārvāka menitikberatkan untuk mencari kesenangan duniawi saja. Ada dua jenis pengikut Cārvāka, yaitu Dhūrta (licik dan tidak terpelajar) dan Suśikṣita (terpelajar). Salah satu pengikut Suśikṣita yang terkenal adalah Vātsyāna yang terkenal dengan bukunya Kāmasūtra.

2) Aliran filsafat Jaina
Aliran Jaina artinya memperoleh kemenangan dalam menghadapi tantangan duniawi. Pendiri aliran ini adalah Mahāvīra yang nama aslinya Vardhamāna. Aliran filsafat ini bersifat atheis yang percaya seseorang dapat mencapai kebebasan rohani seperti guru mereka. Ada dua golongan Jaina, yaitu Digambara (golongan yang sangat fanatik dan bahkan telanjang bulat) dan Śvetāmbara (golongan yang lebih moderat, menggunakan pakaian serba putih). Bisa dikatakan filsafat Jaina bersifat pragmatis realistis.

3) Aliran filsafat Buddha
Filsafat Buddha didirikan oleh pengikut Sang  Buddha,  Siddhārtha  Gautama dan dinasti Sakya. Ajaran filsafat Buddha meliputi Catur Ārya Satyani (empat kebenaran mulia), Pratitya Samut Pada (dua belas hal yang menyebabkan penderitaan) dan Aṣṭa Mārga (delapan jalan yang benar).
Enam filsafat Hindu yang dikenal dengan Sad darsana adalah enam sistem filsafat orthodox yang merupakan enam cara mencari kebenaran, yaitu Nyāyā, Sāṁkya, Yoga, Vaisiseka, Mīmāmsā dan Vedānta. Di samping enam darsana pokok awal yang termasuk zaman Sūtra- sūtra juga terdapat beberapa darsana yang termasuk zaman skolastik, yaitu Dvaita, Viśiṣtādvaita dan Advaita. Kesemua sistem filsafat tersebut mendasarkan ajarannya kepada Veda baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga disebut juga sebagai Astika.

Demikian sekilas penjelasan tentang Nawadarsana yang merupakan sembilan bentuk filsafat yang berkembang di India. Nawadarsana terbentuk dari penggabungan antara sad darsana yang tergolong Astika darsana dengan Darsana yang tergolong Nastika Darsana yaitu Carwaka, Buddha dan Jaina.

Post a Comment for "Ulasan tentang Nawa Darsana, Sembilan Filsafat"