Home » , , » UPACARA DAN UPAKARA UNTUK BAYI BARU LAHIR

UPACARA DAN UPAKARA UNTUK BAYI BARU LAHIR

Advertisement

UPACARA DAN UPAKARA UNTUK BAYI BARU LAHIR

Keberadaan manusia sebagai salah satu mahluk ciptaan Tuhan adalah memiliki kedudukan yang paling utama dan paling mulia. Hal ini dikarenakan manusia memiliki kemampuan yang lebih dalam hal peningkatan derajat harkat dan martabatnya. Peningkatan derajatnya sebagai manusia dapat dilakukan dengan memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya yang disebut dengan pikiran (idep), sehingga dengan pikiran ini manusia memiliki wiweka yaitu
kemampuan untuk mempertimbangkan baik buruknya sesuatu hal yang dilakukan. Namun demikian, manusia sebagai mahluk duniawi juga tidak lepas dari segala kekurangan, kekeliruan dan jauh dari kesempurnaan. Sehingga sering kali manusia juga melakukan perbutan-perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan yang mengarah pada dosa. Untuk mengurangi akibat dari dosa (papa) ini manusia seharusnya melakukan suatu usaha untuk menumbuhkan kesucian dalam hati, pikiran, perkataan dan perbuatannya dan juga dilakukan dengan upacara-upacara keagamaan yang bertujuan untuk membersihkan segala mala (kekotoran) yang ada.
Dalam agama Hindu selalu mengajarkan pada umatnya untuk senantiasa menjaga kesucian dalam diri baik melalui perbuatan dan juga dalam bentuk pelaksanaan upacara. Dengan demikian umat diharapkan dapaat pula melaksanakan uapacara pembersihan diri mulai dari ia lahir sampai pada waktunya harus kembali pada Hyang Widhi. Upacara yang diperuntukan bagi umat manusia disebut dengan upacara Manusa Yadnya. Disini akan penulis uraikan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Upacara untuk bayi yang baru lahir.
Pelaksanaan upacara bagi bayi yang baru lahir salah satu maknanya adalah sebagai ungkapan rasa gembira dan shyukur atas lahirnya si bayi ke dunia. Upakara-upakara yang dipergunakan disebut dengan Dapetan.
Upakara dapetan ini terdiri dari beberapa bagian yang disesuaikan dengan tingkatan upacaranya, yaitu:
A.    Tingkatan Kecil :
Upakaranya: nasi muncuk kuskusan, dilengkapi dengan buah-buahan (raka-raka), rerasmen (kacang, saur, garam, sambel dan ikan), sampian jaet, dan canang sari/canang genten, serta sebuah penyeneng.
Upakara ini dihaturkan kepada Sang Dumadi.

B.     Tingkatan yang lebih besar
Upakaranya : sama seperti di atas hanya saja dilengkapi lagi dengan jerimpen di wakul yaitu sebuah wakul yang berisi sebuah tumpeng lengkap dengan raka-raka, rerasmen dan sampian jaet.

Perawatan terhadap Ari-Ari :
ari-ari atau plasenta yang keluar bersama dengan kelahiran bayi tersebut dibersihkan kemudian dimasukan ke dalam buah kelapa yang sebelumnya sudah dibelah menjadi dua bagian yang airnya juga telah dibuang. Bagian atas kelapa itu diisi tulisan “Ongkara” ( þ   ). Sedangkan pada bagian bawah kelapa tersebut diisi tulisan Ahkara ( ö  ).
Selain dari itu ke dalam kelapa tadi dimasukan beberapa jenis duri terung, mawar dan sebagainya. Selain duri ada bebarapa lagi yang dimasukan yaitu sirih lekesan selengkapnya. Setelah itu kedua belahan kelapa tadi dicakupkan dibungkus dengan ijuk dan kain putih kemudian dipendamkan. Kalau seandainya kesulitan dalam mencari ijuk, penggunaan kain putih saja diperbolehkan.
Tempat memendamnya adalah sesuai dengan jenis kelamin si bayi. Kalau si bayi laki-laki maka dipendam disebelah kanan pintu balai, sedangkan kala bayinya perempuan maka ari-arinya dipendam di sebelah kiri pintu balai (dilihat dari dalam rumah).

Ucapan waktu memendam ari-ari
“Ong sang ibu pertiwi rumaga bayu, rumaga amerta, sanjiwani angemertanin sarwa tumuwuh (Nama si bayi ……..?), mangda dirgayusa nutugang tuwuh”.

Demikianlah perawatan terhadap ari-ari dianggap selesai dan setiap ada upacara yang ditujukan pada sibayi, hendaknya ari-arinya jangan dilupakan. Disamping itu perlu kiranya dikemukan bahwa bila keadaanya tidak memungkinkan/ tidak mengijinkan maka ada kalanya ari-ari itu dibungkus dengan kelapa seperti tadi kemudian dibuang dilaut.

Demikian yang dapat penulis sampaikan apabila ada kekeliruan memohon kritik dan sarannya dan mari diluruskan secara bersama agar sesuai dengan sastra agama. Atas segala kekurangan yang ada penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya karena segala keterbatasan yang ada.

PUSTAKA
-          Catur Yadnya (Bhuta, Manusa, Pitra, Dewa),1975 oleh Tim Penyusun, Milik Pembda Tingkat I Bali Proyek Bantuan Lembaga Pendidikan Agama Hindu

0 komentar:

Post a Comment