Home » , , , » CATUR MARGA - Diktat Pembelajaran 1 Agama Hindu SMK Kelas XI Semester genap

CATUR MARGA - Diktat Pembelajaran 1 Agama Hindu SMK Kelas XI Semester genap

Advertisement
DIKTAT PAH XI
PEMBELAJARAN 1
Catur Marga


abhyùróoti yatragnaý bhiûakti viúvam yat tùram, premandhaá ravyatriá úroóo bhùt”.
Terjemahannya:
“Ia memberikan pakaian kepada yang telanjang, ia mengobati yang sakit, Melalui dia orang buta dapat melihat, yang lumpuh dapat berjalan”.
(Åg Veda VIII. 79.2)

A.Pengertian dan Hakikat Catur Marga
Perenungan:
Bhadram no api vataya mano daksam uta kratum, adha te sakhye andhaso vi vo made ranam gavo na yavase vivaksase”.
Terjemahannya adalah.
“Berikanlah kami pikiran yang baik dan bahagia, berikanlah kami keterampilan dan pengetahuan. Maka semoga manusia dalam persahabatan-mu merasa bahagia, ya Tuhan! seperti sapi di padang rumput. Engkau yang Maha Agung”. (Rg Veda X25. 1)

Catur Marga berasal dari dua kata yaitu Catur dan Marga. Catur berarti empat dan Marga berarti jalan/cara ataupun usaha. Jadi catur marga adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Catur Marga juga sering disebut dengan Catur Yoga Marga. Catur Marga atau Catur Yoga disebutkan adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

Sumber ajaran Catur Marga diajarkan dalam pustaka suci Bhagavad Gita, terutama pada trayodhyaya tentang karma yoga/marga yakni sebagai satu sistem yang berisi ajaran yang membedakan antara ajaran subha karma (perbuatan baik) dengan ajaran asubha karma (perbuatan yang tidak baik) yang dibedakan menjadi perbuatan tidak berbuat (akarma) dan wikarma (perbuatan yang keliru).
Karma memiliki dua makna yakni karma terkait ritual atau yajna dan karma dalam arti tingkah perbuatan. Kedua, tentang bhakti yoga marga yakni menyembah Tuhan dalam wujud yang abstrak dan menyembah Tuhan dalam wujud yang nyata, misalnya mempergunakan nyasa atau pratima berupa arca atau mantra. Ketiga, tentang jnana yoga marga yakni jalan pengetahuan suci menuju Tuhan Yang Maha Esa.

Ada dua pengetahuan yaitu jnana (ilmu pengetahuan) dan wijnana (serba tahu dalam penetahuan itu). Keempat, Raja Yoga Marga yakni mengajarkan tentang cara atau jalan yoga atau meditasi (konsentrasi pikiran) untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dalam Bhagavad Gita, 7:21 disebutkan.
Yo-yo yàý- yàý tanuý bhaktaá úraddhayàrcitum icchati, tasya tasyà calàý úraddàý tàm eva vidadhàmy aham
Terjemahannya adalah.
”Kepercayaan apa pun yang ingin dipeluk seseorang, Aku perlakukan mereka sama dan Ku-berikan berkah yang setimpal supaya ia lebih mantap”

B. Penjelasan Bagian-bagian Catur Marga Yoga
Perenungan
“Iyam hi yonih prathamā yonih prāpya jagatipate, ātmānam ṣakyate trātum karmabhih ṡubhalakṣaṇaih”.

“Apan iking dadi wwang, utama juga ya, nimitaning mangkana, wénang ya tumulung awaknya sangkeng sangsāra, makasādhanang ṡubhakarma, hinganing kotamaning dadi wwang”.

Terjemahannya adalah.
“Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia”. (Sarasamuçcaya I.4).

1. Bhakti Marga Yoga
Sivananda (1997:129-130) menyatakan bahwa bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan jalan kepatuhan atau bhakti. Bhaktiyoga disenangi oleh sebagian besar umat manusia. Tuhan merupakan pengejawantahan dari kasih sayang, dan dapat diwujudkan melalui cinta kasih seperti cinta suami kepada istrinya yang menggelora. Cinta kepada Tuhan harus selalu. Mereka yang
mencintai Tuhan diutamakan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan. Ia tak pernah mem- benci makhluk hidup atau benda apa pun, dan tak pernah tertarik dengan objek-objek duniawi.

2. Jnana Marga Yoga
Sivanada (1993:133-134) menyatakan bahwa jñanayoga merupakan jalan pengetahuan. Moksa (tujuan hidup tertinggi manusia berupa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa) dicapai melalui pengetahuan tentang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Pelepasan dicapai melalui realisasi identitas dari roh pribadi dengan roh tertinggi atau Brahman. Penyebab ikatan dan penderitaan adalah avidya atau ketidaktahuan. Jiwa kecil, karena ketidaktahuan secara bodoh menggambarkan dirinya terpisah dari Brahman. Avidya bertindak sebagai tirai
atau layer dan menyelubungi jiwa dari kebenaran yang sesungguhnya, yaitu bersifat Tuhan. Pengetahuan tentang Brahman atau Brahmajñana membuka selubung ini dan membuat jiwa bersandar pada Sat-Cit-Ananda Svarupa (sifat utamanya sebagai keberadaan kesadaran- kebahagian mutlak) dirinya.

3. Karma Marga Yoga
Karma yoga adalah jalan pelayanan tanpa pamrih, yang membawa pencapaian menuju Tuhan melalui kerja tanpa pamrih. Yoga ini merupakan penolakan terhadap buah perbuatan. Karma yoga mengajarkan bagaimana bekerja demi untuk kerja itu, yaitu tiadanya keterikatan. Demikian juga bagaimana menggunakan tenaga untuk keuntungan yang terbaik. Bagi seorang Karmayogin, kerja adalah pemujaan, sehingga setiap pekerjaan dialihkan menjadi suatu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang Karmayogin tidak terikat
oleh karma (hukum sebab akibat), karena ia mempersembahkan buah perbuatannya kepada Tuhan yang Maha Esa. Penjelasan tentang setiap pekerjaan dilaksanakan sebagai wujud bhakti kepada Tuhan yang Maha Esa dijelaskan dalam Bhagavad Gita IX.27-28.

Dalam kitab Bhagavad Gita (III.19, 30) juga mengamanatkan sebagai berikut.
“Tasmād asaktaá satataṁ kāryaṁ karma samācara, asakto by ācaram karma param āpnoti pūruṣaá”
Terjemahannya adalah.
“Oleh karena itu, laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat (pada akibatnya), sebab dengan melakukan kegiatan kerja yang bebas dari keterikatan, orang itu sesungguhnya akan mencapai yang utama” (Bhagavad Gita.III. 19)
“Mayi sarvani karmani sannyasyadhyatma-cetasa, nirasir nirmamo bhutva yudhyasva vigatajvarah”.
Terjemahannya adalah.
“Pasrahkan semua kegiatan kerjamu itu kepada-Ku, dengan pikiran terpusat pada sang atma, bebas dari nafsu keinginan dan keakuan, berperanglah, enyahkan rasa gentarmu itu”. (Bhagavad Gita. III. 30)

4. Raja Marga
Raja Yoga adalah jalan yang membawa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa, melalui pengekangan diri dan pengendalian diri dan pengendalian pikiran. Raja yoga mengajarkan bagaimana mengendalikan indra-indra dan vritti mental atau gejolak pikiran yang muncul dari pikiran melalui tapa, brata, yoga dan samadhi. Dalam Hatha Yoga terdapat disiplin fisik, sedangkan dalam Raja Yoga terdapat disiplin pikiran. Melakukan Raja Marga Yoga hendaknya dilakukan secara bertahap melalui Astāngga yoga yaitu delapan tahapan yoga, yang meliputi yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi. Seseorang yang melaksanakan ajaran Raja Marga Yoga disebut dengan sebutan yogi.
Konsentrasi dan meditasi menuntun menuju samadhi atau pengalaman supra sadar, yang memiliki beberapa tingkatan pendakian, disertai atau tidak disertai dengan pertimbangan (vitarka), analisa (vicara), kebahagiaan (ananda), dan kesadaran diri (asmita). Demikian, kailvaya atau kemerdekaan tertinggi dicapai. Dari keempat jalan tersebut semuanya adalah sama, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah, semuanya baik dan utama tergantung pada kepribadian, watak dan kesanggupan manusia untuk melaksanakannya.

C. Contoh-contoh Penerapan Catur Marga dalam Kehidupan
Perenungan
“Eto nvindraṁ stavama ṡiddhaṁ ṡuddhena samrā
ṡuddhair ukthair vāvṛghvāmṡāṁ ṡuddha āṡirvān mamattu”.
Terjemahannya adalah.
“Marilah kita semua memanjatkan doa kepada Tuhan, yang suci, dengan nyanyian pujian sama, Dia yang dimuliakan dengan lagu-lagu pujian, semoga yang suci, yang Mahapemurah senang”. (Rg Veda VIII. 95. 1)
1. Bhakti Marga/Yoga
a. Pelaksanaan Tri Sandya dan yajña Sesa
b. Pelaksanaan pada Hari-hari Keagamaan
    - seperti hari Saraswati, tumpek wariga dan tumpek uye

2. Jnana Marga Yoga
a. Ajaran Brahmacari
Brahmacari adalah mengenai masa menuntut ilmu dengan tulus ikhlas. Tugas pokok kita pada sebagian masa ini adalah belajar. Belajar dalam arti luas, yakni dalam pengertian bukan hanya membaca buku. Tetapi lebih mengacu pada ketulusikhlasan dalam segala hal. Contohnya rela dan ikhlas jika dimarahi guru atau orangtua. Guru dan orangtua, jika memarahi pasti demi kebaikan anak.
b. Ajaran Aguron-guron
Merupakan suatu ajaran mengenai proses hubungan guru dan murid. Namun istilah dan proses ini telah lama dilupakan karena sangat susah mendapatkan guru yang mempunyai kualifikasi tertentu dan juga sangat sedikit orang menaruh perhatian dan minat terhadap hal ini.
c. Ajaran Catur Guru
Catur Guru Bhakti senantiasa relevan sepanjang masa, sesuai dengan sifat agama Hindu yang Sanatana Dharma. Aktualisasi ajaran Guru Bhakti atau rasa bhakti kepada Catur Guru dapat dikembangkan dalam situasi apa pun, sebab hakikat dari ajaran ini adalah untuk pendidikan diri, utamanya pendidikan disiplin, patuh dan taat kepada sang Catur Guru dalam arti yang seluas-luasnya.

3. Karma Marga Yoga
a. Berkarma Tulus dan Membantu
Berbuat ikhlas dan membantu dalam bahasa Bali Ngayah dan Matatulung:
merupakan suatu istilah yang ada di Bali dan identik dengan gotong royong. Ngayah ini dapat dilakukan di pura-pura dalam hal upacara keagamaan, seperti odalan-odalan/karya. Sedangkan matatulungan ini bisa dilakukan antarmanuasia yang mengadakan upacara ke- agamaan pula, seperti upacara pawiwahan, mecaru dan lain
b. Berkarma yang Baik
Berbuat baik atau mekarma sane melah hendaknya selalu kita lakukan. Dalam agama Hindu ada slogan mengatakan “Rame ing gawe sepi ing pamrih” Slogan itu begitu melekat pada diri kita sebagai orang Hindu. Banyaklah berbuat baik tanpa pernah berpikir dan berharap suatu balasan.
c. Ajaran Karmaphala
Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk.

4. Raja Marga Yoga
Penerapan Raja Marga Yoga ini antara lain terdapat pada ajaran Astāngga yoga, yaitu catur brata penyepian. Pelaksanaan Hari Raya Nyepi, pada hakikatnya merupakan penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin (jagadhita dan moksa) terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/keindahan).

D. Hubungan Catur Marga dengan Tujuan Ajaran Agama Hindu
Perenungan
“Dharma ewa plawo nanyah swargam sabhiwanchatam sa ca naurpwanijastatam jala dhen paramicchatah”.
Ikang dharma ngaranya, hetuning mare ring swarga ika, kadi gatining prahu, an hetuning banyaga nentasing tasik”
Terjemahannya adalah.
“Yang disebut dharma, penyebab menuju sampai ke surga itu, seperti halnya sebuah perahu alat bagi pedagang menyebrangi laut” (Sarasamuçcaya I.14).
Umat manusia tentunya memiliki tujuan hidup, termasuk umat Hindu memiliki tujuan hidup yang jelas yakni seperti berikut ini.
1. Moksartham jagad hita ya ca iti Dharma.
2. Catur Purusartha.
3. Santa Jagadhita.
4. Sukerta Sakala lan Niskala.
5. Mencapai keharmonisan hidup sesuai ajaran Catur Marga.

Penerapan Catur Marga oleh umat Hindu sesungguhnya telah diterapkan secara rutin dalam kehidupannya sehari- hari, termasuk juga oleh umat Hindu yang tinggal di Bali maupun yang tinggal di luar Bali. Banyak cara dan jalan yang dapat ditempuh untuk dapat menerapkannya. Inti dari penerapan Catur Marga adalah untuk memantapkan mengenai hidup dan kehidupan umat manusia di alam semesta ini, terutama untuk peningkatan, pencerahan, serta memantapkan keyakinan atau kepercayaan (sraddha) dan pengabdian (bhakti) terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan memahami dan menerapkan ajaran Catur Marga, diharapkan segenap umat Hindu dapat menjadi umat yang berkualitas, bertanggung jawab, memiliki loyalitas, dedikasi, jati diri yang mulia dan harapan lainnya guna tercapai kehidupan yang damai, rukun, tenteram, sejahtera, bahagia dan sebagainya. Jadi dengan penerapan ajaran Catur Marga diharapkan agar tujuan dari agama Hindu dapat terwujud.


Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan dibawah ini pada kertas double polio, kemudian kumpulkan kepada Guru-mu untuk mendapatkan nilai ulangan harian 1 !
  1. Apakah yang dimaksud dengan Catur Marga?
  2. Apa tujuan dari pelaksanaan Catur Marga?
  3. Coba jelaskan contoh-contoh yang dapat dilakukan dalam menerapkan Catur Marga!
  4. Coba sebutkan bagian- bagian dari Catur Marga!
  5. Apakah dalam kehidupanmu sehari- hari sudah menerapkan ajaran Catur Marga? Jika sudah berikan contohnya!
  6. Jelaskanlah bagian- bagian dari Catur Marga yang kamu ketahui!
  7. Coba sebutkan contoh-contoh pengalaman pribadimu yang sudah dilakukan dalam menerapkan ajaran Catur Marga!
  8. Termasuk pada bagian yang manakah dalam Catur Marga pelaksanaan Tri Sandya?
  9. Bagaimana hubungan mebanten Saiban, dengan ajaran Catur Marga itu? Jelaskanlah! Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah!
  10. Amatilah gambar berikut ini dengan baik dan benar, selanjutnya buatlah deskripsinya !

pengabenan wujud bhakti pada leluhur
pengabenan wujud bhakti pada leluhur


0 komentar:

Post a Comment