Home » , » 3 (tiga) Kwalitas Yadnya dalam Agama Hindu

3 (tiga) Kwalitas Yadnya dalam Agama Hindu

Advertisement
Contoh Upacara yadnya yang Sattwika
Contoh Upacara yadnya yang Sattwika
Mengamalkan ajaran agama hindu dapat dilakukan dengan berbagai cara yang baik sesuai dengan kondisi umatnya namun tetap berdasarkan sastra. Tujuan dari Agama hindu adalah untuk mencapai penyatuan diri dengan Brahman. Dalam hal menghubungkan diri dengan Brahman, ada 4 jalan yang dapat dilakukan antara lain:
  1. Jnana marga yoga
  2. karma marga yoga
  3. Bhakti marga yoga
  4. Raja marga yoga
Dalam pelaksanaan bhakti marga yoga dapat dilakukan dengan menunjukan rasa bhakti dan cinta kasih sepenuhnya untuk Brahman dan melalui persembahan kepada Tuhan. Di Bali, jalan Bhakti dapat dilihat dari pelaksanaan Upacara Yadnya yang dilakukan oleh masyarakatnya. Dalam pelaksanaan Upacara yadnya ini, tentu saja penerapannya dipengaruhi oleh Tri Guna yang telah dibawa oleh manusia sejak lahir, yaitu guna sattwam, guna rajas, dan guna tamas.
Pengaruh tri guna dalam pelaksanaan Upacara yadnya, menyebabkan pelaksanaan yadnya memiliki kwalitas yang berbeda sesuai dengan motif dari yadnya yang dilaksanakan. Kwalitas yadnya dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:
  • Sattwika yadnya yang pelaksanaannya lebih banyak dipengaruhi oleh guna sattwa. Sehingga pelaksanaan yadnya yang sattwika dilakukan sesuai dengan arahan dari sastra dan pelaksanaannya mengandung unsur Karya, Sreya, Budhi dan bhakti. Bila keempat unsur tersebut telah ada dalam pelaksanaan Yadnya, maka yadnya yang dilakukan tergolong dalam Sattwika Yadnya.
  • Rajasika Yadnya, pelaksanaan upacara yadnya-nya dipengaruhi oleh guna rajas. Wujud dari pelaksanaan Rajasika Yadnya adalah pelaksanaan yadnya lebih pada pengharapan akan hasilnya. Pelaksanaan yadnya yang Rajasika bersifat pamer sehingga tujuannya membuat orang yang melihat menjadi terkagum-kagum dan takjub. Dalam pelaksanaan yadnya yang rajasika, unsur tanpa pamrihnya tidak kelihatan.
  • Tamasika Yadnya adalah yadnya yang dilakukan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastra, mantra, kidung suci, daksina dan sraddha. Keyakinan seseorang yang melaksanakan yadnya tidaklah nampak. demikian juga keseimbangan dari upacara yadnya tidak terlihat. Penerapan yadnya lebih pada paksaan. Sehingga banyak umat yang memiliki watak guna tamas akan selalu mengeluh dalam melaksanakan yadnya.
Demikian kwalitas yadnya yang dilakukan sesuai dengan sifat-sifat dari manusia yang melakukan. Kewajiban umat adalah agar dapat melaksanakan yadnya yang sattwika dengan mengendalikan sifat rajas dan tamas yang bergejolak dalam diri.

0 komentar:

Post a Comment