Home » , » Tata Letak Pelaksanaan Yadnya Sesa

Tata Letak Pelaksanaan Yadnya Sesa

Advertisement

Dalam pelaksanaan upacara yadnya, menurut waktu pelaksanaannya dapat dibedakan menjadi 3, yaitu : Nitya karma, Naimitika Karma dan Isidental. Nitya karma adalah yadnya yang dilaksanakan setiap hari secara rutin seperti Tri Sandhya, Surya Sewana dan yadnya sesa. Naimitika karma adalah upacara yadnya yang dilaksanakan pada hari tertentu yang biasanya menggunakan perhitungan Wewaran, Wuku maupun Sasih. Sedangkan untuk yang isidental adalah penyelenggaraan yadnya yang dilaksanakan secara insiden menurut keperluan di masyarakat seperti pelaksanaan Upacara Pembersihan jagat seperti Rsi Gana dan yang lainnya.
Kali ini, saya akan membahas tentang pelaksanaan Upacara Yadnya yang bersifat Nitya karma yaitu Yadnya Sesa. Hal ini perlu dibahas karena kalau dilihat dari pelaksanaannya di masyarakat masih banyak ditemukan kesimpang siuran dan masih sangat tergantung dari kebiasaan-kebiasaan masing-masing desa.
Bila dikupas dari makna pelaksanaan yadnya Sesa  termasuk memiliki mutu "Asuri Sampad", oleh karena itu semua yadnya yang memiliki mutu asuri sampad, cara meletakannya adalah di bawah (di pertiwi), bukan diletakan pada bangunan suci. Nah untuk lebih jelasnya tentang tata letak yadnya sesa menurut fungsi pada bangunan masing-masing antara lain:
  1. Pada bangunan Padma memakai segehan putih kuning.
  2. pada bangunan Kemulan memakai segehan putih kuning.
  3. Pada bangunan gedong sari memakai segehan putih kuning.
  4. pada bangunan Gedong Catu Mujung (yang bertumpang) memakai segehan putih kuning.
  5. Pada bangunan Pesimpangan Gunung Agung memakai segehan putih kuning
  6. Pada bangunan Pesaren memakai segehan putih kuning
  7. Pada bangunan Taksu memakai segehan manca warna
  8. Pada bangunan pengerurah memakai segehan manca warna + segehan poleng
  9. Pada bangunan suci di tengah halaman (sanggah natah) memakai segehan putih kuning
  10. di tengah-tengah halaman rumah memakai segehan manca warna
  11. pada pintu gerbang memakai segehan seliwah dan segehan sasah putih
  12. pada bangunan lebuh memakai segehan manca warna
  13. pada bangunan penunggun karang memakai segehan manca warna dan segehan poleng.
Kalau segehan saiban juga diletakan di bawah (di pertiwi) tidak ditaruh di atas (pada bangunan suci) karena memiliki mutu asuri sampad. sesungguhnya tempat-tempat menyuguhkan segehan saiban adalah pada lima tempat saja (Bhagavad gita) yaitu:
  1. Pada batu Pengulekan
  2. Pada Sapu
  3. Pada Pisau
  4. Pada batu asah
  5. Pada lesung / lumpang.
Namun di bali dapat dilihat pelaksanaannya sampai ke setiap bangunan suci sampai ke pintu gerbang dan kadang-kang sampai keperalatan lainnya.
lalu pertanyaannya Apakah mereka salah......????
Hal itu tidak salah karena termasuk yadnya (korban suci yang tulus iklas) asalkan dalam pelaksanaannya dilandasi oleh rasa ikhlas dan ketulusan hati (lascarya).

2 komentar:

  1. Informasinya bagus niki, saat ini banyak perumahan yang bersifat siap huni dan dijual dalam bentuk kavling, serta terkadang tidak ada lokasi tempat ibadahnya utnuk sanggah, bagaimana ya ini bisa terjadi ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggih, memang niki sudah menjadi bagian dari dampak pesatnya pembangunan sehingga sangat banyak kendala untuk menerapkan ajaran Tri Hita Karana.

      Delete