10:35 PM
0
Oleh : I Gst. Ngr. Ag. Tryastyana
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 latar belakang
Belajar mempunyai beberapa pengertian yang diungkapkan oleh beberapa orang ahli, seperti Gagne (1985),
yang mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Dari pengertian tersebut terdapat tiga atribut pokok atau ciri utama belajar, diantaranya: proses, perubahan, perilaku, dan pengalaman.
Di dalam belajar tentunya ada prinsip-prinsip belajar yang harus diperhatikan agar belajar dapat terjadi dengan baik. Diantaranya motiasi yang berfungsi sebagai motor penggerak aktivitas, perhatian yang kaitanya sangat erat dengan motivasi bahkan tidak dapat dipisahkan. Aktivitas yang didalamnya menyangkut mental dan emosional,perbedaan individual yang tidak dapat diwakilkan oeh orang lain.
Dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, harus selalu berhubungan dengan istilah pendekatan, strategi, metode, dan teknik. Keempat istilah tersebut sering kali digunakan secara rancu atau kurang tepat pada tempatnya. Pendekatan pembelajaran adalah cara memandang terhadap pembelajaran. Strategi adalah ilmu atau kiat dialam memanfaatkan segala sumber yang yang dimiliki dan yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sementara metode pembelajaran lebih ditekankan pada peran guru, istilah metodepun sering digandengkan dengan kata mengajar yaitu metode mengajar.
Sedangkan teknik pembelajaran lebih mengacu pada ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu, seperti kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan peralatan , kesiapan siswa, dan sebagainya.
Pembelajaran memiliki tujuan yang terbagi dari tiga kelompok perilaku, yakni pegetahuan, keterampilan, dan sikap.untuk masing-masing kelompok perilaku diperlukan penggunaan strategi pembelajaran yang berbeda sesuai dengan aspek kegiatan yang dituntut untuk penguasaan jenis-jenis tujuan pembelajaran tersebut.
Berkaitan dengan tujuan pembelajaran, Gagne, Briggs, dan Wager (1992) mengelompokkan kemampuan-kemampuan sebagai hasil belajar kedalam lima kelompok, yakni keterampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal,keterampilan motorik, dan sikap.
Strategi pembelajaran dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:
A.     Strategi pembelajaran berdasarkan proses pengolahan pesan
Strategi ini dapat dibedakan lagi menjadi 2 strategi yaitu:
1.      Strategi pembelajaran deduktif
2.      Strategi pembelajaran induktif
B.     Strategi pembelajaran berdasarkan pihak pengolah pesan
Strategi berdasarkan pihak pengolah pesan ini pun dapat dibagi menjadi 2 strategi yaitu:
1.      Strategi pembelajaran ekspostori
2.      Strategi pembelajaran heuristik
C.     Strategi pembelajaran berdasarkan pegaturan guru
Dilihat dari sisi pengaturan guru, dikenal dua jenis strategi pembelajaran yaitu: strategi pembelajaran seorang guru dan beregu (team teaching).
D.     Strategi pembelajaran berdasarkan jumlah siswa
Dengan memperhatikan jumlah siswa, dikenal tiga jenis strategi pembelajaran yaitu strategi pembelajaran klaksial, kelompok kecil, dan individual.
E.      Strategi pembelajaran berdasarkan interaksi guru dengan siswa
Atas pertimbangan interaksi guru dengan siswa ada dua strategi pembelajaran, yaitu strategi pembelajaran tatap muka dan strategi pembelajaran melalui media.
Belajar memiliki beberapa pengertian seperti yang dapat dilihat dari definisi lama dan modern. Selain itu, pengertian belajar juga diungkapkan oleh seorang ahli yang bernama Ernest R.Hilgard (1948).
Belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses, yang artinya dalam belajar akan terjadi proses melihat, membuat, mengamati, menyelesaikan masalah atau persoalan, menyimak, dan latihan.
Keberhasilan didalam belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa factor seperti diantaranya :
1. Faktor dari dalam diri siswa
2. Faktor dari luar diri siswa
Proses belajar merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam belajar, esensinya adalah rangkaian aktivitas yang dilakukan siswa dalam upaya mengubah perilaku yang dilakukan siswa dalam upaya mengubah prilaku yang dilakukan secara sadar melalui interaksi dengan lingkungan.
Siswa merupakan individu yang utuh sekaligus sebagai makhluk sosial yang memiliki potensi yang berbeda-beda. Berdasarkan teori perkembangan setiap siswa memiliki tahapan perkembangan sesuai dengan tingkat usianya.
A. karakteristik proses belajar disekolah dasar
Proses belajar dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
a.      Proses belajar berdasarkan teori
b.       Proses belajar berasarkan tipe belajar
Siswa Sekolah Dasar merupakan individu unik yang memiliki karakterristik tertentu,bersifat khas,dan spesifik. Pada dasarnya setiap siswa adalah individu yang berkembang. Tahapan perkembangan siswa dapat dilihat dari aspek perkembangan berikut:
1    Perkembangan Fisik
2    Perkembangan Sosial
3    Perkembangan Bahasa
4    Perkembangan Kognitif
5    Perkembangan Moral
6    Perkembangan Ekspresif
7    Aspek-aspek Inteligensi
8    Aspek Kebutuhan Siswa
Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk mencapai tujuan atau kompetinsi yang harus dikuasai siswa. Kompetensi lulusan sekolah dasar yang harus dijadikan acuan dalam pembelajaran adalah:
1    Mampu mengenali dan menjalankan hak dan kewajiban diri,beretos kerja,dan peduli terhadap lingkungan
2    Mampu berpikir logis, kritis, dan kreatif serta berkomunikasi melalui beberapa media
3    Menyenangi keindahan
4    Mengenali dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya
5    Membiasakan hidup bersih, bugar, dan sehat
6    Memiliki rasa cinta dan bangga terhadap bangsa dan tanah air.
Karakteristik pembelajaran di sekolah asar dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
A      Karakteristik pembelajaran di kelas rendah
Pembelajaran dikelas rendah terdiri dari kelas 1,2,dan kelas 3
B      Karakteristik pembelajaran di kelas tinggi
Pembelajaran dikelas tinggi terdiri dari kelas 4,5,dan kelas 6
Di dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran diperlukan 4 model belajar yaitu:
A      Belajar kolaboratif (collaborative learning)
B      Belajar kuantum (quantum learning)
C      Belajar kooperatif (cooperative learning)
D      Belajar tematik
Rumpun model mengajar dapat dibagi menjadi 4, yaitu:
A      Rumpun model sosial
B      Rumpun model pemrosesan informasi
C      Rumpun model personal
D      Rumpun model sistem perilaku

I.2     Rumusan masalah
Dari latar belakang yang ada, maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah yang akan dibahas yaitu:
1.      Bagaimanakah konsep belajar dan prinsip belajar?
2.      Bagaimanakah perbedaan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran?/
3.      Apa sajakah factor-faktor penentu dalam pemilihan strategi dan pembelajaran?
4.      Apa  sajakah jenis strategi pembelajaran?
5.      Apakah pengertian dari belajar?
6.      Bagaimanakah hakikat belajar?
7.      Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar?
8.      Bagaimanakah karakteristik proses belajar dan tahapan perkembangan siswa sekolah dasar?
9.      Bagaimanakah karakteristik pembelajaran di sekolah dasar?
10.    Apa sajakah model-model belajar dan rumpun model mengajar?



BAB II
PEMBAHASAN

II.1   KONSEP DAN PRINSIP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
A.     Konsep belajar
Menurut Gagne (1985), mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu proses dimana organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Dari pengertian tersebut, terdapat tiga atribut pokok, yaitu:
1.      Proses
Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dapat dikatakan belajar apabila orang tersebut pikiran dan perasaannya  aktif.
2.      Perubahan perilaku
Seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan , keterampilan, atau penguasaan nilai-nilai (sikap).
Menurut ahli psikologi, tidak semua perubahan prilaku dapat digolongkan kedalam hasil belajar. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar dikelompokkan kedalam tiga rannah (kawasan), yaitu:pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan penguasaan nilai-nilai atau sikap (efektif).
3.      Pengalaman
Belajar adalah mengalami; dalam arti belajar terjadi didalam interaksi antara individu dengan lingkngan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik  dapat di contohkan seperti; buku, dan alat peraga. Sementara ligkungan sosial seperti Guru, siswa, pustakawan dan kepala sekolah.
lingkungan pembelajaran dapat dikatakan baik apabila lingkungan tersebut dapat memicu dan menantang siswa belajar. Belajar dapat melalui pengalaman langsung dan melalui pengalaman tidak langsung. Belajar melalui pengalaman langsung ialah siswa belajar dengan melakukan sendiri atau dengan mengalaminya sendiri. Sementara belajar melalui pengalaman tidak langsung ialah siswa yang mengetahui sesuatu melalui membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru. Belajar dengan melalui pengalaman langsung hasilnya akan lebih baik karena siswa akan lebih memahami, dan menguasai pelajaran tersebut.

B.     PRINSIP BELAJAR
Prinsip belajar merupakan ketentuan atau hukum yang harus dijadikan pegangan didalam pelaksanaan kegiatan belajar. Sebagai suatu hukum, prinsip belajar akan sangat menentukan proses dan hasil belajar.
1.      Motivasi
Motivasi berfungsi sebagai motor penggerak aktivitas. Bila motornya tidak ada, maka aktivitas tidak akan terjadi. Dan bila motornya lemah, aktivitas yang terjadipun lemah pula.
Motivasi belajar berkaiatan erat dengan tujuan yang hendak dicapai oleh idividu yang sedang belajar itu sendiri. Bila seseorang yang sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak di capai berguna atau bermanfaat baginya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat. Motivasi belajar seperti itu disebut motivasi intrinsik atau motivasi internal. Jadi munculnya motivasi intrinsik dalam belajar, karena siswa ingin menguasai kemampuan yang terkandung di dalam tujuan pembelajaran.
2.      Perhatian
Perhatian sangat erat kaitannya dengan motivasi bahkan tidak dapat dipisahkan. Perhatian ialah pemusatan energi psikis (pikiran dan perasaan) terhadap suatu objek. Makin terpusat perhatian pada pelajaran, proses belajar akan semakin baik dan hasilnya akan baik pula. Munculnya perhatian seseorang pada suatu objek dapat diakibatkan oleh dua hal yaitu;
1.      Orang itu merasa bahwa objek tersebut mempunyai kaitan dengan dirinya.
2.      Objek itu sendiri dipandang memiliki sesuatu yang lain dari yang lain.
3.      Aktivitas
Belajar adalah aktivitas, yaitu aktivitas mental dan emosional. Bila ada siswa yang duduk di kelas pada saat pelajaran berlangsung, akan tetapi mental emosionalnya tidak terlibat aktif didalam situasi pembelajaran itu, pada hakikatnya siswa tersebut tidak ikut belajar.
Kegiatan mendengarkan penjelasan guru, sudah menunjukkan adanya aktivitas belajar. Akan tetapi barangkali kadarnya perlu ditingkatkan dengan menggunakan metode – metode mengajar lain.
4.      Balikan                                              
Siswa perlu dengan segera mengetahui apakah yang ia lakukan dialam proses pembelajaran atau yang ia peroleh dari proses pembelajaran tersebut sudah benar atau belum. Bila ternyata masih salah, pada bagian mana ia masih salah dan mengapa salah serta bagaimana seharusnya ia melakukan kegiatan belajar tersebut.
Untuk itu siswa perlu sesekali memperoleh balikan dengan segera, supaya ia tidak terlanjur berbuat kesalahan yang dapat menimbulkan kegagalan belajar. Berikut adalah beberapa cara untuk memberikan balikan terhap siswa:
a.      Guru mengatakan bahwa pekerjaan siswa salah
b.      Guru mengatakan bahwa pekerjaan siswa masih salah dan tunjukkan pada bagian mana kesalahannya.
c.      Guru menunjukkan kepada siswa bagian mana siswa masih salah, kemudian dijelaskan mengapa masih salah dan diminta kepada siswa tersebut untuk memperbaiki bagian yang masih salah.
Dari ketiga cara tersebut, cara ketiga merupakan cara yang lebih baik dalam memberikan balikan daripada cara pertama dan kedua, karena dengan cara ketiga guru bukan hanya menyalahkan, akan tetapi menjelaskan pula kepada siswa mengapa pada bagian tersebut siswa masih salah. Dengan cara ketiga seperti itu,siswa akan lebih memahami alasan ia melakukan kesalahan.Belajar dengan penuh pemahaman  hasilnya akan lebih baik. Bahkan bila waktu mencukupi, siswa yang bersangkutan  diminta untuk mengoreksi pekerjaannya sendiri dibawah bimbingan guru. Setelah menemukan kesalahannya sendiri, selanjutnya siswa mendiskusikan kesalahannya itu dengan guru sambil dicari sendiri cara-cara yang lebih tepat.
Dengan cara seperti itu, kadar aktivitas belajar lebih tinggi. Siswa tidak terlalu banyak bergantung pada guru, karena siswa yang lebih banyak aktif mencari dan menemukan sendiri.
5.      Perbedaan individual
Belajar tidak dapat diwakilkan oleh orang lain. Tidak belajar, berarti tidak akan memperoleh kemampuan. Belajar dalam arti proses mental dan emosional terjadi secara individual.
Di samping itu, siswa belajar sebagai prbadi tersendiri, yang memiliki perbedaan dari siwa lain. Perbedaan itu mungkin dalam hal : pengalaman, minat, bakat, kebiasaan belajar, kecerdasan, tipe belajar, dan sebagainya.
Individu merupakan pribadi tersendiri yang memiliki perbedaan dari yang lain. Guru hendaknya mampu memperhatikan dan melayani siswa sesuai dengan karakteristik mereka masing-masing. Berkaitan dengan ini, catatan pribadi siswa sangat diperlukan.

II.2   PERBEDAAN PENDEKATAN, STRATEGI, METODE, DAN TEKNIK PEMBELAJARAN

A.     PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Menurut jhoni (1992/1993) pendekatan adalah cara umum dalam memandang permasalahan atau objek kajian. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa pendekatan pembelajaran adalah cara memandang terhadap pembelajaran.
Menurut killen (1998) mengemukakan dua pendekatan utama dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada aktivitas guru, (teacher centered), dan pendekatan yang berpusat pada aktivitas siswa (students centered).

B.     STRATEGI PEMBELAJARAN
Menurut joni (1992/1993) strategi adalah ilmu atau kiat di dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimyati & seodjono yang merupakan tim dosen MKDK kurikulum dan pembelajaran, 1996 mengemukakan bahwa strategi dalam pembelajaran adalah kegiatan guru untuk memikirkan dan mengupayakan terjadinya konsistensi antara aspek-aspek dari komponen pembentukan sistem pembelajaran.
Joni (1992/1993) mengemukakan bahwa yang menjadi acuan utama dalam penentuan strategi pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, segala kegiatan pembelajaran yang dilakukan yang tidak berorientasi pada pencapaian tujuan pembelajaran tidak dapat dikatagorikan sebagai strategi pembelajaran.

C.     METODE PEMBELAJARAN
Dalam bahasa inggris, method berarti cara. Apabila dikaitkan dengan pembelajaran, metode adalah cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa. Karena metode lebih menekankan pada peran guru, istilah metode sering digandengkan dengan kata mengajar, yaitu metode mengajar. Joni (1992/1993) mengemukakan bahwa metode adalah berbagai cara kerja yang bersifat relative umum yang sesuai untuk mencapai tujuan tertentu. Bentuk-bentuk metode mengajar adalah ceramah, diskusi, Tanya jawab, simulasi, pemberian tugas, kerja kelompok, demonstrasi (modeling), eksperimen, pemecahan masalah, inskuiri, dan sebagainya. Ceramah merupakan cara yang umum sesuai untuk menyampaikan informasi. Diskusi merupakan cara yang umum sesuai untuk menggali berbagai gagasan atau ide dari berbagai pihak.

D.     TEKNIK PEMBELAJARAN
Teknik pembelajaran mengacu pada ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu, seperti kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan peralatan, kesiapan siswa, dan sebagainya (joni 1992/1993).Teknik pembelajaran merupakan wujud konkret dari penggunaan metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran.

II.3   FAKTOR-FAKTOR PENENTU DALAM PEMILIHAN STRATEGI DAN PEMBELAJARAN
        
         A. Tujuan Pembelajaran
            Tujuan merupakan komponen utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran. Di dalam kurikulum 2004 dirumuskan dalam bentuk kompetensi, sebab semua ,omponen-komponen tersebut ermasuk strategi pembelajaran yang dipilih dan difungsikan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran menyangkut tiga kelompok prilaku, yakni pengetahuan keterampilan dan sikap. Untuk masing-masing kelompok prilaku diperlukan pengunaan strategi pembelajaran yang berbeda sesuai dengan aspek kegiatan yang dituntut untuk penguasaan jenis-jenis tujuan pembelajaran tersebut.
Bloom mengelompokkan tujuan pembelajaran kedalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif, efektif, dan psikomotor. Berkaitan dengan katagori tujuan pembelajaran, Gagne, Briggs dan Wager (1992) mengelompokkan kemampuan-kemampuan sebagai hasil belajar kedalam lima kelompok, yakni keterampilan intelektual, strategi, kognitif, informasi verbal, keterampilan motorik, dan sikap.
1.      Keterampilan intelektual
Keterampilan intelektual merupakan keterampilan pikiran, yang jika dihubungkan dengan pendapat Bloom termasuk ranah kognitif. Keterampilan intelektual terbagi atas beberapa tahapan sebagai berikut:
         a. Diskriminasi –diskriminasi
   diskriminasi merupakan kemampuan membandingkan benda-benda secara fisik. Kemampuan diskriminasi merupakan kemampuan awal yang harus dimiliki lebih dulu untuk memperoleh keterampilan intelektual yang lebih tinggi tahapannya.
         b. konsep-konsep konkret
konsep konkret menunjukkan suatu sifat objek atau atribut objek seperti warna, bentuk an ukuran. Konsep-konsep ini isebut konkret karena menyangkut objek yang konkret seperti benda-benda yang ada disekitar kita.

         c.            konsep terdefinisi
seseorang dapat dikatakan telah memahami suatu konsep terdefinisi bila orang tersebut dapat menjelaskan dengan cara memberikan contoh atau mendenmontrasi atribut-atribut objek, pariwisata atau hubungan-hubungan. Ada beberapa konsep terdefinisi yang juga berupa konsep konkret, seperti “segitiga”. Disamping dapat ditunjukkan karena konkret, konsep segi tiga juga dapat didefinisikan sebabagai “suatu bentuk datar tertutup yang terbentuk dari tiga segmen garis yang bersilangan pada tiga titik.

D.     Aturan-aturan
Yang termasuk kedalam aturan adalah prinsip, dalil, dan rumus, Misalnya,luas segi panjang sama dengan panjang kali lebar(L =p x l).Berkenaa dengan rumus ini,tuntutan kita terhadap siswa,sudah barang tentu siswa harus dapat menggunakan rumus tersebut dalam memecahkan soal.Umpamanya siswa mampu mencari luas segi panjang,bila diketahui p = 5m, l = 3m.
   Banyak siswa yang tidak memahami aturan, tetapi mereka dapat menggunakannya. misalnya rumus mencari keliling lingkaran. Apabila siswa tidak diberi kesempatan untuk memahami aturan atau rumus tersebut, siswa tidak memahami mengapa rumus mencari keliling lingkaran sama dengan 22/7 x R?
Akan tetapi jika diberi tugas mencari keliling lingkaran yang telah diketahui garis tengahnya sperti 14 cm, siswa akan mampu melakukannya. Tidak sedikit pula yang sebalikya, yaitu siswa memahami dalilnya tetapi tidak dapat menggunakan dalil tersrbut.
Tujuan akhir pelajaran mengenai aturan-aturan  termasuk prinsip, dalil dan rumus ialah tingkat penerapan, tetapi siswa mestinya telah memahami terlebih dahulu aturan-aturan tersebut.
e.      Aturan-aturan tingkat tinggi – pemecahan masalah
ketika dihadapkan kepada suatu masalah, sering kali dalam pemecahannya harus menggunakan beberapa aturan sehingga lebih kompleks, dan ditemukanlah aturan-aturan tingkat tinggi. Oleh karena itu, untuk memperoleh aturan tingkat tinggi, aturan-aturan yang mendasarinya harus telah dikuasai terlebih dahulu, dan aturan tingkat tinggi tersebut dtemukan di dalam pemecahan masalah.
2       Strategi kognitif
   strategi kognitif merupakan ssuatu proses control, yaitu suatu proses internal yang digunakan seseorang untuk memilih dan mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar, mengingat, dan berpikir (Gagne, Briggs, & Wager, 1992). Strategi kognitif sangat mempengaruhi keterapilan intelektual seseorang.
3       Informasi verbal
   Yang termasuk kedalam informasi verbal ialah nama atau label, fakta, dan pengetahuan seorang anak dianggap telah menguasai informasi verbal apabila anak tersebut telah mampu mengingat objek yang dilihat atau didengarnya.
4       Keterampilan motorik
   Keterampilan motorik tidak hanya mencakup kegiatan-kegiatan fisik, tetapi juga digabung dengan keterampilan-keterampilan psikis.

5       Sikap
   Sikap (efektif) merupakan salah satu ranah perilaku manusia atau siswa yang merupakan bagian dari tujuan pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dari ranah kognitif dan psikomotorik.

B.     BAHAN PELAJARAN
Dalam rumusan tujuan, tergambar bahan pelajaran atau materi pelajaran yang harus dipelajari siswa. Setiap jenis dan tingkat kekompleksitasan materi pelajaran menuntut kegiatan yang berbeda untuk mecapainya. Apabila materi yang akan dibahas merupakan materi baru bagi siswa, maka guru hendaknya memulai kegiatan pembelajaran dengan menjelaskan secara singkat atau melakukan demonstrasi yang menarik perhatian siswa. Sebaliknya, apabila materi yang akan dibahas merupakan materi yang sudah dikenal siswa maka guru dapat meminta siswa untuk mengemukakan pengetahuannya yang berkenaan dengan materi yang dibahas atau mengajukan permasalahan yang harus diselesaikan oleh siswa.

C.     SISWA
Yang paling berkepentingan dalam proses pembelajaran ialah siswa mengingat tujuan yang harus dicapai dari proses tersebut ialah perubahan prilaku siswa. Oleh karena itu, didalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran, factor siswa tidak boleh diabaikan. Setelah strategi pembelajaran yang akan digunakan sudah ditetapkan, sebaiknya gunakan pilihan berdasarkan pertimbangan tujuan dan materi atau bahan pelajaran sehingga dalam menentukan bagaimana teknik menggunakan strategi pembelajaran tersebut, factor siswa menjadi salah satu pertimbangan.
Sebagai pribadi tersendiri memiliki perbedaan-perbedaan. Sangat bijaksana bila dalam penggunaan strategi pembelajaran, mempertimbangkan perbedaan-perbedaan tersebut. Selain mempertimbangkan siswa secara individual,jumlah siswa akan mempengaruhi pula terhadap penggunaan strategi pembelajaran.

D.     GURU
Setiap guru memiliki kelebihan dan keterbatasan. Sebagai contoh, dilapangan kadang-kadang ada guru yang ketika menerangkan pelajaran sangat menarik perhatian siswa dan jelas. Sementara itu ada guru lain yang walaupun menggunakan strategi pembelajaran yang sama dengan guru yang tadi, tetapi ia  tidak mampu menarik perhatian siswa, bahkan cenderung membosankan. Hal ini terjadi mungkin karena guru yang pertama tadi memiliki kelebihan dalam hal seni mengajar. Hal-hal seperti itu perlu menjadi pertimbangan kita dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran. Demikian pula kondisi fisik guru, terutama pada saat akan mengajar.

E.      SARANA (ALAT DAN SUMBER), WAKTU, DAN RUANGAN
Alat yang menjadi pertimbangan kita dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran ialah alat peraga, seperti peta, globe, gambar, foto, chart, grafik, dan sebagainya ; serta alat-alat pelajaran, seperti alat-alat untuk praktik. Jumlah dan karakteristik alat-alat tersebut  dapat dijadikan bahan pertimbangan didalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran. Termasuk dalam kelompok ini ialah media pembelajaran yang dapat dipelajari sendiri oleh peserta didik, seperti paket modul, pengajaran berprograma, dan pengajaran melalui alat audio (seperti kaset tape recorder).
Disamping ketersediaan sarana (alat dan sumber pelajaran), waktu yang tersedia juga harus menjadi pertimbangan guru dalam menentukan strategi pembelajaran yang akan diterapkan.

II.4   BERBAGAI JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN
Pembelajaran adalah interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu sistem lingkungan belajar.
A. Strategi pembelajaran berdasarkan proses pengolahan pesan
Dilihat dari proses pengolahan pesan,  strategi pembelajaran dapat dikelompokkan kedalam dua jenis, yaitu strategi pembelajaran deduktif, dan pembelajaran induktif.
1.  strategi pembelajaran deduktif
Dalam strategi pembelajaran deduktif, pesan atau materi pembelajaran diolah mulai dari yang umum, generalisasi atau rumusan konsep atau rumusan aturan, dilanjutkan kehal yang khusus, yaitu penjelasan bagian-bagiannya atau atribut-atributnya (ciri-cirinya) dengan menggunakan berbagai ilustrasi atau contoh.
2. strategi pembelajaran induktif
            Dalam strategi pembelajaran induktif, pesan atau materi pembelajaran diolah mulai dari yang khusus, bagian atau atribut, menuju ke yang umum, yaitu generalisasi atau rumusan konsep atau aturan.
B. strategi pembelajaran berdasarkan pihak pengolah pesan
Atas dasar pihak pengolah pesan, strategi pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu strategi pembelajaran ekspositori dan pembelajaran heuristic.
1.      strategi pembelajaran ekspositori
   Dengan strategi pembelajaran ekspositori, guru yang mencari materi pelajaran yang akan diajarkan dari berbagai sumber, kemudian guru mengolahnya serta membuat rangkuman dan/atau mungkin membuat bagan.pada strategi pembelajaran ini guru lebih aktif dari pada siswa, dimana guru menjelaskan didepan kelas, dan siswa tinggal mendengarkan dan mencatatnya.
2.      strategi pembelajaran heuristic
   Dengan menggunakan strategi pembelajaran ini, yang mencari dan mengolah pesan (materi pelajaran) ialah siswa. Disini yang lebih aktif ialah siswa, dimana guru berperan sebagai fasilitator dan pembingbing kegiatan belajar siswa.
   Keuntungan penggunaan pembelajaran strategi heuristic bagi siswa adalah  secara berangsur-angsur akan terbentuk sikap positif pada diri mereka antara lain kreatif, kritis, inovatif, percaya diri, terbuka dan mandiri.
   Strategi ini terbagi kedalam dua bagian yaitu diskoveri dan inkuiri. Dengan strategi diskoveri, siswa melakukan kegiatan dengan berpedoman pada langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh guru. Apabila dalam strategi diskoveri, siswa memperoleh atau menemukan pengetahuan sendiri dengan dengan bantuan pedoman atau panduan yang diberikan guru maka dalam penerapan strategi inkuiri, siswa memperoleh dan menemukan sendiri pengetahuan tanpa pedoman atau panduan guru.
C.     strategi pembelajaran berdasarkan pengaturan guru
Dilihat dari sisi pengaturan guru, dikenal dua jenis strategi pembelajan seorang guru dan beregu (team teaching). Yang dimaksud dengan strategi pembelaaran berega adalah pembelajaran yang dilaksanakan oleh dua orang atau lebih guru mengajarkan satu mata pelajaran, atau mengajarkan salah satu tema yang pembahasannya menyangkut berbagai mata pelajaran.
Pembelajaran beregu jarang dilaksanakan di SD karena guru SD merupakan guru kelas, guru yang mengajar semua mata pelajaran di kelas, kecuali mata pelajaran olahraga, dan kesehatan, pendidikan agama dan kesenian .
D      Strategi pembelajaran berdasarkan jumlah siswa
Dengan memperhatikan jomlah siswa dikenal tiga strategi pembelajan, yaitu strategi pembelajaran klasikal, kelompok kecil, dan individual. strategi pembelajan klasikal dan kelompok kecil sudah biasa kita lakukan di SD. Sedangkan strategi pembelajaran individual masih jarang digunakan. Dengan strategi pembelajaran individual, siswa belajar secara perseorangan ehingga memungkinkan siswa dapat maju sesuai dengan kecepatan masing-masing, tidak harus menunggu atau mengajar siswa lain seperti halnya strategi pembelajaran klasikal.
E       strategi pembelajaran berdasarkan interaksi guru dengan siswa
Atas pertimbangan interaksi guru dengan siswa ada dua strategi pembelajaran, yaitu strategi pembelajaran tatap muka dan strategi pembelajaran melalui media. Pengunaan strategi tatap muka yang baik dengan sendirinya yang menggunakan alat peraga, karena siswa akan lebih memahami yang diajarkan guru.
Pada penggunaan strategi pembelajaran melalui media, guru dengan siswa tidak secara langsung bertatap muka, tetapi melalui media. Guru harus menyiapkan media yang dapat merangsang siswa aktif belajar dan mengandung umpan balik bagi kegiatan belajar atau pekerjaan siswa. Pada hal ini, siswa berdialog dengan media sebagai “wakil guru”.

II.5   PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR
A. pengertian belajar
Menurt definisi lama, yang dimaksud dengan belajar adalah menambah dan mengumpulkan pengetahuan. Yang diutamakan dalam definisi ini adalah penguasaan pengetahuan sebanyak-banyaknya untuk menjadi cerdas atau membentuk intelektual, sedangkan sikap dan keterampilan diabaikan. Siswa lebih banyak menerima atau lebih banyak menghafal pengetahuan yang diberikan melalui beberapa mata pelajaran, bahkan hanya mengingat-ingat semua pengetahuan yang dibacanya. 
Pendapat modern yang muncul pada abad 19 menganggap bahwa belajar aalah proses perubahan tingkah laku (a change in behavior). Ernest R. Hilgard (1948) menyatajan bahwa learning in the procces by which an activity originates or is changed through training procedures (wether in the laboratory or in the natural environment) as distinguished from changes by factors not atrisutable to training. Jadi, belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui latihan dan perubahan itu disebabkan karena ada dukungan dari lungkungan yang positif yang menyebabkan terjadinya interaksi edukatif.
Pendapat lain mengungkapkan bahwa belajar adalah proses pengalaman (learning is experiencing), artinya belajar itu suatu proses interaksi antara inividu dengan lingkungannya. Dalam interaksi tersebut terjadi proses mental, intelektual, dan emosional yang pada akhirnya menjadi suatu sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.
Definisi belajar yang umum diterima saat ini ialah bahwa belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru, secara keseluruhan sebagai pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
B. hakikat belajar
Belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses, artinya dalam belajar akan terjadi proses melihat, membuat, mengamati, menyelesaikan masalah atau persoalan, menyimak dan latihan. Proses belajar harus diupayakan secara efektif agar terjadi adanya perubahan tingkah laku siswa yang disebabkan oleh proses-proses tersebut.
Ada 4 pilar yang perlu diperhatikan dalam belajar yaitu learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be.
Learning to know artinya belajar untuk mengetahui yang menjadi target dalam belajar adalah adanya proses pemahaman sehingga belajar tersebut dapat mengantarkan siswa untuk mengetahui dan memahami substansi materi yang dipelajarinya.
Learning to do artinya belajar untuk berbuat yang menjadi target dalam belajar adalah adanya proses melakukan atau proses berbuat. Dalam hal ini siswa harus mengerjakan, menerapkan, menyelesaikan persoalan, melakukan eksperimen, penyelidikan, penemuan, pengamatan, simulasi dan sejenisnya.
Learning to live together artinya belajar untuk hidup bersama; yang menjadi target dalam belajar adalah siswa memiliki kemampuan untuk hidup bersama atau mampu hidup dalam kelompok. Dalam hal ini siswa harus dibekali pengalaman-pengalaman melakukan tanggung jawab dalam kelompok, memahami pendapat orang lain, menerapkan sikap toleransi, memahami asas dalam kelompok, serta memahami dan merasakan kesulitan orang lain.
Learning to be artinya belajar untuk menjadi; yang menjadi target dalam belajar adalah mengantarkan siswa menjadi individu yang utuh sesuai dengan potensi, bakat, minat dan kemampuannya. Hasil belajar yang diperoleh benar-benar bermakna dalam kehidupan maupun bagi kehidupan orang lain, sehingga dapat mengantarkan siswa menjadi manusia yang mandiri yang mampu mengenal, mengarahkan dan merencanakan dirinya sendiri .
C. factor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
1. faktor dari dalam diri siswa yang berpengaruh terhadap hasil belajar diantaranya adalah kecakapan, minat, bakat, usaha, motivasi, perhatian, kelemahan dan kesehatan, serta kebiasaan siswa. Minat  belsjsr berksitan dengan seberapa besar individu merasa suka atau tidak suka terhadap suatu materi yang dipelajari siswa. Minat inilah yang harus dimunculkan lebih awal dalam iri siswa. Minat, motivasi, dan perhatian siswa dapat dikondisikan oleh guru. Setiap individu memiliki kecakapan (obility) yang berbeda-beda. Kecakapan tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan kecepatan belajar; yakni sangat cepat, sedang, dan lambat. Demikian pula pengelompokkan kemampuan siswa berdasarkan kemampuan penerimaan, misalnya proses pemahamannya harus dengan cara perantara visua;, verbal, dan atau harus dibantu dengan alat /media.
2. factor dari luar diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya adalah lingkungan fisik dan nonfisik (termasuk suasana kelas dalam belajar, seperti riang gembira, menyenangkan), lingkungan sosial buaya, lingkungan keluarga, program sekolah (termasuk dukungan komite sekolah),guru, pelaksanaan pembelajaran, dan teman sekolah. Guru merupakan factor yang paling berpengruh terhadap proses maupun hasil belajar; sebab guru merupakan manager atau sutradara dalam kelas. Dalam hal ini guru harus memiliki kompetensi dasar yang disyaratkan dalam profesi guru.

II.6   KARAKTERISTIK PROSES BELAJAR DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN SISWA SEKOLAH DASAR
A. karakteristik belajar disekolah dasar
1. proses belajar berdasarkan teori dan tipe belajar
Belajar merupakan suatu kegiatan pemrosesan kognitif, keterampilan dan sikap. Pelajar(siswa) harus sepenuhnya harus melakukan upaya mengubah perilaku melalui pengalaman , latihan maupun kegiatan-kegiatan lain yang dianggap efektif sebagai proses untuk mengubah perilaku. Perlu dipahami bahwa proses belajar yang baik adalah proses belajar yang dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk berpatisipasi aktif dalam mempelajari suatu kejadian alam, budaya atau sosial. Teori belajar yang dianut guru akan memberikan warna terhadap implementasi proses belajar, karena berpengaruh terhadap bahan yang dipelajari, proses yang dilakukan, dan hasil yang diinginkan.
a. teori belajar
ada beberapa teori belajar yang dapat dikaji sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan proses belajar di sekolah dasar.
1.teori belajar disiplin mental
Karakteristik teori belajar ini menganut prinsip bahwa manusia memiliki sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menanggapi, mengingat , berpikir dan sbagainya yang dapat dilatih dan didisiplinkan.
2.teori belajar asosiasi
Rumpun teori ini identik dengan teori behaviorisme yang biasa disebut S-R Bond. Teori belajar ini berdasarkan pada perubahan tingkah laku yang menekankan pola perilaku baru yang menekankan pola perilaku baru yang diulang-ulang sehingga menjadi aktivitas yang otomatis. Dalam teori ini belajar lebih mengutamakan stimulus –respons yang membentuk kemampuan siswa secara spesifik dan terkontrol. Hukuman(punishment) dan ganjaran (reward) merupakan penguatan (reinforcement) yang dipakai. Pelopor aliran ini antaranya Edward L. Thorndike. Ia mengemukakan tiga hukum belajar yaitu; 1) hukum kesiapan (law of readiness) bahwa hubungan antara stimulus dan respons akan terbentuk apabila telah ada kesiapan pada sistem syaraf individu; 2) hukum latihan atau pengulangan (law of exercise or repetition) bahwa hubungan stimulus dengan respons akan terbentuk apabila sering dilatih atau diulang-ulang; 3) hukum akibat(law of effect) hubungan stimulus engan respons akan terjadi apabila adanya akibat yang menyenangkan. Bila stimulus dan respons tersebut dihargai negatif,akan tejadi penurunan motivasi. Karakteristik teori belajar ini adalah; 1) menekankan perubahan tingkah laku yang dapat diamati dan terukur, 2) adanya ganjaran dan hukuman sebagai cara dalam memperkuat perilaku, 3) perencanaan mengajar sangat khusus, 4) mengabaikan kemampuan berpikir siswaproses belajar yang menganut aliran ini dalam penerapannya memerlukan pengkondisian yang mendalam dari guru, diantaranya; 1) proses belajar harus dipersiapkan secara sistematis dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas dan terukur, 2) strategi bejar diperiapkan lebih teliti, 3) dalam proses belajar selalu diperlukan adanya pujian dan ganjaran; 4) proses pembelajaran selalu diawali stimulus-stimulus; 5) aspek siswa(psikologis maupun intelektual kurang diperhatikan.dengan demikian terlihat bahwa dalam teori belajar ini lebih mementingkan produk, hasil belajar dan penguasaan sejumlah pengetahuan siswa, sementara proses terabaikan.
         3.teori insight
Menurut teori ini, belajar adalah mengubah pemahaman siswa. Perubahan ini akan terjadi apabila siswa menggunakan lingkungan. Belajar adalah suatu proses yang bersifat eksploratif, imajinatif, dan kreatif.
         4.teori belajar gestalt
Menurut teori belajar ini siswa merupakan inividu yang utuh. Oleh karenanya belajar lebih mengutamakan  keseluruhan, kemudian melihat bagian-bagiannyayang mengandung makna dan hubungan.
b. tipe belajar
untuk mencapai proses dan hasil belajar yang optimal kita perlu mengenal beberapa tipe belajar yang dikemukakan gagne (1970). Menurut  gagne afa 8 tipe belajar yang dapat dilakukan  siswa, yaitu;
1. signal learning (belajar melalui isyarat)
Belajar isyarat merupakan suatu tipe belajar yang dapat membentuk perilaku melalui sinyal atau isyarat sehingga terbentuk sikap tertenu , tetapi respons yang dimunculkan dapat bersifat umum, tidak jelas bahkan emosional.
2. stimulus - respons  learning  ( belajar melalui  rangsangan  tindak balas)
Belajar stimulus merupakan suatu tipe belajar yang dapat membentuk perilaku melalui pegkondisian stimulus untuk menghasilkan suatu tindak –balas (respons). Pembentukan kemampuan siswa tidak akan diperoleh secara tiba-tiba akan tetapi harus dilakukan melalui latihan-latihan. Respons tersebut bersifat spesifik, jelas, dan dapat diperkuat dengan ganjaran (reward).
3. chaining learning (belajar melalui perangkaian)
Belajar chaining merupakan suatu tipe belajar yang dapat membentuk perilaku melalui beberapa stimulus-respons (S-R) yang berangkai; dalam contohnya “ibu-bapak”, “kampong-halaman”, juga dalam perbuatan kita terdapat chaining contoh; dari pulang tugas mengajar, buka sepatu , menyimpan tas, ganti baju, makan dan seterusnya.
4. verbal association learning (belajar melalui perkaian verbal)
belajar verbal association merupakan suatu tipe belajar yang dapat membentuk perilaku melalui perkaitan verbal. Perkaitan ini bisa dimulai dari yang sederhana, misalnya; bila siswa diperlihatkan wujud bentuk geometris kmudian siswa dapat menyebutkan “bujur sangkar” atau bila siswa diperlihatkan bola kepunyaannya siswa itu akan mengatakan itu bola saya, karena ia sudah mengenal bola itu.
5. discrimination learning(belajar melalui membeda-bedakan)
Tipe belajar ini dapat membetuk prilaku melalui proses membeda-bedakan objek yang abstrak maupun konkret. Siswa dapat membedakan sesuatu yang berkaitan dengan ruang, bentuk, peristiwa, gambar, dan lambang. Dengan tipe belajar ini siswa dapat belajar secara sintesis karena dapat membeda-bedakan beberapa objek.
6. concept learning (belajar melalui konsep)
Tipe belajar ini dapat membentuk perlaku melalui pemahaman terhadap suatu benda, peristiwa, kategori, golongan dan suatu kelompok. Yang dimaksud konsep itu sendiri adalah karakteristik, atribut atau definisi sesuatu objek.
7. rule learning (belajar melalui aturan-aturan)
Tipe belajar ini dapat membentuk perilaku melalui aturan. Belajar melalui aturan merupakan proses belajar yang membentuk kemampuan siswa supaya memahami aturan-aturan dan mampu menerapkannya.
8. problem solving learning (belajar melalui pemecahan masalah)
Tipe belajar ini dapat membentuk perilaku melalui kegiatan pemecahan masalah . tipe belajar ini merupakan tipe belajar yang dapat membentuk siswa berpikir ilmiah dan kritis yang termasuk pada belajar yang menggunakan pemikiran atau intelektual tinggi.
c.  hasil belajar
Hasil belajar merupakan kulminasi dari suatu proses yang telah dilakukan dalam belajar. Kulminasi akan selalu diiringi dengan kegiatan tindak lanjut. Hasil belajar harus menunjukkan suatu perubahan tingkah laku atau perolehan perilaku yang baru dari siswa yang bersifat menetap, fungsional, positif, dan disadari. Bentuk perbahan tingkah laku harus menyeluruh secara komprehensif sehingga menunjukkan perubahan tingkah laku seperti contoh diatas. Aspek perilaku keseluruhan dari tujuan pembelajaran menurut Benyamin Bloom (1956) yang dapat menunjukkan gambaran hasil belajar, mencakup aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik. Romizoswki (1982) menyebutkan dalam skema kemampuan yang dapat menunjukkan hasil belajar yaitu; 1) keterampilan kognitif berkaitan dengan kemampuan membuat keputusan memecahkan masalah dan berpikir logis. 2) keterampilan psikomotor berkaitan dengan kemampuan tindakan fisik dan kegiatan perceptual. 3) keterampilan reaktif berkaitan dengan sikap, kebijaksanaan , perasaan dan self control. 4) keterampilan interaktif berkaitan dengan kemampuan sosial dan kepemimpinan. Gagne (1979) menyebutkan ada lima tipe hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa 1) motor skills; 2) verbal information; 3) intellectual skills; 4) attitudes; dan 5) cognitive strategies.
Seperti telah dikemukakan di atas bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku secara menyeluruh bukan hanya pada satu aspek saja tetapi terpadu secara uruh. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan secara seksama supaya perilaku tersebut dapat dicapai sepenuhnya dan menyeluruh oleh siswa. Perwujudan hasil belajar akan selalu berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran sehingga diperlukan adanya teknik dan prosedur evaluasi belajar yang dapat menilai secara efektif proses dan hasil belajar.
B.     TAHAPAN PERKEMBANGAN SISWA SEKOLAH  DASAR
Perkembangan siswa sekolah dasar usia 6 – 12 tahun yang termasuk pada perkembangan masa pertengahan (middle childhood) memiliki fase-fase yang unik dalam perkembangannya yang menggambarkan peristiwa penting bagi siswa yang bersangkutan. Tahapan perkembangan siswa dapat dilihat dari aspek perkembangan antara lain sebagai berikut :
1.      Perkembangan Fisik
Perkembangan ini berkaitan dengan perkembangan berat, tinggi badan, dan perkembangan motorik. Siswa pada tingkat sekolah dasar, kemampuan motoriknya mulai lebih halus dan terarah (refined motor skills), tetapi berat badan siswa laki-laki lebih ramping dari pada siswa perempuan karena masa adolesen perempuan lebih cepat dari pada laki-laki. Gerakan-gerakan yang dilakukan siswa sudah mulai mengarah pada gerakan yang kompleks, rumit, dan cepat serta sudah mampu menjaga keseimbangan dengan tepat.
2.      Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial siswa sudah terasa ada pemisah kelompok jenis kelamin (separation of the sexes) , serta pada kelas tinggi di sekolah dasar sudah mulai mengenal dan mampu melakukan tugas dan tanggung jawab dalam kelas atau kelompok, baik sebagai ketua maupun sebagai anggota.
3.      Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa siswa dalam hal kosa kata sudah meningkat sampai 50.000 kata dan siswa sudah mulai berfikir dalam menggunakan kata-kata. Gaya bicaranya pun telah bergeser dari gaya egosentris ke gaya bicara sosial (social speech).
4.      Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif pada siswa sekolah dasar berlangsung secara dinamis. Untuk menumbuh kembangkan kemampuan kognitif dalam fase konkret operasional pada siswa sekolah dasar, acuannya adalah terbentuknya hubungan-hubungan logis di antara konsep-konsep atau skema-skema.
5.      Perkembangan Moral
Perkembangan moral yang harus dimiliki siswa sekolah dasar adalah kemampuan bertindak menjadi orang baik. Tindakan yang dilakukan selalu berorientasi pada orang lain yang dianggap berbuat baik. Pada tahap ini siswa dapat ditanamkan rasa kebersamaan kemampuan saling menghargai.
6.      Perkembangan Ekspresif
Pada tahap ini siswa sudah menyadari aturan dari suatu permainan dan sudah mulai membina hobinya serta didalam dirinya telah timbul keinginan untuk menjadi orang yang terkenal seperti telah mulai untuk mempelajari musik, olah raga dan lainnya.
7.      Aspek-Aspek Integensi
Dalam psikologi, garner (Utami Munandar, 1999; 265) membedakan jenis intelegensi dimana intelegensi itu tidak berfungsi dalam bentuk murni tetapi setiap individu memiliki campuran yang unik dari ketujuh intelegensi tersebut. Aspek-aspek intelegensi tersebut dapat ditumbuhkembangkan pada setiap siswa. Aspek intelegensi tersebut diantaranya adalah  Intelegensi Linguistic, Intelegensi Logis-Matematis, Inteligensi Spasial, Inteligensi Musik, Inteligensi Fisik-Kinestetik, Inteligensi Intrapribadi.
8.      Aspek kebutuhan siswa
Secara umum ada dua kebutuhan siswa : 1) Psiko-biologis yang dinyatakan dalam keinginan, minat, tujuan, harapan, dan masalahnya; 2) sosial yang berkaitan dengan tuntutan lingkungan masyarakat, biasanya menurut pandangan orang dewasa.

II.7. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR
A.    KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN DI KELAS RENDAH
Pembelajaran di kelas rendah dilaksanakan berdasarkan rencana pelajaran (kelas 1, 2, 3) di sekolah dasar. Proses pembelajaran ini harus dirancang oleh guru sehingga kemampuan siswa, bahan ajar, proses belajar dan sistem penilaian sesuai dengan taraf perkembangan siswa. Hal lain yang harus dipahami yaitu proses proses belajar harus dikembangkan secara interaktif. Dalam hal ini guru memegang peranan penting dalam menciptakan stimulus-respons agar siswa menyadari kejadian di sekitar lingkungannya. Sementara itu, siswa kelas rendah di sekolah rendah di sekolah dasar masih banyak membutuhkan perhatian karena kurang terfokus dalam konsentrasi, serta kurang memperhatikan kecepatan dan aktivitas belajar sehingga hal ini memerlukan kegigihan guru untuk menciptakan proses belajar yang lebih menarik dan efektif.
Dalam pengembangan kreativitas siswa proses pembelajaran dapat diarahkan supaya siswa melakukan kegiatan kreativitas yang sesuai dengan tingkat perkembangannya, misalnya memecahkan permasalahan melalui permainan sehari-hari.
B.     KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN DI KELAS TINGGI
Esensi proses pembelajaran di kelas tinggi (kelas 4, 5, 6) adalah suatu pembelajaran yang dilaksanakan secara logis dan sistematis untuk membelajarkan siswa tentang konsep dan generalisasi sehingga penerapannya (menyelesaikan soal, menggabungkan, menghubungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi). Banyak strategi belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar di kelas tinggi sekolah dasar, diantaranya ceramah, Tanya jawab, latihan atau drill, belajar kelompok, observasi atau pengamatan, inkuiri, pemecahan masalah, dan diskaveri.

II.8. MODEL-MODEL BELAJAR DAN RUMPUN MODEL MENGAJAR
1. Model-model Belajar
A.    Belajar Kolaboratif (Collaborative Learning)
Belajar kolaboratif bukan sekedar bekerja sama antar siswa dalam suatu kelompok biasa, tetapi suatu kegiatan belajar dikatakan kolaboratif apabila dua orang atau lebih bekerja bersama, memecahkan masalah bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Dua unsur yang penting dalam belajar kolaboratif adalah (1) adanya tujuan yang sama, dan (2) ketergantungan yang positif.
B.     Belajar Kuantum (Quantum Learning)
Pembelajaran kuantum mengedepankan unsur-unsur kebebasan, santai, menakjubkan, menyenangkan, dan menggairahkan. Indicator keberhasilan pembelajaran kuantum adalah siswa sejahtera. Siswa dikatakan sejahtera kalau aktivitas belajarnya menyenangkan dan menggairahkan.
C.     Belajar Kooperatif (Cooperative Learning)
Belajar kooperative adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil sehingga siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan kegiatan belajarnya sendiri juga anggota yang lain. Idenya sangatlah sederhana, anggota kelas diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok kecil setelah menerima pembelajaran dari guru. Kemudian para siswa itu mengerjakan tugas sampai semua anggota kelompok berhasil memahaminya.
D.    Belajar Tematik
1.         hakikat belajar tematik
Belajar tematik didefinisikan sebagai suatu kegiatan belajar yang dirancang sekitar ide pokok (tema), dan melibatkan beberapa bidang studi (mata pelajaran) yang berkaitan dengan tema .pappas (1995) mengatakan bahwa pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang digunakan guru untuk mendorong partisipasi aktif  pebelajar dalam kegiatan-kegiatan yang difokuskan pada suatu topic yang dikuasai pebelajar dan dipilih untuk belajar.
2.         prisip belajar tematik
Belajar tematik menggunakan tema sentral dalam kegiatan belajar yang berlangsung. Meinbach (1995) mengatakan bahwa pembelajaran tematik mengombinasikan struktur, urutan, dan strategi yang diorganisasikan dengan baik.
Meinbach (1995) mengatakan dalam pembelajaran bahasa, unit tematik merupakan suatu opitome (kerangka isi) pembelajaran bahasa secara keseluruhan (membaca, menulis, menyimak dan berbicara). Pappans (1995) mengatakan bahwa belajar tematik mencerminkan pola-pola berpikir, tujuan dan konsep-konsep umum bidang ilmu.
3.         karakteristik pembelajaran tematik
Pembelajaran tematik memiliki karakteristik yang khas dengan pembelajaran lainnya. Pembelajarannya lebih banyak dilakukan melalui pengalaman langsung atau hands on experiences. Secara terperinci Barbara Rohde dan Kostelnik, el.al. (1991) mengemukakan karakteristik pembelajaran tersebut sebagai berikut;
a. memberikan pengalaman lansung dengan objek-objek yang nyata bagi      pebelajar untuk menilai dan memanipulasinya.
b. menciptakan kegiatan dimana anak menggunakan semua pemikirannya
c. membangun kegiatan sekitar minat-minat umum pebelajar.
d. membantu pebelajar mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru yang didasarkan pada apa yang telah mereka ketahui dan kerjakan
e. menyediakan kegiatan dan kebisaan yang menghubungkan semua aspek perkembangan kognitif, emosi, sosial dan fisik.
f. mengakomodasi kebutuhan pebelajar untuk bergerak dan melakukan keiatan fisik, interaksi sosial, kemandirian, dan harga diri yang positif.
g. memberikan kesempatan bermain untuk menerjemahkan pengalaman kedalam pengertian.
h. menghargai perbedaan individu, latar belakang budaya,dan pengalaman dikeluarga yang dibawa pebelajar kekelasnnya.
i. menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga pebelajar.
4.         perlunya pembelajaran tematik, khususnya di SD
a. Pada dasarnya siswa SD kelas awal memahami suatu konsep secara utuh , global/tematis, makin meningkat kecerdasannya, dan makin terperinci serta spesifik pemahamannya terhadap konsep tertentu.
b. siswa SD kelas awal mengembangkan kecerdasan secara komprehensif, semua unsur kecerdasan ingin dikembangkannya sehingga muncul konsep pentingnya multiple intelligent untuk dikembangkan.
c. kenyataan hidup sehari-hari menampilkan fakta yang utuh  dan tematis.
d. ada konteksnya
e. guru SD adalah guru kelas, akan lebih mudah mengajar satu konsep secara utuh, akan sulit mengajar sub-subkonsep secara terpisah-pisah.
5.           Manfaat belajar tematik
Dalam belajar tematik ada perubahan peranan guru dari seorang pemimpin dan penyedia kebijakan serta pengetahuan fasilitator, pembingbing, penantang, pemberi saran dan organisator. Pembelajaran tematik selain memperhatikan logika, estetika, etika, dan kinestetika serta life skills (personal skill, social skill, academic skill, thinking skill, vocational skill).
2.        Rumpun model mengajar
A. Rumpun model sosial
      Joice & Weil (2000) mengatakan bahwa model-model sosial diracang untuk menilai keberhasilandan tujuan akademik, termasuk studi tentang nilai-nilai sosial, kebijakan public, dan memecahkan masalah.
1.   partner dalam belajar
      Akhir-akhir ini banyak dikembangkan belajar kooperatif (seperti telah dibahas pada kegiatan belajar 1) yang merupakan kemajuan besar dalam pengembangan strategi mengajar yang membantu pebelajar bekerja secara efektif. Prosedur belajar kooperatif bertujuan membantu pebelajar belajar lintas bidang studi dalam suatu kurikulum , mengembangkan rasa percaya diri, keterampilan sosial dan solidaritas, serta tujuan belajar akademik untuk memperoleh informasi dan keterampilan melalui inkuiri dari suatu disiplin akademik.
2.   investigasi kelompok
Investigasi kelompok menekankan pada rencana pengaturan kelas umum atau konvensional. Rencana tersebut meliputi pendalaman materi yang terpadu secara kelompok, diskusi dan perencanaan proyek. Model ini merupakan bentuk sederhana dari belajar kooperatif.
3.   bermain peran
Dengan bermain peran, guru mengajak pebelajar untuk memahami pengertian perilaku sosial, perananya dalam interaksi sosial, dan cara-cara memecahkan masalah-masalah sosial dengan cara-cara yang lebih efektif.
4.   inkuiri yurisprudensi
Dengan model ini pebelajar belajar berpikir tentang kebijakan-kebijakan sosial. Studi tentang isu-isu sosial di masyarakat suatu Negara, ditingkat nasional maupun internasional dapat dipersiapkan bagi para pelajar.
5.   kepribadian dan gaya belajar
Dalam model ini dikemukakan adanya gaya belajar pebelajar dan guru yakin bahwa semua itu apat berkembang. Perkembangan dapat terjadi secara optimal, apabila lingkungan menyediakan cara kerja konseptual yang diperlukan untuk kebutuhan konseptual seseorang.
6.   inkuiri sosial
Model ini dirancang dengan maksud khusus, yaitu mengajarkan informasi, konsep-konsep, cara berpikir, dan studi tentang nilai-nilai sosial dengan memberi tugas-tugas yang menggabungkan aspek kogitif dan sosial.
B.        rumpun model pemrosesan informasi
            Model pemrosesan informasi menekankan pada cara meningkatkan pembawaan seseorang memahami dunia dengan memperoleh dan mengorganisasikan data, memahami masalah dan mencari pemecahannya serta mengembangkan konsep-konsep dan bahasa untuk menyampaikannya.
1.   berpikir induktif
Model ini memaparkan cara belajar pebelajar untuk mendapatkan dan mengorganisasikan informasi, serta menciptakan dan menguji hepotesis yang mendeskripsikan hubungan diantara serangkaian data. Model ini dapat digunakan untuk berbagai jenis kurikulum secara luas dan dengan pebelajar semua umur,misalnya studi tentang masyarakat, bangsa dan sejarah yang memerlukan belajar konsep.
2.   pencapaian konsep
Model ini memberikan cara efektif untuk penyajian informasi yang terorganisasi dan topic-topik yang berskala luas kepada pebelajar pada setiap tahap perkembagan.
3.   inkuiri ilmiah
Pebelajar dibawa ke proses ilmiah dan dibantu mengumpulkan dan menganalisis data, mengecek hipotesis dan teori serta mencerminkan hakikat pembentukan pengetahuan.
4.   latihan inkuiri
Model ini memberikan rancangan untuk mengajar pebelajar menghubungkan alas an sebab akibat dan menjadi lebih baik serta tepat dalam mengajukan pertanyaan, membentuk konsep, dan hipotesis serta mengujinya.
5.   mnemonic
Mnemonic merupakan suatu strategi untuk mengingat dan mengasimilasi informasi. Guru dapat menggunakan mnemonic untuk  membingbing penyajian materi. Disini guru mengajar dengan suatu cara sehingga pebelajar dapat dengan mudah menyerap informasi.
6.   sinetik
Model ini dirancang untuk membantu pebelajar memecahkan masalah dan menulis kegiatan-kegiatan, serta menambahkan pandangan –pandangan baru paa topic-topik dari suatu bidang ilmu yang luas.
7.   pengorganisasi awal (advance arganizer)
Model ini dirancang untuk memberikan struktur kodnitif kepada pebelajar untuk memahami materi melalui kuliah, membaca dan media yang lain. Model ini dapat diterapkan hampir disemua materi dan untuk pebelajar berbagai umur.
8.   penyesuaian dengan pebelajar
Model ini bertolak dari Kohlberg yang digunakan untuk membantu kita menyesuaikan pembelajaran pada suatu tahap kematangan pebelajar secara individual dan merancang cara meningkatkan perkembangan pelajar.
C.        Rumpun model personal
Model belajar personal dimulai dari pandangan tentang harga diri individu. Seseorang berusaha memperoleh pendidikan sehingga berusaha memahami diri sendiri dengan lebih baik, bertanggung jawab atas pendidikannya senidiri, dan belajar mencapai pengembangan yang baru dengan lebih kuat, lebih sensitive, dan lebih kreatif dalam meraih kehiupan yang berkualitas tinggi.
1.         pengajaran nondirektif
Dikembangkan dari teori konseling, model ini menekankan kerja sama antara pebelajar dengan guru. Model ini digunakan dengan beberapa cara; pertama, digunakan sebagai model dasar untuk melaksanakan seluruh program pendidikan. Kedua, dikombinasikan dengan model lain untuk meyakinkan bahwa kontak dilakukan dengan pebelajar. Ketiga, digunakan ketika pebelajar merecanakan proyek belajar mandiri maupun kooperatif. Keempat, digunakan secara periodic ketika memberikan konseling kepada pebelajar, menemukan jalan keluar tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan pebelajar untuk dipahaminya.
2.         peningkatan harga diri
Karya Abraham Maslow digunakan untuk membingbing suatu program dalam hal rasa harga diri dan kemampuan aktualisasi diri.guru menggali prinsip-prisip  yang dapat membingbing kegiatan-kegiatan kerja sama dengan pebelajar untuk meyakinkan dan memberikan gambaran tentang pribadi si pelajar untuk meyakinkan dan memberikan gambaran tentang pribadi sipebelajar sebaik mungkin.
D.        Rumpun Model Sistem Perilaku
Dasar teoritik model ini sering disebut teori belajar sosial, modifikasi perilaku, terapi perilaku, dan cybernetic.
1.         belajar tuntas dan pembelajaran terprogram
Aplikasi teori sistem perilaku untuk tujuan akademik tampak dalam bentuk yang disebut belajar tuntas (matery learning). Materi-materi yang disajikan kepada pebelajar umumnya dikerjakan secara individual, melalui media yang sesuai (bacaan,tape, kegiatan-kegiatan).
2.         pembelajaran langsung
Dari studi tentang perbedaan antara guru mengajar yang lebih efektif dan yang kurang efektif, serta dari teori belajar sosial, suatu paraigma untuk pembelajaran secara langsung disusun.pernyataan tujuan pembelajaran disampaikan secara langsung kepada siswa, serangkaian kegiatan yang jelas berkaitan dengan tujuan, monitoring yang cermat dari kemajuan-kemajuan belajar, balikan tentang hasil belajar, serta taktik-taktik untuk penilaian yang lebih efektif dikaitkan dengan serangkaian panduan untuk memperoleh kegiatan belajar.
3.         belajar melalui simulasi: latihan dan latihan mandiri
Ua jenis latihan pendekatan ikembangkan dari teori perilaku kelompok cybernetic. Pendekatan yang pertama, menggabungkan informasi tentang keterampilan dengan demontrasi, praktik, balikan dan latihan sampai suatu keterampilan dicapai.


BAB III
PENUTUP

III.1     SIMPULAN
Belajar adalah proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku. Di dalam belajar, motivasi berfungsi sebagai motor penggrak aktivitas. Di dalam belajar diperlukan perhatian, dimana perhatian sangat erat kaitannya dengan motivasi, dan merupakan pemusatan energy psikis terhadap suatu objek. Belajar itu sendiri adalah aktifitas, yaitu aktivitas mental dan emosional. Siswa sangat memerlukan balikan dengan segera , supaya ia tidak terlanjur berbuat kesalahan yang dapat menimbulkan kegagalan belajar. Belajar tidak dapat diwakilka kepada orang lain, tidak belajar berarti tidak akan memperoleh kemampuan.
Menurut joni (1992/1993) pendekatan adalah cara umum dalam memandang permasalahan atau objek kajian. Selain berpendapat mengenai masalah pendekatan, joni (1992/1993) juga berpendapat mengenai strategi pembelajar, dimana ia mengemukakan bahwa strategi adalah ilmu atau kiat di dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sementara Dimyati & Seodjono (tim dosen MKDK kurikulum dan pembelajaran, 1996) mengemukakan bahwa strategi dalam pembelajaran adalah kegiatan guru untuk memikirkan dan mengupayakan terjadinya konsistensi aspek-aspek dari komponen pembentukan sistem pembelajaran. Joni (1992/1993) mengemkakan bahwa yang menjadi acuan utama dalam penentuan strategi pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran.
Joni (1992/1993) mengemukakan bahwa metode adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan tertentu. Setiap metode mengajar memiliki langkah-langkah atau prosedur penggunaannya tersendiri.
Teknik pembelajaran mengacu pada ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu, seperti kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan peralatan, kesiapan siswa, dan sebagainya, hal ini diungkapkan oleh Joni (1992/1993). Teknik pembelajaran merupakan wujud yang konkret dari penggunaan metode, strategi, dan pendektan pembelajaran.
Berkaitan dengan kategori tujuan pembelajaran, Gagne, Briggs, & Wager (1992) mengelompokkan kemampuan-kemampuan sebagai hasil belajar kedalam lima kelompok yakni keterampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan motorik, dan sikap.
Setiap jenis dan tingkat kekomplaksitasan materi pelajaran menuntut kegiatan yang berbeda untuk mencapainya. Apabila materi yang akan dibahas merupakan materi baru bagi siswa maka guru hendaknya memulai kegiatan pembelajaran dengan menjelaskan secara singkat atau melakukan demonstrasi yang menarik perhatian siswa. Sebaliknya, apabila materi yang akan dibahas merupakan materi yang sudah dikenal siswa maka guru dapat meminta siswa untuk mengemukakan pengetahuannya yang berkenaan dengan materi yang dibahas atau mengajukan permasalahan yang harus diselesaikan oleh siswa.
Mengingat tujuan yang harus dicapai dari proses pembelajaran adalah perubahan perilaku siswa, maka yang paling berkepentingan dalam proses pembelajaran adalah siswa.
Setiap guru memiliki kelebihan dan keterbatasa. Hal ini dapat dilihat dari cara mengajar dan penerimaan materi pembelajaran oleh siswa. Pertimbangan dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajan adalah alat peraga, seperti peta, globe, gambar, foto, chart, grafik, dan sebagainya. Disamping ketersediaan sarana, waktu yang tersedia juga harus menjadi pertimbangan guru dalam menentukan strategi pembelajaran yang akan ditetapkan.
Banyak strategi pembelajaran yang dapat diterapkan guru dalam pembelajaran.
1.         Ditinjau dari proses pengolahan pesan
a.         Strategi Deduktif. Dengan strategi deduktif materi atau bahan pelajaran diolah dari mulai yang umum, generalisasi atau rumusan, ke yang bersifat khusus atau bagian-bagian. Bagian itu dapat berupa sifat, atribut atau cirri-ciri. Strategi deduktif dapat digunakan dalam mengajarkan konsep, baik konsep konkret maupun konsep terdefinisi.
b.         Strategi Induktif. Dengan strategi induktif materi atau bahan pelajaran diolah mulai dari yang khusus (sifat,ciri,atau atribut) ke yang umum, generalisasi atau rumusan. Strategi Idnuktif dapat digunakan dalam mengajarkan konsep, baik konsep konkret maupun terdefinisi.
2.         Ditinjau dari Pihak Pengolah Pesan
a.         Strategi pembelajaran ekspositori. Dengan strategi pembelajaran ekspositori bahan atau materi pelajaran diolah oleh guru. Siswa tinggal “terima jadi” dari guru. Dengan strategi ekspositori guru yang mecari dan mengolah bahan pelajaran, yang kemudian meyampaikannya kepada siswa. Strategi ini dapat digunakan didalam mengajarkan berbagai materi pelajaran, kecuali yang sifatnya pemecahan masalah.
b.         Strategi pembelajaran heuristik. Dengan strategi pembelajaran heuristic bahan atau materi pelajaran diolah oleh siswa. Siswa yang aktif mencari dan mengolah bahan pelajaran. Guru sebagai fasilitator memberikan dorongan, arahan, dan bimbingan. Strategi pembelajaran heuristik dapat digunakan untuk mengajarkan berbagai materi pelajaran termasuk pemecaha masalah. Dengan strategi ini siswa diharapkan siswa bukan hanya paham dan mampu melakukan suatu pekerjaan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, tetapi juga akan terbebtuk sikap-sikap positif, seperti kritis, kreatif, inovatif, mandiri dan terbuka. Strategi pembelajaran heuristik terbagi atas diskoveri dan inkuiri.
3.         Ditinjau dari pertimbangan pengaturan guru
a.         Strategi seorang guru. Seorang guru mengajar kepada sejumlah siswa
b.         strategi pembelajaran beregu (team teaching). Dengan pembelajaran beregu, dua orang atau lebih guru mengajar sejumlah siswa. Pembelajaran beregu apat digunakan didalam mengajarkan salah satu mata pelajaran atau sejumlah mata pelajaran yang terpusat kepada suatu topik tertentu.
4.         Ditinjau dari pertimbangan jumlah siswa
a.         Strategi Klaksial
b.         Strategi kelompok kecil
c.         Strategi Individual
5.         Ditinjau dari pertimbangan Interaksi Guru dengan Siswa
a.         Strategi pembelajaran tatap muka. Strategi ini akan lebih baik apabila disertai dengan penggunaan alat peraga.
b.         Strategi pembelajaran melalui media. Guru tidak langsung berhadapan dengan siswa, akan tetapi guru “mewakilkan” kepada media. Siswa berinteraksi dengan media.
Beberapa aspek yang perlu dikuasai guru dalam kegiatan belajar, diantaranya sebagai berikut.
Keberhasilan proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh pemahaman guru terhadap hakikat belajar. Fungsi pemahaman guru terhadap hakikat belajar adalah supaya dalam pelaksanaanya guru dapat mengelola dan membingbing proses pembelajaran sesuai dengan kaidah-kaidah belajar serta dapat memberikan tindak lanjut dalam kegiatan belajar.
Kegiatan yang paling menentukan dalam keberhasilan kurikulum adalah proses yang harus ditempuh oleh siswa, tetapi esensi dan hakikatnya harus dipahami oleh guru. Oleh karena itu, dalam pelaksanaanya diharapkan guru dapat membingbing dan mengelola proses proses pembelajaran sesuai dengan kaidah-kaidah belajar yang efektif.
Meurut definisi lama bahwa yang dimaksud denan belajar adalah menambah dan mengumpulkan pengetahuan. Yang diutamakan dalam definisi ini adalah penguasaan pengetahuan sebanyak-banyaknya untuk menjadi cerdas atau membentuk intelektual, sedangkan sikap dan keterampilam diabaikan.
Menurut  Ernest R. Hilgard, belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui latihan. Perubahan ini disebabkan karena ada dukungan dari lingkungan yang positif yang menyebabkan terjadinya interaksi edukatif.
Belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses, artinya dalam belajar akan terjadi suatu proses intelektual, fisik, dan mental guna mengubah perilaku siswa. Kegiatan tersebut dapat diwujudkan dalam proses aktivitas melihat, membuat, mengamati,menyelesaikan masalah atau persoalan, menyimak dan sejenisnya.
Semua aspek dalam diri siswa sebagai individu seperti intelektual, sosial-emosional , dan fisik harus terlibat secara utuh sehingga pengembangan potensi, bakat, dan minat siswa dapat terjadi secara maksimal.
Ada 4 pilar yang perlu diperhatikan dalam belajar yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk hidup bersama (learning to life together), dan belajar untuk menjadi (learning to be). Semua itu harus diterapkan pada proses belajar disekolah dasar baik dalam kelas maupun di luar kelas.
Factor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar; 1) factor dari dalam diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya adalah kecakapan,ninat,bakat,usaha,motivasi, perhatian,kelemahan dan kesehatan fisik, serta kebiasaan siswa. 2) factor dari luar diri siswa yang mempengaruhi terhadap hasil belajar diantaranya adalah lingkungan fisik, lingkungan nonfisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan keluarga, program dan disiplin sekolah, program dan sikap guru, pelaksanaan pembelajaran dan teman sekolah.
Teori belajar yang dianut oleh guru dalam implementasi proses belajar, akan mempengaruhi bahan yang dipelajari, proses yang dilaksanakan dan hasil yang diinginkan. Proses belajar sangat dipengaruhi oleh pendekatan atau strategi belajar yang digunakan dalam  pembelajaran. Proses pembelajaran yang dianut dalam kurikukulum saat ini adalah proses pembelajaran yang dapat mengoptimalkan seluruh aktivitas siswa berdasarkan potensi yang dimilikinya.
Teoti belajar disiplin mental menganut prinsip bahwa manusia memiliki sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menanggapi, mengingat, berpikir dan sebagainya yang dapat dilatih dan didisiplinkan. Belajar itu sendiri merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki individu.
Teori belajar asosiasi berdasarkan pada perubahan tingkah laku yang menekankan pola perilaku baru yang diulang-ulang sehingga menjadi aktivitas yang otomatis. Dalam teori ini belajar lebih mengutamakan stimulus-respons yang membentuk kemampuan siswa secara spesifik dan terkontrol. Hukuman ((punishment) dan ganjaran (reward) merupakan penguatan (reinforcement) yang dipakai. Pelopor aliran ini di antaranya Edward L. Thorndike. Ia mengemukakan tiga hukum belajar, 1) hukum kesiapan (law of readiness); 2) hukum latihan atau pengulangan (law of exercise or repetition); dan 3) hukum akibat (law of effect).
Proses belajar aliran asosiasi alam penerapannya memerlukan pengkondisian yang mendalam dari guru, diantaranya; 1) proses belajar harus disiapkan secara sistematis dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas dan terukur, 2) strategi belajar dipersiapkan lebih teliti, 3) dalam proses belajar selalu menuntut pujian dan ganjaran, 4) proses pembelajaran selalu diawali dengan stimulus-stimulus; dan 5) aspek siswa (psikologis maupun intelektual) kurang diperhatikan.
Menurut teori Gestalt belajar adalah mengubah pemahaman siswa. Perubahan ini akan terjadi apabila siswa menggunakan lingkungan. Belajar adalah suatu proses yang bertujuan eksploratif, imajinatif, dan kreatif.  Belajar selalu diarahkan untuk mengembangkan kemampuan tingkat tinggi dan brpikir tinggi. Menurut teori belajar ini siswa merupakan individu utuh. Pembelajaran selalu diberikan dalam bentuk problematik atau masalah aktual dan nyata yang sedang terjadi saat ini maupun saat yang akan datang.
 Dalam kegiatan pembelajaran harus diperhatikan fase perkembangan siswa seperti perkembangan fisik-motorik, kognitif, moral, bahasa, sosial dan perkembangan ekspresif.
Ada beberapa tipe belajar yang dikemukakan Gagne:
1.         Signal learning (belajar melalui isyarat)
2.         Stimulus-respons learning (belajar melalui rangsangantindak balas)
3          Chaining learning (belajar melalui perangkaian)
4          Verbal association learning (belajar melalui perkaitan verbal)
5          Concept learning (belajar melalui konsep)
6          Discrimination learning (belajar melalui membeda-bedakan)
7          Rule learning (belajar melalui aturan-aturan)
8          Problem solving learning (belajar melalui pemecahan masalah)
Aspek-aspek intelegensi tersebut dapat ditumbuhkembangkan pada setiap siswa. Dikenal 7 jenis intelegensi dalam kehidupan sehari-hari. Intelegensi itu tidak berfungsi sendiri-sendiri tetapi setiap individu memiliki campuran yang unik dari ketujuh intelegensi tersebut. Aspek-aspek intelegensi tersebut adalah intelegensi linguistic,logis-matematis, spaial, musik, fisik-kinestetik, intrapribadi, dan interpribadi.
Beberapa karakteristik pembelajaran di sekolah dasar yaitu:
A         Karakteristik pembelajaran di kelas Rendah
Esensi proses pembelajaran dikelas rendah adalah pembelajaran konkret yaitu suatu pembelajaran yang dilaksanakan secara logis dan sistematis untuk membelajarkan siswa yang berkenaan dengan fakta dan kejadian di sekitar lingkungan siswa. Pembelajaran ini dilaksanakan berdasarkan rencana pelajaran (silabus) yang telah dikembangkan oleh guru. Pembelajaran konkret lebih sesuai bila diberikan pada siswa di kelas rendah (kelas 1,2,3) sekolah dasar. Kondisi pembelajaran ini harus diupayakan oleh guru sehingga kemampuan siswa, bahan ajar, proses belajar, dan sistem penilaian sesuai dengan taraf perkembangan siswa.
Karakteristik lain yang harus dipahami dalam pembelajaran dikelas rendah yaitu proses belajar harus dikembangkan secara interaktif. Dalam hal ini guru memegang peranan penting dalam menciptakan stimulus-respons pembelajaran. Sementara itu, karakteristik aktivitas siswa dikelas rendah sekolah dasar masih relative kurang terfokus dalam konsentrasi, kecepatan belajar, dan aktivitas belajar sehingga hal ini memerlukan kegigihan guru untuk mengupayakan pembelajaran kearah proses belajar yang efektif.
Dalam kurikulum SD tahun 2004 dianjurkan di kelas 1 dan 2 sekolah dasar agar siswa melakukan kegiatan pembelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa yang melibatkan beberapa mata pelajaran.
B         Karakteristik pembelajaran di kelas tingkat tinggi
Esensi proses pembelajaran kelas tinggi (kelas 4,5,6) sekolah dasar adalah suatu pembelajaran yang dilaksanakan secara logis dan sistematis untuk membelajarkan konsep, dan generalisasi hingga penerapannya (menyelesaikan soal, menggabungkan, menghubungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi).
Banyak strategi belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar dikelas tinggi Sekolah Dasar, diantaranya: Tanya-jawab, latihan atau drill, belajar kelompok, observasi atau pengamatan, inkuiri, pemecahan masalah dan diskaveri. Di kelas tinggi siswa dapat dibimbingdengan menggunakan pembelajaran konstruktivis, artinya siswa dibimbing untuk mencari, menemukan, menggolongkan, menyusun,melakukan, mengkaji, dan menyimpulkan sendiri atau berkelompok tentang substansi yang dipelajarinya. Menurut piaget siswa kelas 6 SD yang mencapai usia 11 tahun, masuk dalam fase perkembangan operasional formal, artinya suatu perkembangan kognitif yang menunjukkan bahwa siswa sudah memiiki kemampuan berpikir tinggi atau berpikir ilmiah. Dengan demikian pada kelas 6 bahkan mulai dari kelas 5 pembelajarannya harus menggunakan beberapa pendekatan ilmiah.
Belajar kolaboratif adalah suatu cara belajar antara 2 orang atau lebih dengan tujuan yang sama dan adanya ketergantungan satu sama lain. Dalam belajar kolaboratif pebelajar dapat mengembangkan pengetahuan bersama maupun pengetahuan inividu. Belajar kooperatif  juga merupakan suatu cara belajar bekerja sama, namun para anggota belum tentu mmpunnyai tujuan yang sama. Antar pebelajar yang saling bantu hanya sebatas apa yang dibutuhkan oleh temanya.
Belajar kuantum merupakan suatu kegiatan belajar dengan suasana yang menyenangkan karena guru mengubah (mengorkestrasi) segala sesuatu yang ada di sekelilingnya sehingga pebelajar bergairah belajar.
Belajar tematik pada hakikatnya merupakan suatu jenis pembelajaran yang memadukan beberapa bidang studi berdasarkan suatu tema sebagai paying (kerangka isi). Dengan demikian, pebelajar diharapkan memahami hubungan antar bidang studi (mata pelajaran) secara terpadu.
Model pemrosesan informasi menekankan pada cara meningkatkan pembawaan seseorang memahami dunia dengan memperoleh dan mengorganisasikan data, memahami masalah, dan mencari pemecahannya, serta mengembangkan konsep-konsep dan bahasa untuk menyampaikannya.
Model belajar personal dimulai dari pandangan tentang harga diri individu. Seseorang berusaha memahami diri sendiri dengan lebih baik, bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri, dan belajar mencapai pengembangan yang baru dengan lebih kuat, lebih sensitif, dan lebih kreatif dalam meraih kehidupan yang berkualitas tinggi.
Model sistem perilaku sering disebut teori belajar sosial, modifikasi perilaku, therapy perilaku, dan cbernetid. Manusia memiliki sistem komunikasi koreksi diri yang memodifikasi perilaku dalam merespons informasi tentang seberapa jauh keberhasilan tugas-tugas yang dikehendaki. Secara bertahap, perilaku disesuaikan dengan balikan sampai ada kemajuan dalam meniti anak tangga dengan aman.
II.2     REKOMENDASI
Sehubungan ini kami memberikan Rekomendasi, Maka bersama ini direkomendasikan kepada Guru/Mahasiswa untuk memberikan model-model/strategi pembelajaran, karena model-model/strategi pembelajaran sangat diperlukan untuk mendapatkan strategi dan model-model pembelajaran dalam hal untuk peningkatan mutu pendidikan, Agar dalam pembelajaran siswa lebih cepat mengerti dan memahami permasalahan.
Demikian rekomendasi ini agar dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.



0 komentar:

Post a Comment