10:12 PM
3
BABAD ARYA SENTONG
Resume,
ASTI”. Diceritakan bahwa ratu di Kedir,itulah Negara Daha.Kama Swara Sri Darmawangsa Teguh ananta Wikrama tunggadewa,berputra Sri Erlangga mempersatukan Negara,semua para Ratu sama menghamba kepadanya di seluruh pulau jawa terutama makasar,sama menghamba sama Sang Prabu, dan setelah beliau di nobatkan oleh Sri Empu Bradahyang berasrana di Lembahtadis,permaisuri beliau berdwijati, serta engan senang hati beliau melakukan ke Pansitaan dan beliau berputra 2 orang anak laki-laki sama bagus parasnya bernama:
1. Sri Haji Jayabaya dan adiknya bernama,
2. Sri Haji Jayabaya
Sungguh ibarat sebagai Surya Kembar eduanya beliau tersebut nampak.
Bahwa Sri Haji Jayabaya beristana dinegara Kuripan sedang adiknya Sri Haji Jayabaya tinggal di istana negara Daha
Sri Haji Jayabayaberputra Ratu Dangdang Gendis kalah perang melawan Ken Arok.
Ratu Dandang Gendis berputra Ratu Wijayakatong gugur di dalam peperangan.
Dan Sri Jayabaya ada juga putranya yang lain yang dilahirkan dari istri sauaranya Karya Patin Tua bertempat di Wilatikta yang tertua bernama Sri Arya Koripan beristana di Wilatika,adiknya bernama Sang Arya Dharma dan beristana di Tulembang.Beliau berdua berpaman disaudarakan dengan Kryan Patin Tua.
Sri Kryan Patin Tua Gajah Mada berastrama di Wilatikta. Sri Arya Dharma berputra 7 orang masing-masing bernama:
1. Sri Arya Damar
2. Sri Arya Sentong
3. Sri Arya Baleteng
4. Sri Arya Tanwikan
5. Sri Arya Kutawaringin
6. Sri Arya Kapakisan
7. Sri Arya Benculuk

Sang Prabu dari Wilatikta berisana di Hutan Alastrik dan adiknya bernama Sri Arya Dhamarberistana di Tulembang. Patih Maworda di Walatkta. Sang Prabu dn Sri Arya Damar berbapa disaudara dari perempuan dengan Patih Werda tergolong Wesia.
Dan ada pula patih brnama Tumenggung Suta, akan tetapi sudah melepaskan jabatanya, sebab Sang Prabu telah mendapatkan penggantinya ialah Patih Gajah Mada,kelahiran dari Patalaning Klapa. Dialah yang mendapatkan kepercayaan dari Sang Prabu mengenai segala tugas berat maupun ringan
Diceritkan awal kedatangan Sri Arya Sentong di Bali diawali saat-saat Sang Ratu Bali berbalik brontak kepada Sang Prabu Sang Prabu Wilatikta.Kedatangan Sri Arya Sentong ke Bali bersama-sama dengan para Arya lainya untuk menggempur Sang Ratu Bali. Setelah semuanya aman dan para arya dan Patih Gajah Mada memenangkan pertempuran melawan Sang Ratu Bali lalu Sang Arya Damar dan Sang patih Gajah Mada kembali ke Wilatikta untuk melaporkan kepada Sang Prabu Wilatikta. Belum selesai pembicaraan Sang Arya Damar tiba tiba dating Sang Arya Sentong menghadap Sri Maharaja dan melapor bahwa di Bedahulu-Bali Turun seorang yang bernama Maha Denawa Dengan bertingkah laku ngusak asik di Bali.Dan menimbulkan peperangan dengan Dalem Bedahulu. Setelah mendengar laporang dariSang Arya Sentong LAlu Sang Prabu mengajak semua untuk brangkat kebali hari itu juga untuk menggempur Maha Denawa. Dan hakhirnya Maha denawa kalah, lalu sang prabu berssama Sang Arya menuju ke Gelgel dan disana mendirikan Puri dan Para Arya Tinggal bersebelahan. Dan sesudah sekian lama menetap disana dan hakhirnya sang prabu memerintahkan Sang Arya Damar (sekarang Sng Arya Kenceng) untuk mengatur penempatan para Arya, yaitu sebagai berikut:
1. Sang Arya Sentong bertempat di desa Pacung, dan semenjak itu Sri Arya Sentong memakai sebutnan I Gusti Ngurah Pacung.
2. Sang Arya Beleteng bertempat di desa penatih.
3. sang Arya Kutawaringin bertempat di desa Kapal.
4. Sang Arya Belog bertempat di desa Abiansemal.
5. Sang Arya Benculung bertempat di desa Tangkas (gelgel).
Akan tetapi Sri Arya Sentong sangat aku sayangkan, sebab ia perkasa laksana, tiada takut dengan musuh dan sangat berani teguh (kebal) dan tetap pendiriannya (pageh). Patulah Dia kebahagian dana, dan Sri Arya Beleteng patut menjadi pati oleh Sri Arya Sentong. Sesudah beberama kemudain diceritakan kebesaran Kerajaan I Dewa Agung Di Klungkung. Dilaksanakan oleh para tanda Mentri sekalian ialah Arya Setong, Sri Arya Jlantik, setelah menaklukkansasak, dan Nusa yang dikalahkan oleh I Gusti Ngurah Jelantik, serta I Ngusti Ngurah Pacung (Arya Sentong) bersama para bauadanda lainnya yang menjujung kehendak Dalem,Dalem sangt berterimakasi serta memberikan anugrah kepada I Gusti Ngurah Jlantik sebuah keris berkepala Mas pusaka keliliran bernama Sitan Pekadang dan I Gusti Ngurah Pacung di berikan hadiah sebuah keris bernama Si Sekar Sandat sedang I Gusti Ngurah Kanca diberikan panggawin(tombak) bernama Baru Jaruju. Entah selang berapa lamanya tibalah saatnya kadatangan kaliyuga, timbul pikiran jahat I Gusti Kanca terhadap I Gusti Ngurah Jelantik dan I Gusti Ngurah Pacung yang menyebkan demikian oleh karma lamaran peminangan I Gusti Kanca ditolak oleh I Gisti Ngurah Jelantik karma putrinya I Gusti Ngurah Jelantik telah dipakai istri oleh I Gusti Ngrah Pacung, itulah yang menyebabkan I Gusti Kanca sangt merasa kecewa dan mendendam lalu melaporkan (laporan palsu) kepada Dalem, ikatakan bahwa I Gusti Ngurah Jelantik bersama I Gusti Ngurah Pacung akan berbalik(memrontak) terhadap Dalem.Dari kecintaanya Dalem kepada I Gusti Kanca laporanya dipercaya dan dititahkanya I Gusti Kanca untuk merusak I Gusti Ngurah Jlantik, lalu ia minggat pada malam hari bersama dengan ayahnya di denbukit di tempatkan di Blahbatuh. I Gusti Ngrah Pacung diusir oleh Dalem pergi ke Nusa selama 1 bulan disana, akan tetapi belum cukup lamanya datang utusan I Dewa Agung ke Nusa menjebput agar segera datang menghadap ke Klungkung, baru tiba dijumpai harapan malam, disana I Gusti Ngurah Pacung menginap sedang utusan bertolak ke Klungkung melaporkan kepada I Dewa Gede Agung bahwa I Gusti Ngurah Pacung sudah datang dan malam ini mengginap di Jumpai. Keesokan harinya datang lagi utusan I Dewa Agung untuk menjemputnya, utusan matur: Ya I Gusti Ngurah Pacung menjawab; Kamu utusan, aku berpesan kepadamu sampaikan kehadapan I Dewa Agung, sebagaimana maksud beliau menghendaki aku kembali lagi ke Klungkung,katakanlah bahwa aku mohon diri(pamitan) dan biarkanlah aku menggembara, dan dimanapun nanti aku mendapat tempat, tidak akan menggurai baktiku kepada I Dewa Agung,sekian dan putusan bertolak kembali.
Syah dan bahwa I Gusti Ngurah Pacung bertolak dari jumpai ke utara menyelusuri pasisir pantai tiba di pantai Lebih di perjalanan mandek di tahan oleh Betara Kala”Hai Pacung kamu kemana”?I Gusti Ngurah Pacung matur sembah; Ya Ratu Paduka Batara, maafkan agar batik tidak terkena kutuk, bahwa batik Paduka Batara mendapat murka serta diusir oleh I Dalem Klungkung dan hamba akan kembali ke Majapahit. Batara Kala bersabda: kalau begini nantikan tidak ada Pacung lagi di Bali, dicabutnya suing (tring) Batara Kala sebelah kiri lalu menjadi besi tombak dan di anugrahkan kepaa I Gusti Ngurah Pacung, diberinama I Ulang- Ulang Gugub seraya sabdanya: Kamu Ngurah Pacung inilah selaku senjatamu dalam perjalanan dan aku peringgatkan kepadamu membawa senjata ini di dalam perjalanan sama sekali kamu tidak boleh minggir, setelah itu Batara Kala menghilang.
I Gusti Ngurah Pacung melajutkan perjalanan menuju kearah barat, setibanya di sebelah utara Bedahulu berpapasan dengan I Gusti Ngurah Jlantik Blahbatuh yang datang dari arah Barat bergayot (rembat) dengan iringan penggawin dan mamas bo, dan parekanya menyuruh I Gusti Ngurah Pacung supaya minggir, akan tetapi I Gusti Ngurah Pacung sama sekali tidak menghiraukan permintaan parekan tersebut sehingga terjadi pertengkaran mulut antara parekan atau iringan I Gusti Ngurah Jlantik dengan I Gusti Ngurah Pacung oleh karena masing-masing bertahan sama-sama tidak suka minggirmenyebabkan sangat marahnya kedua belah pihak ,lalu I Gusti Ngurah Pacung direbut oleh iring-iringan Blahbatuh, lalu I Gusti Ngurah Pacung menunjukan (nebahang) tombak anugrah Batara Kala ( Olang –olang Guguh) ,seketika bala Blahbatuh jatuh (rempak) dan tidak berani berkutik serta jongkok semuanya.
Melihat itu marahlah I Gusti Ngurah Jlantik Blahbatuh , lalu terjadi perang tanding I Gusti Ngurah Pacung antara I Gusti Ngurah Jlantik, saling tusuk dengan tombak keris akan tetapi tidak / yang luka sehingga masing-masing sudah sama payah lalu I Gusti Ngurah Jlantik berkata “ hai kamu siapa, siapa sebenarnya kamu ini sangat sakti dan teguh. I Gusti Ngurah Pacung segera menjawabnya:” aku I Gusti Ngurah Pacung, diam di desa Pacung Gelgel ,dan kamu siapa dijawab oleh I Gusti Ngurah Jlantik “ aku I Gusti Ngurah Jlantik berdiam I Blahbatuh.
I Gusti Ngurah Pacung menyahut lagi, kalau demikian bahwa kamu bersaudara denganku, dan hentikanlah berperang . Sesudah selesai Omong-omong lalu masing-masing memakan sirih, setelah selesai makan sirih pembicaraan dilanjutkan pula kemudian bersantap bersama sama. Memprhatikan keadaan demikian itu semua iringan Blahbatuh bersenang hati. I Gusti Ngurah Pacung berkata:” Ngurah Jlantik marilah kita sekarang bertukaran ikat pinggang kita masing-masing POLENG JLANTIK saya yang membawa, dan putih Pacung Ngurah yang membawanya, ini kita jadikan peringgatan (tunggul) dan mulai kini dan kemudian bahwa pereti sentana (keturunan kita) jangan lagi berperang dengan I gusti Ngurah Jlantik dengan Ngurah Pacung, setelah itu baru masing-masing menukarkan sabuk(ikat pinggang).
Sesudah selesai pembicaraan (agreetmen), I Gusti Ngura Jlantik kembali pulang ke Blahbatuh dan tempat bekas peperangan ini dinamainya Marga Sengkala.
Diceritakan sekarang perjalananya I Gusti Ngurah Pacung terus menuju arah barat, setibanya dihutan Kekeran Desa Tabanan, disana beliau menetap dan mendirikan bangunan (Puri), dan belum sampai 3 tahun beliau tinggal di Kekeran, banyaklah orang-orang turut serta kurang lebih 60 kuren (KK), lalu beliau berpindah lagi menuju arah ketimur berhenti di Pacung Menguwi , lama kelamaan berpisah lagi diiringi oleh rakyat semua menuju keutara tempatya disebelah timur desa Banjar Sayan Menguwi bekas tempat kediaman I Gusti Ngurah Pacung disana okor dank ini dinamai Subak Pacung lalu berhenti di hutan belantara, dimana rakyat sama mendirikan rumah(kubu) dan setelah sama selesai, lalu mendirikan istana (puri) dan tempat ini diberikan nama desa parasian. Lama kelamaan beliau berpuri didesa Parariyan suah mempunyai rakyat 5000 lalu beliau dinobatkan (mabiseka) dengan gelar I Gusti Ngurah Pacung Gede beristana di Peryan.
Disebutkan I Gusti Ngurah Made Pacung dan I Gusti Ngurah Nyoman Pacung keduanya adalah sauara dari I Gusti Ngurah Pacung Gede masing-masing mendapat kawibawaan (jabatan).
Bahwa I Gusti Ngurah Pacung Gede mempunyai seorang raka, kemudian setelah I Gusti Ngurah Pacung Gede wafat, maka putranya ( I Gusti Ngurah Raka ) dinobatkan untuk menggantikan ayahnya bergelar I gisti Ngurah Raka Pacung.
I Gusti Ngurah Gede Raka Pacung berputra seorang laki-laki bernama I Gusti Ngurah Putu Pacung, mengantikan Putranya Setelah Wafat.
I Gusti Putu Pacung berputra 2 orang nama, I Guti Ngurah Pacung Rai. Kemudian setelah I Gusti Ngurah Putu Pacung wafat di gantikan oleh putranya yang Tertua( I Gustu Ngurah Pacung Gede).
Bahwa I Gusti Ngurah Pacung Gede berputra 4 orang laki-laki
1. I Gusti Ngurah Pacung Sakti
2. I Gusti Ngurah Made Beleleng berdiam di Sembung dengan rakyat 800.
3. I Gusti Ngurah Nyoman Bayan berdiam di Bayan memegang rakyat 600
4. I Gusti Ngurah Ketut Babahan memegang rakyat 200.
Setelah I Gusti Ngurah Pacung Gede wafat dig anti oleh putranya bernama I Gusti Ngurah Pacung Sakti menduduki istana Peryan, beliau memperistrikan seseorang bernama I Gusti Luh Penatih mempuyai 7 orang putra, 6 laki-laki 1 perempuan, namanya:
1. I Guti Ngurah Pacung Gede
2. I Gusti Ngurah Rai
3. I Gusti Ngurah Abianbatuh
4. I Gusti Ngurah Nengah Abianbatuh
5. I Gustu Luh Abiantubuh
6. I Gusti Ngurah Tahunan dan
7. I Gusti Ngurah Bukian.
Bahwa I Gusti Ngurah Rai kedana oleh I Gurah Pacung Gede oleh karma beliau tidak mempunyai keturunan dan I Gusti Ngurah Abiantubuh di dudukan selaku Manca memegang rakyat 200, I Gusti Ngurah Nengah Abiantubuh ditempatkandi Bluangan dengan rakyat 20 lantaran beliau sangat bodoh dan kesukaanya memelihara itik. I Gusti Ngurah Tahunan diberi kedudukan di Peryan menggurus rakyat 200. I Gusti Ngurah Bukian diberi kedudukan Manca di Peryan memegang rakyat 100. I Gusti Luh Abiantubuh diambil dipakai istri oleh I Gusti Ngurah Agung Gede Blambangan di Menguwi dan diganti namanya nenjadi I Gusti Luh Pacung mempunyai 2 orang anak:
1. I Gusti Ayu Pacung
2. I Gusti Agung Gede Pacung
Diceritakan selanjutnya, timbul murkanya I Gusti Ngurah Pacung Sakti terhadap saudaranya I Gusti Ngurah Babahan, semua rakyat di ambil oleh I Gusti Ngurah Pacung
Sakti, dan I Gusti Ngurah Nyoman Bayan juga menggalami nasib yang sama, yang menyebabkan I Gusti Ngurah Nyoman Bayan pergi menggungsi ke Den Bukit dengan penggikut rakyat 400. lalu menggusi lagi ke Desa Patemon( daerah Buleleng). Dikatakan bahwa menurut cerita bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti mempuyai seekor anjing bernama I Balang Uyang, sebab warna belangnya slalu berobah-obah menurut matahari, maka oleh karnanya I Belang Uyang sangat disayang pengaruhnya dan diandel setiap I Gusti Ngurah Pacung Sakti berburu.
Pada suatu hari bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti sedang bersantap, bahwa I Belang Huyang yang selalu berada disampig beliau, melihat seekor binatng kelasih di atas tembok gedong lalu diterjangnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti yang masih sedang santap, hal mana yang menimbulkan amarah I Gusti Ngurah Pacung Sakti , segera menembak I Belang Huyng dan seketka itu mati.
Setelah itu I Belang Huyang mati, barulah dilihat oleh I Gusti Ngurah Pacung sakti dad seekor kelesih diatas tembok gedong amatlah sedih hati beliau sambil memukul paha tentang tertembak matinya I Belang Huyang, dimana lantas beliau menyuruh hambanya menggubur bangkai anjing itu disebelah Barat daya Puri Peryan disertai dengan bebanten depungan upacara lengkap, pakaian satu rangsuk, satu barong gong Tirta penglepas dan sarwa prani, Demikianlah kuburan I Belang Huyang menjadi kramat(angker) hingga sekarang.
Sesudah sekian lama di ceritakan bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti marah kepada saudaranya bernama I Gusti Ngurah Buleleng di Sembung, sehingga masing masing dijaga oleh rakyatnya. Sesudah lebih dari tiga hari lamanya penjagaan dilakukan redalah amarahnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti terhadap I Gusti Ngurah Buleleng, yang menyebabkan reda amarahnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti karena tidak mampu menyerbu I Gusti Ngurah Buleleng, sebab I Gusti Ngurah Buleleng satu satunya yudha tertunggaldi Peryan yang sangat diandalkan oleh I Gusti Ngurah Pacung Sakti, itulah rakyat penabengnya(tamengnya) diperintahkan pulang. Oleh karana demikian bahwa penjagaan di Bencingah Perian kosong,sedangkan penjagaan di Sembung nasih tetap aktip atau siap tempur.
Diketahui penjagaan dibencingah Peryan sudah kosong, lalu pasukan I Gusti Buleleng memasuki Peryan. Teryata bahwa bencingah Peryan suah di kosongkan, disitu lalu I Gusti Ngurah Buleleng mengerahkab pasukannya atau rakyatnya meyerbu kepuri, diketemui I Gusti Ngurah Pacung Sakti sedang berada di puri Java tengah dapat ditewaskan dan mayat beliau ditimbuni dengan runtuh-runtuhan tembok, seketika itu meledaklah timbunan itu dan dilihat oleh rakyat banyak bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti terbang menunggangi Nag Kaung kearah tmur laut, memakai lancingan( kancut) geringsing wayang, lacingnya (kacutnya) engsut (tertinggal) diatas pohon bringgin didesa Tuka.
Demikian dapat dikatakan bahwa beliau memperoleh surga. Keesokan harinya, diceritakan bawa putra-putra dari I Gusti Ngrah Pacung Sakti yang berada di Peryan, tiada angan tinggal di Peryan lalu sama meningalkan desa Peryan menibggalkan Kraton dan sebuah pemerajan yang ada disana yang kini disebut perang Pura Sari menggunsi:
1. I Gusti Ngurah Pacung Gede menuju ke Payangan, diirinhi oleh rakyat 400 kepala keluarga.
2. I Gusti Ngurah Rai ikut ke Payangan.
3. I gusti Ngurah Bukian menuju ke Subania-Tabanan dengan rakyat 100 Kepala keluarga.
4. I Gusti Ngurah Tauman menuju ke Bukian (Payangan) dengan rakyat 200 kepala keluarga dan berganti nama dengan nama I Gusti Ngurah Bukian.
5. I Gusti Ngurah Abianbatuh menuju ke Ubud dengan rakyat 200 kepala keluarga melindungi diri kepada I gusti Sampalan.
6. I Gusti Ngurah Abiantubuh masih tinggal di Beluangan menghaba kepada pamanya I Gusti Ngurah Buleleng.
Diceritakan sekarang I Gusti AgungPacungsemasih kanak-kanak dipermintakan kepayangan kepada I Gusti Ngurah Pacung Gede oleh ayahnya I Gusti Agung Gede Blambangan dan sesudah dewasa I Gusti Agung Pacung di Payangan menderita sakit cacar dan meninggal dunia. Sesudah lama I Gusti Ngurah PAcung Gede tinggal di Payangan mepunyai 3 orang putra:
1. I Gusti Ngurah Pacung Oka
2. I Gusti Ngurah Rai
3. I Gusti Ngurah Taro, bertempat di Taro dengan rakyat 200 kepala keluarga.
Sesudah wafat I Gusti Ngurah Pacung Gede diganti oleh putranya nama I Gusti Ngurah Pacung Oka penyeneng di Payangan bergelar I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka.
Diceritakan I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka membuat sawah disebelah Timur Payangan isana beliau memunggut besi calon keris dan disimpan dibawah kasur. Sesudah lama I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka menggambil istri pepadan, pada hari perkawinan (Pawiwahan) tidak ada alat untuk di pakai nigas ( menusuk tikar dadakan) lalu inggat menaruh besi calon keris yang di taruh di bawah kasur terus diambil terdapat bahwa besi itu sudah menjadi keris, luk lelima, ganja celok, panggeh mailut.
Keris inilah dipakai nigas(menusuk tikar dadakan) alat upacara perkawinan, tiba-tiba meninggal pengantin istri ( I Gusti I luh) semenjak itu bahwa keris itu diberinama” Baru Pas” sedang sawah tempat besi itu terpunggut diberinama sawah”Kasur Sari” Selain itu juga membuat swah disebelah selatan diberinama”I Biyanglalah dan Jaring Sutra”.
Sesudah lama I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka berkuasa, timbul kemarahan I Gusti Agung Blambangan terhadap I Gusti Ngurah Gede Oka membuat fitnah dan dilaporkan bahwa I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka bertidak semau-maunya tidak suka kena ayahan dan lain-lain, di laporkan terhadap I Dewa Agung Gede di Klungkung.
I Dewa Agung Gede menerima laporan I Gusti Agung Gede Blambangan, lalu diperintahkan rakyat Nyalian dan Bangli untuk menggempur Payangan, dan I Gusti Ngurah Taro membrontak terhadap saudaranya I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka, itu makanya rakyat Nyalian dan Bangli ditarik oleh I Gusti Ngurah Taro.
Hal ini diketahui oleh I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka, lalu beliau meninggalkan kraton dan pemerajan meninggalkan pemerajan menggungsi ke desa Karangsari Bangli diiringi oleh rakyat 400 kepala keluarga. Sesudah keris I Bayu Pas ketinggalan di puri payangan, yang dibawa oleh I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka sebatang tombak anugrah Ida Batara Kala yang bernama I Olang –olang Guguh
Setelah lama berada di Karangsari menggalih pula menuju ke semuan tanah bekas tempat kediaman beliau disana angker. Dan sesudah lama berdiam disamuan lalu dijemput oleh I Mekel Telugtug bersama I Gusti Ngurah Babalang supaya beliau bersedia pindah berkedudukan di Carangsari untuk menggurus atau mengguasai rakyat Carangsari bersama Pedanda Gerya Gede. Diceritakan bahwa I Gusti Ngurah Rai menggungsi ke Petang diiringi oleh rakyat 40 kepala keluarga Setelah lama di Petang menggalih pula ke Pangsan.

3 komentar:

  1. sdh banyak yg sesuai aslinya, ada yg kurang tahun sasihnya juga.IGUSTI NGURAH PACUNG GEDE lama bliau tdk memiliki putra shg Bliau MEMERAS anak Putra dari I Gusti Ag Blambangan dan setelah remaja meninggal krn cacar.
    lalu IGUSTI NGURAH PACUNG GEDE MEMERAS(ngidih) Putra di Puri Tamapaksiring Putran Dalem Tampak siring bernama Ida dewa Agung Anom bliau inilah yang meneruskan generasi PURI agung PAYANGAN sampai saat ini..sblm carangsari nama desanya adalah PANGING PUSPA

    ReplyDelete
  2. Tanyakan lgs ke puri Carangsari, nanti akan tau yang sebenarnya, tidak melalui Versi si A si B..disitu ada babad sejak tahun masehi 444 hingga 1797masehi..karena th 2001 pernah ditedunkan..sy dari payangan..tanya juga perjalanan Bliau dari nusa, perean..IGUSTI NGURAH PACUNG SAKTI adalah GENERASI KE-5 dari CRI ARYA SENTONG

    ReplyDelete
  3. saya masih bingung sih, maklum masih awam,,,
    saya arya sentong tapi namanya bukan Gusti, katanya saya nyineb wangsa..
    tapi saya belum tahu itu,,,
    kawitan saya di Carangsari..
    tapi kampung saya di Tabanan Penebel Pohgending.

    itu kenapa ya keluarga2 saya harus nyineb dan harus pindah ke Tabanan Penebel?

    sampai sekarang saya masih bingung.

    ReplyDelete