"Selamat datang di situs The Bali Buzz, www.rah-toem.blogspot.com"
Home » , » Macam-macam Pedewasan Bidang Pertanian dan Dampak Padewasan

Macam-macam Pedewasan Bidang Pertanian dan Dampak Padewasan

Advertisement

1. Macam-macam Pedewasan Bidang Pertanian
Diawali dengan mantra yang terdapat dalam Rgveda tersebut di atas, sebagai pemujaan  kepada  Tuhan sebagai penguasa Sinar dan pemberi  kebahagiaan pada  segala  musim  karena  Tuhanlah  sebagai  penguasa  dan  sang  pengendali dari musim tersebut. Demikian pula halnya dalam bidang pertanian, musim tanam  sangat ditentukan  dari padewasan. Karena tanaman  akan  berhasil dengan baik apabila  jenis tanaman  tepat  dan cocok dengan musim pada saat tersebut. Sistem  pertanian  dalam  ajaran Hindu bukanlah  suatu hal  yang baru, karena perkembangan  agama  Hindu di Indonesia tidak  lepas dari sejarah  perkembangan agama Hindu di daerah asalnya India. Sebelum pengaruh agama Hindu dan Buddha datang, kepercayaan  tradisional  masyarakat  Indonesia telah mengenal  pemujaan terhadap  unsur-unsur alam  termasuk benda-benda angkasa seperti matahari,  bulan dan bintang.
Sebagai  masyarakat agraris yang relegius terbangun sebuah keyakinan bahwa keberhasilan yang diperoleh tidak lepas dari  pengaruh-pengaruh di luar dirinya. Sehingga untuk mendapatkan  hasil yang baik tidak  lepas dari usaha realitas  di luar dirinya.  Mencari  hari  baik  (dewasa  ayu),  serta  melakukan  kegiatan  ritual  sebagai salah satu “resep” jitu untuk menopang keberasilan dalam aktivitas kehidupan. Sebelum  dikenalnya  sistem  penanggalan  seperti  dalam   kelender  yang  ada  saat ini,  dalam  menentukan  hari  baik  mereka  selalu  berpatokan pada  munculnya  bendabenda langit  (bintang)  serta posisi bumi, bulan dan matahari.  Hal ini digunakan  untuk menentukan hari yang baik dalam bercocok tanam, termasuk aktivitas religi. Jika  bintang  Wuluku/tenggala  (orion) berada  tepat  di atas, dua dari bintangnya berada di posisi barat dari garis tengah utara-selatan  jam 18.00-20.23 (dauh  wengi)  nanceb  masa  :  petani  mulai menanam  padi yang berumur 4 sampai 5 bulan, seperti padi ijo gading (4 bulan), pokal (4,5 bulan). Jatuh berkisar sasih  Palguna-Caitra/ Kaulu-Kesanga  (8-9) atau  Januari-Pebruhari.  Jika Bintang  Karawika (Taurus) mulai terlihat  di timur berkisar pukul 03.36-05.59 (dauh wengi)  mabyan  sawah,  petani mulai  menanam  bawang, semangka,  dan lain-lain.  Jatuh berkisar sasih  ShrawanaBhadrapada/Kasa-Karo (1-2)/Juni-Juli. Dasar  pertimbangan  dan  landasan  filosofis  relegius  tersebut,  hingga  kini  diwarisi wariga  yang berkaitan dalam bidang pertanian.  Adapun beberapa contoh baikburuknya hari dalam kaitannya bidang pertanian sebagai berikut :

Bercocok tanam sesuai Sapta  Wara
a.  Redite menanam tanaman  yang beruas (sarwa buku)
b.  Soma menanam tanaman yang berumbi (sarwa bungkah)
c.  Anggara tanaman yang daunnya yang berfungsi, (sarwa daun)
d.  Buddha menanam segala yang berbunga (sarwa sekar)
e.  Wrhaspati menaman segala biji-bijian (sarwa wija)
f.  Sukra nenanam segala  buah (sarwa phala)
g.  Saniscara menam tanaman  merambat (sarwa melilit)

Hari baik menanam padi berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara dan  Wuku
a.  Redite   - Umanis - merakih
b.  Coma   - umanis - tolu
c.  Anggara   - umanis - uye
d.  Buddha -  umanis - julungwangi
e.  Wraspati - umanis  - ugu
f.  Sukra   - umanis - langkir
g.  Saniscara -  umanis - watugunung

Pantangan menanam tanaman berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara dan  Wuku
a.  Wrhaspati -  Pon    -    Landep
b.  Redite -    Pon    -    Julungwangi
c.  Soma -    Pon    -    Dunggulan
d.  Anggara  -  Pon     -    Langkir
e.  Budha -  Pon     -    Pujut
f.  Wrhaspati  -    Pon    -     Krulut
g.  Wraspati   -    Pon     -    Tambir

2. Dampak Padewasan
 Dalam pandangan ahli spiritual setiap fenomena alam memiliki  rahasia dan akan mencerminkan  watak  (karakter)  tersendiri.  Termasuk  fenomena  perubahan  “hari” dalam  sistem  penanggalan.  Mengapa bisa demikian?  Dikarenakan  gerakan  bumi tidak  pernah  berhenti,  maka  setiap  detik  posisinya  berubah.  Untuk kembali  pada posisi yang sama, membutuhkan siklus waktu tertentu.  Siklus jam, siklus hari, bulan, tahun, pasaran (Legi,  Pon dsb),  Wuku dan lain  sebagainya.  Pada intinya  setiap  siklus berhubungan dengan posisi orbit bumi. Dengan latar  belakang  tersebut, maka  kelahiran  manusia  dan kejadian  di alam semesta  ini  (misalnya  musim)  dengan  sendirinya  akan  menempati  salah  satu  siklus diantara  siklus-siklus yang ada. Misalnya manusia yang dilahirkan  pada hari Senin, akan masuk ke dalam  siklus Senin yang telah  dihuni oleh banyak orang sebelumnya, yang lahir pada hari yang sama. Oleh karena itu secara umum mereka menjadi  satu wadah yang bernama siklus. Maka berdasarkan ‘Ilmu  Titen’  atau ilmu hasil dari mengenali  / mengamati  dan terus berlangsung turun-temurun,  watak seseorang atau pergerakan alam secara garis besar dapat dikenali bahkan diprediksi.

Agama adalah kebenaran dan kebaikan. Orang-orang yang berpegang teguh padanya  akan  terimbas  oleh kebenaran  dan kebaikan  agama.  Padewasan adalah salah satu cara untuk menjalankan  ajaran  agama  yang berkaitan  dengan aktivitas keagamaan,  termasuk kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan kehidupan, sehingga pengaruh dari pemahaman  terhadap padewan berdampak pada prilaku agama yang semakin konsisten serta pengamalan  agama yang semakin intensif. Kekuatan  agama  terhadap  diri  manusia  terlihat  dari  berbagai  dimensi  kehidupan manusia dalam membentuk sikap keagamaan. Ada beberapa dampak dari pemahaman  padewasan yang dapat membentuk  sikap keagamaan  antara lain:
a.  Dampak moral yaitu salah satu kencendrungan mengembangkan perasaan bersalah ketika manusia berperilaku menyimpang dari hal-hal yang tertuang dalam padewasan.
b.  Dampak kognitif yaitu meningkatnya pemahaman  dan keyakinan manusia, bahwa segala  keberhasilan  yang  diraih  oleh  manusia  tidak  saja  berasal  dari  dalam  dirinya (usaha) tetapi ada suatu kekuatan yang berasal dari luar dirinya yang bersumber dari  Tuhan, yang turut serta memberikan andil dalam keberhasilan tersebut.
c.  Dampak afektif yaitu pengalaman batin seseorang yang merupakan salah satu faktor yang ada dalam pengalaman setiap orang beragama. Sebagian orang mungkin mengganggap bahwa pelaksanaan upacara-upacara sesuai dengan padewasan sekedar serimonial saja, namun sebagian yang dengan khusuk berlandaskan keyakinan mencurahkan emosinya akan merasakan ketenangan dan kedamaian.
d.  Dampak  psikomotor yaitu  adanya  kehati-hatian  manusia  dalam  bertindak  dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
e.  Dampak sosial yaitu dengan adanya pemahaman  padewasan manusia selalu membangun  hubungan  sosial yang harmonis,  bukan  saja  sesama  manusia  tetapi juga dengan  Tuhan dan alam lingkungannya.

TUGAS MANDIRI
A. Buatlah ringkasan materi di atas pada buku catatan!
B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan jelas!
1. Jelaskan mengapa padewasan sangat penting bagi perkembangan bidang pertanian!
2.  Sebutkan dan jelaskanlah  bercocok tanam sesuai Sapta  Wara!
3.  Sebutkan pantangan menanam tanaman  berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara, dan Wuku!
4.  Apa yang menjadi pedoman para petani sebelum adanya sistem penanggalan seperti sekarang ini?
5.  Sebutkanlah hari baik menanam padi berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara, dan  Wuku!


0 komentar:

Post a Comment