Home » , » Penjelasan tentang Sad Ripu sebagai Aspek Diri yang Harus Dikendalikan - Materi Ajar

Penjelasan tentang Sad Ripu sebagai Aspek Diri yang Harus Dikendalikan - Materi Ajar

Advertisement
Sudah banyak yang telah membahas tentang Sad Ripu dan upaya mengendalikan sad ripu. Namun disini akan lebih diperjelas lagi mengenai pengertian dari Sad Ripu sesuai dengan asal katanya serta akan dijelaskan tentang pembagian sad ripu yang merujuk pada sastra-sastra agama Hindu.

Sebelum membahas tentang Sad Ripu, ada baiknya jika terlebih dahulu membaca Petikan Sloka dibawah ini untuk membuka pandangan dan pemikiran kita.
"Evam buddhem param buddhva,
samstabhya ‘tmanam atmanah,
jahi satrum mahabaho,
kamarupam durasadam
"
Terjemahan:
Mengetahui Dia lebih agung dari intelek dengan mengendalikan jiwamu dengan jiwa, basmilah musuhmu dalam bentuk hawa nafsu, yang tidak mudah ditundukkan, Oh Mahabhahu
Bhagavad-gītā III.43
A. Sad Ripu dalam Diri
Sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama Hindu dalam etikanya bahwa perilaku yang tidak baik (negatif) merupakan salah satu perilaku yang tidak boleh dilaksanakan. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi manusia didunia ini yang mana terdapat musuh yang harus dihindari oleh setiap makhluk hidup sangatlah dekat dengan diri. Musuh itu terlihat seperti sahabat jika dibungkus oleh kemunafikan dan pembenaran sehingga terkesan orang tersebut adalah orang yang baik. Musuh manusia sangatlah dekat dengan dirinya. Dalam agama Hindu, musuh dalam diri disebut Sad Ripu.
Sad Ripu dalam diri liar bagaikan singa
Sad Ripu Dalam Diri
Penjelasan tentang pengertian Sad Ripu dapat dilihat dari asal katanya. Sad Ripu berasal dari bahasa Sanskerta, dari kata sad berarti enam dan ripu berarti musuh. Jadi, secara harfiah, Sad Ripu berarti enam musuh dalam diri manusia. Enam musuh pada setiap orang dapat memengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupannya. Pengaruh yang ditimbulkan oleh Sad Ripu berbeda-beda sesuai situasi dan kondisi manusia di masyarakat. Dalam kekawin Rāmāyana, dijelaskan musuh sangatlah dekat.

Kekawin Rāmāyana sargah 1 berbunyi sebagai berikut:
ragadi musuh mapara
rihati ya tonggwanya tan madoh ringawak
yeka tan hana ri sira
prawira wikian sireng

Terjemahan:
Hawa nafsu dan sebagainya musuh yang dekat di dalam hati tempatnya tidak jauh dari kita yang seperti itu tidak ada padanya pemberani dan sangat mengetahui tentang ilmu pengetahuan.

Kekawin Rāmāyana sargah 1 menjelaskan bahwa musuh manusia terdapat di dalam hati. Hati yang negatif dapat membuat seseorang melakukan perilaku-perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama. Selain dalam kekawin Rāmāyana, dalam pustaka suci Śarasamuccaya juga mengungkapkan keberadaan musuh manusia.

Pustaka suci Śarasamuccaya sloka 128 menjelaskan bahwa:
amrtam caiva mrtyucca dvayam dehe pratistitam, mrtyurapadyate
mohāt satyenāpaddyate’mrtam

Terjemahan
Tak berjauhan bisa (racun) itu dengan amrta;
di sinilah, di badan sendirilah tempatnya.

Apa yang tertuang dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 128 menjelaskan bahwa musuh yang paling berbahaya sangatlah dekat dengan kita, yakni dalam diri sendiri. Dalam diri kita, terdapat sifat baik juga terdapat sifat buruk, diibaratkan racun dan amerta. Musuh-musuh yang terdapat dalam diri manusia sangatlah berbahaya jika dipupuk, dan dipelihara. Enam musuh manusia itu adalah sebagai berikut.

1. Kama
Kama adalah keinginan atau hawa nafsu yang dimiliki oleh manusia. Setiap manusia memiliki keinginan. Keinginan dapat bersifat positif dan negatif. Keinginan yang sifatnya positif dapat menumbuhkan orang-orang yang kreatif, inovatif, dan selalu melakukan perbuatan yang baik. Keinginan yang dimiliki manusia tanpa batas, dapat diibaratkan seperti alam semesta. Keinginan tersebut haruslah dikendalikan ke arah yang positif. Sifat kama dapat menyebabkan orang penuh dosa. Hal ini terdapat dalam pustaka suci Bhagavad-gītā III.37.

kāma esa krodha esa
rajo-guna-samudbhavah
mahāśano mahā-pāpmā
viddhy enam iha vairinam

Terjemahan:
Itu adalah nafsu, amarah yang lahir dari rājaguna;
sangat merusak, penuh dosa ketahuilah bahwa keduanya ini adalah musuh yang ada di bumi.

Nafsu manusia dapat menyebabkan hilang akal sehatnya dalam menentukan pilihan. Hilangnya akal sehat menyebabkan manusia melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat menimbulkan dosa.

2. Lobha
Lobha adalah sifat tamak atau rakus yang dimiliki manusia. Sifat lobha yang terdapat dalam diri manusia ada yang bersifat negatif dan positif. Sifat lobha yang tergolong negatif akan menyebabkan seseorang terdorong untuk melakukan kejahatan karena merasa tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Orang yang memiliki sifat lobha yang negatif dapat menumbuhkan rasa gusar, resah, gelisah, dan tidak senang.
Sifat lobha tertuang dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 267, sebagai berikut:

jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasça
prajñāmāhanti prajñā hanti hatā çriyam
.
Terjemahan:
Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain, hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu, itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

3. Krodha
Krodha adalah sifat pemarah yang dimiliki manusia. Orang yang dipengaruhi kemarahan dapat menjadi sumber penderitaan dan kesengsaraan. Sifat krodha juga dapat menyebabkan pikiran tidak terkontrol sehingga dapat dijauhi semua orang. Sifat marah tertuang dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 96, sebagai berikut:

na catravah ksayam yānti yāvajjīvamapi ghnatah,
krodham niyantum yo veda tasya dvestā na vidyate.

Terjemahan:
Sebenarnya, meskipun orang itu selalu jaya terhadap seterunya, serta tak terbilang jumlah musuh yang dibunuhnya, asal yang dibencinya musnah, selama hidupnya pun, jika ia hanya menuruti kemarahan hatinya belaka, tentu saja tidak akan habis-habis musuhnya itu. Akan tetapi, orang yang benar-benar tidak mempunyai musuh adalah orang yang berhasil mengekang kemarahan hatinya.

4. Moha
Moha adalah sifat bingung yang dapat menyebabkan pikiran menjadi gelap. Hal ini akan menyebabkan orang tersebut tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pustaka suci Bhagavad-gītā XVIII.25 menjelaskan bahwa:

anubhandham kshayam himsām
anapekshya ca paurusam
mohād ārabhyate karma
yat tat tāmasam ucyate
.
Terjemahan:
Kegiatan kerja yang dilakukan karena kebingungan tanpa menghiraukan akibatnya, menyakiti hati dan tak peduli akan kemampuan, yang demikian itu disebut tamasa.

Berdasarkan bunyi sloka di atas jelaslah bahwa orang yang bekerja dalam kondisi bingung tidak mampu bekerja dengan baik dan efektif. Kebingungan dapat menyebabkan manusia kehilangan arah. Terdapat beberapa sebab timbulnya kebingungan antara lain:
a. kesusahan yang amat dalam.
b. kehilangan terhadap sesuatu yang sangat dicintai
c. masalah yang tidak mampu dipecahkan

5. Mada
Mada adalah mabuk. Orang mabuk pikirannya tidak berfungsi secara baik. Akibatnya, timbullah sifat–sifat angkuh, sombong, takabur dan mengucapkan kata–kata yang menyakitkan hati orang lain. Contoh mada ialah mabuk kekayaan, mabuk karena ketampanan. Mabuk juga dapat ditimbulkan karena minum-minuman keras. Minum-minuman keras yang berlebihan akan menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran sehingga menimbulkan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 325, dijelaskan bahwa:

samklistakarmānamatipramādam bhūyo’nrtam cadr
dabhaktikam ca, vicistaragam bahumāyinam ca naitān niseveta
narādhamān sat.

Terjemahan:
Inilah misalnya orang yang tidak patut dijadikan kawan bergaul, orang yang mengusahakan penyakit dan kesedihan kepada orang lain, serta buruk laku, orang yang lupa, orang berbohong atau dusta, orang yang terikat hatinya kepada minuman keras, keenam orang yang sangat keji itulah, yang patut dihindarkan.

Kemabukan dalam pandangan agama Hindu banyak jenisnya, Adapun kemabukan dalam diri ada tujuh jenisnya, yang lebih dikenal dengan sebutan Sapta Timira, yakni sebagai berikut.
a. Surupa artinya mabuk karena kecantikan atau ketampanan
b. Dana artinya mabuk karena kekayaan atau harta benda
c. Kulina artinya mabuk karena keturunan atau kebangsawanan
d. Yowana artinya mabuk karena keremajaan
e. Sura artinya mabuk karena minuman keras
f. Guna artinya mabuk karena kepandaian
g. Kasuran artinya mabuk karena keberanian

6. Matsarya
Matsarya adalah sifat dengki atau iri hati. Hal ini akan menyiksa diri sendiri dan dapat merugikan orang lain. Orang yang matsarya merasa hidupnya susah, miskin, bernasib sial sehingga akan menyiksa batinnya sendiri. Dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 88, dijelaskan bahwa:

abhīdhyāluh parasvesu
neha nāmutra nandati,
tasmādabhidhyā santyājyā sarvadābhīpsatā sukham.

Terjemahan:
Adalah orang yang tabiatnya menginginkan atau menghendaki milik orang lain, menaruh iri hati akan kebahagian orang lain; orang yang demikian tabiatnya, sekali-kali tidak akan mendapat kebahagiaan di dunia ini, ataupun di dunia yang lain; oleh karena itu patut ditinggalkan tabiat itu oleh orang yang ingin mengalami kebahagiaan abadi.

0 komentar:

Post a Comment