Home » , , , » FUNGSI UPAKARA CARU SEBAGAI PENETRALISIR KEDURMENGALAN

FUNGSI UPAKARA CARU SEBAGAI PENETRALISIR KEDURMENGALAN

Advertisement
Sebagai umat Hindu, tentunya sudah tidak asing lagi mendengar yang namanya UPAKARA. Upakara merupakan suatu alat perlengkapan untuk mendekatkan diri pada Ida Sang hyang Widhi. Dari sekian banyaknya perlengkapan alat yang digunakan dalam Upacara Agama Hindu tentu masih banyak yang belum dipahami mengenai makna dan fungsi dari keberadaan alat-alat yang digunakan. Maka, kali ini saya akan menguraikan sedikit dari sekian banyaknya alat upakara yang harus diketahui maknanya untuk mempertebal keyakinan kita.

Sesuai dengan judul, saya akan membahas tentang Fungsi Upakara Caru sebagai Penetralisir Kedurmengalan. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa Pelaksananaan Upacara Pecaruan adalah mediasi untuk menciptakan keharmonisan didunia ini antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

Mengenai fungsi Upakara caru memiliki beberapa fungsi sesuai dengan kebutuhan umat Hindu dan kebutuhan situasi alam untuk ketenangan, kedamaian, dan keharmonisan. Sebelum membahas Fungsi Upakara Caru sebagai Penetralisir Kedurmengalan maka hal pertama yang harus diketahui adalah Pengertian dari Kedurmengalan itu. yang dimaksud dengan kedurmengalan adalah jika kita ditimpa kejadian yang membahayakan. kadang-kadang sampai merengut nyawa seperti:
a) MATI SALAH PATI
Mati salah pati adalah seseorang yang ditimpa kematian secara seketika yang diakibatkan oleh sesuatu sebab tanpa mengalami sakit atau ditimpa oleh sesuatu penyakit, seperti mati ditabarak, mati disambar petir, karena kebakaran tanpa mendapat perawatan, mati keracunan, jatuh dari pohon dimana semua kematian itu langsung ditempat kejadian.

b) MATI NGULAH PATI
yang dimaksudkan dengan mati ngulah mati adalah seseorang yang meninggal dengan cara secara sadar membunuh dirinya sendiri, misalnya dengan cara menjatuhkan diri kejurang, meminum racun, gantung diri, dan sebagainya.

Mengenai kematian MATI SALAH PATI dan MATI NGULAH PATI  dalam sastra agama dikatakan termasuk kematian yang tidak baik. seperti apa yang diungkapkan dalam lontar "Lebur Sangsa", rohnya akan mendapat papa.
Lontar "Roga Sengara Bumi" mengungkapkan antara lain:
"Nihan prewesaning ratu ketama durmengala luirnia kahyangan ngaboktiania ketemu, karubuhan taru agung, yan katekaning baya  pati, hana anugerania, yan hana tangis karungu dening wong akweh ring wengi, mwah acendek suaraning ring taru umung, ika maka precirian sang kali yuga amanjing ring predesa ika, papa pelaksanan ikang wong, majengilan lawan rowang gorok cinorok lawan kadang, matemahan rusak gumi ika, apan kecatreng kala, wenang gawenang pemahayu, ngadengan sanggah tawang rongtiga, muah pecarunia panca sanak, ................".
Dari uraian lontar diatas mengungkapkan bahwa orang yang mati salah pati dan ngulah pati, diakibatkan karena roh yang reinkarnasi menjadi mereka adalah tanpa ijin dari kedewataan. Sehingga disaat hidupnya didunia dicari oleh watek cikrabala sebagai utusan dewata. Sehingga kekuatan cikrabala mempengaruhi jiwanya dan akhirnya memiliki pikiran untuk bunuh diri.
Sedangkan yang mati salah pati, sang cikrabala mempengaruhi alam, sehingga ada sarana sebagai alat pembunuhnya.
Bagi orang yang mati salah pati ataupun Ngulah pati diungkapkan bahwa rohnya tidak diterima di alam dewata, namun dibawa ke alam neraka. Untuk memutuskan tali kesengsaraannya dengan keluarga (sentana) maka upacara pengeruatnya, dengan melaksanakan upacara Pecaruan "Lebur Sangsa", kalau ada kedurmengalan ageni baya mempergunakan cari "Walik Sumpah".

Dengan melihat dan memperhatikan isi petikan semua Lontar di atas maka ada upakara Caru yang berfungsi khusus untuk menetralisir kedurmengalan, baik kedurmengalan pada manusia maupun kedurmengalan bumi.

Sumber:
- Sudarsana, I.B. 2001. Ajaran Agama Hindu Makna Upacara Bhuta Yadnya. Denpasar: Yayasan Dharma Acarya

0 komentar:

Post a Comment