Home » » Surga merupakan persinggahan sementara

Surga merupakan persinggahan sementara

Advertisement
TUGAS AGAMA



Oleh:
1.      GUSTI AYU DEWI PUSPITA                                                (11)
2.      I GUSTI AYU AG. RATIH ETIKA SARI                             (20)
3.      NI KADEK WETIASIH                                                          (30)
4.      NI PUTU SARIASIH                                                               (23)
5.      NI MADE DWI ADNYANI                                                    (10)
6.      I GUSTI AYU MADE DWI YANTI                                       (12)
7.      I GUSTI NGURAH HERMAWAN                                        (14)
8.      I MADE JHUNA ANTARA                                                    (15)


Makna sloka (Wrhaspati tattwa, 21)
Yapwan padabong nikang sattwa lawan rajas yeka matangyan mahyun magawaya dharma denya, kadadi pwakang dharma denya kalih, ya ta matangnyan mulih ring swarga, apan ikang sattwa mahyun ing gawe hayu, ikang rajah manglakwaken

Artinya :
Apabila sama besarnya antara sattwam dan rajah, itulah menyebabkan ingin mengamalkan dharma olehnya, berhasilah dharma itu olehnya berdua, itulah menyebabkan pulang ke Sorga, sebab sattwam ingin berbuat baik, si rajah itu yang melakukan.
Makna yang dapat kita petik antara lain:
Seperti yang telah dijelaskan pada sloka diatas dikalau kita ingin masuk sorga biarkanlah sifat sattwam dan rajah yang menguasai diri kita tapi jangan biarkan tapi jangan biarkan sifat rajah lebih mendominasi sifat sattwam.
Adapun definisi sorga antara lain : Surga itu macam-macam. Tuhan pun menggambarkannya macam-macam. Bagi para rohaniawan Surga itu puji-pujian abadi untuk Tuhan. Bagi para sufi Surga itu manunggal dengan DzatNya. Bagi orang syari’at dan hakekat Surga itu adalah memandang wajahNya. Bagi orang awam atau orang kebanyakan digambarkan Surga itu adalah pesta abadi berkasih mesra abadi dan lain-lain. Tentu masih ditambah definisi Surga itu adalah tak pernah dilihat oleh mata dan tak pernah terasa oleh hati pokoknya special beda banget dengan yang di bumi ini. Itu tadi Surga versi agama langit. Kalau agama bumi menggambarkan Surga itu alam sunyi wang-wing (Sunyaruri) pusat ada dan ketiadaan (bagi rohaniawan) atau pesta indah (bagi orang awam). Surga adalah juga visio beatifica atau tatapan yang membahagiakan. Surga bias berarti Surga teologis atau Surga filosofis.  Surga teologis adalah gambaran Surga yang digambarkan masing-masing ajaran agama. Surga filosofis dapat berarti berbeda untuk masing-masing orang. Surga untuk petani miskin adalah rumahnya yang sederhana, menatap kebun sayurnya yang mungil, tanamannya tumbuh subur bebas hama. Surga untuk si gadis remaja barangkali adalah duduk di depan televisi sambil makan camilan plus baca sms dari pujaan hatinya. Adalagi Surga metafora, missal ungkapan Surga itu di bawah telapak kaki ibu, maka itu bermakna bahwa seorang anak akan sulit menempuh jalan hidupnya yang penuh masalah dan jebakan kesulitan tanpa kasih saying seorang ibu. Akhir kata Surga itu adalah bila kita “sakmadya” merasa cukup dengan yang kita perolehdari Tuhan, mampu melihat kelebihan dalam kesederhanaan, mampu merasakan kebahagiaan dari berbuat baik tanpa pamrih di dunia atau akherat. Bila kita mampu berbuat baik tanpa mengharap pujian dan balasan artinya ikhlas seutuhnya dan mampu menjalankan agama demi kemuliaan Tuhan tanpa merenda bayangan tentang Surga yakinlah Surga itu telah tercipta buat kita. Oke damai di hati damai dunia damai pula di Surga. Ada juga yang mengatakan Surga adalah persinggahan sementara.
Dalam Agama Hindu Surga merupakan persinggahan sementara. Menurut Swami Sivananda Saraswati, Surga adalah pengalaman liburan. Seperti seorang pergi ke Hawai atau ke Bali untuk bersenang-senang sebentar membelanjakan uangnya dan kemudian kembali ke rumahnya.
Orang-orang kelahiran Surga biasanya cantik dan tampan dan sedangkan kelahiran neraka biasanya menjadi tumbuhan dan binatang ada juga yang menjadi manusia tapi dengan kondisi yang tidak sempurna.



0 komentar:

Post a Comment