Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Kebudayaan Bali dan Kerajaan di Bali


-->
RESUME SEJARAH KEBUDAYAAN

Kerajaan Bedahulu, 1324 – 1343
Sesudah Sri Masula Masuli mangkat, maka putra baginda yang sulung bernama Tapolung diangkat menjadi raja, nama lain dari Tapolung adalah $sri Gajah Waktra. Pada waktu Dalem Bedahulu berkuasa di Bali, rakyat sangat tunduk terhadap sang raja, karena saktinya beliau dan bijaksana di dalam pemerintahan.
Dikisahkan pada hari Sri Tapolung
bertamasya ke Batur diiringi oleh Ki Pasung Grigis, sampai di Panelokan baginda dicoba oleh Ki Pasung Girigis untuk menguji kesaktiannya untuk pergi ke sorga, hal tersebut itu pun dilakukan, akhirnya baginda berhasil melakukan yoganya sehingga kepala baginda lepas dari raganya. Karena paniknya Ki Pasung Grigis maka kepala baginda diganti oleh kepala babi. pada saat baginda datang dari sorga terkejutlah beliau, dan mengutuk orang-orang Bali Aga dengan ucapan “moga-moga” wong bali dijamah wong len, diperintah oleh suku bangsa lain.



Expedisi Gajah Mada ke Bali, 1343
            Pada tahun 1358-1350 M yang menjadi raja di Majapahit ialah bergelar Tribhuwana Tungga Dewi Djaya Wisnuwardana. Dan patih yang terutama ialah patih Gajah Mada adalah putra brahmana, brahmana yang berkuasa di daerah Mada. Sejak Gajah Mada diangkat oleh Prabhu Wisnuwardana menjadi maha patih di Majapahit, beliau mengucapkan sumpahnya di hadapan para bangsawan, bahwa beliau tiada akan makan “palapa” (rempah-rempah) sebelum seluruh kepulauan Indonesia dapat dikuasainya (bersatu) di bawah kerajaan Majapahit. Gajah Mada berhasil mengelabui Kebo Iwa dan membunuhnya sehingga kepulauan Bali dapat dikuasai

Gajah Mada menyerang Bali tahun 1343
            Pada hari sabtu kliyon krulut, tanggal 2 tahun 1343M. berangkatlah angkatan perang yang di kepalai oleh patih Gajah Mada untuk menyerang Bali. Penyerangan di atur sedemikian rupa, dengan menempatkan pasukan di segala penjuru mata angin, sehingga laskar Bali Aga dapat dihancurkan. Setelah pasukan Bali Aga telah cerai berai, patih Gajah Mada memutuskan untuk menyerang Pasung Grigis dengan menggunakan tipu muslihat hingga akhirnya Pasung Girigis ditangkap dan dipenjara di Tengkulak. Karena kepala perangnya telah tertangkap, maka rakyat Bali Aga menyerah kalah tiada bersyarat. Jadi pada tahun 1343 M. Bali Aga dipandang sudah takluk mejadi jajahan majapahit, selama satu tahun Patih Gajah Mada memerangi Bali Aga

Pemberontakan Takawa tahun 1345
            Dalam tahun 1345 timbullah pemberontakan yang besar di Ularan yang dikepalai oleh Tokawa, Pasung Giri dan Si Tunjung Tutur. Tokawa adalah putera dalem Bedahulu di Blingkang. Beliau mengumpulkan dan memusatkan tenaga rakyat Bali Aga, lalu mencetuskan pemberontakan yang besar di Ularan. Tentara Majapahit dihancurkan, sehingga Gajah Mada segera mengerahkan angkatan perangnya, yang dikepalai oleh Gajah Mada, Arya Damar, Arya Gajah Para dan Si Tan Kawur, Si Tan Kober dan Si Tan Mundur. Dan Kerthawardhana yaitu suami dari Prabhu Majapahit. Gajah Mada dan para Arya amat bersuka cita, karena musuh sudah hancur dan disangka tidak lagi orang Bali Aga akan berontak. Sepeninggalan Gajah Mada lalu para Arya semua dikepalai oleh Arya Kenceng, mendirikan meru bertumpang 11 di tusan dan lumbung bertiang 4 di Besakih. Lain dari pada itu, tiap-tiap tempat kedudukan para Arya diwajibkan mendirikan tempat pemujaan sekurang-kurangnya Sanggar Tawang tempat memuja Hyang Widhi

Dalem makambika tahun 1347
            Pada tahun 1347 rakyat Bali Aga mengadakan pemberontakan yang dikepalai oleh dalem Bali Aga yang bernama Makambika, putera dari Tokawa dan cucu dari Dalem Bedahulu, pada saat itu terjadi perang yang sangat hebat antara para Arya dan rakyat Bali Aga. Karena merasa kewalahan kemudian para Arya meminta bantuan tentara pasukan yang lipat ganda banyaknya, sehingga rakyat Bali Aga pun akhirnya terkalahkan dengan gugurnya Dalem Makambika. Setelah runtuhnya kerajaan bedahulu oleh Expedisi Laskar Gajah Mada, terjadilah kekosongan pemimpin di Bali

Jaman Samprangan, 1350 – 1380
            Pada jaman ini dimana Gajah Mada merubah kedudukan status brahmana menjadi ksatria atau sesuai dengan profesi jabatannya, dan keberhasilan gajah mada bertul-betul terwujud untuk mempersatukan Nusantara. Tahun 1357 seluruh Nusantara sudah mengibarkan bendera Sang Merah Putih

Kerajaan Samprangan (Dipindah ke Gelgel), 1380 – 1460
            Dimana menceritakan putera Dalem Ketut Kresna yaitu Dalem Samprangan yang menggantikan ayahnya menjadi raja, karena beliau suka bersolek dan main perempuan urusan pemerintahan tidaklah diperhatikan, kemudian digantikan oleh adiknya Ketut Ngelesir yang dimohon oleh Gusti Kebon Tubuh, pada masa pemerintahan Ketut Ngelesir pemerintahan pun berjalan dengan lancar sampai beliau wafat dan digantikan oleh puteranya yang sulung yaitu Dalem Waturenggong

Dalem Waturenggong, 1460 – 1550
            Dalem Waturenggong sangatlah termasyur diantara raja-raja yang lain, dimana pada masa ini menjadi zaman ciptaan tentang kemajuan negeri dalam segala lapangan kesenian peradaban, kemasayrakatan yang memebentuk dunia Jawa Hindu Bali yang mengarah kepada penghayatan agama yang melahirkan bentuk pujaan dan kebaktian. Disini peran Danghyang Nirartha alias Danghyang Dwi Jendra di Bali abad ke-16 sangat besar jasanya dalam bidang keagamaan, konsep-konsep upacara yadnya, konsepsi ketuhanan, kahyangan tiga, konsep tri murti, Tri Purusa dan lain sebagainya yang mengarah kepada keesaan dari Tuhan, telah disebarkan oleh masyarakat



Dalem Bekung, 1550 – 1580
            Dimana pada masa ini menceritakan Dalem Bekung bertahta di kerajaan Linggarsaputra. Pada masa ini terjadi pemberontakan yang hebat yang disebabkan karena Ki Patih Batan Jeruk yang berjanji akan menganggkat I Dewa Anggungan menjadi raja, sehingga terjadi perpecahan antara pegawai kerajaan. Akhirnya I Dewa Anggungan kalah dan meminta ampun, dia diberi ampun tetapi jabatannya dilepas, sedangkan Ki Batan Jeruk melarikan diri dari penjara, dan pada akhirnya di temukan di karangasem lalu di bunuh di sana. Pada masa ini terjadi perpecahan penduduk kerajaan Gelgel, dan kurangnya perhatian Dalem Bekung terhadap pura-pura, tidak pernah membuat oma dan upacara, segala upacara terserah kepada rakyat belaka, akhirnya penduduk Bali Aga menjauhkan diri dengan diam-diam

Pemberontakan Pande Bhasa
            Karena pertikaian di dalam puri pada tahun 1578, maka terjadi pula pemberontakan yang dikepalai oleh I Gusti Pande Bhasa yang disebabkan karena lemahnya Dalem Bekung. Dimana Ki Dalem Bekung menyuruh Ki Capung membunuh Kyayi Telabah, sehingga Kyai Telabah pun tewas, kematian Kyai Telabah terbongkar oleh istri Ki Capung, karena suaminya sendiri Ki Capung telah dibunuh oleh Pande Bhasa, rumah Pande Bhasa dikurung dan diserang oleh Punggawa Anglurah yang dipimpin oleh Anglurah Kanca. Dan akhirnya Pande Bhasa pun tewas di tangan Kyayi Pendarungan. Karena dalem bekung merasa tiada dapat memegang pemerintahan, lalu dalem turun dari takhta kerajaan dan diganti oleh adiknya baginda ialah Dalem Sagening

Gelar Dalem dan Istilah Pura
            Istilah pura dipergunakan sebagai tempat pemujaan Umat Hindu di Bali pada zaman dalem berkuasa di Bali. Sebelum dikenal istilah pura tempat untuk pemujaan Hindu di Bali di kenal istilah Kahyangan atau Hyang, bahkan pada zaman Bali Kuno dipakai istilah “ulon”. Pada akhirnya datanglah Empu Kuturan ke Bali yang banyak membawa perubahan mengenai denah, pembagian pura itu sendiri, konsepsi rwabhineda (purusa dan pradhana dimana gunung agung sebagai (besakih) sebagai purusa dan kahyangan batur sebagai pradhana), konsepsi Catur Lokapala (kongkritasi dari Cadu Sakti, empat aspek kemahakuasaan Hyang Widhi), konsep sadwinayaka (landasan pendirian sad kahyangan di Bali yang secara konsepsional terkait dengan sad krtih). Kemudian setelah jaman dalem istana raja disebut “pura”. Hal ini disebabkan menurut Negara Kertagama menyebutkan bahwa apa yang berlaku di Majapahit diperlukan pula di Bali oleh Dinasti Dalem

Dalem sagening
            Dalem Sagening dingkat menjadi raja, mempunyai isteri 2 dan berputra 14 orang. Pada tahun 1597 (VOC) mencoba mengambil hati raja-raja di Bali. Tetapi pekerjaan mereka itu sia-sia, sebab raja di Bali sekalian menentangnya. Kemudian pada tahun 1616 Sulawesi berontak kembali dan Bima, Sumbawa dirampas oleh Makasar. Lalu tahun 1625 terjadi pertempuran hebat antara Bali dan Makasar di pulau Lombok dan Bali berhasil melumpuhkan Makasar. 10 tahun kemudian Lombok direbut Makasar kembali, karena banyaknya pasukan lawan Bali pun dihancurkan. Dalem Sagening makin lemah pemerintahannya, tetapi Patih Manginte dan kedua orang putranya yang menjadi kepala perang amat teguh memegang pemerintahan negeri dan menjaga keamanan. Dalam suasana yang genting, dalem sagening mangkat dan digantikan oleh putra baginda

Dalem Di Made
            Dalem Di Made dinobatkan menjadi raja bertakhta kerajaan di Gelgel. Ketika itu pemberontakan terus menghebat; Pasuruan, Blambangan, Lombok, Sumbawa dan Makasar demikian juga daerah Bali Aga dengan diam-diam melepaskan diri. Bali mendapat kekalahan amat besar, karena Pasuruan telah siap lebih dahulu serta dibantu oleh Mataram. Pemberontakan di Lombok dan Sumbawa oleh dalem diserahkan kepada I Gusti Agung Widya. Pada masa itu Lombok dan Sumbawa takluk, lalu I Gusti Ngurah Karangasem mengutus 3 orang punggawa menghadap Dalem Made, akan mempersembahkan kemenangan itu dan mohon surat kuasa. tapi utusan itu dibunuh oleh perintah Dalem Di Made, mendengar hal itu I Gusti Agung amat marah dan menyerang Dalem Di Made di Gelgel. Akhirnya Gelgel jatuh, baginda menyingkir dari Gelgel sampai di Guliang. Sedangkan I Gusti Agung menduduki takhta kerajaan di Gelgel. Beberapa tahun kemudian Dalem Di Made menyerang untuk merebut Gelgel kembali dengan mengurung kota Gelgel dari segala penjuru sehingga Kyayi Agung tiada mampu bertahan melawan laskar yang kuat dan berlipat ganda. Akhirnya Gelgel pun dapat dikuasai kembali. Putra Dalem Di Made diangkat menjadi raja bergelar I Dewa Agung Jambe, pada tahun 1710, kota kerajaan dipindahkan dari gelgel ke semarapura (klungkung) dan gelar Dalem sejak itu dihapuskan

Post a Comment for "Sejarah Kebudayaan Bali dan Kerajaan di Bali"