Home » » HASIL PENELITIAN GLICKMAN TENTANG PARADIGMA KATEGORI GURU

HASIL PENELITIAN GLICKMAN TENTANG PARADIGMA KATEGORI GURU

Advertisement
TUGAS PROFESI KEPENDIDIKAN
HASIL PENELITIAN GLICKMAN TENTANG PARADIGMA KATEGORI GURU

OLEH:
NAMA : I GUSTI AYU DWI AIRNIATI
NIM : 2010.V.2.0018
JURUSAN : PENDIDIKAN BIOLOGI
SEMESTER : III



Dosen Pembingbing: Drs. Putu Sedana


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI BALI
DENPASAR
2011
==================================================


PARADIGMA KATEGORI GURU
Paradigma memiliki dua makna, yaitu:
1. Pertanyaan yang terus menerus dipertanyakan atau pertanyaan yang selalu berulang.
2. Paradigma merupakan suatu model analisis.
Guru dalam konteks pemahaman tentang hakekat manusia yaitu manusia sebagai ciptaan tuhan punya kemungkinan untuk berkembang, serta manusia memiliki identitas seperti identitas individual, moral dan social
· Identitas individual
Manusia sebagai suatu pribadi mempunyai potensi kreatif yang selalu “ada” (to be) dan terus “menjadi” (to have). Proses “menjadi” ini karena ada yang “mengadakan”.
· Identitas moral
Pada identitas moral ini dijelaskan bahwa manusia sebagai suatu pribadi tentunya memiliki kemungkinan untuk berbuat baik. Jika kita mengakui aspek etis manusia, itu berarti bahwa manusia perlu untuk dididik dan dibina. Dengan dilaksanakannya pendidikan dan pembinaan, maka harkat dan martabat manusia akan ditingkatkan.
· Identitas social
Mendidik dan membina berarti memberi pengaruh dengan sengaja dan pengaruh tersebut diterima dengan sadar oleh orang lain. Sedangkan yang dimaksud dengan tindakan mendidik dan membina adalah refleksi pemahaman tentang hakekat manusia. Hakekat manusia ini memiliki peranan untuk memberikan warna terhadap psikologi, pendekatan, metode dan perilaku binaan. Kemampuan dasar yang bersumber dari pemahaman identitas manusia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: tingkat berpikir abstrak /kreatif dan tingkat komitmen. Kedua kemampuan tersebut akan dipakai sebagai model dalam analisis prototipe guru. Di dalam terjadinya perkembangan diri seseorang, terdapat beberapa asumsi, yaitu:
  • Perkembangan adalah hasil pengaruh faktor eksternal
  • Perkembangan adalah hasil pengaruh faktor internal
  • Perkembangan adalah hasil perpaduan antara faktor eksternal dan internal.
(Wolfgang dan Glickman, 1986)
Di dalam membina dan mengembangkan profesi guru ada dua kemampuan dasar yang bersumber dari hakekat manusia. Kedua kemampuan dasar tersebut adalah tingkat berpikir abstrak dan tingkat komitmen.
1. tingkat berpikir abstrak
Berikut ini adalah pendapat beberapa ahli mengenai berpikir abstrak, yaitu:
a. Harvey (1996), Hunt dan Joyce (1967) menyatakan bahwa guru yang tingkat perkembangan kognitifnya tinggi, akan berpikir lebih abstrak, imaginatif, kreatif dan demokratis. Mereka akan lebih fleksibel melaksanakan tugasnya. Guru yang memilki pemahaman konseptual yang tinggi terhadap masalah pendidikan, kurang mengalami gangguan dan mempunyai relasi yang lebih positif dengan siswa maupun dengan teman sejawat.
b. glassbergs (1979), menyimpulkan hasil risetnya bahwa guru-guru yang tingkat berpikir abstraknya tinggi memiliki daya adaptasi dan gaya mengajar yang fleksibel, mereka lebih supel dan mampu menggunakan berbagai model mengajar sebab mengajar yang efektif memerlukan pemahaman bentuk tingkah laku yang sangat kompleks.
c. Oja (1978), dalam risetnya menyatakan bahwa guru-guru yang tingkat berpikir abstraknya tinggi dapat melihat berbagai kemungkinan dan mampu menggunakan berbagai cara dalam mencari alternative model mengajar, lebih konsekuen dan efektif dalam menghadapi siswa-siswanya. Kemampuan guru berdiri di depan kelas untuk menjelaskan persoalan yang dihadapi dalam proses belajar mengajar yang mencakup : kegiatan manajemen kelas, mengatasi masalah disiplin, menciptakan iklim yang menyenangkan, menghadapi prilaku siswa, semuanya dapat diatasi dengan mencari berbagai alternative pemecahan masalah. Hal tersebut merupakan hasil dari suatu proses berpikir imaginative dan kreatif. Berpikir abstrak dan imajinatif merupakan kemampuan untuk memindahkan konsep, visualisasi, mengidentifikasi, dan mengumpulkan data. Berikut ini adalah matrik yang menguraikan tingkat berpikir abstrak.
Yang rendah
Yang sedang
Yang tinggi
1.Bingung bila menghadapi masalah
1. dapat memecahkan suatu masalah
1. dalam menghadapi masalah selalu dapat mencari alternatif pemecahan masalah
2 2. Tidak mengetahui cara bertindak bila menghadapi masalah
2. dapat menafsir satu atau dua kemungkinan pemecahan masalah
2. dapat menggeneralisasikan berbagai alternative dalam memecahkan masalah
33. selalu berkata tak bisa tolonglah saya
3. mengalami berbagai gangguan bila memikirkan suatu program yang bersifat komprehensif.





2. Tingkat komitmen
Guru tidak hanya memiliki tingkat berpikir yang abstrak tetapi juga harus memiliki tingkat komitmen. Komitmen adalah kecenderungan untuk merasa terlibat aktif dengan penuh tanggung jawab. Komitmen lebih luas dari keperdulian karena dalam pengertian komitmen mencakup penggunaan waktu dan usaha yang cukup banyak (Glickman, 1981).
Selain Glickman, ada pendapat beberapa ilmuan yang lain yaitu:
- Gail Sheeby (1976), ia melukiskan tentang sikap hidup seseorang dalam memilih kariernya. Guru muda sangat berambisi dalam berkarier. Mereka selalu ingin mencapai puncak ide, tetapi guru yang sudah lanjut usia semangatnya berkurang.
- Maslow (1986), membahas tentang perkembangan hierarki kebutuhan manusia. Ia berpendapat bahwa motivasi untuk bertindak itu berakar pada kebutuhan manusia, yang dimulai dari kebutuhan biologis sampai dengan aktualisasi diri. Dalam proses belajar mengajar terjadi proses identififkasi diri yang terjadi antara pengajar dan subyek didik.
- Erickson (1963), dalam perspektif psikoanalitik mengklasifikasikan tingkat perkembangan perilaku guru dalam bentuk saling berhadapan yaitu: percaya versus tidak percaya, otonomi versus malu, inisiatif versus rasa tak mampu, rajin berusaha versus rasa harga diri kurang, identitas diri versus ragu-ragu, kedekatan versus isolasi, pemusatan versus pemencaran, integritas versus kepekaan.
- Loevinger (1976), menyatakan bahwa dalam diri manusia ada kecenderungan yang bersifat egosentrik yang dapat dikembangkan kearah yang lebih manusiawi yaitu memperhatikan kepentingan orang lain.
Dari ketiga pendapat ilmuan tersebut, dapat disusun suatu kerangka acuan berpikir untuk melihat perkembangan karier dari perspektif manusia yang dapat dijadikan acuan dalam mengubah sikap para guru agar mereka dapat melihat bahwa tugas guru adalah membina orang agar orang tersebut menemukan jati dirinya. Ada 3 unsur pokok mengenai konsep diri manusia yang harus dihayati oleh guru pendidik yaitu: konsep diri, ide tentang dirinya, dan realita dirinya. (P.Wiggens, 1966).
Seorang pioneer studi longitudinal yang bernama Francis Fuller (1969), memberi kesimpulan tentang guru yaitu setiap saat para guru harus meningkatkan komitmen dan keperduliannya terhadap setiap perubahan dalam tugas profesinya.
Perilaku guru yang mempunyai komitmen dapat digambarkan sebagai berikut:
Rendah
Tinggi
1. kurang memperdulikan masalah-masalah siswa
2. kurang menyediakan waktu dan tenaga untuk memikirkan masalah yang berhubungan dengan tugasnya
3. hanya memperdulikan tugas-tugas rutin
4. kurang memperdulikan tugas pokok
1. punya keperdulian untuk siswa dan rekan sejawat
2. selalu menyediakan waktu dan tenaga yang cukup untuk membantu siswa
3. dapat memperdulikan rekan sejawat dan atasan langsung
4. selalu memperdulikan tugas pokok
3. Paradigma kategori guru
Tingkat berpikir abstrak dan tingkat komitmen dapat dipakai sebagai dasar dalam mengadakan assessment terhadap guru secara individual.
Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan paradigm atau model analisis sebagai berikut:
Garis berpikir abstrak dan garis komitmen digambarkan bersilang, yang bergerak dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Garis tingkat berpikir abstrak secara vertical bergerak dari tingkat yang rendah ke tingkat yang tinggi. Garis komitmen secara horizontal bergerak dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi.
Atas dasar itu maka dikatagorikan empat sisi (kuadran) dan pada empat sisi itu terdapat empat prototype guru.
Gambar
Abstrak
tinggi
A K A K
+- ++
Kuadran II kuadran I
Guru yang suka
Kritik (analical observer) guru yang profesional
komitmen
rendah tinggi
TINGKAT KOMITMEN
Kuadran IV kuadran III
Guru yang kurang guru yang terlalu sibuk
bermutu (drop out) (unfocus worker)
A K A K
-- Rendah -+
Matrikulasi kedua variabel untuk menentukan tolok ukur bagi pengkategorian tipe guru.
Atas dasar itu maka dapt dikategorikan empat kategori guru:
1. kuadran I : guru yang professional
Guru yang professional memiliki abstrak yang tinggi maupun tingkat tanggung jawab dan komitmen yang tinggi. Orang yang professional selalu mempunyai kemampuan untuk mengembangkan dirinya terus menerus. Guru yang professional mengadakan kerja sama baik dengan siswa maupun teman sejawat untuk menunaikan tugas dan kewajibannya, menentukan berbagai alternatif, membuat program yang rasional dan mengembangkan serta melaksanakan rencana kegiatan yang tepat. Guru professional tidak hanya mampu mencetuskan ide-ide, aktifitas maupun sarana penunjang, tetapi ia juga terlibat secara aktif dalam melaksanakan suatu rencana hingga selesai.
2. Kuadran II : guru yang suka kritik
Guru yang suka kritik memiliki tingkat tanggung jawab dan komitmen rendah tetapi tingkat berpikir abstrak tinggi. Guru seperti ini pandai, mempunyai kemampuan berbicara yang tinggi, selalu mencetuskan ide-ide besar tentang apa yang bisa dikerjakan dikelas dan secara keseluruhan di sekolah. Ia bisa mengajukan idea tau rencana-rencana besar secara gambling dan memikirkan langkah-langkah pelaksanaannya demi tercapainya program itu, tetapi jika diberi tugas ia tidak mau menerima, guru seperti ini disebut pengamat yang analitik (analytical observer), sebab ide-idenya tidak terwujud. Ia tahu apa yang harus ia kerjakan tetapi tidak bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan perhatian khusus untuk melaksanakannya.
3. kuadran III : Guru yang terlalu sibuk
Guru yang terlalu sibuk memiliki tingkat tanggung jawab dan komitmen yang tinggi tetapi tingkat abstraksinya rendah. Guru seperti ini sangat energetik, anthusias dan penuh kemauan. Ia berkeinginan untuk menjadi guru yang lebih baik, dan membuat situasi kelas lebih menarik sesuai dengan keadaan murid. Ia bekerja sangat keras dan biasanya kalau pulang dari sekolah membawa tugas-tugas sekolah untuk dikerjakan di rumah. Sayangnya tujuan-tujuan yang baik tersebut terhalang oleh kurangnya kemampuan guru untuk menyelesaikan persoalan dan jarang sekali melaksanakan segala sesuatu secara realistis. Guru semacam ini digolongkan sebagai pekerja yang tidak memiliki tujuan yang pasti. Salah satu faktor ialah kurangnya pemusatan perhatian karena terlalu sibuk dan beban kerja yang bermacam-macam. Ia biasanya terlibat dalam berbagai kegiatan tetapi sering mudah bingung, ketakutan karena dibanjiri oleh tugas yang bertumpuk-tumpuk sehingga membebani dirinya sendiri. Akibatnya guru semacam ini belum menyelesaikan usaha-usaha peningkatan kerja secara tuntas sudah mulai lagi dengan melaksanakan tugas dan program yang baru.
4. Kuadran IV : Guru yang tidak bermutu
Guru yang tidak bermutu mempunyai tingkat abstraksi dan tingkat komitmen serta tanggung jawab yang rendah. Guru seperti ini memiliki beberapa cirri-ciri, yaitu: hanya melakukan tugas rutin tanpa tanggung jawab dan perhatiannya hanya sekedar untuk mempertahankan pekerjaannya, memiliki sedikit sekali inovasi untuk memikirkan perubahan apa yang perlu dibuat dan puas dengan melakukan tugas rutin yang dilakukan dari hari kehari.
DAFTAR PUSTAKA
Glasser William, “Scool Without Failure”, Wyden Publishing New York, 1970
Glickman, Carl D. “Development Supervision (Alternative Practice for Helping Teacher Improve Instruction”) ASCD, Virginia, 1981.
Guthrie, Gerald, “Teaching and Teacher Education International Training Institute”.
Hans G.Fireth, “Piagel for Teachers”, Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs N.Y.1970.
Hoyle, Eric “The Role of Teacher”. Prentice Hall Inc: E.C.N.Y.

0 komentar:

Post a Comment